Ada Tuhan Dibalik Udang

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, di tahun 2007 Pak Asmar datang ke rumah saya. Dia menceritakan tentang kegagalanya dalam meraup keuntungan dari tambak udang yang ia rintis dari nol. Modal yang ia keluarkan sudah mencapai 75 juta lebih. Bagi seorang pegawai negeri sipil seperti Pak Asmar, modal 75 juta bukan jumlah yang sedikit. Sebab risiko dari pinjam uang di kantornya, Pak Asmar harus rela hidup dalam keterbatasan dengan mengandalkan sisa potongan gajinya.

Tetapi harapan tinggal harapan. Panen tambak udang yang seharusnya bisa mendatangkan untung sekitar 300 juta seketika raib, habis dan musnah. Semua hasil tambak udang yang ia harapkan dapat merubah nasib hidupnya diracun orang, satu hari menjelang panen. Pak Asmar hanya bisa memunguti sejumlah udang tersisa. Dari kumpulan sisa-sisa udang itu, Pak Asmar hanya memperoleh hasil 75 juta rupiah, cukup kembali modal.

Menghadapi ini betapa stresnya Pak Asmar. Meski tidak depresi, tetapi kerugian itu telah membuatnya terkulai lemas tak berdaya. Dari nada bicara dan guratannya,  malam itu Pak Asmar benar-benar menyimpan dendam pada orang-orang yang telah menabur racun di kawasan tambaknya.

Satu hari setelah ia gagal, Pak Asmar membaca sebuah media cetak di Sumatera Selatan, sejumlah pengelola tambak udang menjadi tersangka dalam pengiriman udang ke luar negeri secara ilegal. Tiga orang lainnya tewas ditangan perampok setelah memanen udang. Mereka dibantai oleh sejumlah perampok dan tewas mengenaskan.

Kegagalan Pak Asmar dalam penan udang, tidak harus kita pandang sebagai laknat, atau tidak juga harus kita lihat sebagai hukuman dari Tuhan. Tetapi sebaliknya, kegagalan Pak Asmar meraup untung 300 juta, telah menyelamatkan diri dan keluarga Pak Asmar dari semua peristiwa yang jauh merugikan ketimbang sekadar gagal panen tambak udang.

Ada rahasia Tuhan yang semestinya kita telah dalam kasus Pak Asmar. Seandaianya, Pak Asmar juga mendapat hasil yang melimpah dari tambak udang, bukan tidak mungkin Pak Asmar juga ikut terjerat dalam kurungan penjara, sebagai akibat ikut serta dalam pengiriman udang secara ilegal sebagaimana teman-temannya. Kalau ini terjadi, status PNS Pak Asmar akan dicabut oleh negara, dan Pak Asmar akan segera menjadi terkulai di terali besi.

Kedua, bukan tidak mungkin, jika Pak Asmar juga berhasil menangguk keuntungan 300 juta, Pak Asmar akan menjadi salah satu korban perampokan yang tewas mengenaskan, dengan risiko, anak dan isterinya kehilangan suami dan ayah tercintanya. Tidak ada kepedihan yang lebih sakit kecuali kita kehilangan keluarga. Akan lebih baik kita kehilangan harta dan benda, asal kita tidak kehilangan keluarga tercinta.

 Kasih sayang Tuhan tidak selalu dengan kekayaan, tidak selalu dalam bentuk keberhasilan, tidak juga selalu dalam perjalanan karir yang gemilang. Tidak juga dengan kesuksesan meraih untung besar dari tambak udang, seperti yang di harapkan Pak Asmar, yang ternyata gagal dan musnah.

Tetapi kasih sayang Tuhan, bisa dalam bentuk kegagalan, bisa dalam bentuk lambatnya perjalanan karir, kecilnya keuntungan dalam bisnis dan sangat mungkin kasih sayang Tuhan itu dalam bentuk pemusnahan hasil tambak udang sebagaimana yang dialami Pak Asmar.

Dalam kasus Pak Asmar, Tuhan sebenarnya sedang memelihara Pak Asmar dan keluarganya agar tetap utuh sebagaimana ketika keluarga Pak Asmar dibangun untuk menuju hidup yang tenang dan bahagia, meski dalam keterbatasan.

Peristiwa kegagalan, kenyataan yang menyakitkan dan mungkin putaran nasib yang menyengsarakan hati dalam kehidupan kita, tidak harus kita lihat sebagai siksaan atau hukuman, sehingga dengan ragam peristiwa itu justeru akan mengembalikan kita pada kesadaran, bahwa kita adalah hamba yang hanya menjalankan tugas, dan tentang hasil dari jerih payah bukan milik dan kewenangan kita.**

Tanjung Enim, 26 November 2006

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s