Rugi Satu Juta Adalah Kebahagiaan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Dalam sebuah pengajian, Kiai Imron Jamil mengupas Kitab Al-Hikam. Dalam pengajian itu, ada sebuah kisah sufi tentang balasan bagi seorang hamba yang beramal baik,  akan dibalas sepuluh kali lipat.

 

Sebut saja Pak Ahmad, seorang kuli bangunan yang taat beragama. Suatu ketika, Pak Ahmad ikut mendengarkan pengajian sebagaimana saya berada dalam majelis itu. Sebuah ayat Al-Quran disampaikan oleh Kiai Imron Jamil dengan penjelasan yang detil. Intinya, setiap orang yang berbuat satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, bahkan bisa lebih dari itu.

Ulasan Kiai Imron Jamil ini demikian lekat dalam hati dan pikiran Pak Ahmad. “Satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, bahkan bisa lebih dari itu,” kalimat itu demikian lekat di benaknya.

Ucapan Kiai ini kemudian ia ceritakan kepada isterinya. Terpikirlah bagaimana isterinya bisa memberi uang pada Pak Ahmad agar diberikan pada fakir miskin atau yang berhak menerima, sehingga dalam waktu singkat akan segera berbalas sepuluh kali lipat. Hitung-hitungan keuntugan ini yang terus membayangi tidur Pak Ahmad dan isterinya sampai keduanya bangun kembali.

Pagi harinya, Pak Ahmad tidak bekerja. Dia kemudian meminta uang pada isterinya seratus ribu rupiah. Kata Pak Ahmad, hari itu dia akan memberikan uang seratus ribu kepada fakir miskin atau siaapapun yang berhak menerimanya. Dengan senyum dan harapan besar, isteri Pak Ahmad memberikannya tanpa adalagi pertanyaan dan keraguan.

Di depan rumah Pak Ahmad duduk menunggu siapa saja yang layak diberi uang seratus ribu rupiah. Datang seorang anak kecil dengan membawa kotak amal yang meminta sumbangan. Tak lagi berpikir panjang, Pak Ahmad segera bangkit dan memberikan uang seratus ribu kepada anak kecil itu. Hari itu, Pak Ahmad sangat bahagai karena dalam pikirannya akan segera mendapat satu juta rupiah sebagaimana keterangan dari pengajian tadi malam. Ia yakin penjelasan Kiai Imron Jamil tidak bohong, sebab yang disampaikan adalah firman Tuhan.

Sampai lepas makan siang, belum ada tanda-tanda uang Pak Ahmad kembali dan berbalas sepuluh kali lipat. Ashar menjelang, Pak Ahmad makin gelisah dan kesal. Dalam hatinya sudah mulai uring-uringan, kenapa Tuhan belum membalas uang seratus ribu dengan satu juta rupiah. Pikiran Pak Ahmad mulai dikacaukan oleh harapan satu juta rupiah, yang hingga sore itu belum juga ia dapatkan. Berbagai umpatan, makian mulai keluar dari mulut Pak Ahmad.

Tanpa ia sadari, kekesalan dan sikap uring-uringan Pak Ahmad ini didengar oleh Malaikat. Maka saat itu pula Sang Malaikat kemudian melaporkan sikap Pak Ahmad ini kepada Tuhan. Terjadilah dialog singkat antara Malaikat dan Tuhan tentang Pak Ahmad.

“Tuhan, di Palembang ada Pak Ahmad yang belum kamu penuhi janji-Mu. Dia sudah memberikan sumbangan kepada anak panti asuhan sebesar seratus ribu rupiah, tetapi Kau belum membalas sepuluh kali lipat,” Malaikat setengah protes pada Tuhan tentang balasan yang belum dipenuhi.

Tuhan kemudian menjawab, bahwa sebenarnya balasan itu sudah sampai pada Pak Ahmad, hanya saja Pak Ahmad yang tidak mengetahuinya. “Balasan apa yang telah Kau berikan?” Tanya Malaikat.

Tuhan kemudian memperlihatkan catatan. Dalam tulisan itu tertera jelas ; Pada pukul empat sore, Pak Ahmad pergi ke pasar, tetapi di simpang jalan Pak Ahmad tersenggol mobil dan berobat ke rumah sakit biayanya sebesar satu juta rupiah. Tetapi karena Tuhan tidak membalas seratus ribu rupiah dengan nominal uang, maka Pak Ahmad tetap tinggal dirumah dan Pak Ahmad terselamatkan dari kecelakaan.

Diluar jangkauan analisa Pak Ahmad, ternyata Tuhan sudah membalas amal baik yang dilakukan Pak Ahmad. Uang seratus ribu rupiah telah dibalas dengan satu juta rupiah, meskipun dalam bentuk lain, yaitu dalam wujud keselamatan Pak Ahmad dari kecelakaan.

Seandainya Tuhan membalas dengan nominal uang, maka sore harinya setelah Pak Ahmad menerima uang satu juta, Pak Ahmad berangkat ke pasar, dan dia akan mendapat kecelakaan yang biaya pengobatannya sebesar satu juta rupiah. Tetapi karena tidak dibalas kontan dengan wujud fisik, Pak Ahmad selamat dari mala petaka.

Balasan kebaikan dari Tuhan terhadap apa yang telah kita lakukan tidak selalu dalam bentuk balasan fisik, uang atau harta benda. Tuhan Maha mengetahui gerak batin dan rencana hamba-Nya sehingga dengan segala Kebesaran-Nya Tuhan memiliki kebijakan lain, yang sesungguhnya itu bagian dari kasih sayang-Nya pada kita semua. Tetapi karena balasan itu seringkali dalam bentuk yang abstrak, ghoib maka untuk memahami kebijakan Tuhan yang demikian kitu hanya dengan ketaatan dan keyakinan, kalau Tuhan akan membalas segala kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun kebaikan itu.**

 Palembang, 27 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s