Pengadilan untuk Nyi Welas

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen  Imron Supriyadi

Suatu ketika,  Juragan Tirta, tetangga saya kehilangan beberapa barang berharga yang nilainya mencapai 300-an rupiah. Informasi terakhir, uang sebanyak itu, telah dicuri oleh seseorang, ketika rumah itu kosong.  Dari pengamatan di lokasi kejadian, si pencuri jelas membongkar paksa pintu depan. Sebab, ditemukan, kunci pintu  ruang tamu rusak, meninggalkan bekas pembongkaran  paksa.

Si Inah, pembantu rumah tangga, menjadi sasaran  sang majikan. Sebab, waktu pencuri itu masuk, Inah sedang belanja ke warung. Dan dihadapan polisi, Inah mengaku,  sepulang belanja, dirinya bertemu dengan pembantu lainnya, yang kebetulan satu desa dengan Inah.

“Kebetulan pembantu sebelah satu desa dengan saya, dan sudah lama tidak ketemu, makanya saya sempat ngobrol panjang”. Tutur Inah ketakutan.

“Terus kamu biarkan rumah itu kosong, begitu! Atau pencuri itu memang sekongkol dengan kamu?!”, Ny. Juragan Tirta marah besar kepada Inah.

Inah hanya terisak.

“Ya terserah juragan. Mau diapain juga, saya juga tidak bisa mengganti. Toh barang-barang itu sudah ludes dibawa pencuri”.

“Enak saja, Kamu ngomong! “ Ny Tirta emosi, sambil mendorong keras kepala Inah.

“Sabar..sabar, Bu. Ini tanggung jawab kami, Bu”, Salah satu polisi mencoba menenangkan Ny. Tirta.

Dua hari setelah itu, peristiwa serupa kembali menimpa komplek lainnya. Kali ini, juragan Kamal yang tertimpa musibah. Warung dan 1 ton kopi yang ada di gudang raib digondol pencuri. Seperti juga Ny. Juragan Tirta, keluarga juragan Kamal juga kalang kabut. Tidak jelas, berapa banyak uang yang sudah keluar untuk membayar polisi, agar segera mencari pencuri itu.

Sejak kejadian itu, kemudian warga sepakat membuat pos kamling. Tujuannya, untuk mengurangi aksi pencurian dan sejenisnya. Tetapi, namanya juga maling, selalu lebih pintar dari tuan rumah. Beberapa kejadian terus melanda.

Dan malam pekan lalu, sekitar pukul 19. 00 WIB, warga menangkap basah salah satu pencuri, di gudang  beras juragan Tirta. Hampir saja warga akan menghabisi pencuri itu. Namun, melihat yang mencuri seorang nenek yang sudah renta, emosi itu pun  reda.  Beberapa warga hanya mendorong kasar kepada nenek tua itu.

“Jangan, jangan, Cu, jangan sakiti nenek. Tolong…”, Pinta nenek  yang masih memegang satu genggam beras di tanggannya.

“Sudah tua, masih nyuri, ibadah nek! Ibadah!” Seru yang lain.

Nenek yang mencuri itu, kemudian dibawa oleh warga ke kantor lurah. Di sana sudah berdiri pak Lurah, beberapa pejabat kelurahan beserta aparatnya.

“Sekarang, saudara-saudara saya minta tenang.  Saudara-saudara tidak bisa main hakim sendiri. Ini negera hukum!”

“Kalau negara hukum, kenapa yang korup 40 miliar masih jadi ketua DPR, dan tidak di penjara?” Tutur salah satu warga.

“Iyya betullll!”

“Ya, itu di tingkat pusat.  Kelurahan kita juga punya pengadilan dan hukum adat sendiri. Makanya, jangan mencontoh para atasan yang tidak baik. Hukum itu ya hukum. Siapapun harus diadili”.

“Jadi bagaimana dengan nenek ini?!” Teriak warga lainnya. Tidak sabar lagi.

“Iya, sebentar, sebentar. Semua ada proses”, Kata Pak Lurah menenangkan warga.

“Proses-proses! Kapan selesainya?!”

“Kita sedang menunggu Wali Pemutus Hukum di kelurahan ini. Saudara kan tahu, Saya tidak punya kewenangan untuk hal ini.”

Nenek renta itu masih tertunduk. Pikirannya melayang ke tiga anaknya yang hingga malam itu belum makan. Tetapi, warga tetap saja tidak mengerti apa sebenarnya kemelut yang sedang terjadi dalam guratan batin nenek itu. Sesekali,  sang Nenek mengusap derai air matanya. Tapi warga sekitar tak juga mau peduli. Mereka tetap menuntut hukuman bagi nenek yang secara kebetulan telah melakukan pencurian, sekalipun hanya sekedar segenggam beras dari gudang juragan Tirta.

“Saudara-saudara, pengadilan akan segera dimulai, dan mohon saudara-saudara tenang”, Pak Lurah mencoba menenangkan warganya.

Seorang Wali Hukum dengan pakaian adat sudah berada di hadapan nenek. Sebuah Kursi khusus, sengaja disediakan, sebagai tempat duduk terdakwa.

“Siapa nama nenek?”

“Nyi Welas”

“Asal nenek?”

“Dari kelurahan  ini?”

“Tepatnya di mana, Nek?”

“Di belakang rumah juragan Tirta.”

“Kenapa nenek mencuri?”

“Karena hari ini, daun pisang yang saya jual tidak laku, jadi hari ini, tiga anak saya tidak bisa makan.”

“Berapa banyak nenek mencuri beras?”

“Ini..”, Jawab Nenek sambil menunjukkan sebuah palstik hitam, yang berisi beras.

Wali Hakim seketika geleng-geleng kepala.

Warga saling pandang tak mengerti.

“Hanya, ini nek?!”

Nenek mengangguk kecil.

“Saya kira, untuk sementara cukup.”

Wali Hakim kemudian membanggil korban. Juragan Tirta kemudian menempati kursi.

“Nama anda, Tirta, atau dikenal dengan Juragan Tirta?”

“Betul”.

“Anda kenal dengan pelaku?”

“Kenal?”

“Anda sudah mendengar, kenapa Nenek itu mencuri beras anda?”

“Ya, saya sudah mendegar.”

“Anda tahu, di belakang rumah anda ada seorang nenek yang renta dan tidak bisa mencukupi makan dalam satu harinya?”

Juragan Tirta terdiam sejenak.

“Pak Tirta,   anda mendegar  kata-kata saya?”

“Ya,  mendengar.”

“Anda tahu dengan kondisi nenek yang berada di belakang rumah anda?”

“Ya, saya  tahu”.

“Apakah anda sudah pernah memberi sedikit beras kepada nenek itu?”

“Belum pernah”.

“Kenapa?”

Lagi-lagi, juragan Tirta terdiam. Suasana pun menjadi hening. Masing-masing warga saling pandang. Ada segumpal tanda tanya besar tentang bagaimana hasil akhir dari keputusan wali hakim.

Detik-detik keputusan pengadilan segera diumumkan. Juragan Tirta, mencoba tenang. Tapi dari raut wajahnya,  tak dapat di pungkiri, ia pun menyimpan ke-khawatiran.  Sebab, jangan-jangan, dia sendiri yang akan terkena hukuman.

Gong tanda dibukanya keputusan sudah di tabuh.  Mata warga semua tertuju pada wali hukum, yang telah berdiri dan akan segera membacakan  keputusan  akhir pengadilan.

“Setelah melihat, mendengar pengakuan dari  beberapa saksi, satu korban dan satu pelaku, maka, kami Majelis Hakim di kelurahan, memutuskan, Nyi Welas dinyatakan bebas dari tuntutan. Sementara, dakwaan, beralih kepada Juragan Tirta. Alasannya, Nyi Welas mencuri bukan untuk kaya, tetapi lebih disebabkan untuk mempertahankan hidup. Sementara, Juragan Tirta, yang memiliki tumpukan beras, tidak pernah peduli kepada Nyi Welas, yang jelas-jelas berada di di belakang rumahnya”.**

Demang. L. Daun-Palembang, 3  Januari 2003

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s