Tumor

Ilustrasi : Goog;ele Image

Ilustrasi : Goog;ele Image

Cerpen Imron Supriyadi

 Tumor ganas yang kini menjalar di kepala saya, memaksa saya harus tetap terbaring. Lima tahun kuarang satu minggu, penyakit yang konon telah banyak menelan korban itu terasa maikin menyayat sel – sel otak di kepala saya. Ia seakan mengiris – ngiris kepala saya sedikit demi sedikit. Ada berjuta mahluk mengerokan yang kini menancapkan taring – taringnya, unutk kemudian menguras daya tahan tubuh saya.

Tak jarang saya terpaksa menjerit menahan sakit, sembari memegangi kepal saya yang kian hari makin membesar. Saat saya merintih dan mengaduh, mahluk – mahluk kecil yang tak pernah saya kenal sebelumnya itu justru makin mengaduk – ngaduk luka menganga yang ada di kepala saya.  Ketiak saya terlelap, sebentar kemudian, jutaan mahluk aneh itu membuat bara api dikepala saya, lantas bersorak – sorak, membuat pesta besar, menunggu jeritan saya yang sekian kalinya.

Dengan beragam cara mereka terus mengusik ketenangan saya. Seperti ada segumpal dendam yang tersirat dari sorot jutaan mahluk itu. Setiap kali mata say terpenjam, setiap kali itu pula mereka menancapkan ketajaman kuku, yang sengaja dipersiapkan untuk mengoyak jaringan otak di kepala saya.

Sesekali, sipembawa virus tumor di kepala saya itu menendang, menggigit, mencabik – cabik dan melakukan apa saja yang dapat menambah rasa sakit yang tak kunjung reda. Hampir tak diberinya kesempatan saya untuk tenang, atau beristirahat barang sebntar. Ketika kebencian saya samapi diubun – ubun melihat tingkah dan ulah mereka, justru membangkitkan semangat mereka untuk terus – menerus memacu kerjanya dalam penyiksaan di setiap urat di kepala.

Tak jenuh – jenuhnya mereka senantiasa melobangi, memperlebar areal penyiksaan yang sebelumnya sudah terluka. Tak ada daya lagi yang tersisa di tubuh saya ketika mereka mengisap dan meneguk darah saya, lalu mengubahnya menjadi nanah yang menjijikkan.

Dari gumpalan nanah yang sedikit demi sedikit berrubah menjadi bulatan – bulatan kecil itu, secara perlahan – lahan mengeluarkan ratusan, bahkan jutaan akar yang kemudian menyebar disetiap sudut kepala saya. Akibatnya, besok, lusa dan seterusnya kepala saya mengalami pembengkakan. Kali itu saya benar – benar merasakan tengah menjadi orang yang besar kepala, sehingga tak kuasa lagi saya bangkit dari pembaringan, atau tak mampu turun saat saya sudah diatas kursi dan menyandarkan kepala di dinding kamar.

Malam terpejam. Rembulanpun telah enggan tersenyum menerangi atap dan sekitar rumah saya. Ia seperti tengah membuat kegelapan sendiri di kawasan kekuasaannya. Tapi di ujung gang seperti sinar dewi malam itu masih rela menerangi beberapa bocah dusun yang asyik bermain go back to door. Ternyata hanya kepada saya sinar itu enggan bersahabat. Sesaat, saya mencoba meraihnya kembali, tapi cepat – cepat tumor ganas itu mencegahnya, agar saya terbiar dalam kegelapan panjang.

“Tumor!” Saya mulai protes.” Kenapa kau terus – menerus menindasku, menyiksaku dengan taring – taringmu!? Apa salahku sehingga kaubegitu kejam terhadapku!?

” Apa yang kau rasakan saat ini, belum seberapa jika dibandingkan penderitaan rakyat kecil di pinggir perdusunan yang harus menanggung beban hidup akibat kekotoran pikiranmu, selama kau menjadi lurah di sini!” Satu per satu gumpalan tumor itu menjelaskan alasan mereka, mengapa mereka tetap suntuk bersemayam di kepala saya.

” Kalau memang aku kotor! Aku tidak amanah dalam mengemban kepercayaan rakyat, lantas apa kesalahanku!?.

” Dengar mantan lurah yang kini terbaring! Melihat kesalahan sendiri itu memang jauh lebih sulit dari pada melihat kesalahan orang lain. Yang terpikir dalam otakmu selama ini, bahwa kaulah yang selalu benar, selalu pintar, selalu berkuasa, sehingga dengan kekotoran pikiranmu itu, rakyat kecil tidak selalu salah, rakyat kecil yang buta huruf , rakyat kecil yang hanya tahu keperluan makan hari ini, rakyat kecil yang terlalu banyak menelan kepahitan hidup, rakyat kecil yang selalu di hinggapi kekhawatiran dan ketakutan, hanya kau jadikan simbol pemerataan.

Hanya kau jadikan tumbal kepintaranmu, lantas kau sulap mereka menjadi bih di lautan, hingga mereka makin kesulitan untuk menentukan masa depan, kebingungan untuk bersikap, ketakutan untuk bersuara, lalu hanya menjerit dalam kepasrahan, menunggu datangnya pagi tiba”.

Begitu banyak tumor itu mengingatkan kelalaian saya selama ini.

Meski rasa nyeri di kepala saya belum reda, saya mencoba untuk mengingat masa lalu yang tiba – tiba tenggelam begitu saja. Kruek! Kruek! Gerombolan tumor itu beraksi lagi. Saya menggeliat kesakitan. Tapi itu tak menghentikan aktivitas mereka.

” Jangan harap aku menerima kebisuan dan lamunanmu setelah kau mendengar penjelasan tentang kekotran pikiranmu”. Salah satu dari tumor itukembali bersuara.

” Baik! Aku tidak akan hanya membisu dan melamun.” Saya menurut keinginan mereka. ” Tapi maaf, aku masih bingung  untuk mengembalikan akal sehatku, sehingga aku masih sulit memahami tentang ucapanmu itu”. Lantas apa maumu?” Tumor itu seakan memberi peluang saya untuk mengajukan permohonan. Saya memang harus menipu mahluk itu agar gerombolan tumor itu segera enyah dari kepala saya, bisik hati saya.

Begini, aku minta, untuk beberapa saat tolong kau dan teman – temanmu itu pergi dari saluran darah di kepalaku. Dengan begitu, mungkin akan memudahkanku untuk emikirkan dan menghayati apa yang telah kau katakan. Sebab, kalau kau dan teman – temanmu masih bersemayam diotakku, aku akan menemui kesulitan untuk menyadari kekotoran pikiranku itu, kata saya menyusun permainan dengan para tumor itu, dengan harapan, melalui akal bulus itu, saya akan segera terbebas adri cengkeraman keganasan tumor.

” Jangan kau anggap aku dan teman – teman itu mahluk yang bodoh. Meskipun anggotaku hanya terdiri dari nyawa yang kecil, tapi jumlah kami melebihi jumlah manusia di alam ini. Jangan kau anggap bahwa mahluk kecil itu selamanya akan kecil. Kau harus ingat, munculnya kebesaran itu juga berangkat dari adanya yang kecil. Dulu kepalamu kecil, tapi karena jumlah kami banyak, akhirnya kami berhasil memperbesar dan membuat bengkak seluruh bagian kepalamu.

Oleh sebab itu jangan harap kami yang jutaan ini akan termakan tipu dayamu. Sufah terlampau banyak aku dan teman – teman mengetahui sikap manusia sepertimu ketika tertimpa penderitaan seperti sekarang. Hanya sesaat mereka teringat dengan kelalaiannya. Setelah mahluk seperti kami meninggalkan tubuh manusia, maka saat itu pula kau dan sebangsanya itu kembali pada kealpaan yang sering mengorbankan orang banyak demi kemakmuran sepihak”.

Ternyata, saya harus mengaku kalah malam itu. Meski hanya mahluk kecil, tapi memang tidak salah jika mulai hari ini dan seterusnya saya mau dan menerima ucapan dan kritik mereka terhadap ketamakan, kerakusan dan perbuatan buruk yang pernah saya lakukan. Tapi hingga saya terbaring di sini, saya masih belum ingat keburukan – keburukan apa yang telah banyak makan korban itu.

” Tumor!” Saya kembali membuka pembicaraan.” Setelah aku mendengar ucapanmu , kini aku sadar bahwa setiap kita, mahluk yang melata di alam ini punya hak yang sama terhadap kenikmatanNya. Tapi ada satu hal, kau harus buktikan keburukan yang bagaimana sehingga dengan keras kau menuduhku telah banyak mengorbankan rakyat kecil yang semestinya kuayomi itu?!”

” Sulit aku sebutkan satu per satu,” ucap salah satu wakil tumor sembari terus mengerogoti syaraf di kepala saya. ” Mungkin dalam satu minggu, kelalaian manusia itu belum habis aku ceritakan. Apalagi masa pengabdianmu sampai berdarsawarsa, sehingga masyarakat yang kau pimpin dulu kini sudah beralih generasi baru yang belum banyak tahu tentang seluk beluk desa yang pernah kau pimpin.

Kalupun mereka tahu , paling – paling hanya dapat menggangguk, menggeleng, lantas pergi membawa tanda tanya besar yang masih menunggu jawaban. Mereka juga tetap akan diselimuti dengan ketakutan seperti ketakuanmu ketika kau berselingkuh dengan Winarsih, sekretarismu, yang kemudian kau harus membayar seseorang untuk segera mengawinnya dan meninggalkan desa yang keu pimpin, demi menjaga reputasimu sebagai lurah”.

Dua kosong untuk kemenangan tumor dan gerombolannya. Hati saya semakin terisak dalam kepiluan saat para tumor itu membongkar aib yang pernah saya lakukan dulu. Tuhan, seberat inikah siksa yang mesti saya terima? Hingga kau mesti meneurunkan penyakit tumor di otakku? Masih ada harapankah saya untuk hidup, lalu kembali pada jalan-Mu? Perbuatan baik apa dan bagaimana yang dapat menebus dosa – dosa yang telah lalu?.

Hanya angin malam yang kemudian mengabarkan penderitaan saya itu kepada seluruh warga. Sementara tumor ganas yang berselubung di kepala saya makin menguras daya tahan hidup saya. Tak ada lagi protes yang dapat saya lakukan, baik, terhadap tumor atau pada siapapun yang telah menjerumuskan saya, hingga saya harsu menerima penyakit menakutkan itu. Terbersit sebuah penyesalan yang teramat sangat. Tapi semuanya sudah terlambat.

Sampai sudah nafas saya di tenggorokan. Alunan surat Yasin pun tak lagi saya dengar. Semuanya jadi gelap. Sangat gelap, hanya tanah dan kain kafan yang menyertai saya dalam kegelapan itu. Na’udzubillahi min

Dimuat di Harian Umum Sriwijya Post, Minggu 16 Agustus 1998.  

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s