Silaturahim (Aliran Sesat?)

agama-islam-ideologi-kontemporer-3-638

Oleh Imron Supriyadi

Munculnya Al-Qiyadah Islamiyah beberapa waktu lalu, sempat mengguncang kehidupan keber-agama-an di Indonesia. Islam yang kemudian merasa dirugikan dengan munculnya ’syahadat baru’, dengan segala daya upaya merangkul semua pihak untuk kemudian melakukan pelarangan terhadap aliran yang dipimpin Ahmad Mushodieq.

Dalam berbagai dialog, munculnya Al-Qiyadah Islamiyah sebagian diantara meraka ada yang mengecam secara keras. Tetapi di sisi lain, ada sebagian lagi yang melihat masalah ini dengan perspektif Hak Asasi Manusia (HAM). Bagi yang mengecam, secara otomatis melakukan upaya pelarangan penyebaran terhadap aliran ini. Namun bagi aktifis HAM, lebih kompromis, karena tinjauan mereka dalam konteks humanisme dan pluralisme.

Terlepas pro-kontra terhadap aliran ini, paling tidak aliran Al-Qiyadah Islamiyah yang kemudian dinyatakan sesat oleh kejaksaan Agung dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), menjadi fakta betapa manusia di muka bumi ini sangat ’awam’ menangkap bahasa Tuhan. Berdasar dari ke-awam-an mahluk inilah, kemudian hampir semua kita (terutama kalangan muslim), menangkap ’isyarat’ Tuhan ini dengan ’kacamata kuda’.

Akibatnya, penilaian yang muncul ke permukaan hanya terbatas antara salah-benar, halal-haram, atau syurga dan neraka, tanpa melihat setitik kebaikan yang ada di balik Al-Qiyadah Islamiyah. Pandangan ’kacamata kuda’ yang menjangkiti sebagian kaum muslim inilah, mengakibatkan cara pandang menjadi satu arah. Persis seperti pandangan kuda yang sudah dilengkapi dengan atribut, yang hanya bisa melihat satu arah ke depan, tanpa melihat ’kebaikan’ yang mungkin datang dari arah yang berbeda.

Karena sebagian umat muslim sudah terlanjur sering memakai ’kacamata kuda’ inilah, maka cara pandangnya tidak didasari oleh pemikiran memutar, untuk kemudian mengkaji ulang terhadap aliran Al-Qiyadah Islamiyah. Tidak mendebatkan kenapa dan bagaimana sampai Ahmad Mushodieq mendapat ’wangsit’ yang disebut perintah Tuhan. Melainkan hujatan, makian dan tindakan anarkis terhadap sebagian orang yang sudah ikut aliran ini.

Ketika sebuah realitas hanya dipahami dalam perspektif ’kacamata kuda’ sudah pasti tidak akan melihat sisi baik dari aliran ini, walau sebiji dzarroh (lebih kecil dari sebutir beras). Sama seperti anak kecil yang di depannya dibentangkan satu lembar kertas hitam, kemudian di tengahnya diberi titik putih seujung mata pena.

Karena jarak pandang yang jauh, maka anak kecil tadi tidak bisa melihat titik putih yang ada di tengah kertas. Yang mereka lihat hanya satu lembar kertas hitam, tanpa ada satu titik pun dipermukaannya. Inilah yang sebenarnya teah berdasa warsa menggejala di kalangan kaum muslim. Dari tingkat elit sampai di kalangan bawah. Yang terjadi kemudian adalah melihat pluralitas kebudayaan hanya dari pandangan satu arah, sehingga tidak memiliki literatur lain untuk melihat realitas dengan penilaian yang lebih komprehensif.

Bila kita sejenak kembali kepada peristiwa Fathu Makkah (Pembukaan Kota Mekah), jauh sebelum aliran Al-Qiyadah Islamiyah ini mencuat, Nabi Muhammad Saw suah dihadapkan dengan berbagai bentuk ’pengingkaran’ dari sebagian kaum muslimin ketika itu. Sebut saja Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzab, yang kemudian menciptakan hadist palsu. Belum lagi, setelah nabi kembali ke Makkah, Nabi Muhammad juga dihadapkan pada perbedaan-perbedaan ’aliran’ di kota Makkah. Sebagian masyarakat Makkah tetap memeluk agama mereka, dengan tetap menyembah berhala (Latta, Uzza dan Manata). Sementara sebagian  lagi juga muncul kaum musyrikin dan manafiqin, yang menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslim.

Tetapi kuatnya ruh kenabian dan kecerdasan Muhammad Saw, dalam menangkap bahasa Tuhan, sekembalinya kamum muslimin dari Madinah ke Makkah, Muhammad Saw, dan pasukannya yang berjumlah puluhan ribu tidak merta memerangi kafir Quraisy. Malah sebaliknya, dengan bijak, Muhammad Saw, kemudian menyatakan, bahwa kedatagannya ke Makkah dengan membawa kedamaian.

Saat itulah, betapa kita melihat konsep Lakum Diinukum Waliyadiin (bagimu agamamu, bagiku agamaku) sedemikian mengakar dalam jiwa Muhammad Saw, sehingga dengan kecerdasan batinnya, Nabi bergelar Al-Amin ini, secara bijak menghargai satu sama lain, tanpa harus salng ganggu. Dari peristiwa inilah, tergambar jelas bagaimana sikap Muhammad Saw, yang demikian arif dan bijak, ketika berhadapan dengan pluralitas keyakinan dan ideologi, tetap memegang ’semangat madani’; sebuah sikap yang tetap mengedepankan humanisme, pluralisme dan bukan anarkisme.

Pertanyaan yang kemdian muncul adalah, kenapa kita meng-agung-kan ’ajaran’ Muhammad Saw, tetapi disatu sisi justru mengingkarinya? Tentu, ini sebagai akibat ke-awam-an manusia yang kecerdasan mata batinnya jauh di banding dengan Muhammad Saw. Tetapi, awam dan tidak awam bukan karena sebagian kaum muslim ini berada jauh dari generasi Muhammad Saw. Tetapi karena eterbatasan cara pandang sebagian umat muslim inilah yang menimbulkan, ’bahasa langit’ tidak bisa ’membumi’.

Padahal secara sadar atau tidak, dengan mucnulnya Al-Qiyadah Islamiyah semua kita sedang ditolong. Kenapa? Minimal ini menjadi sebuah sentuhan yang kemudian membangkitkan ruh ilahiyah, berupa silaturahim nasional. Jauh sebelum Al-Qiyadah Islamiyah muncul, hampir tidak pernah para tokoh agama dan kejaksaan agung (ulama-umara) duduk satu meja membahas masalah ketuhanan, kecuali hanya acara kongkow-kongkow dalam acara kenegaraan.

Kedua lembaga ini hampir setiap waktu hanya berjalan sendiri-sendiri dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Tetapi ketika ’crew Ahmad Mushodieq’ muncul, semua kalangan, dari tingkat elit sampai ke pelosok desa berbincang soal agama. Ulama dan Umara bersilatrahim dan berbincang soal ketuhanan. Sebagian orang tua yang beragama Islam kemudian mengajari syahadat putra-putrinya. Sebagian lagi ada orang tua yang kemudian memindahkan anaknya ke pondok pesantren, ke Taman Pendidikan Al-Quran dan lain sebagainya.

Kesadaran kolektif dalam konteks teologi yang muncul secara spontan inilah, yang sebaiknya menjadi bahan pemikiran, untuk kemudian sebagian kita tidak mesti membahas tentang salah dan benar terhadap sebuah aliran yang dikemudian hari bisa saja muncul kembali. Sebab, munculnya ’aliran baru’ dalam konteks teologi ini, jika kita kembali kepada sejarah, bukan baru muncul belakangan ini. Jauh sebelum manusia lahir, Tuhan sudah menciptakan iblis. Bukan untuk membuat manusia bingung, melainkan untuk menaikkan posisi manusia ini menjadi lebih bernilai.

Sebelum aliran Al-Qiyadah mengemuka, sangat mungkin sebagian umat muslim tidak sama sekali berbincang tentang agama. Diantara sebagian kamum muslim, menjalankan agama, hanya karena keturunan tanpa mengkaji kebenaran friman-firman Tuhan. Posisi manusia hanya sebetas menjadi ’hamba’ yang nilainya tidak lebih tinggi dari manusia biasa. Tetapi dengan Tuhan menciptakan ’musuh’ atau lawan politik dalam konteks teologi, manusia dituntut untuk bertanding, guna ’menggoal’-kan satu point, demi sebuah janji Tuhan yang berupa ’sepatu emas’.

Al-Qiyadah adalah bahasa Tuhan untuk membangkitkan ’nasionalisme agama’, sehingga posisi ke-khalifah-an manusia di bumi ini akan lebih dinamis, lebih bernilai dimata Tuhan. Tuhan menggebark kedirian setiap kamum muslim, untuk menjadi warosyatul anbiya (pewaris para nabi), yang tepa menjaga ibadah ritual dan ibadah sosial.**

Tanjung Enim, 20 Nov 2007

 

Iklan

One thought on “Silaturahim (Aliran Sesat?)

  1. Ping-balik: Krisis Ideologi Perfilman Nasional | PROVOKATOR INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s