Ada Tuhan dalam Minuman Keras

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Kalau kita menyimak sejumlah informasi di berbagi media, Koran, televisi dan radio betapa kita kemudian sangat miris dan prihatin ketika terdengar, sebagian generasi kita terjebak dalam pergaulan bebas dan minum-minuman keras. Bahkan, diantara mereka ada yang kemudian harus terenggut nyawanya akibat menenggak minuman keras. Ya, mereka mati.

Bila kemudian kita melihat secara kasat mata, ada perasaan kasihan, sedih terutama bagi kedua orang tuanya yang harus kehilangan buah kasihnya. Ini sangat manusiawi. Tetapi ketika ini kita pahami dalam pandangan lain, sebenarnya dengan peristiwa meninggalnya sejumlah generasi bangsa ini akibat minuman keras, Tuhan tengah memberikan undangan kepada korban meninggal, agar segera kembali kepada-Nya.

Saya hanya ingin mengatakan, meninggalnya sebagian generasi bangsa ini yang menenggak minuman keras adalah pembatasan dosa yang mungkin akan terus dilakukan oleh korban, sehingga Tuhan harus menghentikan perilaku menyimpang ini dengan kematian.

Tuhan masih cinta dan sayang pada mereka, sehingga dengan segera Tuhan menarik mereka dari kolong langit ini. Mereka sedang dijemput kembali, karena di bumi mereka tidak mempan lagi dengan bermacam teguran, sapaan atau dalam bentuk apapun. Seolah, Tuhan berkata; dari pada kalian akan terus terjerumus dalam kubangan dosa, lebih baik kalian  Aku batasi dosamu sampai disini. Maka meninggalah sebagian anak-anak kita.

Kedua, bagi yang tidak meninggal, minuman keras menjadi mediator Tuhan untuk mengundang mereka, agar mereka cepat kembai meng-Agungkan dan menyebut nama-Nya. Sebab, kenyataannya, sebagian teman, kerabat atau siapa saja yang sudah merasa tersiksa oleh minuman keras, lantas hampir saja mati oleh minuman keras atau obat terlarang, kalimat yang terucap dari bibirnya ; Ya, Tuhan kalau sekiranya Engkau masih memberi waktu aku hidup, maka aku berjanji besok aku tidak akan lagi minum barang haram ini.

Ada satu kesadaran yang seketika muncul dalam setiap diri yang tengah sekarat. Napasnya masih ditenggorakan. Tetapi kemudian masih punya waktu menyebut nama Tuhan. Disitulah, sebenarnya Tuhan sedang memberi undangan kepada korban agar cepat kembali, atau paling tidak agar korban menyebut dan ingat pada Sang Pencipta.

Bahasa dan simbol Tuhan untuk mengundang kita, bisa dengan berbagai berbentuk jika memang Tuhan berkehendak. Tetapi meski begitu, kiranya kita tidak mesti lebih dulu minuman keras untuk minta undangan dari Tuhan untuk kita.**

Palembang 16 November 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s