Negeri Ikan Tempalo

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Suatu ketika, saya sedang berjalan-jalan di suatu kampung. Pada sebuah halaman rumah, saya mendapati kerumunan anak-anak, yang umurnya masih belasan tahun. Dengan posisi jongkok, masing-masing anak memutar, seakan sedang membuat lingkaran. Ada sesuatu yang sedang mereka lakukan. Saya coba mendekat. Ternyata, anak-anak ini sedang mengadu dua ekor Ikan Tempalo. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk saling mengalahkan, dengan bayaran tertentu. Atau paling tidak, sekalipun tidak saling bayar, kedua binatang itu, sedang dituntut untuk saling melukai antar sesama.

Sepulang dari kampung tadi, saya pulang. Kebetulan, saya melewati jalan belakang, dengan rapapan, saya lebih cepat sampai ke tempat rumah kos. belum sampai di rumah, di sebuah halaman warga, saya kembali mendapati kerumunan yang sama. Tapi, kali ini bukan anak belasan tahun, melainkan sudah bapak-bapak. Paling tidak mereka sudah berumur 30-an keatas. Kalau kerumunan anak-anak tadi mayoritas jongkok, kali ini  tidak, sebab sebagian berdiri.  Suasananya ramai.

Saya pun mendekat. Persis, di tengah arena, saya melihat dua ekor ayam jago, sedang diadu dan disaksikan oleh banyak orang. Dari salah satu ayam jago, di ujung matanya sudah terluka dan mengeluarkan darah. Sementara, ayam satunya, masih tegar dan terus menyerang. Tapi, si pemilik masih juga membiarkan ayamnya terus bertarung. Adu ayam ini, sudah   tentu untuk mendapatkan bayaran atau dengan taruhan. Bagi para penonton,  mungkin hanya sekedar mencari kepuasan batin, atau hanya mencari hiburan.

Tidak jauh berbeda, arena sabung ayam dan arena aduan ikan tempalo, sama-sama sedang memaksa dua binatang yang satu komunitas, untuk saling melukai, saling serang, bahkan saling bunuh. Konsekuensinya, siapa kalah, harus membayar atau harus memenuhi taruhan kepada yang menang.

Dalam perjalanan pulang, saya jadi teringat disaat masa anak-anak dulu. Ketika itu, saya dan teman-teman juga sering mengadu antara dua jangkrik. Oleh karena kepolosan sifat anak-anak, maka saya dan temen-teman se-umur, enjoy saja disaat kedua jangkrik saling serang, saling melukai. Tentu saja, keduanya pasti ada luka. Baik dalam tubuh masing-masing jangkrik, atau luka bagi saya, kalau kebetulan jangkrik saya yang kalah.

Seratus meter dari rumah kos, saya sempatkan mampir  ke warung Mbak Anik, tempat biasa saya mengutang nasi, kalau kebetulan, saya sedang krisis. Tak biasanya warung Mbak Anik sepi. Biasanya, dari abang becak, sampai mahasiswa tumplek di warung Mbak Anik, sekalipun  hanya sekedar nongkrong, atau menggoda Santi–keponakan Mbak Anik.

“Tumben sepi, Mbak?”

“Lha itu, pada di didalam!”

“Memang ada apa di dalam?”

“Lha ya nonton Tinju Mike Tyson, to”.

Saya mencoba membuka sedikit jendela nako, persis di belakang tempat duduk saya. Dari lipatan nako, saya kembali mendapati kerumunan orang yang sedang serius menonton pertandingan  tinju kelas berat, antara Mike Tyson dengan Clifford Etienne. Sayang, baru 49 detik, Clifford Etienne harus mencium kanvas.

Sampai di rumah, saya membuka sebuah koran harian. Halaman kota, masih diwarnai aksi bentrok antara buruh dan aparat. Halaman nasional, memberitakan, satu mahasiswa menjadi korban dalam bentrokan dengan aparat. Demikian pula, aparat Kejaksaan Tinggi Makassar bentrok dengan massa yang menuntut penyelesaian kasus korupsi. Berita lainnya, mahasiswa masih melakukan aksi demonstrasi, menuntut Mega-Hamzah turun.  Bahkan, koran itu juga menulis, bagaimana sikap kekesalan mahasiswa terhadap Mega-Hamzah, ditunjukkan dengan aksi menaburi lumpur di atas foto Mega dan Hamzah. Tak hanya itu, foto Mega-Hamzah pun, diinjak-injak.

Aksi desakan menurunkan Mega-Hamzah dengan melumpuri dan menginjak-injak foto, membuat Jacob Nuwa Wea, kader PDI Perjuangan, yang juga menteri Tenaga Kerja berang. Jacob mengancam, jika mahasiswa tidak menghentikan aksi-nya menginjak-injak Mega-Hamzah, maka mahasiswa akan berhadapan dengan massa PDI Perjuangan.

Dari pernyataan Jacob, saya jadi ingat dengan perjalanan saya di awal, sejak dari sebuah kampung, sampai saya dirumah. Ternyata bukan saja jangkrik, Ikan Tempalo, Mike Tyson atau ayam jago yang akan dipaksa untuk beradu fisik, mahasiswa pun sedang dipaksa untuk  diserang dan menyerang. Dipaksa untuk saling melukai, saling menyakiti.  Mungkin, Jacob atau juga kita, sudah terlalu sering mengadu jangkrik, Ikan Tempalo, menyabung ayam, sampai sering menikmati Tinju, sehingga kita kadang tidak ingat dengan kalimat-kalimat ancaman terhadap kelompok  lain, yang pada intinya, hanya memaksa antara satu sama lain untuk saling serang dan saling melukai.

Dari persoalan ini, saya  kemudian bertanya, kenapa saya harus mengerahkan massa pendukung saya, jika kakak dan adik saya mengkritik, atau bahkan menginjak-injak foto Bapak saya. Apa hubungannya, antara massa pendukung saya dengan posisi Bapak saya?

Mungkin, kita terlalu sering, terlalu panjang dilatih, terlalu dibiarkan, dan banyak difasilitasi untuk terus  bertarung, sehingga, secara tidak sadar, negeri ini bisa menjadi negeri “Ikan Tempalo”—negeri yang berisi manusia-manusia yang kesehariannya hanya bisa saling serang, saling melukai, saling membunuh, atau paling tidak suka memfasilitasi, dan menikmati pertarungan, pertengkaran, perkelahian. Kalau memang itu yang akan terus dilakukan di negeri ini, kenapa kita masih mengaku cinta damai,  kalau pada kenyataannya, kita lebih memilih menjadi Ikan Tempalo, yang setiap saat dipaksa untuk diadu? **

 Jl.Demang .L. Daun-Palembang, 2003

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s