Mengubah Sakit Menjadi Nikmat

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi 

Tanggal 4 Agustus 2010, pukul empat sore. Persis di depan rumah kontrakan saya di Jalan Swadaya Palembang.

Sore itu, Annisa, putri sulung saya yang ketika itu baru berumur 5 tahun, jatuh terjerembab. Lutut kakinya lecet tergesek aspal. Tangannya juga bernasib serupa. Luka dan kulit arinya terkelupas. Seketika itu pula ada bercak darah yang mengembun dari pori-pori lukanya. Memang tidak terlalu parah.  Tetapi bagi anak seusia Annisa, luka itu cukup beralasan, jika anak saya kemudian harus menangis karena menahan rasa sakit.

Tangisnya kian meledak, saat saya kemudian keluar menyambutnya. Dia menganggap, saya akan langsung memanjakan dan menggendongnnya. Tangannya menjuntai ke arah saya. Tetapi saya tidak langsung menerima permintaan itu. Kian meraunglah suara tangis anak saya itu.

Sebagai orang tua, saya tidak ingin tangisan anak saya makin keras. Saya coba mengobatinya. Setelah itu, saya menggendongnya dan saya baringkan diatas ranjang. Dalam belaian, tak lama kemudian, anak saya terlelap bersama rasa nyeri lutut dan tangannya. Saya kemudian meninggalkan anak saya di dalam kamar sendirian, setelah sebelumnya saya mencium keningnya. Demikianlah kisah rasa sakit yang sore itu diderita anak saya.

**

Rasa sakit bisa menimpa siapa saja. Rasa sakit tidak kenal usia, pangkat, jabatan, jenis kelamin, ruangd an waktu. Dan sore itu rasa sakit menimpa anak saya. Tetapi, saya melihat demikian indah rasa sakit yang menimpa anak saya sore itu, ketika kemudian kecelakaan kecil itu mengantarkan anak saya bisa tidur siang meski hanya sesaat.

Seperti kebanyakan anak seusia anak saya, tidur siang biasanya dianggap sebagai siksaan, karena mereka mengangap ruang dan waktu bermain menjadi tersita oleh tidur siang. Tetapi, sore itu, ternyata Tuhan berkata lain pada anak saya. Jika tanpa ada kejatuhan yang menimbulkan rasa sakit, anak saya akan menolak untuk diperintah tidur siang. Jatuhnya anak saya adalah ‘bahasa langit’ yang kemudian menyadarkan saya, betapa keinginan baik dari orang tua yang ditolak mentah-mentah oleh anak, kemudian diambil alih kewenangannya oleh Tuhan, dengan cara “jatuh dan sakit” lebih dulu, baru kemudian anak saya bersedia berbaring dan “dilelapkan” oleh Tuhan.

Dalam “skenario langit”, Tuhan telah sedemikian banyak menciptakan jutaan rasa sakit yang acap kali kita anggap cobaan, teguran atau bahkan laknat. Tetapi sedemikian sombongkah kita jika kemudian menganggap rasa sakit yang menimpa, lantas kita sebut sebagai cobaan? Sudah seberapa taatkah kita terhadap perintah-Nya, sehingga kita berani-beraninya, menganggap rasa sakit itu sebagai cobaan? Seberapa lalu seberapa parah salah kita, pada Sang Pemberi nikmat, sehingga menganggap rasa sakit yang menimpa, lalu kita sebut sebagai teguran?

Lalu seberaninya kita menuduh rasa sakit yang datang sebagai laknat Tuhan terhadap diri kita, dengan menyebut taqdir memang kejam, sementara “rasa sakit” itu seringkali sebagai akibat dari ulah kita sendiri? Bukankah kita sendiri yang selalu membuka ruang untuk terus menerus mendapat laknat, hanya karena kita telah salah kelola atas “rejeki nasional” di negeri serpihan surga ini?

Pernahkah kita kemudian melakukan perhitungan terhadap diri (muhasabah) atas segala kelalaian kita yang telah melakukan dosa ritual, dosa sosial  dan dosa struktural dalam system tatanegaraan kita, dosa dalam tatanan batin kita, jika kemudian kita menyebut rasa sakit itu sebagai teguran, cobaan atau bahkan laknat?

Bila rasa sakit itu laknat, bukankah Tuhan Maha Pengampun? Betapa kejamnya Tuhan memberi laknat terhadap mahluk ciptaan-Nya sendiri, hanya lantaran kesalahan  kecil yang sebenarnya kesalahan itu sendiri, bagian proses untuk mengantarkan mahluk-Nya menemukan kebenaran?

Apapun julukan dan sebutan kita terhadap “rasa sakit”, tetap saja akan menjadi indah ketika itu semua bukan dijadikan sebagai keluhan, penderitaan apalagi halangan untuk tetap kita berterima kasih atas semua “bonus gratis” dalam hidup, yang Tuhan sendiri memerintahkan kita hanya untuk “mengabdi” kepada-Nya.

Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk mengeluh, mengumpat apalagi menghujat terhadap rasa sakit. Sebab dengan rasa sakit, kita akan sangat paham betapa nikmatnya sehat. Dengan rasa sakit, kita makin banyak tahu tentang sakit-sakit lain, baik sakit fisik atau sakit jiwa, yang mungkin selama ini diderita oleh banyak orang, sementara kita memilih mentertawakannya.

Dengan rasa sakit, Tuhan  sebenarnya sedang memanusiakan kita, agar kita tersadar kalau manusia memiliki kewajiban untuk sakit. Dengan rasa sakit, Tuhan sedang terlihat watak keaslian kemanusiaan kita, yang ternyata hanya bisa mengeluh saat ditimpa rasa sakit, dan akan tertawa, bahkan terjerumus dalam kelalaian saat kita sehat. Maka nikmatilah rasa sakit itu, sehingga dengan sakit kita akan lebih memahami, kalau Tuhan sedang menyapa kita, meski sapaan itu dengan rasa sakit.

Demikian pula, sore itu, ketika anak saya jatuh, sebenarnya bukan sedang melukai anak saya, tetapi sebaliknya, Tuhan sedang mengasihi dan mencintai anak saya, “memaksa” anak saya untuk lelap sebentar demi keberlangsungan tenaganya di esok hari.**

Palembang, 5 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s