Mulut Kita dan Dandang Bakso

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Dalam sebuah diskusi di Majalah Bintang Pelajar di Tanjung Enim tahun 2005, saya bertemu dengan Kiai Abdul Madjid, seorang pegiat agama di Kabupaten Muara Enim Sumsel. Kepada saya, dia mengisahkan tentang mulut dan dandang bakso. Awalnya cerita ini terdengar sederhana. Tetapi bagi saya, cerita ini menyimpan pesan yang tidak bisa kita lupakan begitu saja.

Katanya, bagi kebanyakan orang, Anda mungkin agak sulit, menghubungkan apalagi mempertemukan antara mulut dan dandang bakso. Sebab, selama ini mulut kita harus terjaga dari benda-benda keras apalagi harus bersentuhan dengan dandang atau panci besar yang biasa untuk memasak bulatan bakso.

Tetapi, jika dirunut, secara langsung atau tidak, keduanya bisa berhubungan. Sebab, bisa saja sekali-sekali mulut kita, memakan bakso yang sebelumnya sudah direbus di dalam dandang. Kalau ternyata kita bukan pedagang bakso, mungkin sekali-sekali kita juga membutuhkan “jasa” dandang, untuk memasak atau merebus makanan tertentu. Dan hasil rebusannya, pasti akan masuk ke perut, setelah sebelumnya dikunyah-kunyah di mulut kita.

Ilustrasi ini menggambarkan, betapa antara mulut kita dan dandang bakso juga bisa melakukan kegiatan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Secara fisik, dandang bakso, dapat dibeli di pasar, seharga Rp25-35 ribu rupiah. Sementara, mulut kita harganya tidak bisa dinominalkan secara materi dalam rupiah.

Sampai sekarang pun, kita juga belum menemukan rumah sakit, yang menjualbelikan mulut manusia. Yang ada menjahit mulut robek akibat kecelakaan, atau operasi bibir sumbing. Dengan demikian jelas, harga mulut kita lebih mahal dari sebuah dandang bakso.

Namun kenyataan lain, dandang bakso bisa lebih bermanfaat dari pada mulut kita. Posisi dandang bakso lebih  “terhormat” dari mulut kita. Kalau seorang pedagang bakso, memasukkan adonan gandum dan daging ke dalam dandang, maka yang dihasilkan kemudian adalah bulatan bakso. Pedagang kemudian memadukan bakso dengan, kuah, mie beserta bumbu-bumbunya, lalu dihidangkan kepada para pembeli. Semua suka, semua memakannya dengan lahap.

Tetapi di sisi lain, jika bulatan bakso, dimasukkan ke dalam mulut kita, lalu dikunyah-kunyah, kemudian kita keluarkan dari mulut, lalu ditawarkan kepada setiap orang dengan mangkuk sebagaimana tukang bakso yang menjual baksonya, siapa yang akan mau memakannya?  Tentu, semuanya akan menolak. Karena semua kita akan merasa risih dan jijik. Ini bukti, sebuah dandang bakso ternyata bisa “lebih mahal” harganya  dibanding dengan mulut kita. Produk dandang bakso bisa dijual, sementara hasil kunyahan dari mukut kita berbalik menjijikkan, dan sudah tentu tak laku jual.

Mukut adalah satu satu lobang yang ada dalam tubuh kita. Disadari atau tidak, setiap lubang yang kita punya sebenanrnya “hanya” bisa mengeluarkan kotoran. Mulut, menghasilkan air liur (iler, red), telinga, menghasilkan kopok, hidung, menghasilkan upil dan ingus. Dubur, sudah pasti mengeluarkan  tinja. Sampai-sampai,  Tuhan jelas menyatakan, kalau manusia sebenarnya tercipta dari air hina (sperma) yang keluar dari tempat keluarnya kotoran, dan lahir dari tempat dikeluarkannya kotoran juga. Lha kalau, begitu apa yang mesti dibanggakan, kalau ternyata mahkuk jenis manusia ini, lahir juga melalui rongga di tempat keluarnya kotoran?

Kemudian apa yang membuat manusia itu manjadi terhormat? Kalau dandang bakso harganya menjadi lebih mahal dari mulut kita, karena tebaran rahmat  dan karunia kebesaran Tuhan. Pedagang bakso, ketika berangkat dari rumah, yang terbersit dalam niatnya adalah, bagaimana berjualan laris untuk menghidupi anak dan isteri, lain tidak. Hati pedagang bakso benar-benar “nol”, hanya untuk mencari nafkah. Ketika itu dimantapkan dalam hati si pedagang bakso, Tuhan kemudian menebar rahmat-Nya ke setiap dandang bakso.

Pun demikian manusia. Mulut kita akan menjadi mulia, ketika tebaran rahmat Tuhan bisa ditangkap dengan kesadaran hati kita. Kesadaran hati adalah kesadaran yang menyadarkan manusia untuk meyakini kalau mulut kita, atau seluruh anggota tubuh kita adalah barang titipan. Karena barang titipan, sudah seharusnya kita berhati-hati menggunakan anggota badan kita. Mulut, mesti dihindarkan dari perkataan kotor. Mata juga wajib diselamatkan dari hal-hal yang ma’siat. Dan hati kita, harus dijauhkan dari perasaan yang tidak baik. Kenapa ini penting? Sebab, jika kemudian anggota badan kita tidak digunakan kepada hal-hal yang tidak bermanfaat, maka tinggal menunggu giliran, kapan Tuhan akan mengambil hak-Nya kembali.

Oleh sebab itu, kisah dari Kiai Majid ini, perlu menjadi bahan pemikiran bersama, agar kita tidak terjebak pada “merasa memiliki segalanya”, padahal sebenarnya kita tak punya apa-apa. Jika kesadaran ini sudah mengakar dalam kedirian kita, maka harga anggota badan kita, termasuk mulut kita, harganya tidak akan jatuh dibawah harga dandang bakso.**

Kantor Redaksi Majalah Bintang Pelajar di Tanjung Enim, April 2006

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s