Adu Cerdas Sopir vs Isteri Jaksa

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Suatu kali, di Bulan Mei 2015 sekitar pukul 12.15 WIB. Saya lupa hari dan tanggalnya. Isteri saya baru saja pulang menjemput anak kami dari sekolah. Isteri saya berdiri di belakang saya, yang kali itu saya sedang di balik meja komputer. Tampaknya cuaca panas, sehingga isteri saya buru-buru membuka jilbabnya.

“Siang ini Bunda ada cerita lucu, Yah?” ujarnya tanpa ada beban kalau ujaran itu kemudian memecah konsentrasi saya yang sedang menulis. Tapi kali itu saya harus membunuh ego saya dan mendengarkan kisah isteri saya.

“Emang kenapa? Ada ayam berani sama macan? kok lucu,” tanya saya mengajak kelakar sekenanya.

“Agak mirip. Tapi dalam bentuk yang berbeda,” ujar isteri saya membuat saya penasaran.

“Lho, jadi benar kata ayah tadi?” saya ingin meyakinkan.

“Ini bukan macan dan ayam, tapi jenjang kelasnya agak begitulah,” isteri saya masih membuat saya penasaran.

“Memangnya cerita  apa, kok serius banget?” saya memutar kursi menghadap ke isteri saya.

“Saat Bunda sedang nunggu anak-anak, ada sopir debat kusir dengan seorang ibu,” isteri saya mulai berkisah.

“Dimana kejadiannya?” tanya saya untuk membayangkan lokasi peristiwa.

“Di dekat sini, di Jalan Seruni MUSI Dua!” tegas isteri saya.

“Lalu?” saya ingin dengar lebih lanjut.

“Bunda kira apa? Ternyata sopir itu sedang marah pada ibu-ibu yang parkir sembarangan,” lanjut isteri saya.

“Ibu-Ibu, berarti banyak, lebh dari satu?” tanya saya.

“Bukan gitu, tapi perempuan umurnya sebaya dengan ibu-ibu,” jelas isteri saya.

“Memang ibu itu parkir dimana?” tanya saya lagi

“Parkirnya memang salah, Yah. Mobil ibu itu diparkir di depan Sekolah TK Shofiyah. Persis di depan pagar. Parkir mobilnya di sebelah kanan. Sementara di depan mobil yang terparkir kan ada belokkan masuk kanan. Jadi setiap ada mobil yang akan masuk ke kanan, terhalang oleh posisi mobil si ibu itu,” isteri saya menjelaskan detil supaya saya nyambuung dengan kisahnya.

“Terus mereka ribut?!”

“Ribut nian tu tidak, tapi ya sempat tegang juga. Kata sopir : Bu, lain waktu kalau parkir mobil jangan di sebelah kanan gini! Saya jadi repot mau belok kanan. Posisi mobil ibu itu menghalangi kendaraan yang akan masuk ke kanan, sebab ibu parkirnya di ujung tikungan. Coba parkirnya agak jauh, mundur lagi atau maju lagi, supaya saya tidak kikuk untuk masuk ke kanan. Kalau gini kan mobil saya jadi kesulitan masuk! Kalau bukan tikungan sih nggak apa-apa, Bu!” suara isteri saya agak meninggi menirukan suara sopir yang marah pada si ibu.

“Lalu apa jawab ibu itu?” tanya saya.

“Eh, ini komplek kami! Jadi urusan kami mau parkir dimana saja,” ibu itu kian meninggi, kata isteri saya menirukan lagi.

“Ya, tidak bisa begitu, Bu. Jangan mentang-mentang ibu tinggal di komplek ini, kemudian Ibu semaunya parkir mobil. Jalan ini kan fasilitas umum! Kecuali kalau di halaman rumah ibu, mobilnya mau jungkir balikkan itu silakan saja, Bu. Ini milik umum! Jadi harus ikut aturan umum,” sopir itu setengah menceramahi ibu itu.

Mendengar ujaran sopir, ibu yang dandan perlente dan rapi ini kian marah.

“Ibu tadi tambah berang. Uuuuh tambah marah ibu itu. Katanya; Eh, kamu itu hanya sopir! Dengar ya! Aku ini isteri jaksa!. Kamu jangan main-main dengan aku!” ibu itu setengah mengancam pada sopir. Sopir, isteri saya dan beberapa wali murid yang ikut menyaksikan kejadian itu baru tahu kalau ternyata ibu itu adalah isteri seorang jaksa di Palembang.

“Oooooo, jadi ibu ini isteri Pak Jaksa? Pantes!” celetuk ibu-ibu lainnya. Tak jelas nadanya menyanjung atau mengejek. Melihat dari kerling matanya, agak tipis membedakan antara keduanya.

Kata isteri saya, yang pasti setelah mendengar jawaban itu, sejumlah ibu-ibu kemudian saling lirik dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan maknanya.

“Siapa nama suaminya yang jaksa itu?” tanya saya menggali data.

“Yo, ndak sempat tanya lah. Bunda tidak sejauh itu, Yah!” kata isteri saya mengelak.

“Oke, terus gimana ceritanya, Bun?” saya penasaran.

“Ternyata sopir tadi tidak merasa takut meski diancam. Kata sopir itu : Nah, kalau ibu isteri jaksa seharusnya lebih tahu dari pada saya, Bu. Jaksa kan penegak hukum. Seharusnya ibu juga taat hukum, jangan malah melanggar hukum, Bu!” sopir itu ternyata malah kian melawan setelah mengetahui kalau lawan bicaranya isteri seorang jaksa.

“Naaaah, kau ini! Kulaporkan kau dengan suamiku!” isteri jaksa ini tak mau kalah.

“Yo, silakan ibu laporkan! Saya nggak takut. Ibu yang salah, bukan saya!” ujar sopir itu tanpa menyimpan rasa takut.

“Terus suaminya benar-benar datang?” tanya saya pada isteri.

“Setelah itu suaminya datang. Sang sopir kemudian menjelaskan pada Pak Jaksa. Untungnya Pak Jaksa itu datang dengan wajah tenang. Sepertinya jaksa itu paham dengan karakter isterinya, sehingga tidak menaiiakn suasana siang itu,” kata isteri saya.

“Lalu?” saya ingin cerita cepat selesai. Sebab masih banyak kerjaan. Apalagi saya belum shalat dluhur.

“Alhamdulillah, Pak Jaksa itu malah minta maaf pada sopir itu. Katanya : Pak Sopir, maafkan isteri saya. Isteri saya yang salah, bukan Pak Sopir,” kata Pak Jaksa, yang kemudian membuat malu isteri Pak Jaksa. Mendengar ucapan suaminya, isteri Pak jaksa ini melangkah lebar masuk mobil. Wajahnya bersungut-sungut. Sudah pasti dia akan memarahi suaminya karena dia memilih memenangkan sopir itu dari pada dirinya.

“Sama-sama Pak, saya juga minta maaf karena terbawa emosi,” ujar sopir itu mengulurkan tangannya pada Pak Jaksa. Mereka tampak damai.

Kalau Pak Jaksa memilih mengakui kesalahan isterinya, bukan berarti Pak Jaksa sedang dikalahkan oleh sopir. Tapi sebaliknya, disitulah kearifan sosok seorang jaksa yang memahami duduk masalah hukum. Mengendalikan emosi demi teciptanya kedamaian adalah bagian dari kecerdasan sosial seorang jaksa. Semoga kesadaran Pak Jaksa ini akan juga dimiliki oleh pejabat dan aparat hukum lain di negeri ini.**

Jalan Seruni Musi II – Palembang, Mei 2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s