Bercinta dengan Peri

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Ketika hutan kawasan tempat tinggal saya dilalap api, saya benar-benar menjadi kalang kabut. Yang terpikir dalam benak saya, hanya keinginan menyelamatkan Rasmi, istri  saya dari kobaran api. Saya tak dapat mebayangkan, bagaimana istri saya yang sudah lumpuh dapat menyelamatkan diri dari kepungan api yang terus membumbung.

Saya terus berlari menyibak ranting-ranting kering dan dedaunan yang menghalangi langkah saya. Cras! Cras! Beberapa dahan terpaksa saya potong, agar saya segera dapat sampai di gubuk, tempat istri saya terbaring. Tak terlintas  sedikitpun di benak saya tentang tumpukan penghargaan bagi keberhasilan penjaga hutan macam saya. Persetan dengan beragam piagam. Dalam kondisi seperti ini, apa artinya penghargaan dari presiden sekalipun. Puih! Saya meludah. Mulut saya masam kalau ingat dengan riuh redamnya tepukan tangan para pejabat, ketika saya mendapat penghargaan sebagai pelestari hutan sejati. Yang terbayang saat itu, hanya wajah istri saya. Dia pasti terseok-seok untuk menghindar dari kepungan api.

Brak! Terdengar sebuah suara dari tempat kebakaran. Pasti, itu pagar dan tiang gubuk yang roboh termakan api. Saya berharap, istri saya tidak tertimpa dinding. Saya mulai cemas. Saya mempercepat langkah. Di depan gubuk, saya tinggal menemui puing-puing yang masih berwujud bara. Gubuk itu telah rata dengan bekas-bekas yang tersisa.

“Rasmiiiii!”

Saya panggil Isteri saya. Kalau saja, Rasmi masih mendengar suara saya. Tapi suara itu hanya menggema. Lalu memantul kembali. Tak ada suara disana.

Tanpa berpikir panjang, saya melompati kobaran api, setelah sebelumnya meletakkan beberapa kayu, untuk pelindung kaki. Syukurlah, kakiku terlindung dari panas oleh dahan-dahan basah yang kubentangkan di beberapa bongkahan bara.

Benar dugaan saya. Rasmi sudah hangus, bersamaan dengan robohnya gubuk itu. Jeritan dan rintihan Rasmi menyemburat dalam batin saya. Saya bisa bayangkan, sakaratul maut Rasmi dengan menahan panasnya api.

Jasad Rasmi tak lagi berbentuk. Tapi saya yakin, kalau tubuh yang saya angkat kali itu adalah jasad Rasmi. Sebab, tak ada manusia lain kecuali  hanya isteri saya. Sekali lagi, tiang penyangga dapur patah. Hampir ia menimpa saya. Tapi, beriringan dengan lompatan saya keluar dari bongkahan bara, saya terlewat dari tiang itu. Alhamdulillah. Saya terjatuh terguling, bersama jasad Rasmi.

Di pinggir hutan. Pada sebuah sungai kecil. Saya bersihkan tubuh Rasmi.  Kali itu, saya tak percaya jika tubuh yang membujur di depan saya adalah orang terkasih saya.

Hanya cincin tanda pernikahan kami yang masih tertempel di jari manis Rasmi. Limabelas tahun sudah kami hidup bersama di bawah satu atap bersama Rasmi.

Seandainya kami tak banyak bicara, tak banyak protes terhadap hak-hak normatif saat menjadi karyawan di pabrik, mungkin nasib kami tak harus hidup menjadi penjaga hutan seperti sekarang ini. Tapi represi kekuasaan dan tindak kekerasan aparat tak dapat kami hindarkan. Akibat kekerasan itu, Rasmi harus lumpuh seumur hidup. Untung saja, saya, Rasmi dan puluhan karyawan lain berhasil lolos.

Kalau tidak, kami pasti sudah masuk dalam bui, atau menjadi bulan-bulanan aparat, lantas dibuang dengan nasib yang tidak jelas seperti Marsinah. Sampai saat ini, mungkin saya sulit menghitung nama dan jumlah teman-teman saya yang sampai kini nasibnya tak jelas. Para isteri mereka, hanya bisa berdoa dan menggelar yasinan untuk doa selamat bagi para suami, yang tidak jelas kuburannya.

“Oh, Rasmi, maafkan akang”, Setetes air mata saya jatuh, tepat menimpa hidung Rasmi.

Sekarang, siapa yang patut dipersalahkan kalau bukan saya?! Saya memaki diri sendiri. Kalau saya tidak meninggalkan Rasmi sendirian, pastilah rasmi akan selamat dalam gendongan saya.

“Rasmi, kalau saja aku tidak terlalu rakus bernafsu ingin makan daging rusa, mungkin kita akan tetap bersama. Kita dapat  meniti hidup baru seperti ketika kita mulai menebas dan membangun gubuk rumah tinggal kita. Oh, Rasmi, maafkan aku. Seharusnya aku tak pantas meninggalkanmu sendirian di gubuk itu…”. Saya tak kuasa menahan air mata. Saya makin terseguk. Saya hanya yakin, Rasmi tetap tersenyum. Sebab, puluhan malaikat sudah menyambutnya di Surga.

Saya peluk tubuh Rasmi yang tersisa. Ia kini telah hangus. Tapi saya yakin, cinta Rasmi takkan pernah hangus, meskipun ia kini telah membujur kaku. Sampai air mata saya kering kembali,  saya belum rela menguburkan jasad Rasmi. Saya tatap dalam-dalam paras Rasmi.  Ia masih ayu. Wajahnya masih menyeburat ketegaran. Senyumnya masih demikian kokoh. Teriakan perlawanan Rasmi tak kalah dengan bentakan aparat yang kemudian memukul keras pinggangnya hingga retak.

“Rasmi, aku…aku”, Saya menangis lagi. Perasaan berdosa makin memenuhi dada saya.

Sayup-sayup, saya kembali mendengar suara Rasmi.

“Kang, lain kali jangan terlalu bermimpi ingin makan daging rusa. Kenyangkanlah perutmu dengan makanan  yang wajar-wajar saja. Jangan lagi akang turuti nafsu perutmu yang hanya menampung satu piring nasi”.

Saya tercenung. Menatap kepulan asap yang masih menggumpal. Ia terbawa angin lalu menempel di tiang-taing awan. Angin di hutan  pun membawa bau anyir, menyusup ke setiap hidung warga di hutan. Bermacam nyawa hangus di  hutan itu. Beribu napas terputus bersama hangusnya dahan kering. Hanya ucapan maaf yang berbisik dari lubuk hati saya.

Malam baru menjelang. Gundukan tanah pemakaman Rasmi  masih merah. Tapi, saya masih merasa, Rasmi berada di sisi saya. Angin berhembus begitu dingin. Sehingga saya harus membungkus diri dengan kain sarung. Sementara, tangan saya sebelah, masih memeluk gundukan tanah kuburan Rasmi, belahan hati saya.

“Tak perlu kau sesalkan kepergian isterimu”. Tiba-tiba sebuah suara perempuan menggema dari arah yang tidak jelas. Suaranya begitu lembut. Bulu kuduk spontan merinding. Saya tergeregap.

Di hadapan saya, sudah berdiri sosok perempuan. Parasnya cantik. Ia tersenyum manis sekali.

“Siapa kau?!” Saya bangkit. Beberapa langkah saya mundur. Ketika perempuan itu mencoba mendekati saya.

“Aku adalah lambang sorga dunia yang selalu diimpikan oleh setiap laki-laki. Apalagi, kau sedang kesepian setelah ditinggal isterimu”. Suara perempaun itu makin mesra. Hampir saja nurani kelelakian saya tergugah. Brengsek! Perempuan itu makin mendekati saya.

“Kenapa? Kau takut, wahai laki-laki? Bukankah saat ini kau sedang membutuhkan perempuan sepertiku?”

“Di hutan ini tak ada siapa-siapa, kecuali kita berdua. Istrimu tak bakal melihat apa yang akan kita lakukan malam ini. Ayolah! Ayo mendekatlah kesini…”.

“Tidak! Kau pasti bukan manusia, tapi peri penunggu hutan ini. Jangan kau jebak aku dengan rayuanmu. Pergi! Pergi!”.

Saya terus memaki-maki  perempuan itu.

Persaaan saya agak reda, ketika perempaun itu tiba-tiba hilang dari pandangan saya.

Heran.  Saya betul-betul heran. Sejak pertemuan saya dengan peri itu, hati saya makin penasaran. Bahkan terbersit di benak saya, ada keinginan bertemu yang keduakalinya. Kenapa aku jadi punya perasaan seperti ini?

Tapi, dari lubuk hati masih terngiang suara Rasmi. Tangannya melambai-lambai untuk tetap melarang saya. Saya jadi ingat, kalau Rasmi adalah perempuan yang pencemburu. Jangankan sampai ngobrol, melirikpun,  lengan saya sudah  dicubit. Tapi saya cukup maklum. Sebab Rasmi adalah simbol kehidupan saya. Ia adalah perhiasan dunia yang wajib di jaga kehormatannya. Tapi berapa banyak perempuan yang punya watak seperti Rasmi? Masihkah ada harga diri perempuan yang dipertahankan sebagaimana Rasmi, kalau para perempuan sekarang memilih mempertontonkan celana dalamnya di balik punggungnya? Datang tampak pusat, pergi tampak celana dalam. Tapi rasmi tidak. Rasmi adalah bagian aurat saya, yang wajib saya jaga, sekalipun ia telah berada di alam lain.

Kini, Rasmi telah  terkubur di hutan ini. Lantas berhakkah saya untuk bercinta dengan perempaun lain, peri sekalipun?

Dua wajah perempuan itu datang dan pergi silih berganti. Keduanya sedang bermain kata untuk menarik batin saya.

“Jangan kau pungkiri bara kelelakianmu yang sedang bergolak malam ini”. Suara itu tiba-tiba datang lagi. Perempuan itu kembali menggetarkan denyut jantung saya. Saya terkesiap. Lantas mencari arah suara itu datang. Setiap daun dan ranting saya telusuri. Beberapa kali saya menebas dahan yang menghalangi penglihatan saya. Sementara suara perempaun itu masih menggema di sela-sela pepohonan.

“Kau tak perlu bingung mencariku. Aku berada di dekatmu”.

Seb! Peri itu sudah mendekap saya dari belakang.  Napas saya sesak. Dekapan itu begitu kuat. Jauh dari bayangan seorang perempaun cantik. Saya coba melepaskan diri dari pelukan erat peri itu.

“Apa-apan ini! Lepaskan! Lepaskan ! Jangan berbuat macam-macam. Kurang ajar Kau?! Hup! Yap! “, Untung saya berhasil melepas dekapan peri, sekalipun harus kasar.

“Hei! Laki-laki! Jangan berteriak sombong tentang ke-kurang-ajaran-ku terhadapmu ! kau lebih kurang ajar!”.

“Apa maksudmu?!” Saya penasaran.

“Masihkah kau ingat peristiwa enam tahun lalu, sebelum kau menikahi Rasmi?”, Saya kembali terperanjat.

Perempaun itu seolah banyak mengetahui latarbelakang hidup saya.

“Siapa kau sebenarnya?!” Saya makin geram.

“Kau pasti masih ingat dengan dengan Laras kan?! Perempaun yang pernah kau cintai, kau renggut kehormatannya, lantas kau tinggalkan begitu saja, setelah kau paksa untuk membunuh darah dagingnya sendiri?!” Peri itu membongkar masa lalu saya yang hitam.

“Jangan kau  tuduh aku yang memaksa Laras menggugurkan kandungannya, hei peri keparat!. Tapi Laras sendiri yang dengan sengaja melenyapkan nyawa janin itu demi menjaga kehormatan keluarganya”.

“Ya, karena kau tidak mau menikahinya kan?!” Saya dipojokkkan.

“Tidak! Laras dan keluarganya yang membuang aku, karena aku hanya buruh pabrik dan berurusan  dengan polisi”.

“Tapi, belum lagi dua bulan, kau kemudian berlari dan menikahi Rasmi?!”

“Hei peri keparat! Darimana kau tahu tentang diriku?!”

“Jawab dulu pertanyaanku”. Suara perempuan itu makin meninggi.

“Bukan aku  yang bermaksud meninggalkan Laras. Tapi justeru Laras yang lebih dulu meninggalkan aku, lalu menikah dengan laki-laki lain. Itupun demi menjaga kehormatan keluarga Laras!”.

“Hei dengar! Tak perlu lagi kau bicara tentang kehormatan disini. Sudah terlalu banyak  manusia seperti kalian bicara soal moral dan kehormatan. Tapi dibalik petuah-petuah kehormatan dan moral itu, kalian juga membunuh kehormatan dan moral. Puih! Manusia!”

“Lalu kau juga menuduhku telah membunuh kehormatn dan moral itu?!”

“Ya!”

“Kenapa?!”.

“Karena kau juga manusia, sama seperti mereka”.

Malam kian hening. Tapi saya masih terlibat perdebatan dengan peri penunggu hutan itu. Menurut para penebang liar, peri itu memang sering hadir kepada beberapa orang yang tengah dirundung duka, apapun bentuknya.

Entah berapa malam kemudian, peri itu tak lagi datang. Saya kembali ke kuburan Rasmi.  Malam itu, saya peluk erat batu nisan diatas makam Rasmi. Saya terlelap bersama Rasmi dan bayangan wajah cantik peri penunggu hutan itu.**

 

Jl. Letnan Yasin – Palembang, akhir Oktober 1998

(dibuat, dua pekan setelah rumah dan isi rumah kontrakan saya, terbakar habis

pada 7 Oktober pukul 19. 45 WIB – Malam Jumat)

         

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s