Antasari dan Pemeliharaan Tuhan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

 Decak kagum dan tepuk riuh dari warga anti korupsi, seketika berubah menjadi heran, penasaran dan gundah, atau bahkan tidak percaya ketika Antasari Azhar, pentolan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu terseret dalam kasus dugaan pembunuhan Nasrudin, Direktur PT Rajawali Banjaran. Terlebih dugaan keterlibatan Antasari hanya dilatari oleh urusan celah sepele diantara dua paha—meminjam istilah Emha Ainun Nadjib.

Tetapi bagi para koruptor, tertangkapnya Antasari menjadi angin surga. Seolah mesin penggerak pemberantas korupsi itu sebentar lagi akan habis masa bhaktinya usai terkurung di terali besi, untuk kemudian para koruptor dapat melenggang kembali tanpa harus ketakutan terhadap sepak terjang Antasari di KPK.

Tetapi, apapun hasil akhir dari proses hukum dalam kasus ini, paling tidak beberapa petikan mutiara yang dapat menjadi bahan renungan. Bukan saja bagi keluarga Antasari, Nasrudin, tetapi juga bagi kita, sebagai anak bangsa yang sudah pasti menolak korupsi. Kali ini menimpa Antasari, boleh jadi, kasus serupa sangat mungkin akan menimpa keluarga kita, meski dalam bentuk, ruang dan waktu yang berbeda.

Pertama; Memuliakan nilai manusia. Ketika Tuhan menciptakan iblis dan syetan di muka bumi, bukan serta merta sebagai bentuk ketidakinginan Tuhan terhadap kebaikan sifat dan watak manusia di bumi. Justeru sebaliknya, penciptaan iblis dan syetan sebagai bentuk rahman dan rahim-Nya agar manusia kembali pada kemuliaan.

Analoginya, satu gol dalam pertandingan sepak bola akan dapat bernilai sepatu emas, bila tim sepak bola berhadapan dengan lawan. Apalah artinya sebelas gol, bila satu tim tidak dihadapkan dengan lawan main. Apalah artinya perjuangan Antasari memberantas korupsi bila tidak dihadapkan pada lawan-lawannya. Tinggal pilihan, siapa yang akan lebih kuat. Iblis dan syetan yang kemudian menjatuhkan manusia dalam kubangan dosa, atau sebaliknya manusia yang akan tetap mempertahankan dirinya sebagai penduduk sorga dalam kemuliaan?

Kasus yang menimpa Antasari, dapat menjadi bagian rahman dan rahimnya Tuhan, bila kasus ini kemudian dipahami dalam kacamata hakikat. Sehingga ada secercah keyakinan, bahwa saat ini Antasari tengah akan dimuliakan Tuhan, atau minimal sedang diajak berkomunikasi, sebagai proses penyadaran bahwa keberhasilan pemberantasan korupsi bukan lantaran keberanian KPK semata-mata, melainkan ada peran gaib sebesar 0,001 persen dari langit, yang mungkin selama ini terabaikan.

Kedua; Mudharat dan Manfaat. Ketika Nabi Khidir membunuh anak kecil di sebuah kebun, banyak warga yang menghujat, termasuk Musa. Ini terjadi karena sebagian dari mereka tidak memiliki data gaib secara hakikat. Tetapi ketika kemudian Tuhan berjanji akan mengganti anak yang dibunuh dengan generasi shaleh yang memelihara keluarga di kemudian hari, sebagian orang baru menyadari bahwa terbunuhnya anak kecil di tangan Khidir, menebar manfaat. Sebab bila dibiarkan hidup, kelak anak kecil itu akan banyak membawa banyak mudharat bagi umat manusia.

Tanpa bermaksud menyamakan anak kecil dengan Nasrudin, tetapi kematian tetap saja kematian. Tanpa adanya dugaan keterlibatan Antasari sekalipun, kematian Nasrudin memang harus jatuh pada taqdir. Kontrak hidup Nasrudin sudah jatuh tempo. Jadi bukan lantaran dugaan cinta segitiga Rani, Nasrudin dan Antasari, yang kemudian membuahkan kamatian.

Tetapi didalam kematian setiap mahluk menyimpan banyak manfaat dan mudharat. Oleh sebab itu, yang seharusnya dikaji bukan kematian itu sendiri, melainkan penyebab kematian itu yang harus diteliti, sehingga secara hakikat setiap kita akan mendapat petikan mutiara yang kelak dapat memberi pencerahan rohani, bukan berbalik membangkitkan keangkuhan, kebencian dan dendam berkepanjangan.

Dengan kesadaran ini, minimal dapat membangkitkan ketenangan batin, bahwa dikemudian hari Nasrudin akan diganti generasi baru yang di masa mendatang dapat mendatangkan manfaat lebih banyak bagi keluarga yang ditinggal, sebagaimana peristiwa Khidir.

Ketiga ; Kesadaran Spiritual. Acapkali, peristiwa bumi selalu dianggap lepas dari ketentuan langit. Kemudian dari kebanyakan manusia melihat setiap kejadian dalam perspektif sebab dan akibat (kausalitas). Kemiskinan data gaib yang kita miliki inilah yang menciptakan cara pandang kita menjadi sangat materialis, sehingga semua peristiwa bumi hanya dipandang dalam sudut syariat (hukum dunia).

Saya ingin mengatakan, tanpa duduk di KPK sekalipun, atau tanpa keterlibatan Antasari dalam konteks cinta segitiga, peristiwa ini sudah menjadi skenario besar dari langit. Masalahnya kemudian adalah, bagaimana setiap peristiwa di bumi Tuhan dapat menjadi pijakan pikiran dan batin kita, untuk kemudian membangkitkan kesadaran spiritualitas, lalu meyakinkan kembali terhadap nilai-nilai syahadat yang selama ini lebih banyak dikungkung pandangan duniawi, yang cenderung melihat segala persoalan dunia dalam perspektif materialis. Ketiadaan kesadaran batin kita (hakikat), acapkali membuat kita tidak menerima kekalahan dan kematian sekalipun.

Keempat, Pemeliharaan dan Penyelamatan. Ketika Antasari digiring ke terali, muncul kebencian, dendam dari keluarga Nasrudin. Atau ada tepuk riuh dari para koruptor karena monster anti korupsi itu sudah tertangkap. Ada pula kegundahan pada diri Rani dan Sigit, sebagai sosok yang diduga mendanai pembunuhan. Apapun kasus dan skenario di balik ini,  sekali lagi saya katakan, pasti ada pesan ghaib yang manusia tidak banyak mengetahuinya.

Melihat ini semua tentu tidak harus dalam kacamata dlohiriyah tetapi batiniyah. Bukan dengan pandangan materi dunia tetapi dengan keyakinan dan kepercayaan (keimanan). Sebab hanya dengan pandangan keyakinan (tauhid) inilah, semua peristiswa dunia menjadi buah rahmat Tuhan, bukan malah dipandang laknat dan kemurkaan.

Bagi Antasari, Nasrudin dan Rani, bila dugaan adanya cinta segitiga memang benar adanya, justeru dengan peristiwa ini Tuhan tengah memelihara ketiganya untuk tidak terlarut dalam persengketaan asmara yang kian memanjang. Bagaimana tidak? Kalau kemudian kasus ini tidak mencuat ke permukaan, maka konflik cinta segitiga ini akan terus berlanjut.

Orang pertama yang akan tersakiti adalah isteri Antasari. Sementara isteri Antasari adalah mahluk ciptaan yang tidak layak disakiti. Menyakiti mahluk ciptaan sama halnya menyakiti yang menciptakan mahluk. Tuhan secara langsung atau tidak tengah menyayangi ketiganya, sehingga Tuhan katakan : cukup sampai disini!.

Bagi penyandang dana, otomatis menjadi kebijakan Tuhan yang sedang melakukan pencabutan SK kepanitiaan Sigit sebagai donatur tetap di bumi. Kalau memang dana itu diperuntukkan pendanaan pembunuhan Nasrudin, berarti Sigit tengah memanfaatkan amanat tidak sesuai SK dari langit.

Uang yang seharusnya dapat menebar manfaat, tetapi kemudian digunakan untuk mendanai (kalau ini benar) proses eksekusi mati Nasrudin, sama halnya menyakiti mahluk ciptaan. Bukankah Sigit juga sedang menyakiti Sang Pencipta mahluk? Dengan terbongkarnya kasus ini, Sigit sedang dipertemukan kembali keharibaan Tuhan, pun demikian halnya Nasrudin, Rani  dan pelaku eksekutor.

Ini semua bukan kemurkaan dan laknat, tetapi justeru menjadi pemeliharaan bagi semua yang mungkin terlibat dalam kasus ini, sehingga melalui peristiwa ini dapat menjadi proses pengembalian mahluk untuk mendatangi dan menyebut lagi asma-asma Tuhan yang selama ini mungkin terselip diantara lipatan syahwat dunia. Ini adalah kebijakan langit, untuk kemudian tinggal semua yang tengah diduga terlibat untuk kemudian menunggu kebijakan baru. Apapun kebijakan itu, baik atau buruk di mata mahluk, pasti yang terbaik di mata Tuhan.**

BTN Karang Asam, Tanjung Enim, 8 Mei 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s