Prof.Dr.Ir.Edizal AE,MS

(Rektor Universitas Tridinati Palembang)

Indonesia Bisa Menjadi Middle Power Dunia

Kompetisi dunia pendidikan kini kian ketat. Selain dihadapkan persaingan pemenuhan fasilitas, sarana dan prasarana, dunia pendidikan juga diring dengan tuntutan modernitas dan kompetisi dunia kerja yang kian sempit. Masalahnya kemudian, sebenarnya tantangan apa saja yang kini tengah dihadapi dunia pendidikan kita, ditengan persaingan global? Tentang hal itu, berikut penuturan Prof.Dr.Edizal AE,MS, Rektor Universitas Tridinati Palembang, kepada Imron Supriyadi dan M Abriza Hartawan dari Koran Metropolis, usai Wisuda Program Diploma III, Strata I, Strata-2 Magister Management Universitas Tridinanti Palembang (UTP), pekan silam. Petikannya;

Prof.Dr.Ir.Edizal AE,MS (Rektor Universitas Tridinati Palembang) - FOTO : Koran Metropolis/Imron
Prof.Dr.Ir.Edizal AE,MS (Rektor Universitas Tridinati Palembang) – FOTO : Koran Metropolis/Imron

 

Saat ini banyak pihak menyebut, kita sedang pada era kompetisi global, yang didalamnya ada perubahan mendasar, terkait dengan sejumlah tantangan ke depan. Komentar Anda?

Hal itu memang tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini kita sedang masuk dalam dunia global. Dalam menghadapi era yang demikian, kita sekarang tengah menghadapi suatu perubahan besar yang sangat fundamental. Perubahan itu bukan sekadar peningkataan dan penurunan pengaruh suatu negara, baik dalam konteks militer, ekonomi maupun sosial, tetapi  perubahan fundamental itu telah menciptakan persaingan, bahkan ketegangan baru terutama antara negara-negara yang “sudah maju” (developed) dan “baru mulai maju” (developing). Kondisi itu bisa dilihat  yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.  Dalam keadaan seperti itu, Indonesia dengan posisinya sebagai negara sangat berpengaruh di Asia Tenggara diyakini bisa  memosisikan diri menjadi salah satu kekuatan tengah (middle power) dunia.

Menurut Anda apakah mungkin dengan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia seperti sekarang?

Kepana tidak mungkin? Semua bisa saja dilakukan oleh Indonesia. Kita harus bangga, sebenarnya Indonesia memiliki potensi SDM  berkualitas, yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini yang patut kita banggakan. Dengan jumlah penduduk 242 juta jiwa tahun ini, potensi SDM Indnesia sangat luar biasa, tertama jika dikelola dengan baik.

Apakah SDM kita tidak dikelola dengan baik?

Nah, ini satu hal lagi yang penting, menjadi catatan bagi bangsa ini. Ironisnya, justeru hari ini peringkat kualitas pembangunan manusia Indonesia, dalam hal ini peningkatan kualitas SDM kita, masih rendah dibandingkan degan banyak negara lain. Kalau kita lihat dari data yang berdasarkan laporan pembangunan manusia 2011, dari program PBB (UNDP), indeks pembangunan manusia Indoneia adalah 0,617. Indonesia berada pada peringkat 124 dari 187 negara. Peringkat ini turun dibadingkan dengan tahun sebelumnya. Di tahun 2004, peringkat Indonesia berada pada posisi ke 111 dari 172 negara.

Dengan realitas seperti itu, menurut Anda bagaimana peran dunia pendidikan sendiri?

Di era globalisasi seperti sekarang, dunia pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam rangka menyiapkan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai kompetensi. Kenapa ini menjadi penting, karena di dunia pendidikan inilah, akan melahirkan SDM berkualitas yang nantinya akan mampu bersaing dalam menjawab tantangan global itu.

Pendidikan yang bagaimana yang lebih relevan dan mendesak untuk dilakukan, sebagai bentuk upaya dalam mewujudkan itu?

Pendidikan layak, menjadi skala prioritas pembangunan di Indonesia. Saat ini dari sisi anggaran saja, di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dapat dilihat, kalau pemerintah sampai saat ini masih belum megutamakan anggaran pendidikan secara maksimal. Anggaran pendidikan dalam Undang-Undang yang menyebut 20 persen, itu masih dibagi untuk gaji guru, dosen dan 18 kementerian atau lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan. Kalau ini dibandingkan dengan negara lain, sangat berbeda. Alokasi anggaran pendidikan di negara lain, seperti Amerika Serikat, mengalokasikan dana pendidikan sebesar 68 persen, Israel 37 persen, Belanda 30 persen, Thailand 36 persen dan di negara tetangga kita Malaysia, sebesar 26 persen. Kalau melihat itu, tidaklah mengherankan kalau disana, di negara-negara lain, kemajuan dunia pendidikan menyumbang pengetahuan dan teknologi yang sangat berarti dalam pembangunan bangsa. Sebab alokasi dana pendidikan mereka memang sangat besar, tidak dibagi-bagi seperti di negara kita.

Biodata Narasumber

 Tetapi bukankah Pemerintah Indonesia sudah menyiapkan sebuah rencana stretegis dalam merancang pendidikan kedepan?

Benar. Memang pemerintah telah menetapkan Grand Desain dan Road Map (peta jalan) pembangunan  pendidikan nasional selama kurun waktu 2005-2025 dan telah menetapkan visi yaitu : terwujudnya insan cerdas dan kompetitif. Untuk mewujudkan visi tersebut pembangunan pendidikan nasional dibagi menjadi empat tahapan; yaitu pertama; 2005-2009, bertema ; peningkatan kapasitas dan modernisasi, tahap kedua; 2010-2014 bertema : penguatan pelayanan, tahap ketiga; 2015-2019 bertema ; daya saing internasional.

 Komentar Anda terhadap tahapan itu?

Jika kita meihat tahapan tersebut tercermin, bahwa dua pertama pembagunan pendidikan nasional berfokus internal. Dan dua tahap berikutnya berfokus pada eksternal. Berdasarkan pada tahapan pembangunan tersebut, selama dalam kurun waktu 2012-2014 (tahapan kedua), visi Kementerian Nasional adalah terselenggaranya layanan pendidikan nasional untuk membentuk insan indonesia cerdas kompetitif. Untuk mewujudkannya, ditetapkan misi yang dikenal dengan istilah misi 5K, yaitu pertama;  meningkatkan ketersediaan pendidikan, kedua; meningkatkan keterjangkuan layanan pendidikan, ketiga; meningkatkan kualitas (mutu) dan relevansi layanan pendidikan, keempat; meningkatkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan dan, kelima; meningkatkan  kepastian  atau keterjaminan memperoleh layanan pendidikan. Berkaitan dengan misi yang ketiga, meningkatkan kualitas (mutu) dan relevansi pendidikan, telah ditempuh berbagai upaya seperti pengembangan standar nasional pendidikan sesuai perkembangan IPTEK serta relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

 Apakah upaya yang telah dilakukan itu menurut Anda sudah tercapai?

Memang harus diakui, berbagai upaya tersebut masih belum mencapai hasil yang optimal. Sebab data yang ada menunjukkan, sampai saat ini masih banyak lulusan dari berbagai jenjang dan jalur pendidikan belum terserap dunia kerja atau mampu berwirausaha.  Hal ini merupakan salah satu perhatian utama pemerintah saat ini dengan menyusun program penguatan relevansi antara pendidikan dengan kebutuhhan dunia kerja. Ini dilakukan untuk mendukung pembangnan ekonomi, baik dilihat dari sisi pasokan (supply side) maupun dari sisi permintaan (deman side). Program ini selanjutnya, akan diimplementasikan melalui program penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja, yang menitikberatkan pada pembekalan lulusan yang berjiwa wisarusaha dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Anda, pihak mana saja yang harus terlibat untuk mendorong terwujudnya visi dan misi yang Anda sebut tadi?

Tentu, untuk mewujudkan visi dan misi pendidikan ini butuh kerjasama semua komponen bangsa Indonesia, baik untuk mengawasi maupun mendorong upaya memprioritaskan pendidikan sebagai investasi negara yang lebih langgeng. Tentu bukan tanpa maksud dan tujuan, apabila pendiri negara menghendaki bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. Sebab menurut saya, dengan kecerdasan inilah yang nantinya akan menjadi bekal bangsa Indonesia untuk membangun bangsa ini yang lebih baik.

 Dalam konteks perguruan tinggi, menurut Anda apa yang harus dilakukan agar ikut membantu proses akselerasi (percepatan) dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan pendidikan?

Terkhusus di perguruan tinggi, memang dituntut untuk kerja keras dan komitmen yang tinggi secara berkesinambungan. Caranya dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dan terus meningkatkan keunggulan yang dimiliki di sebuah lembaga pendidikan. Hal yang perlu diprioritaskan adalah, saat ini perlu adanya peningkatan kualiats dan kompetensi para dosen, sekaligus jangan melupakan proses kaderisasi dosen. Selain itu, optimalisasi dan peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana juga menjadi hal penting. Juga menjalankan kurikulum berbasis kompetensi, dengan memberi muatan kewirausahaan dan terus melakukan peningkatan pelayanan dengan prinsip the righ man in the rigt place. Dan ini semua sedang dan akan terus dilakukan di lembaga kita sekarang**

Sumber : Koran Metropolis Mei 2012

TEKS : IMRON SUPRIYADI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s