Kampanye Hitam? Tuhan Sedang Bermain Bola

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Hampir sudah menjadi hukum alam, setiap menjelang suksesi (baca ; kompetisi kekuasaan), baik dalam konteks daerah maupun nasional, selalu ada pro-kontra soal kampanye hitam.

Tetapi dari sekian banyak politisi, pengamat, pemerhati sosial kebudayaan, atau bahkan para ulama sekalipun, lebih cenderung melihat kampaye hitam menjadi sesuatu yang ’haram’ didengungkan. Menurut beberapa pengamat, kampaye hitam menjadi sesuatu yang akan berakibat buruk terhadap proses pencerdasan bagi masyarakat. Lebih ekstrim lagi, kampaye hitam dianggap sebagai bentuk opini yang akan merusak pendidikan demokrasi rakyat.

Ragam pernyataan terhadap ”pelarangan” kampaye hitam diakui atau tidak juga didasari oleh banyak kepentingan dan keberpihakan. Bagi kelompok yang sedang terkena serangan oleh kampaye hitam, dengan sigap melakukan counter opini dengan melontarkan ”pengharaman” adanya kampaye hitam. Namun bagi pihak penyerang, reaksi pihak lawan ini dianggap sebagai bagian keberhasilan, karena ’pancingan’ itu kena sasaran. Sama persis ketika beberapa waktu lalu, Presiden SBY secara reaksioner menanggapi tuduhan dari salah satu petinggi partai politik tentang adanya pernikahan sebelum menjadi petinggi negara.

Penilaian sebagian pihak yang ’mengharamkan’ kampaye hitam ini paling tidak ada beberapa latar belakang. Selain adanya kepentingan dan keberpihakan terhadap salah satu kandidat kepala daerah, juga dilatari oleh cara pandang sebagian masyarakat, yang cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang satu arah. Atau yang saya bahasakan, selama ini sebagian tokoh masyarakat cenderung menilai terhadap realitas sosial budaya menggunakan perspektif ’kacamata kuda’.

Apa yang terjadi kemudian? Sama seperti kuda! Ia hanya akan melihat dinamika politik dan sosial budaya hanya dengan pandangan lurus kedepan, tanpa melihat persoalan dari perspektif yang berbeda. Akibatnya, tidak memunculkan pendapat yang koprehensif, melainkan opini yang cenderung tendensius, parsial dan terpenggal-penggal. Efek yang timbul adalah, sesuatu yang terjadi tidak lagi dipahami dalam kacamata positif (positif thinking), melainkan dianggap sesuatu yang mengganggu stabilitas politik (negatif thinking).

Alasan lain yang melatari, kenapa sebagian tokoh dan pengamat ’mengharamkan’ kampanye hitam adalah, ketakutan politik. Ada kesan yang muncul, melalui kampaye hitam seolah akan merusak ’kebaikan’ seseorang yang secara kebetulan sedang disiapkan menjadi kepala daerah. Para tokoh yang ’mengharamkan’ kampaye hitam menganggap, dengan kampanye hitam seorang calon kepala daerah akan jatuh, dan akan kalah dalam kompetisi politik kekuasaan, sebagai akibat dari ’aksi’ lawan politiknya yang membeberkan keburukan dan ketidakberhasilan seorang calon kepala daearah yang dimaksud.

Dalam konteks ini ada beberapa point yang sebaiknya menjadi bahan renungan bagi sebagian kita, terutama yang ’mengharamkan’ kampaye hitam. Pertama; ketika kampaye hitam ini muncul kepermukaan, jika pandang dari perspektif yang positif, justru dapat menjadi peringatan (warning) bagi generasi mendatang untuk lebih banyak menanamkan ’investasi kebaikan’ jauh sebelum ia akan bercita-cita sebagai calon kepala daerah.

Dengan kata lain, jika seorang calon kepala daerah yang berkeinginan turut serta dalam kompetisi politik kekuasaan ada ketakutan politik terhadap kampaye hitam, maka selayaknya melakukukan meminimalisasi ’investasi keburukan’ yang mungkin selama ini dilakukan, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Kedua; munculnya kampaye hitam terhadap seorang calon kepala daerah, atau seorang calon presiden sekalipun, sebaiknya tidak menjadi sebuah ketakutan. Sebab, ditengah proses pencerdasan politik bagi rakyat, memang sebaiknya ditawarkan beberapa alternatif, antara kampaye putih dan kampanye hitam. Sehingga rakyat tidak hanya akan disuguhi ’kabar baik’ secara terus menerus, tanpa membongkar ’kabar buruk’ yang terselip dibalik kebaikan.

Mentalitas Orba

Pelarangan kampanye hitam terhadap calon kepala daerah, atau terhadap sistem pemerintahan dimanapun berada, ini bisa menjadi bagian upaya pengembalian mentalitas orde baru, yang secara historis pemerintah Orde Baru (Orba) sama sekali tidak menginginkan adanya ’kabar buruk’ di media terhadap pemerintahan, kecuali hanya ’berita kebaikan’. Tetapi, toh akhirnya semua borok dan keburukan itu terbongkar yang akhirnya menumbangkan rezim Orba pada 21 Mei 1998.

Pemikiran ini sama sekali bukan berdasar pada logika politik semata, melainkan bagian upaya penulis untuk menyampaikan ’bahasa’ Tuhan yang selalu mengajari manusiaa untuk menyikapi perbedaan pendapat (pluralitas) dengan kearifan dan bukan dengan arogan. Bukankah Tuhan secara nyata telah membuat pernyataaan secara demokratis; telah aku bentangkan jalan yang hitam dan yang putih…supaya manusia mau berpikir. Maka dengan munculnya pelarangan kampaye hitam yang belakangan sedang menjadi perdebatan di media, saya justru berpikir ini merupakan ’pengingkaran’ terhadap ayat-ayat Tuhan yang secara nyata telah membentangkan berbagai perbedaan-perbedaan.

Pada tulisan ini saya ingin mengatakan, mengutip pernyataan Kiai Madjid, di Tanjung Enim, ketika Tuhan menciptakan iblis (syetan), atau dalam konteks sekarang munculnya kampaye hitam, sebenarnya Tuhan menciptakan lawan, sehingga akan manusia akan menjadi lebih berharga. Dengan kata lain, munculnya kampaye hitam ini, dalam perspektif ’bahasa langit’, Tuhan sedang ingin membeberkan kepada calon pemilih, agar merea mampu menjadi ulil albab (kaum pemikir), untuk kemudian bisa membedakan antara calon yang bernilai dan calon yang tidak bernilai, baik di mata Tuhan atau di mata manusia. Sebab, bagaimana mungkin 1 goal dalam permainan sepak bola akan mendapat hadiah sepatu emas, kalau tim yang 11 orang tidak dihadapkan 11 tim yang menjadi lawan permainan?

Bagi calon kepala daerah yang merasa diserang oleh kampaye hitam, sebenarnya juga sedang dijadikan ’bola’ oleh Tuhan. Logikanya, ketika Tuhan ’bermain bola’, kemudian bola itu dihempaskan ke bumi, maka yang terjadi kemudian adalah bukan ’bola’ makin terperosok ke dasar bumi, melainkan akan memantul semakin tinggi ke langit.

Namun, karena keterbatasan dan ke-awaman manusia menterjemahkan ’bahasa’ Tuhan, yang terjadi kemudian bukan kearifan dan mengucap alhamdulillah terhadap kampaye hitam, melainkan kasak-kusuk melakukan counter opini, agar figur calon kepala daerah yang disiapkan tidak terkena noda keburukan. Kenapa mesti harus blingsatan terhadap kampaye hitam. Toh kita sadar dengan istilah; no body  perfect (tidak ada manusia yang sempurna). Hanya saja kadar kebaikan dan keburukan saja yang sudah pasti mempunyai persentase yang berbeda-beda di mata Tuhan.**

 Tanjung Enim, 02 November 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s