Tragedi Zakat & Kebijakan Langit

Ilustrasi : Sejumah Jenazah korban dari Tragedi Zakat di Pasuruan (Foto : Google Image)

Ilustrasi : Sejumah Jenazah korban dari Tragedi Zakat di Pasuruan (Foto : Google Image)

Oleh Imron Supriyadi

Peristiwa pembagian zakat oleh keluarga Saikhon di Pasuruan Jawa Timur (2008) berakhir tragis. Banyak kalangan menyebut peristiwa ini sebagai ‘tragedi’ zakat. Sedikitnya 21 orang (semua wanita) meninggal dunia. Ini menjadi pengulangan ‘tragedi’ pada 2003 di Jakarta yang menelan korban 3 orang tewas, dan pada 2002 di Gresik menelan korban 1 orang tewas. Bukan tidak mungkin bila masalah ini terbiar begitu saja akan muncul kasus serupa di tahun-tahun berikutnya. Betapa tidak, belum genap satu pekan ‘tragedi’ zakat terjadi, di Probolinggo Jawa Tengah juga sudah kembali melakukan kegiatan serupa. Untung korban hanya pingsan akibat kelelahan.

Menyimak dari beberapa kasus ini, saya tidak tahu persis kenapa sebagian umat kita lebih senang menjadi sekelompok manusia yang suka mengulangi kesalahan, ketimbang belajar dari kesalahan untuk mencari kebenaran? Kalau sejak peristiwa Gresik (2002) dan Jakarta (2003) dijadikan pelajaran, maka tidak perlu ada peristiwa serupa yang menelan banyak korban. Tetapi kita sering aneh. Sudah jelas kumpulan ribuan manusia akan menimbulkan risiko nyawa manusia, tetapi tidak juga mencoba melakukan kordinasi dengan pihak berwenang. Mengutip Budayawan Emha Ainun Nadjib, kadang-kadang kita sudah benar tetapi belum baik. Dan di lain hari, kita kadang-kadang sudah baik tetapi belum benar.

Sepintas, kalimat Cak Nun-panggilan akrab suami Novia Kolopaking ini, seperti parodi dan lelucon dalam seni ludruk atau lenong. Tetapi secara kontekstual, ini sindiran Cak Nun yang mempunyai makna serius sekaligus kritik terhadap perilaku manusia, baik perilaku fisik maupun batin. Perilaku fisik contohnya tragedi zakat di Pasuruan. Perilaku batin, contohnya; seseorang yang sudah sedemikian rajin mengaji di dalam masjid, tetapi kemudian dalam hatinya terbersit akan lebih baik kalau membaca Al-Qurannya menggunakan pengeras suara supaya didengar oleh banyak orang.

Masalahnya kemudian bukan boleh dan tidaknya  menggunakan pengeras suara, tetapi ketika perbuatan yang bernilai ibadah kemudian berbalik hanya ingin mendapatkan pujian manusia, maka yang terjadi bukan prestasi ibadah secara vertikal, melainkan riya (pamer) atau ‘prestise’ ibadah horizontal. Mengukur pamer dan tidaknya seseorang itu memang tidak bisa dilihat secara dlohir.

Tetapi ilmu kejiwaan mengajari kita, kejiwaan seseorang akan terlihat dari gejala jiwa yang mucnul. Lihat saja pada seseorang yang rajin mengaji menggunakan pengeras suara. Suatu ketika mati lampu, atau pengeras suaranya rusak, yang bersangkutan masih rajin mengaji atau tidak?  Ini untuk membaca kejiwaan seseorang. Kalau yang bersangkutan tetap mengaji tanpa pengeras suara, berarti memiliki komitman rihani yang standar. Kalau tidak, berarti ukurannya pengeras suara. Besok kalau di alam akhirat bisa jadi membuka toko elektronik menjal pengeras suara.

Tragedi zakat menjadi bagian bukti dari kalimat Cak Nun. Program kepedulian terahadap fakir miskin itu sudah baik. Tetapi membiarkan mereka berdesakan hingga tersengal-sengal kehabisan napas itu yang belum benar. Atau sebaliknya, memberi uang dan sedikit bahan sembako kepada fakir miskin sudah benar dilakukan di Bulan Ramadhan, tetapi kepedulian ini kemudian belum baik karena dilakukan tidak dengan menejemen atau pengelolaan yang baik, sehingga jatuh korban yang tidak sedikit.

Terlepas lebih dan kurangnya, dari tragedi zakat di rumah keluarga Saikhon Pasuruan Jawa Timur ini dapat ditarik beberapa catatan kebaikan, sehingga dalam kasus ini kita tidak bisa melihat dari sudut searah. Karena ketika satu kasus hanya dilihat dari satu arah maka kesimpulan yang didapat adalah menyalahkan sepihak, dan yang lain merasa paling benar. Kalau kemudian masing-masing pihak merasa paling benar, bukankah sikap ingin paling benar hanya dimiliki iblis, syetan dan dajjal? Naudzubillah.

Ada lima hal yang bisa dipetik dari tragedi zakat di Pasuruan. Pertama; Manajemen Zakat.  Ini menjadi bagian penting dan kritik terhadap lembaga pengelola zakat. Artinya, dari peristiwa ini lembaga pengelola zakat harus kembali menyusun rencana strategis (renstra) tatakelola penyaluran dan pemberdayaan zakat, sehingga di masa mendatang para mustahik (penerima zakat) tidak perlu berjejal-jejal dalam antrean panjang yang melelahkan.

Kedua : Trust (kepercayaan). Dalam kasus ini, tidak bisa serta merta keluarga Saikhon disalahkan. Tetapi semua ini harus dikaji dari berbagai sisi, sehingga tidak ada ‘kesimpulan berat sebelah’ terhadap tragedi zakat. Yang perlu dikaji adalah mengapa keluarga Saikhon tidak menyerahkan zakatnya ke lembaga-lembaga pengelola zakat? Ada apa? Bukan hanya Saikhon, tetapi sebagian masyarakat Indonesia ternyata belum secara maksimal menjadikan lembaga pengelola zakat sebagai ruang beramal atau sebagai lembaga yang dipercaya dalam mengelola harta ummat.

Kalau melihat potensi, dalam setiap tahunnya di Indonesia diperkirakan akan terkumpul Rp. 700 triliun. Sementara yang terealisasi hanya Rp. 500 miliar? Mengapa ini terjadi? Kurangnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap lembaga pengelola zakat di negeri ini. Tetapi dilain pihak, minimnya pengetahuan sebagian masyarakat terhadap harta yang wajib dizakati. Ini juga menjadi tanggungjawab semua pihak, tentang bagaimana membangkitkan kepercayaan sekaligus meningkatkan pengetahuan dan penyadaran zakat kepada masyarakat.

Ketiga;Kepedulian. Dengan kasus ini, Tuhan sedang ingin mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Manusia menjadi mahluk sosial (zoon politicoon), merupakan fakta yang tak terbantahkan. Dengan peristiwa ini Tuhan juga sedang ‘memaksa’ Pemerintah Pasuruan agar mengeluarkan anggaran dana APBD untuk fakir miskin. Bukan karena Pemerintah Pasuruan selama ini tidak peduli, tetapi Tuhan memang sedang ingin mengajari para pengelola ‘Negara Pasuruan’ untuk menjadi pelayan rakyat, sehingga Pemerintah memang harus melayani mereka dengan mengobati dan memberi santunan kepada korban seperti yang diperintahkan pemerintah SBY.

Ini artinya, tragedi zakat di Pasuruan bisa menjadi teguran bagi semua pihak betapa sudah minimnya sikap kepedulian kita, sehingga untuk membangkitkan kepedulian ini saja, Tuhan harus ‘membuat tragedi’ zakat supaya manusia kembali kepada fitrah-nya; saling peduli. Peduli yang saya masksud bukan sekedar ikut prihatin, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana kita harus mewajibkan diri, untuk terus peduli dan berbagi antar sesama, agar di kemudian hari para tetangga kita tidak lagi menjadi ‘tangan dibawah’ yang berhimpit menunggu amplop dan sembako, tetapi menjadi sekelompok masyarakat “tangan diatas” yang selalu memberi dan menebar manfaat.

Keempat; Pemeliharaan. Peristiwa ini merupakan cara Tuhan untuk memelihara hamba-Nya, untuk segera ‘pulang’ bagi yang meninggal, atau harus ‘istirahat’ bagi korban yang terluka. Panggilan untuk ‘pulang’ bagi 21 orang yang meninggal merupakan kewajiban setiap mahluk hidup. Ini adalah strategi Tuhan memutus kesempatan berbuat keburukan bagi yang meninggal, atau satu cara Tuhan dalam ‘mengurangi’ dosa bagi 10 korban yang masih dalam perawatan. Sebab, sakitnya seseorang di dunia merupakan bagian cara Tuhan untuk mengurangi siksanya di akhirat.

Kasus ini juga sebagai wujud betapa Tuhan demikian sayang terhadap 21 orang,  sehingga untuk memelihara mereka Tuhan harus memanggil mereka. Tujuannya, Tuhan sedang meluruskan 21 orang itu agar mereka tidak berbelok ‘niat’ hanya lantaran mendapat uang Rp. 30 ribu. Sebab, tidak jarang diantara kita ada saja yang kemudian ‘menggeser tauhid’ dan menggantinya dengan simbol-simbol lain, apakah memper-Tuhan-kan uang, jabatan, kekayaan dan lain sebagainya.

Kelima; miniatur Indonesia. Indonesia menurut Cak Nun adalah penggalan sorga. Seolah sorga pernah pecah, dan pecahannya itu bernama Indonesia. Setiap jengkal tanah tidak ada yang tidak menghidupi manusia. Tongkat dan kayu saja bisa menjadi tanaman. Tetapi mengapa tragedi zakat Pasuruan masih terjadi?

Jawabnya, begitulah meniatur Indonesia. Kita menjadi ayam yang mati di lumbung. Mestinya mati karena tertimpa makanan, tetapi realitanya tertimpa orang cari makan, akibat berebut makanan karena kekurangan makanan. Padahal kita berada di bumi yang merupakan pecahan sorga. Tanah terbentang luas. Musim berganti secara taratur sesuai kebutuhan manusia. Tetapi mengapa sebagian kita masih tetap dalam keterpurukan?  Sepertinya, ‘kebijakan langit’ memang sedang ingin mengabarkan pada dunia, orang kaya di Indonesia itu memang masih senang dan minta didatangi fakir miskin, ketimbang mendatangi fakir miskin. Itulah (Bukan hiduplah) Indonesia Raya!**

Muara Enim, 17 September 2008 M

Tulisan yang sama bisa dibaca di : cerinaet.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s