Selamat Pagi, Mr. Gagu

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

         

Cerpen Imron Supriyadi

Baru sekarang aku merasakan duduk diantara orang – orang pintar. Berjajar dalam setengah lingkaran, duduk diatas kursi empuk, yang dulu tak pernah akan terbeli  dari gajiku sebagai carik desa. Seakan, kini aku tengah bermimpi. Apalagi, ketika dibenakku terbesit masa lalu saat aku masih menjadi carik desa. Tapi ini bukan mimpi ! Untuk memastikn antara tidur  dan tidak, kucubit lengan kiriku. Ah, masih juga terasa sakit. Berarti, ini benar – benar nyata. “ Nah, ado nian “, batinku girang.

Aku benar – benar ketemu, bersalaman, tertawa bersama dengan orang – orang yang selama beberapa tahun , hanya kukenal melalui radio, atau kulihat di layar teve, jika kebetulan aku turut nonton di rumah Pak lurah. Sekarang, aku dan mereka sejajar. Ini berarti, besok, lusa dan seterusnya, aku tak perlu lagi repot – repot menunduk – nunduk jika berpapasan dengan mereka sebagai tanda rasa hormatku. Sebab, mereka bukan Tuhan atau Nabi. Bahkan banyak orang bilang, itu feodal, warisan yang tak perlu dibudayakan.

Seandainya keberadaanku sepuluh tahun lalu sudah seperti sekarang. Dielu – elukan oleh orang banyak, mungkin aku tak akan ditolak ketika aku ingin memperistri Raden Ayu Hapsari, putri bungsu Raden Mas Dosamuka. Tapi sepertinya, fodalisme masih begitu kuat mencengkram di keluarga itu. Ya, apa boleh buat, dengan berat hati, akupun harus berkata, “Sepertinya Tuhan punya maksud lain dibalik semua ini. Mungkin inilah perwujudan sifat rahman dan rahim-Nya Tuhan terhadapku”. Ah, itu hanya masa silam. Toh semua kini telah berubah. Masih terlalu banyak yang mesti harus aku kerjakan untuk memenuhi panggilan hati nurani.Kedudukan kini, adalah sebuah amanat yang tidak saja akan kupertanggungjawabkan di depan orang banyak lima tahun mendatang. Namun akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Tuhan.

Hari ini besok dan seterusnya, aku akan tetap duduk disini. Diatas kursi yang mungkin dulu setiap orang sanggup menjual apa saja demi kedudukan sekarang. Tapi aku dan orang – orang didalam gedung ini haruskah tetap menjadi sekelompok paduan koor atau paduan suara seperti tahun sebelumnya, duduk bersandar, memadukan sebuah lagu yang sama, lalu menganggukkan kepala sesuai dengan aba-aba dirgen, demi sebuah stabilitas?

Sesekali, dalam ruang tertutup yang cukup besar itu, terdengar tepuk riuh yang kadang aku sendiri tidak tahu apa yang sedang ditepuki. Di tengah riuhnya tepuk tangan, sayup – sayup  kudengar beragam titipan dari pojok – pojok dusun. Suara itu terus menyusup dari lekuk–lekuk gedung itu, merayap, menggetarkan gendang telingaku. Aku terperanjat.

”Oh, disana dipojok dusun, masih ada ketertindasan. Masih ada ketidakberdayaan untuk menuntut hak sama atas pembagian rezeki nasional. Masih ada buruh yang dijadikan sapi perah. Masih ada pemerkosaan hak. Masih ada ancaman untuk  mereka yang suka berkumpul di berbagai LSM. Lagi, disana, di Kebon Semai, pasar 16 Ilir, masih ada penekanan bagi pedagang kecil untuk membayar mahal satu los toko. Masih ada rencana penggusuran pasar buah. Masih ada rencana peniadaan becak. Lalu di perdusunan lain, masih ada ketakutan yang mencengkeram, sehingga mereka-pun takut untuk menyuarakan hak yang sudah sedemikian panjang terampas. Dan besok, apalagi yang muncul senada dengan itu ?”.

Sebuah berkas kubuka. Didalamnya masih mengabarkan tentang keterbelakangan. Keterpurukan batin. Kesenjangan sosial. Keringat sepertinya memang sudah menjadi darah. Ia membasahi setiap pintu – pintu rumah reot dan piring – piring di dapur. Berpuluh nyawa terbuang tanpa tegur sapa. Ia hilang tak ada lagi kabar berita tentang siapa pembunuhnya. Seorang Ibu-pun menangis, ketika menatap se-onggok mayat yang telah membujur kaku dengan ulu hati yang robek oleh pisau lipat. Hanya airmata yang tiba – tiba jatuh membasahi kain putih dengan bercak darah itu. “Tuhan, berikan segala keadilan-Mu kepada manusia – manusia yang telah mengambil hak-Mu sebelum tiba waktunya”, kataku sambil menadahkan kedua tangannya ke langit.

Segumpal tanggung  jawab   berada dipundakku kini. Tapi apalah kekuatan yang dimiliki mantan carik desa sepertiku?. Bukankah atas jasa pak lurah yang telah mengantarkanku bisa duduk disini?. Lantas bagaimana jika kemudian aku harus sedikit menentangnya?. Ataukah ini sebuah pengingkaran atas jasa – jasanya ? Tapi, jika aku tak mampu bicara disini, bagaimana dengan tanggung jawabku yang mesti kuemban? Akankah aku hanya duduk tanpa ada kata dan tindakan yang nyata bagi suara – suara dari pedusunan?.

Pertanyan – pertanyan itu kian menggedor – gedor setiap denyut napasku, perasaanku, nuraniku, lantas mengalir ke urat – urat kecil bersama aliran darah yang telah 40 tahun menyetubuhiku. Aku terus bermain kata dengan kebingungan dan kebisuanku. Entah, mengapa di tengah keramaian, tempat aku duduk berdampingan dengan ratusan orang – orang disini aku tetap saja merasa sendiri. Ya , sendiri dalam keramaian, ramai dalam kesendirian.

Tak berbeda dengan hari kemarin. Di gedung itu, aku masih duduk dan merasakan hal sama seperti sebelumnya. Kembali kubongkar beberapa berkas. Meneliti huruf per huruf, kata per kata dan sampai pertemuan itu usai. Tak ada yang dapat kuberikan pada tetangga untuk menjawab pertanyaan dan keluhan mereka.

“ Ya semua akan kami tampung. Dan mudah – mudahan, dalam beberapa hari mendatang, sudah dirapatkan dan ada keputusan. Sudah ya begitu saja. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan”, Kata ku menjawab setiap kelompok warga yang datang menemuiku. Ini memang hanya sebuah retorika yang tidak semestinya diungkap pada zaman seperti sekarang. Namun, ya bagaimana. Paling tidak aku sudah menghibur hati mereka, meskipun dari denyut nadiku terdengar suara lantang, “ itu hanya sebuah alibi. Ini kompensasi untuk meredam akasi massa. Ini sebuah pengingkaran amanat !”.

“ Brak! Gluduk!”, Tiba – tiba aku terjungkal dari sebuah kursi. Aku tersungkur. Terasa ada kekuatan lain yang seketika menghempasku dari tempat duduk. Aku menyeringai menahan kenyerian pinggang yang tersantuk lantai. Ternyata, jamu kuat yang setiap pagi kuminum satu jam sebelum berangkat, belum mampu merendam rasa sakit. Kucoba untuk minta tolong pada orang – orang di sekitarku yang masih sibuk dengan bekas –berkas diatas meja. Aneh! Tak sesiapa yang menyapaku.

“ Hoi!” Teriakku keras.

Suasana sepertinya masih riuh. Mereka tak juga mendengar. Sekali lagi aku berteriak,

“ Hoi! Kalian – kalian semua yang duduk di gedung ini! Masihkah kalian punya hati untuk memapahku untuk kembali?! Bukankah kalian yang telah mengajakku kesini?! Kenapa kalian semua masih tak mau mendengar suaraku ?! Jika aku yang didalam gedung ini suaranya tak kalian dengar, bagaimana kalian akan mendengar suara yang ada diluar gedung ?! Apa kalian telah bisu ?! Masihkah kalian akan menjadi penakut seperti para pendahulu?!” Tak ada yang bicara. Ah , ternyata aku benar – benar sendiri disini.

Dalam kepedihan batin di gedung itu, aku hanya dapat menangis, mendampingi kursiku yang tetap akan membisu. Ketika aku dapat kembali duduk, aku masih juga, merasakan kesendirian. Pak Lurah bersama orang – orang terdekatnya hanya termangu, saat melihatku keluar dan meninggalkan gedung itu. Semua atribut kutanggalkan.

Diluar gedung, seorang satpam tergopoh – gopoh menyambutku. Ia terburu – buru ingin memapahku saat ia melihatku jalan sempoyongan.

“ Biarkan aku berjalan sendiri”, Kataku menepis niat baik satpam itu.

“ Tapi, Pak….”, Ujarnya sambil berupaya terus memapahku.

“ Kalau begitu, tasnya saja biar saya bawakan”, Ujar satpam itu membujuk.

“ Jika kamu mau membawakan tasku, apa kau juga sanggup akan membawakan dosa ketika aku nanti mempertanggungjawabkan berkas – berkas dalam tas ini dihadapan Tuhan?” Satpam bengong.

Aku mengeloyor pergi menuju pintu gerbang depan.

“ Ma”af, Pak, mobil bapak ada di halaman belakang”, Tukas satpam itu memberitahu.

Kucoba tersenyum kepada satpam itu. Ya , aku mampu tersenyum, tapi getir. Sama dengan gaji satpam di gedung itu yang tak cukup membiayai hidup.

Hari ini, aku memang harus pulang ke desa. Akan kutinggalkan semua persoalan di gedung itu. Untuk apa aku harus berlama – lama di dalam gedung, duduk diatas kursi, jika aku tak bisa banyak berbuat untuk sebuah tanggung jawab?.

Niat kepulanganku sampai juga ke telinga warga desa. Pagi baru menenggelamkan malam, para penduduk sudah berjajar di pinggir jalan, berbodong – bodong ingin menyambut kedatanganku. Beberapa hansip pun harus sibuk mengatur barisan, yang kurang beraturan. Suara peluit beberapa kali terdengar, sebagai tanda menertibkan barisan yang kurang rapi. Aku benar – benar diperlakukan seperti raja. Mereka menunggu seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan yang hendak membagi – bagikan uang kepada rakyat. Pasti, ada kebanggaan tersendiri jika mereka berjabat tangan dengan-ku.

“ Ngeong….ngeong….ngeong”, Suara sirene menggetarkan setiap lekuk perdusunan. Warga desa makin tak sabar hendak melihat sosok seorang utusan daerah yang dulu hanya sebagai carik desa. Mereka saling dorong. Sambil melongokkan kepalanya dari kerumunan orang lainnya, agar bisa segera mungkin melihatku. Tapi suasana gembira dan keceriaan itu, seketika berubah menjadi sebuah kebisuan. Warga desa yang sebelumnya bercuap ria, meneriakakn yel – yel “hidup wakil rakyat!”, pudar seketika. Mereka kemudian tertunduk dalam kedukaan, saat aku yang ditunggu – tunggu hadir dengan iringan sirene mobil jenazah. Dibarisan terdepan tampak jelas, fotoku terpampang. Dibelakangnya barisan mobil yang menyertai perjalananku sebagai penghormatan terakhir. Dari balik jendela, tampak istriku menutupi kepala dengan kain hitam. Wajahnya sembab, menggambarkan sebuah kepedihan yang dalam. Masing – masing warga hanya termangu. Suasana pagi itu menjadi gagu. Mereka yang ada dipinggir jalan hanya saling pandang, lau menggelengkan kepala pertanda mereka tahu dengan persoalan apa yang telah merenggut nyawaku.

Baru, sehari setelah pemakamanku, sebuah harian pagi mengabarkan tentang peristiwa yang menimpaiku. Sebuah judul besar tertulis dihalaman satu. “Tak mampu penuhi janji warga, potong lidah sendiri”. Pada akhir berita itu, dikutip tulisan akhir sebelum aku mengakhiri hidupku, ’’Ma”afkan saya tak mampu memenuhi kepercayaan warga desa. Saya benar – benar tak bisa banyak berbuat. Sekali lagi ma’afkan saya. Saya tak bisa bicara lagi”. Langit gelap. Kemarin, malaikat sudah dulu menyambutku, “Selamat Pagi, Mr. Gagu”. Semua warga-pun menjadi gagu. Mereka masih menunggu cahaya perubahan. (*)

Magelang, 13 Februari 1998 (ditulis)

Palembang, 28 Juli 2002 (ditulis ulang)  Tanjung Enim, 18 April 2005 (editing – akhir)

 (Cerpen ini, pernah dimuat di Harian Paige Sumatera Ekspres. Pernah menjadi Cerpen terbaik II Nasional, yang dilaksanakan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang).

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s