Gubernur Ikan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

 Aku adalah Gubernur Ikan.

Menguasai wilayah laut di se-antero jagad. Tapi, karena aku harus tunduk pada konstitusi laut, aku hanya mendapat bagian kecil untuk menggunakan kekuasaan dan memanfaatkan aset di tempat aku dipekerjakan. Pada awalnya, gerakan dan wewenangku masih harus tunduk dengan Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut. Namun, akhirnya aku mendapat sedikit kebebasan, setelah ada pemberlakukan Undang-Undang Otonomi Kelautan. Akhirnya, sedikit banyak, aku bisa mendapat keleluasaan dalam mengambil kebijakan, kemana ikan-ikan ini harus aku bawa.

Aku adalah Gubernur Ikan.

Asalku dari seberang. Namun, karena mendapat surat sakti dari Nyi Roro Kidul, aku akhirnya diorbitkan sebagai Gubernur Ikan. Pada awalnya, aku maju mundur untuk menjabat sebagai Gubernur Ikan. Sebab, jauh sebelum aku menjadi Gubernur Ikan, aku sudah menjabat sebagai Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, yang bertugas menyelematkan kehidupan dan kelangsungan hidup mahluk laut. Tapi, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku harus memilih. Tetap menjadi Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, dan sepanjang sejarah akan menunggu perintah, atau aku harus keluar dari Korp Pasukan Anti Pukat Harimau, lalu aku menjadi penguasa sebagian laut di sebuah pulau? Dua pilihan terus berkecamuk. Sementara, dalam lintasan benakku, ada satu pertanyaan, siapa dan kelompok mana yang bakal menjadi alat untuk memuluskan obsesiku menjadi Gubernur Ikan?

Malam Jumat Kliwon. Tepat pada tanggal kelahiranku. Kudapatkan kesimpulan, setelah sebelumnya, Sang Mbau Rekso (Sang Penguasa Jagad Maya) memberi petunjuk.

“Aku harus keluar dari Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, dan mengambil alih Gubenur Ikan”. Inilah keputusan yang akhirnya kuambil.

Aku adalah Gubernur Ikan.

Sama seperti mahluk lain. Aku juga punya rasa kekhawatiran, kalau-kalau saja, setelah aku lepaskan posisiku di Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, tiba-tiba aku tak terpilih menjadi Gubernur Ikan. Jika ini yang terjadi, aku benar-benar sial dua belas!

“Ah, aku akan coba meminta restu pada Jenderal, siapa tahu, aku tetap bisa rangkap jabatan. Jadi, kalau tak terpilih, aku bisa kembali ke Korps, kalau terpilih, baru lepas dari Korps”.

Aku adalah Gubernur Ikan.

Sama seperti adat Timur. Demi tegaknya konsitusi, aku juga harus sanjo, ke rumah Jenderal. Pada siang menjelang sore, aku benar-benar sanjo ke rumah Jenderal, Kepala Pasukan Anti Pukat Harimau. Tujuanku untuk meminta izin dari Sang Jenderal untuk memberi rekomendasi, agar aku direstui menjadi Gubernur Ikan tanpa harus keluar dari Korps.

“Apa-apaan kau! Bagaimana mungkin kau bisa menjadi Gubernur Ikan, jika kau tidak keluar dari Korps. Itu melanggar kode etik Korps. Ini memalukan!”

Jenderal benar-benar berang dengan gagasan konyolku.

Aku benar-benar merasa menjadi tolol di depan jenderal. Padahal, sebelumnya, aku sudah mendapat sederet penghargaan dalam beberapa operasi. Tapi, sore ini aku hanya bisa tertunduk lesu dan pulang dengan langkah gontai. Tak ada yang kudapat, hanya sebuah kemarahan belaka. Malam Jumat Kliwon, aku menangis sejadi-jadinya, mengadu pada Sang Mbau Rekso.

“Cucuku, bangkitlah!” Sebuah suara menggema dari asap hitam.

Aku tergeregap. Keringat bercucuran. Aku menjadi gagap.

“Ssssssiapa, sssiapa.. kau?!”

Suara itu malah mentertawakanku.

“Bukankah kau yang meminta agar aku hadir untuk membantu dan mengabulkan keinginanmu menjadi Gubernur Ikan?

“Oh, ..iiiiya..iya…!. Kalau begitu kau adalah…”

“Cucuku, dengar dengan hikmat!”

Aku mulai membuka telinga lebar-lebar.

“Apa yang harus kulakukan, Nyi?

“Untuk meminta izin kepada jenderal, kau bisa manfaatkan sekelompok Ikan Seluang. Sebab, di antara sekian banyak ikan, hanya Ikan Seluang yang pintar bermain di tengah arus. Dan jangan lupa, buatlah koalisi palsu dengan sekelompok Bunglon, yang setiap waktu bisa berubah warna dan memiliki kemampuan melakukan negosiasi”.

“Satu lagi, kamu juga harus mengumpulkan sekelompok Ular berkepala dua yang siap membidik lawan, sekaligus menjadi spionase peta politik lawan. Jika itu mampu dilakukan, kau bakal berhasil menjadi Gubernur Ikan”.

Aku adalah Gubernur Ikan.

Aku kini berhasil memanfaatkan Ikan Seluang, Bunglon dan ribuan Ular Berkepala Dua. Dan Sang Jenderal pun akhirnya tunduk dengan tim suksesku dan mengeluarkan rekomendasi perizinan untuk menjadi Gubernur Ikan. Jadilah aku sekarang Gubernur Ikan.

Sejak menjadi Gubenur Ikan, aku menempati ruang khusus yang mungkin mirip dengan Singgasana Nyi Roro Kidul. Semua fasilitas lengkap. Dari pendingin ruangan sampai pemanas ruangan telah tersedia. Untuk mencukupi dan melayani keseharian, aku tinggal panggil pasukan Ikan Belido, Ikan Seluang, dan para Ular Berkepala Dua.

Aku adalah Guberrur Ikan.

Aku banyak memiliki kemampuan untuk menghalau kekuatan lawan. Apalagi hanya sekadar kelompok katak yang hanya bisa hidup dengan melompat-lompat. Semua hal yang sepele. Semua karakter mahluk air ada di dalam genggamanku. Aku kini bisa bernapas lega dan hidup di atas segalanya. Tak siapa pun bisa menggeser posisiku sekarang. Semua wilayah ini menjadi kekuasaanku.

“Siapa yang menghadang atau menghalangi gagasanku harus berhadapan dengan aku”.

Aku adalah Gubernur Ikan.

Aku kini bangkit untuk merajai semua mahluk air. Dan kawasanku memang kawasan rawa yang membuatku tak begitu sulit untuk meramu sedemikian rupa tentang bagaimana wilayahku ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat air.

**

Kebanggaan dan kepongahan, tak membuatku sadar kalau wilayah kerjaku yang sebelumnya kawasan air, sudah separuh lebih menjadi daratan. Perluasan daratan yang telah memakan kawasan air ini, ternyata luput dari perhatianku. Aku makin asik dengan apologi masa lalu, sebagai bekas staf Pasukan Anti Pukat Harimau dengan sederet prestasi. Sehingga, saat berhadapan dengan kelompok makhluk darat, aku sebagai Gubernur Ikan masih juga gagap. Belum lagi, serangan Ikan Lou Han sebagai ikan pendatang juga telah mengancam keberadaan wibawaku.

Aku Adalah Gubernur Ikan.

Kini aku dihadapkan berbagai macam kegagapan. Kelompok penghuni laut yang sebelumnya memberikan amanat kepadaku, untuk memperjuangkan hak-hak makhluk air, makin lama makin terlupa. Aku makin terbuai dengan tawaran materi dari sekelompok mahluk darat. Mahluk darat telah berhasil mengkooptasi pola pikirku, yang sebelumnya memang tak berpengalaman di kawasan darat.

“Tuan Gubenur Ikan, kami dari perwakilan mahluk darat menawarkan agar Tuan bisa merelakan sebagian wilayah air di kawasan kekuasaan Tuan untuk kami jadikan permukiman rumah kaca,” kata salah satu perwakilan mahluk darat saat menghadapku.

“Why Not?! Kalau memang itu bisa memberdayakan masyarakat saya”.

“O, pasti, Tuan Gubenur Ikan. Dengan rumah kaca, nanti masyarakat air di sini bisa lebih leluasa menikmati hidup dengan berbagai pandangan dari dalam rumah kaca, yang di dalamnya juga kami isi dengan air. Dan masyarakat air di dalam rumah kaca itu akan kami beri makan setiap hari tanpa harus memeras keringat. Dan Tuan bukan saja menjadi Gubenur Ikan, tetapi Tuan juga akan menjadi Gubenur Rumah Kaca”.

Bersama mahluk air lainnya, aku kemudian membentuk Tim khusus. Tujuannya,  untuk mencari pasukan air dan Tim Ahli, yang benar-benar mengerti tentang seluk beluk konstruksi bangunan rumah kaca. Ratusan makhluk air sudah terseleksi.  Tentu menurut seleraku sendiri. Dua hari kemudian, semua jenis makhluk pembawa kabar berita kuundang untuk mengekspose tentang tim yang akan melakukan pengawasan dalam pembangunan rumah kaca.

Gagasanku ini, ternyata mendapat protes dari kelompok oposisi darat. Ratusan makhluk oposisi dari kawasan darat mendatangi kantorku. Mereka mendesak, agar aku segera meninjau ulang terhadap pembentukan tim itu. Sebab, menurut salah satu perwakilan oposisi, tim yang kubentuk bersama mahluk air lainnya, ada beberapa makhluk yang berkepentingan untuk menenggelamkan kawasan darat.

“Kalian tidak bisa menduga buruk seperti itu!”, Kataku dengan nada tinggi.” Kalian harus melihatnya secara jernih. Kalau wilayah air di kawasan ini bisa rapi dengan rumah kaca, yang di dalamnya berisi air, maka kawasan ini akan menjadi indah dan rapi. Dan sekali lagi, ini sudah menjadi keputusanku. Dan ingat, sekali ludah terbuang, pantang aku menjilatnya kembali. Aku tidak akan merubahnya. Titik,” Aku emosi.

“Kami hanya memberi masukan. Persoalan diterima atau tidak, itu urusan Anda. Ini kami sampaikan, agar kita semua terselamatkan dari banjir besar yang berkemungkinan akan menimpa kita bila kita tidak berhati-hati dengan pembangunan rumah kaca!,” Jawab perwakilan oposisi darat dengan nada yang tak kalah emosionalnya.

Usulan dari oposisi darat terbuang begitu saja. Sementara, aku tetap memilih mengorbankan wilayah air kujadikan permukiman rumah kaca dan pusat pembelajaan. Akibatnya, pusat-pusat pembuangan dan resapan air mulai tertutup. Kawasan darat mulai tergenang air. Luapan air tak bisa dicegah lagi. Semua kotoran bertumpuk. Semua makhluk sulit membedakan, mana kotoran, mana makhluk. Manusia, hewan, gembel, Gubernur Ikan, dan Jenderal Penguasa Laut sulit dibedakan. Warnanya sudah sama dengan sampah dan tinja. Sementara, kelompok oposisi darat, masih terus mencoba mendayung sampan untuk mencari katup-katup air yang masih tersumbat. Sambil berpikir, berzikir, dan terus berjuang, kelompok oposisi darat masih terus mengincarku untuk segera digulingkan. Tetapi, kelompok oposisi darat memang harus bekerja keras, sebab mereka masih sulit membedakan mana Gubenur Ikan dan mana tinja. Semua sudah berpadu.

Demang Lebar Daun, Palembang, 22 April 2003

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s