Ayam Kesayangan Pak Kiai

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Seperti hari sebelumnya, Kiai Ilham melangkah pasti menuju Mushola Al-Hikmah, Bedeng Kaco, Tanjung Enim. Dia menjalankan tugas rutin untuk memberi ceramah di sejumlah mushola. Dan kali itu Kiai Ilham mendapat jadwal di kampungnya sendiri. Wildan, putra sulung Kiai Ilham yang berumur 15 tahun, kali itu mengiringi ayahnya. Biasanya Wildan memilih datang belakangan bersama teman-teman sebayanya, tetapi kali itu tidak.

Saya bersama jamaah lain kemudian menyambut kedatangan Kiai Ilham, untuk kemudian mempersilakan masuk di baris paling depan, persis di dekat mihrab mushola. Sementara Wildan kemudian membaur dengan teman yang seumur di baris belakang.

Hanya berselang lima menit, kami kemudian melakukan shalat maghrib berjamaah. Usai shalat, para jamaah mengambil tempat untuk mendengarkan ceramah Kiai Ilham, sampai waktu isyak tiba. Ada sekitar 30 menit kami mendengarkan tausiyah kiai. Para jamaah mushola mendengarkan dengan hikmat.

Masalah penting yang kali itu disampaikan adalah kewajiban bersodaqah. Kata Kiai Ilham, mengutip sebuah ayat Al-Quran, dia berkata : Tidak akan sampai pada kebaikan sejati, kalau  kamu sekalian belum memberikan sesuatu pada orang lain yang paling kamu sayangi dan cintai.

Maksud Kiai Ilham, jika kita memberikan sesuatu pada orang lain, sebaiknya benda atau harta yang kita sayangi, atau yang terbaik, sehingga kita akan sampai pada kesempurnaan ketaatan pada Tuhan.

Lima menit sebelum waktu isyak, Kiai Ilham sudah menutup ceramahnya dengan doa. Para jamaah kemudian melaksanakan shalat isyak bersama. Tetapi setelah doa bersama, saya tidak menjumpai Wildan. Saya tidak tahu persisnya kemana Wildan pergi.  Sementara anak-anak lain masih pada baris di belakang saya.

**

Pagi harinya, saat sata berlalu di depan rumah Kiai Ilham, saya mampir ke rumahnya. Saya mendengar samar, Widan sedang menangis. Tapi Kiai Ilham masih mempersilakan saya singgah. Wajah Kiai Ilham agak kurang ‘segar’ pagi itu. Sepertinya sedang marah Wildan. Saya agak kikuk. Tapi karena saya sudah terbiasa mampir, jadi saya mencoba meredakan hati, walau ada perasaan tidak enak. Sesaat Kiai Ilham masuk kembali setelah mempersilakan saya duduk.

“Besok lagi kalau mau memberi sesuatu, bilang dulu sama Abi, Jangan asal kasih ke orang. Kamu kan sudah tahu kalau Ayam Bangkok itu kesayangan Abi. Enak aja kamu kasih ke orang,” ujar Kiai Ilham yang saya dengar dari arah dalam.

“Tapi kata Abi waktu ceramah, kita disuruh memberikan yang terbaik,” Wildan seakan tak mau kalah argumen.

“Iya, tapi kenapa mesti ayam kesayangan Abi yang kamu kasih ke orang. Ayam yang lain kan banyak!?” Kiai Ilham kembai meninggi.

Pagi itu saya baru paham. Ternyata, Kiai Ilham memarahi Wildan karena tadi malam setelah mendengar ceramah ayahnya, tentang sqdaqah, dia langsung pulang dan dengan sigap memberikan Ayam Bangkok kesayangan Kiai Ilham pada salah satu fakir miskin di kampungnya.

Kiai Ilham keluar menemui saya. Wajahnya masih terlihat emosi. Saya terdiam. Saya kian kikuk melihat Kiai Ilham yang merasa tidak enak mendapat ceramah anaknya. Kali itu saya sebenarnya ingin mengingatkan kepada Kiai Ilham tentang ayat Al-quran : ”Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.”  Tapi itu tidak mungkin. Kondisinya psikologisnya tidak stabil. Saya hanya berdoa, dalam perjalanan waktu semoga Kiai Ilham akan menemukan ayat itu.

Betapa dalam keseharian kita masih sangat berat untuk memberikan sesuatu yang terbaik yang kita miliki di rumah kita untuk orang lain. Kita selalu memilih barang yang sudah tidak kita sukai, baru kemudian diberikan pada orang lain. Padahal untuk sampai pada ketaatan sempurna pada Tuhan, sebaiknya kita memberikan yang terbaik, bukan yang terburuk. Tapi kita masih sering memilih “barang rongsokan” untuk kita berikan kepada orang lain**

 Palembang,  16 November 2002

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s