Bersyukur dalam Kebutaan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

 Dikisahkan, ada seorang pemuda tanggung yang dalam hidupnya buta sejak lahir. Orang tuanya menyesal sepanjang hidupnya, karena anaknya lahir dalam keadaan buta. Demikian pula si pemuda buta. Dalam kesehariannya menangis dan meratapi kebutaannya, sampai tubuhnya kurus kering.

Pemuda yang buta ini tinggal di sebuah negeri yang dikuasai oleh seorang Raja Lalim. Dalam kisahnya, Raja Lalim ini suka memakan daging manusia. Orang menyebutnya Raja Kanibal. Raja ini selalu menyuruh pasukannya masuk ke setiap desa untuk mencari pemuda tanggung yang kurus, untuk kemudian dibawa ke istana.

Di suatu pagi, Raja Lalim memerintahkan para punggawa istana pergi dan masuk ke pelosok desa untuk mencari pemuda tanggung yang kurus. Maka berangkatlah satu pasukan khusus yang kemudian menyebar ke penjuru desa. Sampailah pasukan Raja Lalim ini di rumah si pemuda buta. Perlawanan dari kedua orangtuanya tak mampu mencegah pasukan raja untuk membawa pemuda buta ini ke istana.

Sampai di istana, puluhan pemuda kurus yang terjaring hari itu kemudian dimasukkan dalam ruangan khusus. Mereka dikarantinakan dan diberi makanan yang enak supaya dalam hitungan minggu pemuda yang kurus-kurus ini bisa gemuk dan siap disantap oleh Raja Kanibal ini.

Setelah beberapa pekan, pemuda kurus yang sudah gemuk ini, satu persatu diseret ke lokasi pemotongan. Tiba giliran pada si pemuda yang buta. Sesaat si Raja Lalim menatap pemuda buta ini dengan tajam. Bertanyalah Raja Lalim ini pada pasukannya, kenapa mata pemuda ini putih semua? Salah satu pasukannya menjawab dengan lantang : Pemuda ini buta sang raja!

Saat itu pula, Raja Lalim marah. “Saya tidak suka menyantap daging orang buta!” bentak sang Raja. Pasukan yang membawa pemuda buta itu kemudian mendapat hukuman setimpal karena kesalahan yang diperbuatnya. Raja Lalim kemudian menyuruh pasukannya untuk segera mengembalikan pemuda buta ini ke kampungnya. Sang Pemuda Buta kemudian kembali pada orang tuanya dalam keadaan bugar dengan badan yang sehat, gempal dan gemuk.

Sampai di rumah, pemuda buta ini dalam hatinya baru mengucapkan rasa syukur dilahirkan dalam keadaan buta. Demikian pula orang tuanya, kemudian mengucapkan terima kasih pada Tuhan yang telah mengaruniai anak dalam keadaan buta. Mereka baru tersadar, seandainya putra mereka tidak dalam keadaan buta, mungkin kedua orang tua ini akan kehilangan anak tercintanya disantap si Raja Lalim.

 Seringkali kita mendapati kenyataan buruk dalam kehidupan kita. Dan dari sekian banyak orang, sering memandang keburukan itu selalu dengan kekesalan, penyesalan, kebencian dan dendam, sebagaimana kedua orang tua si pemuda buta tadi.

Tetapi setelah sekian bulan mendapati rahasia kebijakan Tuhan dalam bentuk kebutaan anaknya, yang kemudian tidak menjadi santapan Raja Lalim, kedua orang tua pemuda buta ini baru menyadari, betapa Tuhan masih mengasihi mereka dengan tetap memberikan hidup bagi anak tercintanya meski dalam keadaan buta.

 Sangat banyak peristiwa yang sering kita anggap buruk, tetapi sebenarnya disitulah Tuhan sedang memberikan kebaikan pada kita. Tetapi keterbatasan kita melihat petikan hikmah dibalik sebuah peristiwa  buruk, kita seringkali menghujat Tuhan, mencaci Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan sama sekali. Padahal dengan kenyataan pahit yang dimata manusia dianggap buruk dan nista, secara tidak kita sadari, Tuhan sedang memberikan kebaikan, meski kebaikan itu hanya akan diketahui setelah kita menemukan petikan hikmah dibalik peristiwa keburukan, sebagaimana kedua orang tua pemuda buta tadi.**

Palembang 26 Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s