Air Mata Zakat

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Sis berlari tergopoh-gopoh. Napasnya tersengal-sengal. Tapi wajahnya tidak tegang. Malah terlihat cerah. Ia sedang menemukan jalan terang sepertinya. Ada sesuatu yang hendak ia sampaikan pada Big Bos.

“Bos, saya punya strategi baru untuk menyukseskan program kita,” katanya dihadapan Big Bos yang tengah mencari solusi terhadap program pengurangan jumlah kemiskinan dan pengangguran

Big Bos memutarkan kursinya hingga langsung melihat kedatangan Sis. Sesaat Big Bos menurunkan kacamata hitamnya. Menatap tajam pada Sis. Ini untuk meyakinkan wajah Sis dalam keadaan sadar atau mabuk. Big Bos mengernyitkan dahinya. Ada sesuatu yang membuatnya agak ragu. Kenapa Sis tiba-tiba menjadi orang pintar?

“Kau yakin startegimu itu jitu?” Big Bos ingin kepastian.

“Yakin, Bos. Strategi ini belum pernah diterapkan di negara manapun,” jelas Sis optimis. Sesekali ia memandang para para pengawal yang mulai sinis terhadap Sis.

Sesaat, para pengawal saling pandang. Ada nada mencir yang tergambar.

Ada rasa tidak percaya kalau tukang sapu semacam Sis secara mengejutkan menemukan strategi program pengurangan jumlah kemiskinan dan pengangguran. Sebagian memandang sinis.

“Coba, apa program yang kau maksud?” sela salah satu pengawal.

“O, strategi ini tidak untuk umum. Namanya juga strategi ekslusif, jadi yang boleh mengetahui hal ini hanya saya dan Big Bos,” kata Sis meninggikan dirinya sendiri.

Mendengar ini, Big Bos kemudian bertepuk tiga kali. Ini pertanda semua pengawal untuk segera meninggalkan ruangan karena Big Bos ingin bicara empat mata dengan Sis. Semua pengawal kemudian beranjak.

“Sis, kau jangan macam-macam sama Bos. Kalau ada apa-apa, lehermu jadi jaminan. Ngerti?!” salah satu pengawal mengancam. Sis tahu benar kalau sikap pengawal ini hanya cari muka di depan Big Bos agar terlihat loyal. Padahal, di belakang sebagian pengawal sering menghianati Big Bos. Secara diam-diam, ada saja diantara pengawal yang main belakang dengan isteri-isteri selir Big Bos. Dan anehnya para selir juga membuka diri untuk menjadi pelampiasan nafsu para pengawal. Mungkin karena kesepian atau karena maniak seks.

“Sis, bener kau dapat resep jitu untuk program kita?” Big Bos masih belum yakin dengan penemuan Sis. Logiknya belum bisa menerima kalau orang sekelas Sis bisa menemukan jalan keluar bagi program pengurangan jumlah pengangguran dan kemiskinan. Sebab hampir dua tahun, Big Bos sudah sedemikian banyak mengumpulkan para pakar dan ahli untuk mencari pemecahan. Tetapi tidak juga ditemukan. Tetapi tiba-tiba gagasan ini muncul dari seorang Sis yang hanya berpendidikan rendah. Sekolah dasar saja tidak tamat. Ia hanya office boy.

“Coba kau uraikan, apa strategi yang kau temukan itu,” Big Bos penasaran.

“Strategi Pertama, tidak untuk kepentingan materi. Tetapi bila strategi ini diterapkan, Big Bos bisa langgeng menjadi penguasa negeri ini dan sampai akhirnya Bos akan di-elu-elukan rakyat,” Sis bersemangat. “Kedepan, kita harus merubah deal politik dengan para investor asing. Kalau selama ini Bos selalu berdasar pada untung rugi kantong sendiri dan pendapatan asli daerah, sekarang harus deal sumber daya manusia, Bos,” Sis seolah mengajari.

“Maksudmu?”

“Begini, Bos. Setiap investor yang hendak menanam modalnya di negeri ini, harus ditanya dulu berapa jumlah tenaga kerja kita yang bisa diserap oleh perusahaan yang akan didirikan, sehingga jumlah pengangguran kita berkurang, Bos,” Sis menjelaskan. “Nah, kalau sebagian manusia di negeri ini sudah mendapat pekerjaan dan mendapat penghasilan layak, ya dengan sendirinya kemiskinan di negeri ini akan segara berkurang, Bos,” katanya.

“Tapi, kalau itu yang diterapkan aku tidak dapat uang simpanan untuk kampaye di tahun depan, Sis. Rugi kita Sis!” Big Bos merasa kuran sependapat.

“Yang kedua!, Sis,” Big Bos penasaran.

“Kedua, kita mengganti kalimat mengurangi dengan memberantas. Jadi program kedepan bukan mengurangi jumlah kemiskinan, tetapi memberantas kemiskinan plus pengangguran,” Sis berbicara seakan sedang presentasi di hadapan calon nasabah sebuah Multi Level Marketing. Antusias. Menarik dan Simpatik, sehingga orang yang tidak punya uang pun sanggup berhutang tetangga untuk mendaftar sebagai down line di sebuah institusi Multi Level Marketing.

“Apa bedanya, Sis, antara mengurangi dan memberantas?” Big Bos serius. “Bukakah itu soal bahasa?” Big Bos menyanggah.

“Justru itu, Bos. Kita ini sering salah menggunakan tata bahasa, sehingga dalam praktiknya juga salah. Misal kalimat jagalah kebersihan. Apa yang kemudian dilakukan orang, Bos? Ya cukup menjaga yang bersih saja.  Yang kotor tidak dibersihkan, karena memang pesan kalimatnya sudah salah,” Sis seperti pakar bahasa.

“Adalagi kalimat Mari Membangun Negeri dan Bebaskan Korupsi!” Sis mengambil contoh lain.

“Na, yang itu apalagi, Sis?” Big Bos seperti tengah kuliah. Hatinya merasa terhibur dan bangga memiliki bawahan semacam Sis. Orang semacam Sis paling tidak bisa menjadi bahan tertawaan disaat Big Bos sedang penat mengahapi persoalan negara.

“Kalau bebaskan korupsi, berarti dari sekian juta manusia meminta agar koruspi itu bebas dilakukan di negeri ini, Bos!”

“Seharusnya?”

“Ya, kalau mau diganti bukan bebaskan korupsi, tetapi  mari membangun negeri tanpa korupsi,” kesekian kalinya Big Bos manggut-manggut. Ada penilaian kagum pada Sis. Tetapi ungkapan itu disimpan dalam-dalam di hati Big Bos. Ia khawatir kalau kalimat itu terlontar, Sis bisa menjadi lupa diri atau malah menjatuhkan Big Bos.

“Lalu program kita dengan mengurangi jumlah angka kemiskinan dan pengangguran, apa menurut kamu sudah tepat?” Big Bos mengarahkan pada tema semula. Ia tidak ingin Sis terus menerus menguliahinya.

“O, kalau soal itu ya sudah tepat. Tetapi akan lebih cepat dan tepat kalau pakai bahasa memberantas kemiskinan,” Sis menjawab sambil mengingat-ingat gagasan yang satu detik lalu hampir saja hilang.

Sis kemudian membisikkan beberapa kalimat ke telinga Big Bos, agar rencana pemberantasan kemiskinan tidak diketahui atau terekam oleh CCTV yang terpasang.

“Gimana, Bos? Oke?” Sis meminta persetujuan Big Bos.

Acungan ibu jari pada Sis menandakan gagasan Sis sesuai dengan keinginan Bos.

 

**

Hari masih pagi. Matahari juga baru saja menyembul dari balik bukit. Ia tampak malas bangkit dari istirahatnya, karena semalam hujan menyiram bumi. Kecipak air di halaman rumah Big Bos masih menggenang di beberapa sudut. Tetapi tak mengganggu pemandangan. Sebab panorama taman dan desain rumah Big Bos yang dibuat sedemikian rupa membuat orang tidak lagi menghituang becak-nya tetapi sudah terkesima dengan keindahannya.

Dari ujung pintu gerbang sudah berbanjar panjang ribuan orang miskin. Di teras depan ada setumpuk amplop dan bungkusan tas plastik berisi sembako. Sis dan beberapa anak buah menyiapkan segala sesuatunya. Para pengawal Big Bos siaga penuh diantara barisan orang miskin yang kian merangsek ke dalam. Karena tanpa pengawaln polisi, ribuan orang miskin berjejal. Mereka tak menghiraukan risiko yang bakal terjadi bila mereka tanpa aturan. Sis sesekali mengatur bungkusan dan tumpukan amplop berisi uang. Sebentar lagi akan dibagikan. Keringat, dan bau badan dari ribuan orang miskin bercampur dengan aroma ketek yang sejak tadi oagi tak sempat dibersihkan. Yang terlintas di benak mereka uang dan sembako.

Hari mulai siang. Matahari muali menyengat. Tapi tidak sepanas di gurun pasir. Ribuan orang miskin yang terdiri dari orang tua dan wanita paro baya berjejal saling dorong. Aksi dorong-dorongan ini makin jadi saat Sis dan anak buah Big Bos mulai membagikan amplop dan sembako. Tak ada lagi tutur kata yang baik.

“Hoi! yang sudah kebagian tu mundur, anjing ini!” seorang mulai kesal.

“Gimana mau mundur kalu aku terjepit!” jawabnya tak kalah kesal.

“Coba antri dengan teratur, supaya tidak saling dorong,” megaphone anak buah Big Bos memecah kegaduhan. Tetapi tak sesiapa yang mengindahkannya.

Berebut amplop dan sembako kemudian berubah menjadi lautan kekesalan. Hukum rimba pun tak tereelakkan. Siapa kuat akan mellibas yang lemah. Seorang nenek beranbut putih terlihat mulai lemas. Mungkin kehabisan oksigen. Salah satu pengawal Big Bos tanggap. Nenek berhasil diangkat. Tetapi yang lain punya nasib sama. Beberapa wanita tua tak sanggup lagi menahan desakan dan dorongan dari beberapa orang yang lebih kuat.

Jeritan, umpatan dan harapan mendapat santunan dari Big Bos menjadi irama pilu di negeri kaya, seperti Indonesia. Melihat ini, aku teringat dengan masa-masa sulit zaman kemerdekaan. Kata ayah, antrean panjang orang miskin saat ini persis seperti zaman Belanda dan Jepang. Orang berebut hanya sekedar ingin mendapat rangsum nasi bulgur. Olahan nasi dan jagung yang dimasak semauanya untuk sekedar bertahan hidup.

“Kalau begitu, kita ini kembali ke zaman penjajahan, yah?” tanyaku suatu kali.

“Ya! Tetapi dalam ruang dan zaman berbeda. Karena kekayaan di negeri ini hanya dinikmati segelitir orang, akhirnya di zaman kita kembali menyaksikan nyanyian kemiskinan itu menjadi alunan hidup yang tak kunjung usai,” ayah kemudian tak tahan. Ia harus menyeka air matanya yang hampir saja jatuh di pipinya. Ada kepluan disana. Orang semacam ayah sebagai mantan pejuang, seharusnya mendapat porsi kehormatan di negeri ini. Tetapi tidak untuk di negeri ini. Ayah harus hidup dengan tanaman singkong di belakang rumah. Katanya, ini untuk mengenang keprihatinan saat ayah masih bersama pejuang dan Jenderal Sudirman harus hdiup dengan makanan seadanya.

“Sekarang ada pembagian uang dan sembako di rumah Big Bos. Kenapa ayah tidak ikut kesana?”

Ayah menatapku. Ia mengelus rambut. Seperti ada kalimat pedih yang hendak diucapkan. tetapi aku hanya bisa mendegar dari detak jatungnya. Kepedihan bangsa ini tak bisa ayah gambarkan dengan kata-kata. Ia kemudian menatap hamparan luas yang membentang dihalaman rumah. Dadanya yang penuh ia lepaskan dengan helaan napas panjang.

Sesekali ia hanya menggelengkan kepala melihat beberapa orang yang terus berdatangan melintas di depan rumah menuju rumah Big Bos.

“Pak Salim, ayo ambil uang dan sembako, Pak!” teriak salah satu warga.

Ayah hanya tersenyum pahit. Menganganguk dengan seibu makna yang aku sendiri tidak tahu.

Kami masih terpaku di depan rumah. Sesaat kemudian orang-orang ribut berlarian. Sebagian lagi tanpak kalang kabut.

“Panggil ambulan. Cepat!”

Ayahku tak kuat menahan diri. Dengan tenaga yang tersisa ayah beranjak menuju kerumunan orang yang sebagian berlarian. Beberapa orang digotong. Mobil ambulan tak lama datang. Mobil angkutan kambing juga dikerahkan. Wanita-wanita tua terkapar kehabisan napas. Mereka mati berebut amplop dan sembako di ruamh Big Bos. Angin kematian itu terkabar lagi di tengah negeri lumbung pangan.

Diantara kepedihan ada sekelompok yang tertawa.

“Ini, Bos yang dikatakan memberantas kemiskinan. Orang miskin diajak berebut sembako lalu mati kehabisan napas. Hari ini dua puluh satu orang. Kalau besok bertambah, jumlah angka kemiskinan akan terus berkurang,” Sis memaparkan gagasan yang kemudian baru diketahui oleh beberapa pengawal Big Bos.

“Ini terlalu berisiko, Sis!” salah satu pengawal kesal dengan strategi ini.

“Bung, tidak ada perbuatan yang tidak berisiko!”

Dua hari setelah tragedi di rumah Big Bos, suasana pilu di negeri ini makin terngiang di tengah hiruk pikuknya konstelasi politik taik kucing. Big Bos akan berhadapan dengan puluhan pengacara yang siap menggugat. Ia dikenai pasal keramaian yang menimbulkan kematian.

“Tidak bisa! Mati itu bukan lantaran mereka berdesakan, tetapi memang Tuhan berkehendak mencabut nawa mereka!” argumen Big Bos kali ini berbau tauhid.

“Bener, Bos. Tapi hukum di negeri ini tidak bisa dihubungkan dengan kebijakan Tuhan. Sebab, tuhan mereka bukan lagi di langit tetapi di dalam nafsu mereka, Bos,” Sis mencoba menjelaskan dengan pengetahuan yang ia punya.

“Sudah kalau begitu, kuat biarkan saja orang miskin itu. Lama kelamaan mereka juga akan mati sendiri!” Big Bos kesal.

“Tepat, Bos! Itu yang saya katakan memberantas kemiskinan di negeri ini. Orang miskin dibiarkan lapar tanpa kepedulian, sehingga secara perlahan tapi pasti mereka akan mati dengan sendirinya. Bukankah dengan begitu jumlah kemiskinan itu akan makin berkurang? Dan ini menjadi peluang bagi pengangguran untuk menjadi relawan dalam mengangkut dan menggali kuburan, dengan program padat karya,” Sis bicara semaunya.

Seandainya orang kaya yang mendatangi orang miskin dan berbagi kesejehteraan, mungkin kematian tidak harus menjemput. Tetapi karena kita salah menterjemahkan berbuat baik, akhirnya berbuah tragedi. Kini, kematian warga seakan terlupa begitu saja. Sementara jumlah orang miskin terus bertambah. Kian hari kelaparan dan dahaga memburu. Semua menunggu kematian.(*)

Tanjung Enim, 16 September 2008 M (16 Ramadhan 1429 H)

Catatan : 

Cerpen ini terinspirasi oleh kasus pembagian zakat di Pasuruan Jawa Timur yang menelan 21 korban tewas.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s