Cinta Bukan Perawan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Hampir setiap malam Minggu, rumah kost saya, menjadi pangkalan beberapa orang. Ada Dosen, mahasiswa, seniman, PSK, aktifis, dan lain-lain. Semua kumpul. Pertemuan ini, tidak terjadwal. Semua berjalan secara kultural. Mengalir seperti air. Tetapi hampir setiap malam Minggu, rumah kost saya tidak pernah sepi oleh kawan-kawan, yang kadang-kadang hanya mampir untuk ngopi, lalu pergi tanpa ucapan terima kasih.

Malam itu, ada perdebatan yang cukup menarik. Persoalan perawan dan cinta, sedang menjadi diskusi.  Semua berjalan saling timpal. Sesekali muncul ketegangan. Sesekali juga muncul ketidak-seriusan. Semua berjalan tanpa moderator. Yang  menjadi moderator,  hanya kecerdasan emosional masing-masing.

Mulanya, saya menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki, yang baru saja menikah. Dan pagi harinya, Laki-laki itu, mengusir  dan mengembalikan isterinya kepada orang tuanya, karena ketahuan isterinya tidak lagi perawan. Yang terjadi, adalah perceraian, sehari setelah pernikahan. Pernikahan hanya berjalan satu malam.

“Wah, gila! Itu bukan  tipe laki-laki yang  menghargai cinta”, Tukas  Kenthus, menyela pembicaraan saya.

“Entar dulu, Thus. Ini cerita belum selesai, main potong saja Kau”, Sela Mat Solor kesal.

“Lanjut  Lim!, Kata Mat Solor menyuruh saya meneruskan  ceritanya.

“Terpaksa, isterinya harus pulang ke rumah orang tuanya. Dan sampai sekarang,  dia menjadi janda kembang di desa”.

“Nah, enak juga tuh janda kembang.  Yok kita kesana”, Sela Kathing, tanpa beban.

Cerita saya hanya sampai disitu. Dan cerita saya ini kemudian menimbulkan perdebatan.

“Bagaimanapun, aku tidak setuju dengan cara laki-laki itu”, Ujar Kenthus, seperti tidak tahan menahan emosi.

“Kalau aku sepakat. Bagaimana akan mencintai, kalau isteri kita tidak lagi perawan. Ini akan mengecewakan kaum laki-laki”, Tukas  yang lain.

“Emangnya, dari mana dia tahu kalau isterinya tidak parawan?” Tanya  Benjo lugu.

“Lhah, kau ini gimana Njo. Kalau  saat hubungan intim tidak mengeluarkan darah, ya tentu saja sudah tidak lagi perawan.  Makanya, sering-sering bergaul dengan manusia, Njo, jangan Ngubeg di Pesantren aja…”.

“Lor,  kau jangan bawa-bawa pesantren di sini. Ini nggak ada kaitannya dengan perdebatan malam ini“, Ujar Benjo agak tersinggung.

“Iya deh, maafkan saya Pak Kiai”. Mat Solor meledek.

Kali ini Benjo memilih diam.

“Tapi, Njo, keluar darah pada malam pertama, itu juga bukan jaminan, apakah  perempuan itu perawan atau tidak. Solor itu terlalu sempit”, Kata Likun, anak Fakultas kedokteran, yang baru getol-getolnya berdisikusi.

“Perawan, itu bisa saja pecah, gara-gara olah raga, atau jatuh. Dan pada malam pengantin, bisa saja tidak mengeluarkan darah”. Tambah Likun menjelaskan pada Benjo.

“Kun,  biar Benjo cari info sendirilah. Itu tak perlu Kau jelaskan. Semua orang juga sudah tahu”.

Mat Solor agak kesal, karena persoalan jadi mentah, oleh pertanyaan Benjo yang lugu.

“Tapi bener, Kun. Itu perlu Kau jelaskan.  Tidak keluarnya darah pada malam pertama, itu bukan  menjadi  tuduhan, bahwa perempuan itu tidak perawan. Ini cuma akal bulus laki-laki saja”, Ujar Munthul, PSK Kampung baru.

“Jadi itu Njo, Kau  dengar kan?” Solor menimpali.

Benjo  hanya bersungut tidak setuju dengan cara Mat Solor.

“Kalau aku  begini. Seandainya,  perempuan itu mengaku sebelum menikah, aku masih bisa toleran”, Sonop memulai lagi diskusi.

“Wah, bagaimana kau bisa bilang begitu, Nop?  Di dunia ini, hampir setiap laki-laki, mengidamkan  perawan!” Sela Mat Solor.

“Ya, boleh saja mengidamkan perawan, tapi kan aku nggak salah, kalau aku lebih menghargai kejujurannya, dari pada harus membuang-nya, hanya lantaran  perempuan itu tidak perawan?!”.

“Jadi kau lebih mencintai kejujuran dari pada keperawanan?”.

“Ya!” Tegas Sonop.

“Justeru akan lebih menyakitkan bagi perempuan, jika hanya lantaran dia tidak perawan, lalu laki-laki itu membuangnya”.

“Setuju aku Nop, dengan Kau !” Timpal Munthul merasa dibela.

“Bahkan, aku sangat menghargai dengan Mbak Munthul,  dengan mengaku jujur, dia seorang PSK, ketimbang diam-diam, tetapi tidak lagi perawan”.

“Bagus, Nop”. Timpal Munthul lagi.

“Wah, malam ini, Kau bakal dapat jatah ranjang dengan Munthul. Nop…”

Gelak tawa seketika menggelegak, memecah keseriusan malam.

Kampang2, Kau Lor. Kawan ya kawan, tidur semalam harus bayar, dong. Emangnya,  aku ini milik negara apa?”

“Tapi bener. Kalau laki-laki meng-idamkan perawan, sementara laki-laki itu sudah tidur dengan banyak perempuan, itu kan cuma egois-nya laki-laki. Belum lagi sudah meniduri pacarnya yang dulunya masih perawan. Itu ego…”, Ujar Munthul lagi.

“Tapi, ya nggak bisa begitu dong…”, Sela  Benjo.

“Lha, Iya…” Munthul tak mau kalah.

“Laki-laki banyak yang sudah meniduri perempuan. Sementara, dia masih ingin mendapat perempuan yang suci, perawan dan ting-ting. Apa itu bukan egosi?!”

“Ya, kalau saya kan belum, Mbak..?” Benjo memprotes.

“Sekarang saja kau masih di Pesantren. Kalau sudah keluar, aku nggak jamin, kok!

“Sabar, Njo, ini hanya diskusi”,   Saya mencoba menenangkan Benjo, yang sepertinya, malam itu banyak tersinggung.

Maklum, selain umurnya masih relatif muda, Benjo memang orang yang sensitif.

“Kalau kamu Kun?!” Tanya Saya pada Markun, yang sedari tadi hanya sibuk main game.

“Ha, …apa…?” Markun gugup.

“Wah, Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung goblok!”

Kacus, Kau!  Aku kan nggak ikut-ikutan. Lanjut sajalah”.

“Tapi, pacarmu itu udah nggak perawan, Kun!” Mat Solor memancing Markun.

“Ya, biarin aja, memang aku yang paling dulu nidurin dia. Kenapa mesti pusing”.

Yang lain bengong. Markun kembali main game.

“Nah, sekarang, gimana dengan kasus perempuan yang dipulangkan, gara-gara tidak perawan tadi?” Solor mengembalikan topik pembicaraan.

“Kalau aku, mestinya perempuan  menuntut ke pengadilan!”, Sela yang lain.

“Alaah, Sekarang mana ada pengadilan yang adil.  Keadilan  hanya untuk orang-orang berduit.”

“Iya bener, pengadilan kayak pisau. Kalau ke bawah, tajam. Tapi kalau ke atas tumpul”.

“Ya, itu kan hanya ikhtiar..”

“Kalau aku,  tidak akan mengusir atau memulangkan perempuan itu ke rumah orang tuanya..”

“Lalu…?” Mat Solor penasaran dengan pendapat saya.

“Ya,  tetap aku jadikan isteri”.

Yang lain menatap saya.  Mereka sedang menunggu lanjutan kata-kata saya. Sebab, saya mungkin agak berbeda dalam menyikapi persoalan ini.

“Kalau dipulangkan ke orang-tuanya. Yang pasti, kita, sebagai laki-laki, akan mendapat  sebutan laki-laki goblok. Kenapa kita tidak selektif memilih perempuan. Kenapa sebagai laki-laki tidak berhasil mengorek keterusterangan perempaun calon isteri kita se-detil mungkin.”

“Ya, bagaimana bisa  dia terus terang. Pasti takutlah perempuan itu. Jangan-jangan akan ditinggal pergi, setelah mengaku”. Ujar Kathing, yang baru beberapa saat banyak diam.

“Ya bisa-bisa kita. Masak sih,  dengan kecintaan kita, perempuan itu tidak bisa kita suruh terus terang? Dan kedua, kalau perempuan itu di-pulangkan hanya lantaran tidak lagi perawan, seluruh keluarga akan malu. Masyarakat yang menjadi tamu,  lambat laun akan segera tahu. Keluarga kita malu, perempuan itu malu. Dan semua telah mempermalukan diri sendiri”.

“Wah, Lu ideal-banget”, Solor menyela.

“Ini kan pendapat. Kau boleh saja  tidak setuju, Lor. Jangan potong aku dulu”.

“Iya deh, Lim,  aku tahu, ini kan rumah kost-mu. Entar aku nggak boleh tidur sini, gara-gara aku nggak setuju dengan pendapatmu…”

Kembali, gelak tawa memecah keseriusan.

“Dan buat aku, memaknai cinta bukan pada perawan dan tidak perawan. Janda sekalipun, kalau  memang aku cinta, kenapa harus kutolak. Aku justeru tidak jujur pada diri sendiri, ketika aku pungkiri panggilan nuraniku, untuk mengatakan cinta pada janda sekalipun, misalnya”.

“Ah, itu kan karena kau juga sudah tidak lagi perjaka, Lim”, Sela yang lainnya lagi.

“Tapi nggak bisa begitu. Sekalipun aku masih perjaka, aku tetap pada pendirianku. Bahwa Cinta bukan identik dengan keperawanan”.

“Cinta ya cinta. Cinta adalah anugerah dari Tuhan, yang tidak mesti harus dinodai dengan persengketaan, apalagi dengan persoalan perawan atau tidak perawan”.

“WTS sekalipun!?” Tanya Solor.

“Mungkin. Lebih baik punya isteri mantan WTS bermental perawan, dari pada perawan bermental WTS”.

Sudah Jam tiga pagi. Mbak Munthul sudah pergi jam dua belas tadi, untuk  melayani para laki-laki yang tega menghianati cinta isterinya di rumah.  Beberapa kawan juga sudah mendengkur. Mereka tidur tak beraturan.  Mereka membawa mimpinya masing-masing.  Mungkin ada juga yang mimpi tidur dengan perawan.**

Palembang, 18 Nov 2001

Kampang = kata-kata hujatan kasar karena jengkel di Sumsel 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s