Saat Anakku Lahir Kembali

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Tepat bulan purnama yang ke-32, anakku lahir kembali. Entah, ini anak yang ke berapa. Sebab, sejak kelahiran anak pertama, aku tak pernah menghitungnya satu persatu. Lagi pula, anak-anakku lahir dari belaian ribuan bapak. Dan aku hanyalah tempat penitipan terakhir, setelah sebelumnya, selama sembilan bulan, janin itu bersembunyi di balik  rahimku.  Oleh sebab itu, aku juga tak ingat lagi, di mana saja anakku lahir. Yang kuingat, adalah, hampir semua anakku, lahir bukan dari belai kasih dan sayang, tetapi lahir dari letupan emosi, yang sudah bertahun-tahun tertahan.

Dulu, saat aku sedang menjadi orang tua yang baik, aku sempat sempat memelihara tiga anakku. Ada si Lintang, ada  si Uwit, ada juga si Bungsu. Sebenarnya, di saat aku memberi nama anakku yang terakhir dengan si Bungsu, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi hamil, apalagi melahirkan. Tetapi, sejak suamiku mati akibat di tembak aparat di tengah aksi menuntut upah, aku jadi kalang kabut. Aku seperti kehilangan sayap. Sementara, ketiga anakku memerlukan biaya untuk bertahan hidup.

Tiga tahun, kucoba untuk tetap bertahan dengan ketiga anakku. Hidup serba pas-pasan. Aku mencari nafkah dari pinggiran jalan. Sementara, Ketiga anakku mencari makan dengan serabutan. Lintang, menjadi pedagang koran. Bungsu keliling ngamen di pinggir jalan. Tetapi, si Uwit, justeru memilih menjadi pencuri.

“Kenapa kau harus mencuri, Nak?” Tanyaku suatu ketika.

“Mak, aku mencuri karena kita lapar”.

“Tapi, mencuri   itu berdosa, Nak”.

“Tapi aku mencuri bukan untuk kaya, Mak. Cuma untuk mengisi perut. Apa itu juga dosa, Mak?”

“Iyya, tapi dua saudaramu bisa mencari makan tanpa harus mencuri, kenapa kamu tidak bisa?”

Uwit hanya diam. Wajahnya menggambarkan kekecewaan, saat aku tidak setuju dengan pekerjaannya.

Tapi, sepertinya, Uwit memang tidak bisa lagi meninggalkan kebiasaannya.   Makin hari, ia makin banyak mendapat seseran dari hasil curian. Dalam hati, aku hanya bisa menangis.

“Tuhan, kenapa kau biarkan  anakku menjadi pencuri. Tidakkah kau tahu, bahwa sebenarnya, yang melarang mencuri adalah Engkau. Tetapi kenapa anakku tetap Kau biarkan menjadi pencuri?”. Kupanjatkan doa, untuk si Uwit, agar ia segera terbebas dari kebiasaannya.

Suara sirine mobil rumah sakit, tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Seketika, bayangan wajah Lintang, Uwit dan si Bungsu lenyap. Yang ada hanya kerumunan orang. Aku tak bisa lagi menasehati Uwit, kalau mencuri itu berdosa. Aku tak bisa lagi menerima setoran harian, hasil dari jual koran si Bungsu. Dan suara nyanyian Lintang di setiap pinggir jalan, berganti dengan cercaan dari para tetangga, para pengunjung rumah sakit, yang sesekali menengok dari balik jendela dengan wajah sinis. Sementara, aparat hanya berjaga-jaga di depan pintu, tanpa ekspresi.

“Mereka pasti telah menganggap, aku ini adalah manusia tak punya malu. Bagaimana tidak? Perempuan mana yang sanggup menjadi isteri dari ribuan laki-laki?  Ah, persetan dengan semua itu!”.

Kututup mukaku dengan selimut.  Aku ingin tidur.

“Dan besok, mungkin aku memang harus minggat dari sini”.

Tepat jam satu dini hari, aku berhasil meninggalkan rumah sakit,  setelah sebelumnya, aku memberi “jatah” para penjaga. Entah, apa yang terbersit dalam benak para penjaga, saat dalam sekejap, mereka melampiaskan kelelakiannya.

“Yang penting aku harus keluar dari sini. Titik”!.

Dari balik gubuk, tempat aku bersembunyi, kini aku tinggal menyaksikan bermacam polah dan tingkah anak-anakku. Hidup damai bersama Lintang, Uwit dan Bungsu, kini hanya sebatas bayang. Aku tak mungkin lagi bisa menemukan mereka. Apalagi,  mereka sudah  membaur dengan puluhan anakku yang lain.

“E, Mbak, kamu itu harus seneng”. Kata Parti tetanggaku.

“Kenapa, wong hidup susah gini, kok malah disuruh seneng”.

Ealah, sampean belum tahu, to. Lha, anak-anakmu yang se-ambreg itu kan sudah banyak yang jadi orang”.

“Memang, dulu anakku monyet apa?” Selorohku.

“Ah, Mbak ini, kayak nggak tahu saja. Anak-anakmu itu sekarang kan jadi wong hebat”.

“Apanya yang hebat, Par?”

“Ya, pokoknya hebat. Kata orang sih, mereka sudah tidak susah lagi. Mau makan apa saja bisa keturutan. Mau makan roti, mau makan buah, pokoknya hidup enak..”

“Par, itu suamimu sudah menunggu. Nanti kesiangan”.

Parti jadi agak kikuk, saat aku menyuruhnya pergi. Sementara, suaminya, hanya memberi isyarat, agar Parti segera enyah dari hadapanku.

Kabar tentang anak-anakku, ternyata bukan membuatku senang. Tetapi sebaliknya, aku malah ikut prihatin. Mungkin karena Parti tak tahu persisnya, watak setiap anak-anakku. Jadi, Parti begitu girang, saat mendapat kabar tentang kehebatan anak-anakku.

Sudah belasan orang memberi kabar tentang anak-anakku. Yang mereka bawa ke telingaku hampir semua sama. Mereka Hebat. Mereka Hidup enak. Mereka terkenal, dan lain sebagainya. Tapi, kabar itu tak juga membuatku bahagia. Sebab, keterkenalan mereka, kepintaran mereka, dan kehebatan anak-anakku, tak juga memberi perubahan apapun atas negeri ini.

Parti, yang sudah puluhan tahun menjadi tukang sayur, tetap saja begitu. Giman, dari dulu sampai sekarang masih juga menjadi tukang becak. Nensi, sampai sekarang masih juga menjadi lonte jalanan. Akil, tak juga hilang dari jalan. Ia masih saja menjadi pengamen. Lantas apa arti sebuah ketenaran, kehebatan, dan keterkenalan, jika kelebihan anak-anakku tidak juga membawa perubahan.

Hari makin senja. Aku masih  berada di balik gubuk, tempat kami pernah hidup bersama dengan Lintang, Uwit dan Bungsu. Dari kejauhan, hampir   setiap pagi, petang dan malam, aku selalu mendengar kabar tentang anak-anakku. Para tetangga selalu mengatakan, mereka telah menjadi orang hebat. Karena anak-anakku selalu dimuat di koran, di sorot tv, dan selalu berfoto dengan  orang-orang terkenal lainnya.

Tapi, aku menjadi sedih, ketika aku harus mendengar dan melihat, bagaimana anak-anankku kini lebih suka berkelahi antar saudara sendiri. Lintang, Uwit dan Bungsu, yang dulu bisa makan satu piring, tidur satu tikar, dan hidup dengan keterbatasan, kini mereka lebih memilih untuk saling bertengkar dan saling menjatuhkan.

Sebagai anak tertua, Lintang, masih juga merasa paling berkuasa, merasa paling kuat. Sehingga, ia tak mau kalah dengan adik-adiknya. Uwit yang dulu suka mencuri, kini makin ganas melakukan pencurian.  Bukan saja dompet tukang sayur saja, dana bulog-pun digasaknya. Dan Uwit memang pintar. Sebelumnya dia melakukan pencurian,  Uwit sudah menyatakan ke semua orang, bahwa niatnya baik. Katanya, dana itu untuk sumbangan yayasan. Tapi, namanya juga bawaan sejak kecil,  kebiasaan mencuri itu tetap saja melekat di badannya.  Dan ketika terbongkar, si Bungsu, adiknya diajak kompromi, agar Uwit terbebas dari jeratan hukum. Bahkan, Bungsu juga berbagi dengan anak-anaku yang lain, agar mereka menyelamatkan  Uwit dari hukuman.

Ulah Uwit, Lintang dan Bungsu, sepertinya tak berbeda dengan anak-anakku yang lain.  Setelah aku banyak melahirkan, ternyata bukan membuatku lebih tenang. Harga diriku makin terinjak oleh mereka. Mereka tidak lagi menghargai sebuah harga diri. Rasa malu,  sudah disimpan di balik jok mobil. Kejujuran sudah diletakkan ditelapak kaki. Rasa saling kasih dan damai, hanya sebatas lipstik, yang setiap saat bisa lenyap dengan tisu.

Dalam doa yang tersisa, aku hanya bisa berharap, jangan lagi aku melahirkan anak-anakku lagi. Biarlah, cukup, cukup sampai disini.

“Brak!”, Seseorang mendobark pintu. Seorang laki-laki sudah berada tepat hadapanku.

Aku masih terbaring.

Wajah laki-laki seram. Ia  kemudian menerbab tubuhku. Laki-laki itu pergi, setelah melepas ekor kebinatangannya.

Sejak laki-laki itu datang, kemudian datang lagi puluhan laki-laki lain, yang berbuat sama dengan laki-laki sebelumnya. Mereka memaksaku untuk melahirkan anak-anakku yang lain… **

Demang.L. Daun – Palembang, 16 Juli 2002

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s