Sedang TUHAN pun Mengutus AYAM

Ilustrasi : Googel Image

Ilustrasi : Googel Image

Oleh Imron Supriyadi

Suatu sore, di Tanjung Enim, saya berkunjung ke rumah Ustadz Taufik, sekarang Pimpinan Pondok Pesantren Daarusa’adah Muara Enim. Tujuannya, sekadar ngobrol kosong sembari menunggu datangnya waktu maghrib. Ketika itu, Ustadz Taufik punya hobi memelihara ayam Bangkok.

“Bagus, itu. Lagi pula Ayam Bangkok kan nilai jualnya cukup bersaing di pasaran. Kalau berkembang, ini bisa jadi bisnis baru Pak Ustadz,” saya berseloroh.

“Ah, enggak juga. Ini hanya untuk hiburan saja. Yah, hitung-hitung untuk mengisi waktu luang diluar kegiatan dakwah,” jelas Ustadz Taufik ringan.

Ada satu jam lebih kami berbincang tentang apa saja sore itu. Tak lama kemudian, Jun, orang kepercayaan Ustadz Taufik datang tergopoh-gopoh ke hadapan kami. Ada kecemasan yang tergambar di wajahnya. Ia menyeka keringat di keningnya.

“Ada Apa, Jun?” tanya Ustadz Taufik heran.

“Pak Ustadz, ayamnya hilang satu,” kata Jun setengah ketakutan.

“Paling-paling kerjaan anak-anak kampung atas dapur,” ujar Ustadz Taufik spontan menuduh anak-anak ‘nakal’ kampung Atas, yang terkenal banyak anak yang suka mencuri.

Kamung atas dapur adalah sebutan terhadap sebuah kampung di Tanjung Enim yang zaman kolonial belanda, kampung itu menjadi dapur bagi orang-orang belanda. Hingga sekarang warga sekitar menyebut dengan kampung atas dapur.

“Tapi kalau kerjaan anak atas dapur, aku pasti tahu siapa pelakunnya,Pak” jelas Jun meyakinkan kalau dirinya sangat kenal dengan anak-anak atas dapur yang suka menjadi ‘pencuri’ kecil-kecilan karena butuh merokok.

“Lagi pula siapa yang berani mencuri ayam kamu Pak,” tambah Jun.

“Oi, Jun, kalau orang mencuri itu tidak pandang ayam siapa? Mau ayam ustadz atau ayam siapa, yang penting bisa dijual. Minggu kemarin saja, handphone Pak Camat saja disikat. Padahal dalam mobil, di halaman Masjid Jamik Bukit Asam,” ustadz Taufik mengungkap data kejahatan yang terjadi.

“Ah, sudahlah. Kalau barang sudah hilang mana mungkin akan balik lagi, Jun,” jawab Ustadz Taufik tanpa beban.

“Biasanya juga masuk sendiri. Jun inilah yang sehari-hari mengurusi ayam,” tambahnya Ustadz Taufik menjelaskan pada saya.

“Pak Ustadz, apa tidak perlu dibuktikan dulu. Jangan-jangan kita yang salah tuduh. Nanti timbul fitnah, lho,” saya mencoba mengendapkan emosi Jun dan Ustadz Taufik yang masih tertahan di dadanya masing-masing.

“Kejadian ini bukan kali ini saja. Tapi sudah sering. Beberapa kali juga mereka yang mencuri. Jadi tidak mungkin dari kampung lain. Apalagi hanya mengambil satu ekor ayam,” pendapat Ustadz Taufik belum juga berubah. Di benaknya kuat menduga kalau yang mengambil ayamnya adalah anak-anak jabalan di atas dapur.

Tanpa pamit, Jun beranjak dari duduk. Ia melangkah lebar. Ada getaran emosi dari hentakan kakinya.

“Oi, Jun mau kemana, kau?!” Ustadz Taufik mencoba mencegah Jun keluar.

Jun tak menggubris. Saya jadi tidak enak dengan situasi itu.

“Sekarang begini saja, Pak. Mumpung masih ada waktu, kita sama-sama cari ayam di kandang,” saya kembali mencairkan suasana.

Tak ada yang bergerak. Saya kemudian beranjak lebih dulu. Pak Ustadz, Jun, mengiring saja. Dari beberapa sudut kandang ayam kami acak-acak. Karena hari makin sore, ada beberapa sudut kandang yang tak terlihat akibat tertutup sinar lampu.

“Kamu tadi kasih makan ayam-ayam ini di luar kandang atau di dalam?!” tanya saya pada Jun, sembari mencari data dengan alur mundur.

“Ya di dalam, lah, Pak. Ayamnya kan masih kecil-kecil. Kalau di luar mereka kalah dengan ayam yang besar,” kata Jun.

Kurang lebih 10 menit kami mencari ayam Pak Ustadz yang hilang. Beberapa kotak kami lihat satu per satu. Saya, Jun dan Ustadz Taufik juga ikut menghitung jumlah ayam dalam setiap kotak. Saya kebetulan mendapati kotak yang kurang jumlahnya.

“Setiap kotak ada berapa ayam, Jun?”

“Sepuluh, Pak!”

Benar juga. Dalam kotak yang saya hitung hanya sembilan. Ada satu yang hilang.

Di dalam kandang itu, saya melihat sebuah baskom plastik bekas makanan ayam yang terbalik. Lubangnya telungkup ke bawah.

“Coba sekarang kalian lihat. Amati apa yang terjadi di dalam kandang itu,” saya mengajak Jun dan Ustadz Taufik, untuk menatap secara jelas terhadap gerakan aneh baskom plastic yang terus bergerak.

Tepat dugaan saya. Ayam kecil yang hilang itu terjebak dalam baskom bekas makanan. Karena beban ayam lebih berat dari bibir baskom, sementara makanan di dalam baskom sudah habis. Otomatis ketika ayam itu naik ke bibir baskom langsung terbalik. Celakannya ayam kecil tak bisa selamat dari gerakan baskom yang kemudian mengurungnya di bawah baskom.

Melihat kejadian sore itu, kami tersadar dari kealpaan yang tidak sengaja kami lakukan. Kami telah melakukan kesalahan, yaitu berburuk sangka terhadap anak-anak kampung atas dapur. “Pak, sepertinya Tuhan telah mengutus ayam ini pada kita, supaya kita tidak gampang berprasangka buruk,” kata Ustadz Taufik sambil tersenyum kecil. Semua tersenyum dalam kesadaran untuk tidak mudah berburuk sangka pada siapapun. Dan sore itu Tuhan pun tersenyum bersama kami.**

Tanjung Enim, 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s