Tender Negeri Sampauke

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Dipertuan Agung Sebaya, lebi kenal dengan Tuan Sebaya. Ia adalah pemimpin baru bagi Negeri Sampauke. Dipertuan Agung, merupakan gelar kebesaran melayu bagi trah atau keluarga darah biru. Gelar ini sebagai akibat kolaborasi pernikahan keturunan kerajaan Majapahit di tanah jawa dan keturunan Melayu. Karena Tuan Sebaya memang memiliki aliran darah kerajaan, karirnya pun tak surut oleh guncangan politik di negeri itu. Tuan Sebaya memang sempat kalah dalam konvensi Mardika. Bahkan ketika itu, nama Tuan Sebaya sama sekali diluar hitungan bila kini kemudian telah menjelma menjadi penguasa di negerinya.

Tuan Sebaya memiliki banyak pekerjaan rumah. Ia memang harus cuci piring. Penguasa sebelumnya masih menyimpan persoalan yang tak kunjung selesai. Sejak kasus Tragedy Tri Sakai 21 Mei yang menelan 14 nyawa mahasiswa, kejahatan politik, penculikan aktifis, mafia peradilan, buruknya birokrasi, mentalitas pejabat yang hanya datang, duduk dan duit sampai persoalan kornis dalam korupsi. Untuk menyelesaikan tugas ini, Tuan Sebaya tak bisa sendirian. Untungnya, Tuan Sebaya didukung oleh puluhan partai politik sehingga dalam melakukan upaya penegakan hukum bagi koruptor tidak banyak mengalami kesulitan.

“Menurut kami, skala prioritas bangsa ini adalah bagaimana pemerintah Sebaya harus menyelesaikan Tragedi Tri Sakai. Sebab bila tidak, ini akan menjadi preseden buruk bagi jalannya roda pemerintahan Sebaya di kemudian hari,” tegas Irham dari fraksi pembaruan.

“Prioritas program pemerintah bukan kasus Tragedi Sakai, tetapi  persoalan korupsi. Sebab korupsi inilah yang sangat jelas telah menimbulkan efek kronis bagi kemiskinan rakyat, sekaligus merugikan negara. Berapa banyak Gubernur, Bupati, dan ara pejabat yang korup, tetapi tidak tersentuh oleh hukum?! Kalau ini tidak diselesaikan segera, maka dari fraksi kami akan menark dukungan terhadap Tuan Sebaya!” tukas Syahman bernada mengancam.

Tuan Sebaya harus berhadapan dengan kiritik dan otokritik dari berbagai fraksi. Di satu sisi ada fraksi yang geram terhadap korupsi karena mereka tidak kebagian. Ada lagi yang kesal dan dendam pada tindak korupsi karena dia tidak punya kesempatan untuk melakuka korupsi. Sebagian lagi ada yang menolak korupsi karena uang hasil korupsinya harus berbagi fifty-fifty dengan pengurus partai.

“Dari pada hanya terima separo, lebih baik saya tidak menerima sama sekali,” tukas Hayda tanpa beban. Anehnya, sikap ini kemudian dijadikan komoditi politik partainya. Hayda, malah menjadi pahlawan bagi partainya. Di media massa, Hayda seakan menjadi dewa yang paling bersih dari korupsi. Aku yang mengetahui latarbelakang penolakan Hayda hanya tertawa geli. Aku menahan perut yang seketika mual dan mau muntah. Tetapi sesaat kemudian dadaku penuh melihat kepalsuan itu. “Cuih!” aku ludahi media dan gambar Hayda. Ada keinginan untuk mencakar muka Hayda ketika itu.

Benar saja, sejak pemerintahan Tuan Sebaya banyak para pelaku korupsi yang masuk bui. Dari Gubernur, Bupati dan Walikota sampai di tingkat paling bawah tak ada yang lepas dari jeratan hukum. Banyaknya kasus korpusi ini juga tidak lepas dari ekses negatif dari penerapan Undang-Undang Otonomi Daerah. Karena banyak pejabat yang secara mental belum siap, sejak penerapan Otoda tahun 2002, di daerah-daerah Negeri Sampauke seolah menjadi ladang basah bagi para pejabat di daerah untuk menangguk keuntungan materi. Kesan yang muncul, para pejabat daerah sedang melakukan balas dendam setelah selama 30 tahun lebih hasil Sumber Daya Alam (SDA) di daerahnya diserap ke pusat. Akibatnya, saat terjadi de-sentralisasi kewenangan dari pusat ke daerah, tidak sedikit para pejabat daerah kemudian merubah wujud dari pejabat menjadi penjahat. Raja-raja kecil di daerah seketika merebak seperti jamur di musim hujan.

Guna memperkuat upaya penegakan hukum dalam tindak pidana korupsi, pemerintah membentuk Badan Tindak Korupsi yang kemudian dikenal dengan BTK. Ketegasan hukum Tuan Sebaya membuahkan hasil. Kerja BTK dan unsur terkait kemudian menyeret Gubernur, Bupati dan Walikota. Bahkan beberapa anggota Dewan dan Menteri pun sudah mulai diperiksa. Secara perlahan tapi pasti, para koruptor kian terkuak. Seiring dengan itu, orang kemudia berpikir bagaimana memberi sangsi moral kepada para koruptor di hadapan publik. Sidang paripurna pun digelar.

“Untuk memberi sanksi moral terhadap para koruptor, sebaiknya pemerintah Sebaya memanfaatkan televisi untuk menayangkan gambar-gambar mereka. Ya, tentu dengan dana tertentu,” kata Alpon dalam sidang paripurna. Alpon adalah salah satu anggota dewan yang juga memiliki saham di sebuah televisi di Negeri Sampauke.

“Interupsi! pimpinan!” Simpatua, seketika mengangkat tangan.

“Interupsi diterima. To The point!” pimpinan sidang kemudian mempersilakan.

“Tidak adil kalau hanya media televisi. Media cetak juga harus kita manfaatkan untuk memberi sanksi moral terhadap para koruptor. Sebab begini, tidak semua rakyat menonton televisi, dan tidak tidak semua rakyat membaca koran. Intinya dengan penayangan dan pemasangan gambar para koruptor di koran dan televisi, dapat memberi rasa malu dan efek jera!” Simpatua bersemangat. Dalam pikirannya yang terlintas adalah, apabila iklan koruptor ini disetujui dimuat di media cetak dan elektronik, maka media yang ia miliki pasti akan kebanjiran iklan. Apalagi media milik Simpatua merupakan media satu-satunya di wilayah ujung di negeri Sampake.

“Ini kesempatan, Bos. Jangan ente saja yang dapat uang. Media awak juga harus dapat keuntungan dari iklan ini,” Simpatua meledek Alpon usai paripurna.

Iklan di media masih menjadi perdebatan. Sidang Paripurna Dewan dinyatakan deadlock. Tidak semua fraksi mendukung dan menolak. Karena tidak ada kesepakatan Sidang Paripurna tak menghasilkan apa-apa.

“Mestinya tadi one man, one fote, jadi bisa diambil suara terbanyak! Kalau begini kan jadi buang-buang uang negara. Tanpa hasil lagi!?” Jay sedikit kecewa dengan hasil sidang siang itu yang seolah diulur-ulur.

“Mengambil suara terbanyak?! Ah! Itu namanya diktator mayoritas. Lagi pula, suara terbanyak tidak mesti yang benar. Malah sebaliknya jumlah sedikit boleh jadi yang benar. Jadi banyak sedikit suara itu bukan menjadi jaminan dari kebenaran sebuah fakta,” Rid menjawab dengan luapan argumentasi yang terus mengucur dari mulutnya.

“Secara institusi, kami setuju pemuatan wajah koruptor di media. Tetapi kami juga mengusulkan, agar para koruptor ketika sudah dinayatakan tersangka harus memakai baju khusus koruptor saat menjalani persidangan. Ini bertujuan agar para koruptor tidak lagi mengulangi perbuatannya karena malu dengan baju koruptor,” ujar Skywan dari fraksi reformasi.

“Kalau memang usulan ini disetujui, pemerintah juga harus mempertimbangkan anggaran untuk membuat baju koroptor ini. Sebab, untuk memenuhi jumlah pelaku kejahatan di negeri ini memerlukan dana yang tidak sedikit, sehingga perlu dibahas secara detail!” kata uang lain.

“Setelah dikalkulasi secara gradual, untuk membuat baju koruptor ini pemerintah Dipertuan Sebaya harus mengeluarkan anggaran sebesar 100 miliar. Ini anggaran selama satu tahun di 32 Kabupaten dan Kota. Jumlah ini belum dihitung dengan kemungkinan adanya pertambahan jumlah koruptor yang tertangkap. Karena jumlah anggaran ini melebihi dari 150 juta, harus dilakukan tender dan tidak boleh dipilih langsung. Ini sesuai dengan undang-undang!” ujar Reyzi, sok birokratis dan taat hukum. Padahal yang terbersit di pikirannya kolega konveksi pakaian yang siap menjadi jaringan dalam meraup keuntungan dari proyek ini.

“Usulan pimpinan sidang!” Gyta, mengangkat tangan dan bicara. “Walau ini baju seorang koruptor, tetapi menurut pertimbangan kami baju ini harus tetap di-desain sedemikian rupa, sehingga baju tersebut tetap memiliki standar artistik desain yang baik. Nah, untuk mendesain ini kita membutuhkan desainer pakaian yang profesional. Tentu, pemerintah juga harus siap membayar mahal,” Gyta bersuara lantang layaknya bermain teater diatas panggung pementasan. Gyta memang paham dengan seni desain. Sehingga dalam soal baju koruptor Gyta memang ahlinya, termasuk yang sedang ia pikirkan tentang bagaimana tender desain ini bisa menambah masukan diluar gaji dewan.

Rapat paripurna disepakati. Sejak pemasangan iklan, desain baju dan harga telah diketuk palu. Belum genap satu hari, sudah puluhan bahkan ratusan perusahaan, konveksi, media yang mengajukan tender. Tetapi dalam berkasnya tidak satupun nama anggota Dewan yang tertera disana.

“Lho, kok nama Bapak tidak masuk dalam daftar komisaris, atau apalah. Supaya tendernya cepat disetujui. Kalau tidak ada nama bapak, bagaimana mereka akan tahu kalau saya adalah konveksi yang dibawa oleh bapak?” Akiong, khawatir kalau usulan tendernya tidak tembus akibat tidak mencantumkan nama anggta Dewan yang menjadi koleganya.

“O, jangan. Namaku tidak perlu ada diatas kertas. Aku tidak butuh nama, tetapi ini,” kata Ryzi dengan mempertemukan jari telunjuk dan ibu jari, sebagai lambang ia hanya butuh duit, bukan nama. “Lagi pula, kalau ada namaku di perusahaan pengusul tender, aku akan ditegur oleh dewan kehormatan. Sudahlah, koko tak perlu gelisah. Semua bisa diatur!” Reyzi memberi keyakinan.

Rapat tender cukup alot. Pansus baju korupsi dipenuh oleh beberapa anggota Dewan yang memiliki kolega konveksi. Belum lagi Gyta yang memang mempunyai jaringan luas dalam bidang desiner pakaian. Tak kalah pula dengan Simpatua dan Alpons yang memiliki media. Mereka juga ingin mendapat untung dari proyek ini. Ternyata panitia khusus baju korupsi diikuti oleh para anggota dewan yang memiliki hubungan keluar dengan konveksi. Sehingga tidak mustahil bila mereka juga mempunyai kepentingan materi dari tender ini.

Hari pengumuman pemenang tender masih satu pekan lagi. Ryzi, Alpons, Gyta dan beberapa anggota dewan lainnya mencoba melakukan lobi dalam pansus. Sebagian lagi mencari celah mencari pendukung dengan iming-iming bonus. Ini dilakukan agar menang dalam tender. Masing-masing orang seperti menemui jalan buntu. Semua anggota pansus mencari lobi masing-masing. Tetapi tak bisa juga menghasilkan kesepakatan. Padahal, target penumumuan pemenang tender makin dekat.

“Sekarang begini saja,” Reyzi membuka pembicaraan dengan Alpons, Gyta dan para anggota pansus lainnya. “Kalau kita kerja sendiri, kita tidak akan dapat apa-apa. Oleh sebab itu kita harus melakukan kesepakatan dan berbagi keuntungan dari proyek ini. Yang media, tinggal berapa bagiannya. Desain berapa. Dan pemenang konveksi berapa,” Reyzi seperti sudah menemui jalan buntu untuk saling jegal dalam satu pansus.

“Tetapi kalau media harganya harus sama. Sebab fungsinya sama. Lain halnya dengan desain, saya tidak tahu bagaimana menghargainya. Kalau nilai seni kan tidak bisa diukur dengan nilai uang dan materi,” Alpons seolah banyak tahu tentang seni.

“Sekarang bagi tugas, siapa yang bakal melobi ke atasan. Sehingga ketika pengumuman tender, semua bisa berjalan dengan mulus. Tapi jangan lupa, tawatan bonus epada ketua juga harus disinggung,” Gyta sambil melirik genit pada Alpons.

“Kenapa harus laki-laki? Justru Gyta yang bertugas melobi pimpinan. Wanita kan punya gaya rayu yang dahsyat. Gagal dengan cara formal, ente bisa dengan cara informal,” ujar Reyzi sambil melirik ke beberapa teman, dengan lirikan laki-laki nakal.

Mayla, desainer terkenal di Negeri Sampauke sudah selesai mendesain baju. Gyta membayar lebih dulu dengan uang pinjaman. Perjanjiannya Mayla harus memberi 20 persen dari anggaran yang tersedia. Deal. Sementara Fad, pimpinan CV. Mitra sudah mulai mengerjakan pesanan baju korupsi. Bahkan Fad sanggup mengeluarkan modal dengan meminjam modal lebih dulu demi pemenangan tender. Padahal pemerintah belum mengumumkan pemenang siapa yang akan menjadi pemenang tender. Tetapi karena CV. Mitra sudah mendapat bocoran bakal menang Fad berani ber-spekulasi. Petimbangannya modal pasto lembali.

Hampir satu pekan, hasil pemenang tender segera diumumkan. Tetapi di dalam rapat masih terjadi tarik ulur. Tentu ragam kepentingan yang muncul. Sebagian lagi ketakutan kalau bisnis gelap dibalik sidang akan terbongkar.

“Kenapa kita harus persoalkan lagi. Mestinya tinggal diumumkan, dan pekerjaan segara dimulai. TitiK!” Reyzi mulai khawatir.

“Betul! Mestinya tidak perlu diulur-ulur lagi. Desain kaj sudah jadi. Harga juga sudah oke. Apalagi yang mesti dipersoalkan?!”

“Maaf, kalau pengumuman ini harus ditunda. Sebab, kemarin lembaga pemantau korupsi dalam hal ini BTK, telah melayangkan berkas ke meja saya, yang menyebutkan adanya indikasi jual beli tender di luar prosedur,” Tuan Sebaya mulai bicara. Ini kemudian menimbulkan detak jantung Reyzi, Alpons dan Gyta lebih cepat dari detak jatung kuda pacuan. Ketiganya saling pandang. Alpons harus beberapa kali menyea keringat yang tiba-tiba mengalir. Reyzi sesekali menggerakkan jemarinya. Matanya tidak lagi lurus memandang ke depan. Matanya saling silang antara ke Tuan Sebaya, Alpons, Gyta dan peserta sidang. Napasnya juga tidak teratur. Ia menangkap situasi yang bakal membuatnya malu.

“Sebaiknya, kita lebih dulu melaukan cross-cek ke konveksi calon pememang tender. Ini dilakukan agar kita mengetahui kualitas bahan dan hasil kerja yang mereka lakukan,” ujar Rah, anggota dewan dari fraksi kerakyatan.

Usulan Rah diterima. Hari itu juga pansus mendampingi Tuan Sebaya meninjau beberapa lokasi konveksi. Ini kali pertama seorang penguasa di Negeri Sampauke turun langsung guna melihat fakta di lapangan. Biasanya cukup percaya dengan laoran. Tetapi tidak bagi Tuan Sebaya.

Sesampai di CV. Mitra, Fad begitu gembira. Sebab baru kali pertama ada seorang penguasa Negeri Sampauke yang berkunjung ke perusahaannya. Fad tidak mengetahui kalau hari itu adalah sidak dari para pejabat negara. Fad kemudian menjelaskan berbagai macam yang berkaitan dengan pengerjaan baju. Sialnya, Reyzi dan kawan-awan tidak lebih dulu memberitahu ke Fad kalau Tuan Sebaya akan Sidak. Beberapa kali Reyzi menghubungi Fad via ponsel-nya tetapi tidak aktif.

Memasuki sebuah ruangan, seketika para tamu tercenung. Ada setumpuk baju bermerek ‘koruptor’ di sebuah sudut. Tak terkecuali Tuan Sebaya. Satu buah lembar baju ditarik. Tuan Sebaya kemudian memanggil salah satu anggota BTK. Keduanya terllihat berbisik. Anggota pansus saling pandang. Aroma ketidakberesan itu mulai tercium. Fad sebagai pemilik konveksi juga agak kikuk dengan sikap beberapa tamu negara itu bersikap aneh.

“Saya salut dengan anda,” kata Syam, salah satu anggota BTK kepada Fad. “Pengumuman tender belum dilakukan, tetapi anda sedemikian berani menyelesaikan hampir 50 persen pesanan. Selamat!” Syam memancing Fad.

“Tapi, Pak. Katanya tender sudah dipastikan jatuh ke tangan saya,” Fad tak terkontrol lagi.

“O, Iya. Siapa yang mengatakan itu? Tender baru dua hari lagi diumumkan. Tetapi anda sudah mendegar siapa pemenangnya,” Syam berhasil.

“Ya, saya hanya dengar-dengar saja. Kepastiannya, saya belum tahu,” Fad mulai ragu dengan informasi yang diterima.

Syam berpikir keras untuk menjebak Fad.

“Bagaimana kalau pemenangnya ternyata bukan anda? Sementara anda sudah sedemikian banya berkorban dan mengeluarkan modal untuk proyek ini?”

Fad terkejut. Ia sama sekali tidak menduga kalau Syam akan mengatakan itu.

“Tapi, saya sudah…sudah kasih bonus…” Fad keceplosan.

Syam kemudian berkumpul kembali dengan tamu lainnya. Tuan Sebaya masih berada di tengah-tengah karyawan. Syam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga asisten pribadi Tuan Sebaya. Ada persoalan yang segera diselesaikan.

Satu pekan berlalu. Pengumuman tender belum juga dilakukan. Malah sebaliknya, proyek pengadaan baju korupsi terpaksa dihentikan.

“Ada indikasi jual beli proyek. Bagaimana mungkin CV.Mitra berani spekulasi  melakukan pengadaan baju korupsi, sementara pengumuman pemenang tender belum diketahui. Ada apa ini? Sebagai personil yang konsen terhadap upaya pemberantasan korupsi, saya dan teman-teman akan mengusut siapa pelakunya,” Syam mengatakan dengan tegas. Reyzi, Alpons dan Gyta makin gusar.

Malamnya, ketiganya bertemu. Fad pemilik CV.Mitra sengaja diundang ke rumah. Mereka tak menyangka kalau pertemuan mereka sudah diendus oleh BTK. Perdebatan antara keempatnya makin serius. Bahkan, Fad sudah menyiapkan uang tambahan sesuai dengan permintaan Gyta dan kawan-kawan. Katanya perlu tambahan suap, supaya tender tetap lancar.

Sayangnya, BTK sudah mengetahui. Malam itu reyzi, Alpons, Gyta dan Fad, terpaksa digiring ke kantor BTK. Besok keempatnya harus memberi kesaksian. Dalam pengadilan, keempatnya dinyatakan tersangka. Karena pengadaan baju korupsi sudah separo diselesaikan, akhirnya keempat orang ini terpaksa menjadi tim yang pertama mengenakan baju yang bermerek koruptor. Keempatnya  hanya saling pandang. (*)

Tanjung Enim, 10 Sept 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s