Yang Terhormat Kemiskinan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Mungkin, saya adalah salah satu diantara orang yang tidak membenci kemiskinan. Atau pada orang miskin. Bahkan, saya sangat hormat terhadap keduanya. Alasannya sederhana. Karena saya adalah bagian dari kemiskinan itu sendiri—sekaligus miskin adalah status sosial saya. Artinya, ketika saya harus membenci kemiskinan, itu sama halnya saya sedang menanamkan kebencian dalam kedirian saya. Makanya, sampai saat ini, saya tetap menghormati pada kemiskinan dan orang miskin.

“Alasanmu itu terlalu individualis, Bung!” teman saya memprotes.

“Lho, kok indiviualis?”

“Iya, dong. Kamu benci tidak membenci kemiskinan, karena kemiskinan itu bagian dari hidupmu. Coba kalau kaya, kamu tidak akan pernah berkata begitu!” sergah teman saya lagi.

“Apa ya tidak terbalik?” saya mencoba membela diri.

“Apanya yang terbaik?”

“Yang individualis itu bukan aku,  tetapi sistem…”

“Aaaaah..! itu kan alibimu saja. Saat kamu tak punya kesempatan, kamu bilang, kemiskinan akibat kesalahan sistem. Sudahlah, kamu mencintai kemiskinan itu, karena posisimu seperti sekarang; miskin! iya, kan?”

Hampir saja saya tersinggung. Tetapi, saya piker, kenapa saya harus bela mati-matian, kalau posisi saya memang tidak mendukung.

“Iya, deh. Saya mengaku..”

“Nah, kan…?” teriak teman saya girang. Seakan dia telah mengalahkan argumentasi saya.

“Sebentar, Cek, saya belum selesai”

“Iya, Aku ngerti. Ideologimu memang belum selesai. Lalu kamu memaksakan diri mencintai kemiskinan. Padagal, itu hanya kompensasi, agar kamu dikatakan sebagai pejuang kaum proletar, lalu orang memujimu, bahwa ideologimu adalah ideologi kaum proletar, begitu kan?”

“Sial!” teman saya terlalu nyerocos. Sepertinya dia tak mau kalah. Ah! pintar saja ia berkilah. Mungkin karena teman saya itu bagian dari orang-orang kaya, sehingga dia mati-matian memojokkan saya yang menjadi bagian kemiskinan.

“Ok, Cek!” saya kembali menyela pembicaraan, setelah beberapa saat dialog sempat terputus.

“Apalagi?”  Dia menantang saya.

“Kamu bilang tadi individualis..”

“Ya! Tapi, kau bilang itu logika yang terbalik!”

“Betul!” Saya tak mau kalah lagi.

“Alasanmu?”

“O, jelas! Kemiskinan itu kan muncul, sebagai akibat dari individualisme para pemegang otoritas kebijakan di negeri ini. Dari ideologi yang individualis itu, rakyat hanya sebagai obyek pembangunan. Setiap kali ada pembangunan, lalu diatasnamakan rakyat. Tetapi ketika sebuah perusahaan di bangun, rakyat juga yang menjadi korban1 digusur! Katanya saja untuk kesejahteraan rakyat. Itu kan juga alibi pembangunan!”

“Hm!”, Teman saya menatap agak sinis.

“Iya, itu kamu katakan, karena kamu bukan bagian dari mereka!” Dia masih juga tak mau kalah.

“Aku memang tidak mimpi untuk menjadi bagian dari mereka!”

“Hei, Bung, kamu kan manusia biasa. Kamu juga akan lapar. Kamu juga ingin hidup makmur seperti aku, seperti keluargaku, kan? Tak perlu munafiklah. Bagaimana mungkin kamu akan berjuang untuk orang-orang miskin yang kau hormati itu, kalau kamu sendiri masih lapar, heh! Ha…ha…!”

Untuk ke sekian kalinya saya agak masam mendengar argumentasi teman saya itu. Dia makin melecehkan saya. Sepertinya, dia tidak ingat ketika teman saya itu sempat sering minta ongkos pulang pada saya, setiap kali pulang kuliah. Proses keprihatinan yang dulu kami jalani di rumah kontrakan, seakan sudah terkubur oleh kejayaan orang tuanya.

“Ok, aku cabut dulu! Masih banyak pekerjaan yang lebih menguntungkan, ketimbang aku harus membahas kemiskinan dengan kamu!”

Dengan menggandeng pacarnya ia tinggalkan saya. Di depan pintu, sebelum melangkah pergi teman saya itu mengeluarkan dompet. Saya pikir dia akan memberi saya uang. Ternyata hanya sebuah kartu nama. Ada nama dan jabatannya  sebagai direktur sebuah perusahaan, yang cukup bonafid. Sudah pasti milik ayahnya, bukan dari hasil keringatnya sendiri. Sebab, di perguruna tinggi teman saya ini sudah membiasakan diri dengan jual beli nilai, sehingga kuliah baginya hanya untuk ‘gensi’ dan prestise keluarga.

“Hubungi saya, kalau kau perlu apa-apa!” ia berikan kartu nama.

Baru saja teman saya ini melangkah dari hadapan saya, tiba-tiba datang seorang ibu tua. Tubuhnya tampak renta. Ada guratan kepedihan yang tergambar di wajahnya. Tas plastik hitam tergantung ditangan kirinya.

“Nak, bantu nenek, nak. Nenek belum makan, nak!”

Teman saya ini sesaat mengamati ibu tua yang berdiri bungkuk di hadapannya. Pandangannya kemudian beralih kea rah saya. Sinis.

“Ini, manusia yang kau hormati itu?!” tanya teman saya ketus, sembari menatap sinis pada orang tua itu.

“Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Nenek ini datang, memang bukan untuk kamu, tetapi untuk aku”

“Masuk, nek,” kata saya, setelah sebelumnya teman saya meninggalkan rumah kontrakan saya.

**

Entah, ungkapan apa yang muncul dari Tuhan, ketika tiba-tiba satu jam kemudian, teman saya itu kembali ke rumah kontrakan saya. Wajahnya lusuh. Keringatnya bercucuran. Bajunya basah oleh keringat. Teman saya itu tampak letih. Saya diam.

“Jo, minta minum! Mobilku mogok,” katanya tak ada beban.

Teman saya ini berubah menjadi sosok strukturalis. Dia anggap apa saya ini. Toh, sebelum ia menjadi direktur perusahaan, biasanya masuk ke rumah saya langsung ke dapur dan mengambil minum sendiri. Tetapi kali ini, ia melihat saya sebagai orang yang berada di bawah kendalinya.

“Sejak kapan kau menjadi office boy-mu !” teman saya itu menatap tajam pada saya. Tanpa melepas sepatu, ia melangkah ke belakang. Ia teguk beberapa gelas. Lalu dia pergi. Aneh, pikir saya. Kenapa dengan uang yang mungkin dia miliki tak punya insiatif untuk membeli seobotol minuman di pinggir jalan sana. Ah, entahlah. Mungkin, Tuhan memang memberiku peluang untuk berbuat baik pada orang lain, sekalipun dengan kemiskinanku. “Yang Terhormat Kemiskinan!” batinku.

**

Ratusan orang berteriak. Genderang anti kemiskinan bertalu. Sementara, yang lain, hanya menjadi penonton.

“Kawan-kawan, sistem kita telah menjerat rakyat. Akibatnya, kemiskinan terus merajalela”. Teriak salah satu demonstran, ketika berada di halaman DPRD Kota Palembang.

“Saudara-saudara!” kata salah satu anggota Dewan, di hadapan para demonstran.

“Aspirasi yang anda sampaikan, akan segera kita tindaklanjuti. Mudah-mudahan, kemiskinan akan segera bisa kita atasi,” katanya, seakan menghibur para demonstran.

Menjelang siang, para demonstran membubarkan diri. Sementara, dalam lembaga dewan terdengar bisik antar mereka.

“Bagaimana kita mau berjuang untuk orang miskin, Kita saja masih miskin…” bisik salah satu anggota dewan, yang tidak sempat ditulis oleh wartawan, karena sudah menerima amplop.

Belum sempat saya beranjak dari halaman DPRD, ada kabar buruk yang datang mendadak. Tertulis dalam sebuah koran: “Akibat adanya rencana proyek besar, sebuah perkampungan kumuh digusur. Ratusan warga menangis. Sementara, satu orang yang menurut informasi sebagai salah satu investor, dikeroyok masa…” Saya tidak lanjutkan membaca, setelah saya menemukan nama teman saya, tertera sebagai korban pengeroyokan. Saya hanya turut prihatin dengan kejadian itu. Baru minggu lalu, teman saya memprotes tentang kecintaan saya terhadap kemiskinan. Dan kali ini, dia dilibas oleh kemiskinan itu.

**

Tidak tahu persisnya, akan berapa lama, kemiskinan tetap mendampingi kehidupan saya, kita atau semua. Tetapi semua tahu, kemiskinan telah membawa jasa besar pada bangsa ini. Indonesia pernah disebut dimata Internasional, sebagai bangsa yang mampu ber-swasembada pangan. Sebutan ini, bermula dari mana kalau bukan adanya kemiskinan? Terima kasih kemiskinan. Kemiskinan, banyak membuka peluang bagi saya, kita, atau semua untuk melakukan pembersihan diri, dengan memberikan sebagian kecil dari kekayaannya untuk orang miskin.

Hanya orang-orang tolol saja, yang membuang peluang berbuat baik, melalui kemiskinan. Tuhan, sepertinya belum bersedia melenyapkan kemiskinan, karena kita masih perlu banyak berbuat, untuk membayar hutang-hutang kebaikan kita pada Sang Pencipta. Untunglah, Tuhan belum mencabut kemiskinan. Itu pertanda, Tuhan masih berbaik hati dengan kita. Ini bentuk solidaritas Tuhan buat kita dan semua. Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk melakukan perbaikan diri melalui kemiskinan untuk berhadapan dengan kematian? Sekali lagi, Yang Terhormat Kemiskinan (*)

Palembang, 1999-2001, Dimuat di Majalah Sindang Merdeka Edisi 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s