Penyadaran dari Sebotol Kecap

ilustrasi: Botol Kecap. Foto: Net

ilustrasi: Botol Kecap. Foto: Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Hari Sabtu, Mei 2014. Seperti hari sebelumnya, saat masa libur saya selalu menyempatkan untuk mengisi hari dengan bersih-bersih rumah. Bahkan sesekali saya menghibur diri dengan memasak. Sementara isteri saya, mengantar kedua anak saya sekolah. Mereka baru akan kemballi ke rumah setelah lepas pukul 11. 30 WIB.

Di tengah keheningan itu, saya menyibukkan diri dengan sejumlah aktifitas rumah. Biasanya tumpukan pekerjaan itu dilakukan isteri saya, jauh sebelum fajar menjelang. Tapi sudah menjadi tradisi di dalam rumah tangga saya, ketika Hari Sabtu dan Ahad, saya menggantikan “posisi” isteri saya.

Pendapat sejumlah orang yang mengatakan; “Perempuan selalu identik dengan memasak, mencuci dan mengurus anak” sudah sejak menikah di tahun 2004, atau bahkan sejak saya merantau 1990-an, pola pikir seperti itu sudah jauh dari benak kami. Bagi saya, urusan sumur, dapur dan kasur, bukan hanya urusan perempuan, tetapi menyangkut tanggungjawab bersama dalam rumah tangga. Jadi di rumah saya, urusan dapur, sumur dan kasur, “tidak mengenal kelamin”.

Sebab perbedaan laki-laki dan perempuan hanya persoalan haid, melahirkan dan nmenyusui. Selebihnya menjadi tanggungjawab bersama antara suami dan isteri. Saat rumah dalam keadaan “sepi” saya kemudian membereskan apa yang bisa saya lakukan. Dari depan sampai belakang. Ketika pekerjaan usai, saya kemudian baru mengambil sepering nasi, sayur dan sambel tomat hasil dari “olahan” saya.

Tak lupa segelas air putih dan kopi pahit tanpa gula, selalu mendampingi sarapan pagi saya. Tapi saat saya hendak memulai sarapan, saya merasa ada yang terlupa. “O, iya kecap manis, ternyata belum melengkapi sarapan pagi itu,” ucap saya dalam hati. Entah berapa kali saya harus bolak balik ke dapur untuk mencari kecap. Saya benar-benar lupa. Sebab ketika saya membereskan dapur, biasanya semua benda yang sebelumya teratur, pasti saya “bongkar” dan kemudian saya rapikan lagi.

Tapi kali itu saya benar-benar lupa dimana meletakkan sebotol kecap, yang biasanya diatas meja makan. Karena saya tidak mau pusing, saya melanjutkan sarapan sampai tuntas. Setelah cuci tangan, saya harus mengeringkan tangan dengan lap makan. Ketika itu saya baru ingat, lap tangan masih saya letakkan diatas lemari es. Saya lupa membereskan. “Allahu Akbar!” ujar saya spontan.

Ternyata botol kecap yang saya cari persis berdampingan dengan lap tangan. Ketika itu, batin saya tersentak dan tersadar. Ternyata Tuhan sedang menunjukkan letak botol kecap, dengan cara “memerintahkan” saya mengambil lap makan. Keterlupaan saya terhadap botol kecap, ternyata ditunukkan Tuhan melalui lap tangan. Demikian bijak Tuhan memberikan “petunjuk” kepada hamba-Nya.

Seringkali, dalam keseharian, apakah saya, Anda dan siapapun mengalami ke-alpaan terhadap sesuatu yang wajib ketemu. Tetapi saat dicari, benda yang ‘wajib ketemu’ itu tidak juga ditemukan. Hingga akhirnya kita sering memarahi ke semua anggota keluarga. Menyalahkan rekan kerja. Tidak jarang, emosi kemudian meledak. Tetapi setelah beberapa menit, atau beberapa hari kemudian, ketika kita tidak mencarinya, Tuhan selalu menunjukkan dengan “jalan lain” sama seperti saya, untuk menemukan botol kecap, saya “dipaksa” untuk lebih dulu mencari lap makan.

Saat itu Tuhan seolah sedang berkata pada saya ; keterlupaanmu sengaja Aku ciptakan untuk setiap mahluk, supaya mahluk ciptaan-Ku sadar dan mengerti tentang keterbatasannya. “Hanya Aku yang Maha Tahu,” kata Tuhan pada saya.

Komplek Polygon – Palembang, 13 Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s