Teologi Perampokan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Dalam satu bulan ini (Agustus 2010) kita bukan hanya dihadapkan pada upaya menahan hawa nafsu dengan puasa ramadhan. Tetapi mengiringi bulan suci ini, kita juga sedang dihadapkan pada banyaknya kasus perampokan di sejumlah daerah. Televisi, radio, koran dan media online sedemikian gencar memberitakan berbagai kasus perampokan, baik dalam bentuk fisik non sistematis maupun perampokan sistematis dalam dimensi birokrasi dalam tatanan kenegaraan kita. Baik yang dilakukan dalam jajaran structural pemerintahan maupun di sejumlah perushaan lain yang tidak terdeteksi polisi.

Dengan ragam kasus itu, seusai shalat tarawih saya bersama sejumlah jamaah di Masjid Cahaya Iman Sekip Ujung Palembang sempat berbincang seadannya. Kesemuanya merasa prihatin dengan ragam kasus yang menimpa saudara-saudara kita di sejumlah daerah itu.
“Polisi memang harus lebih sigap lagi untuk menangkap pelakunya. Kalau tidak perampokan akan terus merajalela,” kata Syam salah satu jamaah masjid.

“Tapi bukan polisi saja yang harus siaga, Pak. Pengamanan kita, atau setiap lembaga juga harus dijaga ketat, supaya setiap kali ada perampokan bisa dilumpuhkan,” kata Dea, salah satu anak polisi yang baru pekan silam diangkat jadi pegawai negeri sipil.

“Kadang-kadang aku berpikir, kenapa Tuhan menimpakan banyak perampokan padahal bukan puasa kata nabi syetan-syetan dibelenggu. Kok masih juga ada perampokan?” Zuber seakan bertanya pada forum informal malam itu.

“Yang dibelenggu kan syetan dan iblis, Pak. Tetapi hawa nafsu manusia bukan wewenang Tuhan. Jadi dengan kasus itu Tuhan sedang mempertontonkan sejumlah bentuk watak manusia yang sebenarnya. Merekalah yang menjelma menjadi syetan karena tidak bisa menahan hawa nafsunya,’ jawab saya sekenanya.

“Tapi semua ini pasti ada hikmah dibalik itu, Pak. Dengan kasus ini polisi akan lebih siaga. Kemudian kita juga akan lebih waspada. Selain itu system pengamanan keliling di kampong kita bisa kita semarakkan lagi, sekaligus membangunkan orang yang mau sahur. Itu kan bisa bernilai pahala,” kata Sus menimpali.

“Ada lagi, Pak. Peristiwa itu bisa mendorong kita untuk lebih banyak melakukan infaq dan sodaqoh,” kata saya menyela.

“Apa hubungannya, perampokan dengan sedekah?” Dea penasaran. Yang lain hanya menatap saya menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut saya.

“Sejumlah kasus perampokan belakangan ini, menjadi bahasa Tuhan betapa solidaritas kita untuk saling berbagi itu sudah demikian sedikit, sehingga Tuhan harus mengutus perampok untuk memaksa sejumlah lembaga dan orang kaya untuk mengeluarkan uangnya, meskipun dengan mengutus pencuri dan perampok,” kata saya membuat sejumlah jamaah bengong. Mereka bermain dengan imajinasinya masing-masing. Mungkin masih bingung dengan argumentasi saya.

“Maksunya gimana? Aku belum nyambung?” Dea kian penasaran.

“Kalau kita mengingat kisah zaman nabi. Ada orang miskin yang kemudian menjadi kaya, tetapi setelah kaya dia lupa membayar zakat, apalagi bersedekah. Sampai pada zaman Khalifah sepeninggal nabi wafat, si kaya tadi harus dipaksa oleh panitia zakat untuk membayar dengan paksa. Nah ini kasusnya serupa, tapi tak sama, ruang dan waktu saja yang berbeda”

“Jadi sebenarnya Tuhan sedang memaksa sejumlah orang atau lembaga agar lebih banyak lagi mau berbagi keuntungan dengan cara bersedekah. Sekecil apapun, itu menjadi bagian penyelamatan harta kita dari kejahilan para perampok, pencuri dan sejenisnya. Kalau kita suatu ketika kehilangan hand phone, jangan buru-buru menyalahkan pencuri.

Seballiknya, kita kemudian yang harus evaluasi diri, sudah seberapa banykkah kita berbagi dengan bersedekah pada orang lain? Jangan-jangan, hak orang lain yang tertahan di tangan kita jumlahnya sudah seharga hand phone. Tetapi karena selama itu kita tidak mau berbagi, akhirnya Tuhan memaksa kita untuk mengeluarkan harta kita dengan cara kehilangan hand phone,” kata saya bergulir begitu saja tanpa melihat orang paham atau tidak.

“Kalau perampokan itu kan sampai ratusan juta? Jadi dosa siapa?” sela yang lain.

“Kalau tentang dosa siapa, itu bukan kewenangan saya. Tetapi semua yang terjadi belakangan ini, adalah bahasa simbol-simbol dari langit, untuk kemudian kita jadikan pelajaran, betapa nilai sedekah itu sangat berharag bagi keselamatan harta kita. Kalau tidak dibalas dengan harta, benda, mungkin akan kita sehat, rejeki lancer meski hanya ckup-cukup saja. Atau suasana keluarga harmonis dan lain sebagainya. Semua itu juga menjadi bagian akibat dari perilaku kita yang mau sering-sering berbagi dengan orang lain”

“Kalau nilainya sudah ratusan bahkan mliarn rupiah, menurut saya itu akumulasi dari sejumlah orang atau pengelola lembaga itu yang dalam kesehariannya juga tidak mau berbagi dan enggan bersedekah. Karena dengan banyak teguran kecil tidak juga tersinggung, akhirnya Tuhan mengurus para perampok untuk mengeluarkan harta perusahaan agar segera lenyap, karena selama ini hanya ditumpuk-tumpuk dan tidak sedikitpun berbagi dengan fakir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Karena terlalu lama menahan hak orang lain di perusahaan, uang perusahaan dipaksa untuk keluar melalui peristiwa perampokan”

“Kalau begitu banyak juga perusahaan lain yang wajib dirampok, supaya mereka mau bersedekah?” sergah yang lain kemudian ditimpali gelak tawa sejumlah jamaah.
“Kalau itu lain lagi ceritanya. Jangan kita kemudian merampok hanya karena ada sejumlah perusahaan yang tidak mau bersedekah. Semua itu sudah ada bagiannya masing-masing. Tuhan sudah menunjuk sejumlah orang untuk diutus menjadi perampok. Nanti di kali lain, ketika mereka kemudian tertangkap juga bagian proses penyadaran agar mereka cepat kembali ke jalan Tuhan. Jangan terus menerus merasa enak menjadi perampok”

“Supaya harta kita selamat dari sejumlah kehilangan, berilah sedikit sebab tidak memberi itu lebih sedikit nilainya,” kata saya mengutip kalimat Sayidina Ali Bin Thalib.

Baca Juga : Harian Kabar Sumatera Dirampok

Ramadhan di Sekip Ujung Palembang 
Agustus 2010 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s