Kehilangan adalah Kasih Sayang

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, Anca adik tingkat saya di kampus IAIN Raden Fatah Palembang, suatu kali mengadu pada saya. Dia mencurahkan hatinya tentang sikap orang tuanya yang tidak mau membelikan sepeda motor untuk kuliah. Dari getaran suaranya ada nada protes, dan setengah kebencian terhadap kedua orang tuanya. Bahkan, saya menebak kalau dalam pikiran Anca muncul kesimpulan kalau orang tuanya tidak sayang pada dirinya.

Saya kemudian tanya pada Anca, tentang penghasilan kedua orangtuanya. Menurut pengakuannya, orang tua Anca memiliki kebun kebun karet yang luas. Atas dasar itulah, Anca menganggap sangat tidak masuk akal kalau orang tuanya tidak bersedia membelikan sepeda motor untuk kuliah.

Di tengah berbagai kegundahan hati dan seribu tanya pada diri Anca, saya kemudian mengatakan, kalau sebenarnya penolakan  orangtuanya bukan karena orang tua Anca tidak sayang padanya. Bahkan sebaliknya, oleh karena orang tuanya sayang pada Anca, sehingga orang tuanya sampai hari itu, belum juga membelikan sepeda motor.

Saya berkata lagi pada Anca; “orang tuamu tidak ingin kamu celaka yang disebabkan oleh sepeda motor. Orang tuamu sangat mengerti dengan watakmu, yang mungkin kamu suka kebut-kebutan, sehingga orang tuamu khawatir, kalau sampai terjadi apa-apa pada kamu!”

“Ah! Itu hanya alasan ayah saya yang tidak mau membelikan sepeda motor!” kata Anca protes. “Saya ini sudah besar. Sudah kuliah, mana mungkin saya akan ikut-ikutan kebut-kebutan seperti anak-anak SMA,” katanya menyakinkan saya.

“Anca, masalahnya bukan itu saja. Kamu harus berpikir, jangan sampai orang tuamu membelikan sepeda motor itu dengan amarah dan tidak dengan kerelaan. Sebab, Tuhan hanya akan meridloi jika orang tua juga meridloi. Jadi jangan dipaksakan. Ini adalah penundaan dan kasih sayang Tuhan kepada kamu melalui kedua orang tuamu!” saya mencoba menasihatinya.

“Aaaah, itu tidak rasional!” katanya kesal.

“Sekarang begini. Seberapa penting sepeda motor yang harus kamu punya, lalu untuk apa?” tanya saya pada Anca.

“Untuk kuliah! Lagi pula kalau saya pulang ke kampung, saya tidak perlu ongkos naik bis. Saya bisa pulang satu bulan satu kali, tidak seperti selama ini saya pulang setiap libur semester, naik bis,” kata Anca berargumentasi.

Saya tanya lagi pada Anca; “kalau seandainya ayahmu tidak membelikan sepeda motor, apakah kamu tidak bisa kuliah? Kemudian jika tanpa sepeda motor apakah kamu tidak bisa mudik menemui kedua orangtuamu di kampung?”

Anca terdiam! Tatapannya membentuk bulatan, yang jelas tidak setuju dengan ucapan saya.

“Kalau ada sepeda motor, saya siap narik ojek, sambil kuliah saya bisa cari duit,” katanya menegaskan lagi.

“Oke, besok kamu pulang dan katakan pada orang tuamu, dengan semua alasan yang kamu sampaikan hari ini,” kata saya setengah menyuruh Anca.

Dua minggu saya tidak bertemu. Saat saya datang ke kampus Anca sudah mengendarai sepeda motor baru. Ada rona keceriaan yang tersemburat di wajahnya. Tetapi sejak itu pula, Anca makin jarang saya temui di kampus, apakah dalam ruang kuliah atau di sejumlah kegiatan mahasiswa. Saya tanya pada sebagian teman-teman Anca. Kata mereka, Anca sekarang sibuk dengan kekasihnya. Antar jemput kekasihnya dan setelah itu narik ojek untuk membayar kredit sepeda motornya.

Ketika itu, dalam kesenangan Anca mungkin tidak menyadari, kalau sebenarnya orangtaunya membelikan sepeda motor dengan keterpaksaan dan setengah hati.

Sekitar dua atau tiga bulan saya tidak mendapat kabar tentang Anca dan sepeda motornya. Dan masuk bulan keempat, saya dapat kabar dari teman Anca, kalau sepeda motornya hilang di kampus saat Shubuh menjelang. Anca sekarang kembali kuliah tanpa sepeda motor seperti sebelumnya.

**

Kisah ini memberi pelajaran bagi kita, ternyata kasih sayang tidak selalu dalam bentuk pemenuhan materi. Sebab, pemenuhan materi pada anak tanpa menimbang risiko, sama saja kita sebagai orang dewasa telah menjerumuskan generasi bangsa ini ke jurang kesesatan sosial.

Kedua, dari kisah terpetik satu pencerahan, sebenarnya Tuhan secara gaib sudah membisikkan pada Anca untuk tidak terlalu memaksakan diri memiliki sepeda motor. Cara Tuhan berbisik melalui penolakan orang tua Anca yang tidak bersedia membelikan sepeda motor. Tetapi karena Anca memaksa, akhirnya sepeda motor dibeli walau dengan setengah hati. Dab faktanya, hanya sesaat saja sepeda motor itu diambil kembali oleh Tuhan dengan cara Tuhan mengutus Pencuri untuk mengambil paksa.

Tuhan mengutus pencuri, bukan karena Tuhan jahat, atau menghukum Anca dan kedua orangtuanya. Hilangnya sepeda motor, tanpa sepengetahuan indera manusia, Anca dan kedua orangtuanya sedang diselamatkan oleh Tuhan, pada peristiwa yang mungkin akan lebih buruk menimpa Anca atau orang tuanya. Tuhan tidak ingin ada kejadian yang lebih memilukan, dibanding sekadar kehilangan sepeda motor.**

Palembang, November  2010

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s