Ayam Mati di Meja Presiden

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

 Jika kita datang ke setiap undangan pernikahan, atau dalam acara pesta tertentu, sudah pasti kita akan menjumpai berbagai jamuan makan, dari kelas Er-Te, sampai kelas Presiden, termasuk di dalamnya hidangan daging ayam.

Selama ini, kalau kita diundang makan yang terpikir oleh kita, memilih makanan yang sesuai selera kita, atau makanan yang tidak membahayakan kesehatan kita, terutama yang menyimpan banyak kolestrol atau yang sedang diet bagi kaum perempuan.

Melihat sajian makanan, seperti daging ayam, misalnya kita pasti hanya berpikir bagaimana rasanya ayam bakar, ayam goreng, apalagi kalau anda suatu ketika diajak makan ayam satu meja bersama presiden.

Ayam jika masih hidup, sangat tidak mungkin bisa sampai di meja presiden. Sebab, jauh sebelum ayam bertemu presiden, para pengawal sudah lebih dulu mengusir ayam-ayam itu sejauh mungkin, supaya pesta presiden tidak terganggu oleh ayam yang kurang ajar itu.

Tetapi ketika ayam sudah mati, kapan saja bisa terhidang di meja presiden, tanpa siapapun yang berani melarang. Bahkan sangat mungkin seorang presiden memesan ayam bakar atau ayam panggang untuk menjamu tamu-tamunya.

Tetapi, ketika ayam itu mati dan bisa sampai di meja presiden, bukan tanpa perjuangan. Sebab, untuk sampai di meja presiden, seekor ayam harus lebih dulu siap mati. Lehernya diserahkan kepada si penyembelih. Berdarah-darah. Tidak cukup hanya disembelih, bulunya kemudian dicabuti setelah sebelumnya disiram air panas. Lalu semua badannya disayat dan dipotong-potong. Tidak sampai disitu saja, ayam harus menahan pedih oleh lumuran bumbu lada, garam atau bahkan pedasnya cabai.

Setelah itu, ayam harus dieksekusi lagi di atas penggorengan dengan minyak panas, atau dipanggang diatas bara seratus drajat Celsius lebih. Setelah semuanya selesai, baru ayam ini bisa naik ke meja presiden.

Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, dan membantu tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita.

Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, ternyata sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memposisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden. Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak, perilaku dan kemuliaan di hadapan Tuhan, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan kesana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah. Sanggup menahan diri dari godaan apapaun. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan, berdarah-darah dan lain sebagainya.

Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor. Saat itulah kemuliaan kita akan jatuh tak lebih berharga dari seekor ayam.

Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq, perilaku hati kita demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?**

BTN Krg. Asam  Tanjung Enim, 9 April 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s