Batu Gludug

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Riuh redamnya dukun cilik Ponari di Jombang Jawa Timur sampai juga di kampung saya, Tanjung Enim Sumatra Selatan. Sebuah kawasan Tambang Batubara Bukit Asam yang hingga kini masih tampak ada kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Bagi sebagian orang kaya, fenomena Ponari hanya dianggap sesuatu yang tidak menarik. Sebab jauh sebelum Ponari lahir sebagai ‘manusia pilihan Tuhan’ mereka sudah bergelimang harta dan fasilitas perusahaan.

Tetapi bagi sebagian warga miskin yang terhimpit secara ekonomi, telah menimbulkan banyak penafsiran. Bahkan diantara mereka ada yang bermimpi kalau suatu ketika salah satu anaknya seumur Ponari akan mendapat ‘mukjizat’ yang sama. Dengan harapan, bisa mengentaskan kemiskinannya yang mereka sendiri belum mengetahui kapan keterhimpitan itu akan usai.

Buy, salah satu orang tua di Tanjung Enim yang ikut ‘terhipnotis’ batu gludug dalam pekan ini memiliki kebiasaan baru. Zia, anak perempuan yang seumur dengan Ponari dipaksa untuk mandi di tengah guyuran hujan. Dengan harapan, akan disambar petir dan mendapat batu gludug.

“Setiap ada hujan, kamu harus mandi di halaman, sampai kamu bisa mendapat batu gludug. Kalau tidak, kamu akan bapak cambuk!”

Ancaman inilah yang membuat Zia tak kuasa menolak. Dengan kerendahan dan keterpaksaan Zia harus menuruti orang tuanya. Buy selalu memaksanya setiap kali hujan tiba. Ibu dan dua kakak perempuannya tak kuasa melawan Buy, yang menurut para tetangga sudah mulai tidak waras. Tak segan-segan Buy mengacungkan golok bila isteri dan anaknya mencegah.

“Ini urusan saya! Ini anak saya! Jadi kalian tidak usah mengurusi keluarga saya! Saya melakukan ini juga karena ada perintah Tuhan agar manusia harus berusaha. Siapa lagi yang akan merubah nasib kalau bukan kita!” Buy menyerang warga yang melihat kasihan terhadap Zia.

“Bapak tidak salah. Tuhan memang memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu supaya nasib kita berubah. Tapi bukan dengan menyiksa anak sendiri,” aku mencoba meredakan emosi Buy.

“Pak Muis, anda tidak usah mengatur saya. Anak saya tidak pernah merasa terpaksa dengan perintah saya. Zia adalah anak yang menurut dengan perintah Bapaknya! Jadi, Pak Muis dan semua warga disini tidak usah ikut campur dengan urusan saya!” ungkap Buy dengan nada tinggi.

“Apakah bapak tidak melihat tangisan, Zia,” aku mengajakknya bicara lagi.

“Siapa bilang Zia menangis. Mana air matanya. Tidak ada kan?!”

Di tengah hujan deras, memang tidak mungkin air mata Zia terlihat. Ia akan bias oleh guyuran hujan. Tapi  aku melihat ada segukan dan isak yang tertahan di detak jantungnya. Ini yang tidak dipahami Buy. Kucoba untuk terus mengajak Buy sadar dari kegilaannya terhadap batu gludug. Tapi Buy masih berkeras, bahwa suatu ketika batu gludug akan datang pada Zia sebagaimana Ponari.

“Pak, batu gludug Ponari itu bukan datang dengan cara seperti ini. Tetapi datangnya tiba-tiba. Semua terjadi secara alami, tidak ada yang direncanakan,” kata warga yang lain melakukan pendekatan.

“Tapi manusia berhak untuk merencanakan sesuatu untuk merubah nasib keluarganya. Kalau saya menghentikan Zia, apakah bapak-bapak bisa menjamin kehidupan keluarga saya?!” Buy setengah menuntut.

Warga sepertinya kehilangan argumentasi. Benar, aku dan warga memang tidak mungkin akan menanggung beban keluarga Buy. Apalagi secara materi. Untuk mencukupi kehidupan keluargaku sendiri saja masih kembang kempis. Apalagi aku harus menjamin keluarga Buy?

“Tapi, apakah dengan cara ini, anda juga akan punya jaminan kalau batu gludug juga akan didapat oleh Zia seperti Ponari?”

Buy, sesaat tercenung. Ia tak bisa memberi jawaban. Sebab aku yakin, Buy sendiri juga tidak akan dapat menjamin akan datangnya batu gludug setelah Zia mandi hujan sejak satu pekan terakhir.

“Kita tidak boleh percaya dengan batu! Warga di kampung ini jangan sampai ikut-ikutan seperti apa yang dilakukan Buy. Itu adalah pemikiran yang menyimpang. Zaman kita adalah zaman moderen yang dalam setiap tindakan menggunakan akal sehat, bukan dengan mistik, apalagi percaya dengan batu gludug!” Lurah Tanjung Enim mengimbau kepada warga di dalam sebuah pertemuan. Kiai Denan begitu khawatir atas tindakan warga yang mulai tidak rasional.

“Kalau kita percaya pada batu, berarti kita telah menduakan Allah Sang Penguasa Alam raya ini. Hukuman bagi orang musyrik adalah neraka Neraka!” Kiai Denan dengan semangat memberi ceramah di setiap khutbah Jumatnya.

Malam baru menjelang. Seperti biasa, dalam setiap pekan ada saja beberapa warga yang berkumpul di rumah. Biasanya berbincang seadanya. Aku mengikuti saja tema perbincangan dalam setiap pekannya. Dari masalah harga kopi, harga karet, pengangguran dan mengalir begitu saja. Tetapi sejak Buy melakukan tindakan aneh pada Zia, dalam satu pekan ini warga di kampungku lebih tertarik bicara tentang batu gludug  Ponari. Ada banyak hal yang ingin mereka ketahui.

“Ponari itu, manusia pilihan Tuhan,” kataku ringan.

“Lho, Pak Muis jangan menyamakan Ponari dengan Rasul? Ini bisa menjadi aliran sesat!” Dzikri salah remaja masjid yang sedang konsen dalam kegiatan pengajian seketika menyela pembicaraan.

“Kalau Ponari pilihan Tuhan, berarti sama dengan Nabi atau Rasul. Ini kalau di dengar oleh warga yang awam bisa menyesatkan, Pak?!”

“Saya kan tidak menyamakan Ponari dengan Nabi atau Rasul. Saya hanya mengatakan, Ponari itu manusia yang sengaja dipilih Tuhan. Kalau Rasul tidak akan ada lagi setelah Muhammad. Tetapi manusia pilihan Tuhan masih sangat terbuka, termasuk kita disini bisa saja sewaktu-waktu akan dipilih Tuhan,” aku menjelaskan secara perlahan.

“Maksud manusia yang dipilih Tuhan?” tanya yang lain.

“Sekarang kalau dirunut perjalannya, batu yang disebut batu gludug atau batu petir itu dari siapa?” aku mencoba membuka nalar sebagian warga.

“Kata berita-berita di koran dan tivi didapat dari langit yang jatuh dari langit, kemudian bercahaya,” jelas yang lain.

“Sampai tiga kali batu itu dibuang Ponari. Tetapi batu itu katanya masih bersinar mengikuti Ponari. Akhirnya oleh Ponari diambil. Kata keluarganya siapa tahu bisa jadi obat. Dan setelah dicoba, ternyata manjur, Pak,” sela lainnya bersemangat.

“Kalau anda sebut batu itu dari langit yang diiring petir, lantas saya tanya kepada bapak dan ibu, langit dan petir itu yang menciptakan siapa? Langit dan petir itu kuasa siapa? Lalu batu yang didapat oleh Ponari itu ciptaan siapa?” aku menjawab dengan dengan berbalik tanya.

Sebagian manggut-manggut. Sebagian lagi bengong. Yang lain penasaran. Tak ada yang bicara.

“Nah, masalahnya kemudian adalah kenapa harus Ponari yang dapat batu gludug itu?” aku membuat pertanyaan sendiri.

“Betul, Pak!” itu yang dari tadi mau saya tanyakan,” Harta menyela seketika.

“Iya, Pak. Saya juga heran kenapa harus Ponari yang dapat,” kata yang lain.

“Maksudnya kenapa bukan anakmu, gitu? Supaya kamu bisa dapat uang 50 juta setiap hari,” sergah War, yang kemudian ditingkahi gelak tawa warga.

Harta jadi setengah kikuk. Ia merasa memiliki anak yang seumur Ponari.Tapi tidak salah, di benak Harta memang terpikir pertanyaan mengapa bukan anaknya yang memperoleh batu gludug, justru Ponari?

“Itu yang saya katakan, Ponari adalah manusia pilihan Tuhan. Tentang sebabnya kenapa harus Ponari, itu bukan hak kita untuk menjawab. Itu kebijakan Tuhan. Sebab wilayah Tuhan tidak bisa dibatasi oleh pikiran manusia.”

“Tapi kita boleh percaya, Pak?” tanya lainnya lagi.

“Bagaimana pun, setiap kita wajib percaya terhadap yang ghoib. Syetan, Jin, pahala, sorga dan neraka, semua ghoib. Tidak bisa dilihat oleh mata dhohir. Tetapi wajib kita percayai. Kalau kita tidak percaya dengan yang ghoib, keimaman kita sudah bergeser satu mili meter,” aku mulai masuk ke wilayah Tauhid.

“Tetapi percaya pada batu, kata kiai musyrik, Pak?”

“Itu tergantung bagaimana kita melihat. Jangankan dengan batu gludug. Dengan dokter atau terhadap uang saja kita bisa musyrik, kalau benda-benda itu kemudian menjadi tempat bergantung,” kataku menjelaskan perlahan.

“Wah, saya belum mengerti, Pak. Kita ini kan biasa, kalau sudah ke dokter kemudian anak kita sembuh atau saudara kita terselematkan dari kematian, lalu bilang, kalau tidak ada pak dokter, pasti saudara saya sudah meninggal.”

“Itu yang saya katakan cara pandang. Kalau kita memandang bahwa kesembuhan warga yang berobat karena batu gludug, atau karena dokter, kita akan terseret pada kemusyrikan. Sebab kita bukan bergantung pada yang menciptakan dokter dan batu gludug, tetapi berharap pada dokter dan batu. Namun, kalau kita pandang bahwa uang, dokter dan batu gludug hanya sebatas sarana yang dapat membantu hidup kita, atas izin yang Maha Kuasa, persoalannya menjadi lain. Kita tidak akan terjebak pada kemusyrikan.”

“Tapi sebagian orang lebih percaya pada batu, bukan pada Tuhan,” sergah yang lain.

“Tidak semua begitu. Makanya meskipun diantara kita ada yang berobat kepada Ponari, jangan melihat batu dan Ponarinya, tetapi tetap berharap pada Tuhan. Batu dan Ponari hanya media, sarana atau alat Tuhan untuk menyalurkan salah satu kebesaran-Nya, bukan batunya. Kalau itu sudah disadari, tidak mesti kita meng-agungkan batu gludug, tetapi atas Kuasa-Nya, melalui batu gludug ini, Tuhan kemudian menyebuhkan penyakit anak atau saudara saya. Begitu.”

Pagi tiba. Hujan mulai turun rintik-rintik. Aku melongok sebentar di halaman Buy. Karena kebetulan rumah Buy hanya kelang sebidang tanah 15 m2. Jadi aku kapan saja bisa melihat ke halaman rumah Buy. Zia tidak tampak pagi itu. Biasanya, bila hujan mulai rintik Zia sudah dikawal Buy, untuk segera ke halaman menjalani tugas rutinnya. Tapi tidak pagi itu.

“Zia, sakit, Pak,” salah satu warga memberitahuku satu hari setelahnya. Kubawa satu bungkus roti tawar dan satu kaleng susu. Beberapa warga mengiring, untuk besuk Zia.

“Bapak-bapak tidak perlu merayu saya dengan kunjungan kesini. Kebetulan saja sekarang Zia sakit. Kalau tidak, saya kemarin masih akan menyuruh Zia mandi hujan,” Buy sudah berprasangka terhadap kedatangan kami.

“Tidak apa-apa. Itu hak bapak. Kan anak Bapak,” aku meredakan emosi.

Sebagian warga agak aneh dengan ucapakanku kali itu. Salah satu tangan menyolek dari belakang. Aku tahu, diantara mereka ada yang tidak setuju dengan kaimatku kali itu.

“Kenapa Pak Muis, bicara seperti itu? Mestinya dinasehati seperti kemarin, supaya Buy bisa menghentikan ulahnya itu,” kata War sepulang dari rumah Buy.

“Biarkan saja. Itulah cara Tuhan untuk mengembalikan kesadaran Buy,” kataku ringan.

“Kok, begitu, Pak?” kata yang lain penasaran.

“Kita yakin saja, Tuhan pasti punya rencana lain terhadap Buy dan keluarganya. Baik atau buruk, itu bukan urusan kita. Sebab dua pekan lalu kita sudah menegur, sakarang Buy masih berkeras dengan sikapnya. Ya, sudah.”

Sebagian warga tak langsung pulang. Diantara mereka singgah ke rumahku. Teh, kopi dan air putih selalu aku hidangkan untuk mereka. Sebuah termos besar selalu stanby di meja, sehingga aku tidak repot-repot membuat kopi atau teh setiap ada warga yang singgah.

“Pak, kalau Ponari itu ada nggak hubungannya dengan politik?” Asnan, salah satu calon legislatif tiba-tiba memancing pembicaraan. Kontan saja yang lain menyahuti;

“Waaah, mentang-mentang sedang jadi caleg, tanya soal politik. Kamu ini aneh. Ponari kok dihubungkan dengan politik. Paling-paling politik Tuhan,” kata Harta sekenanya. Seloroh Harta ini kemudian ditingkahi gelak tawa seperti biasanya.

“Betul, Pak. Ini politik Tuhan,” kataku seketika menghentikan gelak tawa.

“Nah, kan ada hubungannya dengan politik,” Asnan merasa menang kali itu.

“Tapi, politik disini politik spiritual. Bukan politik praktis, seperti Pak Asnan yang mau jadi anggota dewan,” kataku sedikit menohok Asnan.

“Nah, As, dengarkan itu,” sela yang lain.

“Tapi politik spiritual ini tetap saja ada hubungannya dengan kondisi sosial masyarakat di bumi. Akibat dari politik Tuhan bisa langsung dirasakan warga, khususnya bagi Ponari dan keluarganya.”

“Misalnya, Pak?”

“Dengan batu gludug, paling tidak telah mengangkat keluarga Ponari secara ekonomi. Kedua, banyak menebar manfaat kepada warga sekitar. Dengan pengobatan Ponari, tukang es, tukang kue, tukang bakso, dan lainnya bisa menangguk rejeki dari kerumuman warga yang datang ke rumah Ponari. Disisi lain, dari pendapatan uang kotak amal Ponari, warga kemudian bisa membangun dan melakukan pengerasan jalan yang sebelumnya jalan tanah. Jadi sangat banyak hikmah dari Ponari ini,” jelasku.

“Secara politik, Pak?” Asnan menyela lagi.

“Uuuuu, politik terus,” warga setengah kesal dengan Asnan, karena mengajak bicara politik.

“Pak, Asnan jangan tersingung, ya. Sebab Pak Asnan satu partai dengan Pak SBY. Kalau secara politik, ini adalah politik Tuhan untuk mengkritik para penguasa di negeri ini, dari tingkat RT sampai presiden, untuk menjadi seperti Ponari…”

“Maksud Bapak, Pak Presiden atau RT harus punya batu, gitu?”

“Nanti, dulu belum selesai,” salah satu warga kesal.

“Bukan itu, maksdnya, Pak. Presiden tidak mesti punya batu seperti Ponari. Tetapi seorang penguasa, wajib memberi pengayoman atau pengobatan terhadap rakyatnya, seperti yang dismbolkan oleh Ponari. Ratusan ribu warga yang ingin berobat ke Ponari ini menjadi bukti, bahwa di negeri ini masih memerlukan layanan kesehatan gratis. Kedua, masih banyak warga yang mempunyai penyakit, sementara pihak terkait belum bisa memenuhi dengan baik. Jadi pak Asnan, kalau bapak lulus menjadi anggota dewan, bapak harus bisa menyembuhkan penyakit yang diderita masyarakat,” kataku sambil memandang pada Asnan.

“Tapi, saya kan bukan dokter, Pak?”

“Masyarakat saat ini penyakitnya bukan hanya sebatas fisik. Tetapi ada penyakit rohani yang ditimbulkan secara bersamaan dengan fisik. Ada kelaparan. Ada pengangguran. Ada kebodohan. Ada ketidakpercayaan terhadap tuhan. Mudah stress akibat tekanan ekonomi. Ada pengusuran dan lain masih banyak lagi. Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah penguasa negeri ini, Pak.”

“Wah, berat juga kalau saya nanti jadi anggota dewan, Pak,” kata Asnan.

“Berat dan tidak, tergantung tujuan awal menjadi anggota dewan. Kalau hanya sekedar ingin mendapat uang banyak dan fasilitas dari negara, ya tidak berat. Tetapi yang berat itu menanggung dan memegang amanah rakyat yang berada di bawah kursi bapak. Tetapi kalau Bapak memang memegang teguh nurani, pekerjaan ini tidak akan berat. Pasti rakyat yang diwakili akan tetap mendukung.”

“tapi dari batu Ponari itu banyak membawa korban nyawa, Pak? Menurut saya ini harus dilarang, spuaya tidak jatuh kirban lagi,” sergah yang lain.

“Melarang seseorang berbuat baik, sama halnya melarang iblis untuk bertaubat. Maslahnya bukan larang melarang, tetapi dengan keistimewaan yang diberikan Tuhan melalui batu gludug Ponari, pemerintah setempat sebaiknya mengelola secara baik, sehingga pengobatan tetap berjalan tanpa harus ada jatuh korban. Kalau dilarang, warga tetap akan melakukan hal yang sama. Bahkan akan lebih kuat dari itu.

Makanya, Pak Asnan, kalau menjadi anggota dewan, mohon diusulkan, kalau di belakang hari ada kasus serupa bukan harus dilarang, tetapi dikelola secara baik, sehingga antrian panjang tidak akan menimbulkan kericuhan dan korban nyawa manusia. Jadi masalahnya bukan pada batu gludug Ponari, tetapi karena manusia yang tidak terdidik mengelola kebaikan dari Tuhan, sehingga ketika kebaikan itu datang malah menimbulkan pendapat saling salah antara satu sama lain.”

Perbincangan kami terhenti sejenak, ketika Mul berlari tergopoh-gopoh. Napasnya masih tersengal-sengal. Keringatnya mengalir dari pelipis kirinya.

“Ada, apa Mul?” Harta penasaran.

“Zia, anak Pak Buy, meninggal,” Mul dengan nada sedih.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi roji’un,” ucap kami serempak.

Zia membujur kaku di hadapan warga. Wajahnya putih. Ada cahaya yang bersinar di ronanya. Ia korbankan dirinya untuk sebuah kepatuhan terhadap orang tuanya. Jutaan tetesan air mata tertumpah ketika itu. Seribu wajah setengah menuduh pada Buy, sebagai penyebab kematian Zia. Buy hanya tertunduk. Ia tak kuasa menatap wajah setiap warga yang datang.

“Itulah, gara-gara pecaya dengan batu gludug, anaknya disuruh mandi hujan. Sekarang baru tahu, anaknya meninggal,” kata salah satu warga memecah kesunyian setengah menyalahkan Buy.

“Tidak begitu, Pak. Mati, batu gludug dan mandi hujan itu tidak ada hubungannya. Mati ya mati. Batu gludug ya batu gludug. Mandi hujan ya mandi hujan. Soal mati, itu sudah menjadi ketentuan. Meskipun tidak ada batu gludug dan mandi hujan, memang hari ini Zia sudah tercatat di pangkuan Tuhan harus meninggal. Bersyukur, Zia saat ini sudah seperti Ponari, menjadi salah satu mahluk yang dipilih Tuhan, untuk segera menghadap-Nya, meskupun dengan metode dan cara yang berbeda,” kataku setengah menenangkan warga masih kesal pada Buy. (*)

BTN Krg. Asam – Tanjung Enim, 24 Februari 2009

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s