Matematika Suap PNS

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Malam, Senin 23 Agustus 2015 sekitar pukul 23.03 WIB, saya dan isteri baru selesai menyaksikan film Shehrazat yang dibintangi Halit Ergenc dan Berguzar Corel.  Biasanya isteri saya langsung tidur, tapi tidak malam itu. Sementara saya dalam dua jam, waktu saya tersitar oleh dua film itu. Biasanya setelah isteri saya tidur tradisi saya akan kembali berkutat dengan laptop hingga usai shubuh. Baru kemudian saya tidur dua atau 3 jam. Saya akan bangun saat menjalankan tugas rutin mengantar anak-anak sekolah sekitar pukul 06.30 WIB.

Tapi malam itu saya tidak bisa memaksa isteri saya tidur, karena tanpa  agenda yang jelas tiba-tiba isteri saya cerita soal suap bagi sejumlah orang yang akan masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat saya kemudian menulis kisah ini, beberapa saat saya harus mengembalikan memori saya, gerangan apa yang mendorong isteri saya malam itu secara tiba-tiba berbincang tentang suap PNS. O, saya ingat. Iya. Ada celoteh dari ibu saya tentang PNS malam itu.

Di tengah keheningan sejenak, tiba-tiba ibu saya bertanya soal adik isteri saya yang kebetulan menjadi salah satu honorer di Kabupaten OKU Selatan. Saya juga tidak tahu apa latar belakang ibu saya bertanya soal itu pada isteri saya.

“Adikmu itu apa sudah diangkat PNS?” tanya ibu saya pada isteri saya malam itu. Saya hanya mendengar sembari mengunyah makanan kecil untuk pengganjal perut. Saya asyik menonton televisi di samping isteri saya.

“Aahhh, Bu. Kalau kami tidak terlalu berharap. Apalagi bapakku tidak punya duit untuk menyuap. Sekarang ini kalau tidak ada uang 150 juta, mana bisa jadi PNS, Bu,” jawab isteriku yang kemudian membuat ibu saya diam. Nada suara isteri saya terkesan pasrah dengan kondisi keluarganya yang memang tidak mungkin memaksa diri untuk memebayar 150 juta untuk membuka pintu PNS.

Malam itu saya tidak bisa melihat ekspresi wajah ibu saya yang juga pensiunan PNS. Sebab posisinya ibu saya berada di balik dinding kamarnya. Dia juga masih asyik nonton televisi.

“Memang harus begitu, to?” saya memancing isteri saya.

“Alaaah, kura-kura dalam perahu. Sebenarnya wartawan harus ikut membongkar lingkaran syetan itu,” saya kena serang malam itu. Saya terdiam. “Kok jadi saya yang kena sasaran?”

“Tapi masih ada lho teman ayah yang lulus PNS tanpa uang?” sergah saya mengembalikan tema pembicaraan malam itu.

“Itu takdir. Atau bisa juga nasib. Selebihnya pakai duit, Yah!” tegas isteri saya.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Berkisah tentang suap menyuap di dunia PNS, malam itu isteri saya kemudian ingat dengan cerita Pak Marbun, salah satu wali murid di sekolah tempat anak saya juga bersekeolah. Ia kemudian kisahkan perbincangan itu.

“Ado kawan Bunda salahs au wali murid di sekolah ngomong : kalau ada seorang anak yang jadi PNS dengan menyuap 150 juta, anak itu bukan makan gaji dari pemerintah, tapi dari bapaknya sendiri,” kisah isteri saya menirukan wai murid itu.

“Kok begitu, Pak?”  tanya isteri saya. Wali murid lain ikut nimbrung telinga. Sebagian lagi cuma manggut-manggut mendengar obrolan isteri saya di sebuah kantin sekolah di kawasan Bukit Lama Palembang. Persisnya di Jalan Seruni MUSI II Palembang.

“Ya, coba ibu hitung. Masuk PNS 150 juta. Sementara gaji PNS sekarang berapa? Katakanlah tiga juta, mislanya. Itu pun kalau? Anggap saja iya tiga juta. Terus berapa tahun si anak tadi bisa mengembalikan uang 150 juta? Paling tidak 4 tahun baru terkumpul 144 juta. Berarti lima tahun, agak lebih sedikit. Itu duit 150 juta kan berasal dari bapaknya si anak tadi, bukan dari pemerintah!” ujar wai murid itu mengalkulasikan suap bagi PNS.

“Jadi maksud bapak, si anak tadi bekerja pada bapaknya, dong?” ujar isteri saya menimpali.

“Ya seharusnya begitu. Tapi bapak dari si anak itu sebenarnya hanya titip duit untuk anaknya. Si bapak tidak mungkin akan memberikan semuanya kepada anaknya, karena takut uang sebanyak itu akan habis atau ludes untuk foya-foya oleh anaknya. Karena takut, akhirnya oleh bapaknya 150 juta itu diserahkan ke panitia penerimaan CPNS. Jadi sebenarnya, itu duit dari bapak si anak tadi, tapi diberikan sedikit-sedikit kepada an anaknya setiap bulannya dikasihkan 3 juta sampai lima tahun,” ujar wali murid itu detil.

“Ah, bapak ini ada-ada saja!” ujar isteri saya. Wali Murid yang lain hanya memilih diam.

“Lho, ini bener, Bu! Jadi nanti setelah lima tahun, duit 150 juta kan sudah lunas. Nah, setelah itu si anak baru mulai dapat gaji dari pemerintah. Kalau selama lima tahun sebelumnya, itu gaji dari bapaknya sendiri, bukan dari pemerintah,” tegas Pak Marbun.

“Jadi ruginya di bapak si anak tadi, Pak?” sergah isteri saya lagi.

“Ya, itu urusan masing-masinglah,” ujarnya pendek. “Tapi ada juga untungnya,” sambungnya. Sepertinya masih ada argumentasi yang mengganjal di otaknya.

“Apa, Pak untungnya?” isteri saya menggali penjelasan.

“Si bapak tadi sudah ikut mendukung program pemerintah yaitu megurangi jumhal pengangguran. Sebab dengan begitu, anaknya si bapak tadi tidak akan lagi lontang-lantung tanpa kerja, atau nglamar sana dan nglamar sini, dari pintu ke pintu. Kalau itu terjadi, siapa yang pusing? Kan orang tua juga! Bener, nggak:” katanya seolah butuh pembelaan.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

“Ada yang lain?” isteri saya masih penasaran.

“Kedua, kalau si anak tadi sudah menikah, itu jelas soal dapur bisa kita anggap selesai. Maksud saya cukuplah untuk sekadar memenuhi keluarga standar PNS. Tapi jangan bermimpi mau hidup mewah sebab gajinya cuma tiga juta,” ujarnya.

“Kalau mau hidup mewah korupsi aja, Pak, ya!” kata isteri saya semaunya.

“Wah, kalau itu saya nggak ikut-ikutan, Bu. Soal korupsi nggak usah dibahaslah,” wali murid itu terkesan menghindar. Sepertinya  dia salah satu PNS di instansi di Palembang. Dia mungkin takut kalau berbincang tentang korupsi lebih dalam. Sebab sangat mungkin ini akan menyangkut atasannya yang juga diduga korup dalam Pemilihan kepala daerah.**

Bukit Lama – Palembang, 23 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s