Presiden Ponari

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Oleh Imron Supriyadi

Dua pekan (di Bulan Februari 2009), akal sehat kita atau bahkan ruang batin kita tengah tertuju pada fenomena dukun cilik Ponari di Jombang Jawa Timur. Dari realitas ini kemudian muncul analisis dari berbagai kalangan yang sangat beragam. Tulisan ini saya tidak sedang ‘mamaksa’ menyeragamkan pandangan, tetapi menawarkan pemikiran dari sudut pandang yang berbeda. Penafsiran berbeda (multi interpretable) atas realitas politik, sosial dan budaya, termasuk terhadap Ponari, merupakan kewajaran di alam demokrasi, sebagai wujud dari upaya pencerdasan anak bangsa, setelah selama dalam kurun waktu 32 tahun bangsa ini dikungkung rezim yang ‘memaksa’ untuk memiliki pola pikir yang sama, baju yang sama, sepatu yang sama, atau bahkan warna gigi yang sama, dengan memerintahkan warga untuk tidak gosok gigi selama satu minggu.

Ada beberapa perspektif yang patut dikedepankan dalam menyikapi fenomena Ponari. Pertama; menyadarkan kembali, khususnya terhadap kaum rasionalis betapa semua yang ada di alam ini tidak bisa serta merta dilogikakan. Artinya ini sebuah kritik terhadap rasionalitas manusia yang selalu memegang hukum kausalitas (sebab akibat), untuk kemudian membaca ‘pikiran langit’ bahwa tidak semua peristiwa dan kejadian bisa dirasionalkan sebagaimana karya ilmiah. Dengan kata lain, fenomena Ponari membangkitkan keyakinan terhadap kewajiban umat untuk percaya kepada hal yang goib. Sebab ketika sebagian umat sudah tidak lagi mempercayai hal yang ghoib, maka sudah tentu tingkat ke-imanan-nya akan bergeser walau satu rambut sekalipun.

Kekuatan yang ada di balik Batu Gludug, memang secara ilmiah tidak dapat dibuktikan. Sebab, ke-ghoib-an itu sama halnya dengan surga, neraka, pahala, syetan dan jin, yang kesemuanya adalah mahluk ghoib yang diciptakan. Oleh sebab itu, ke-ghoib-an apapun bentuknya hanya dapat dipahami dengan keyakinan (keimanan), bukan dengan akal sehat. Tidak akan mungkin bisa rasionalitas manusia yang sangat terbatas ini, kemudian dapat membatasi ke-ghoib-an yang jelas-jelas bukan kewenangan dan kebijakan manusia. Dengan demikian, memahami Batu Gludug bukan kemudian percaya pada batunya yang memiliki kekuatan, melainkan mempercayai terhadap Sang Maha Pencipta ke-ghoib-an yang telah menciptakan kekuatan pada setiap mahluk ciptaan-Nya, termasuk Batu Gludug. Dengan pemahaman seperti ini, untuk menghindarkan terhadap pro-kontra kemusyrikan (menduakan Tuhan) yang selama banyak dikhawatirkan.

Kedua; fenomena Ponari juga menjadi bagian kritik dari ‘langit’ yang sengaja diciptakan supaya manusia memutar otaknya. Paling tidak, dalam konteks sosial, ekonomi dan budaya, kita sedang mengaharapkan presiden seperti Ponari yang pada kenyataannya dapat menyembuhkan ragam penyakit yang banyak diderita masyarakat. Maksud saya, Ponari menjadi simbol, betapa jutaan rakyat di negeri ini hanya percaya kepada sosok manusia seperti Ponari yang bersedia memberi manfaat kepada setiap warga, untuk kesembuhan penyakit.

Dengan demikian, dalam konstelasi politik di negeri ini secara langsung atau tidak, kita sedang merindukan “Presiden Ponari” yaitu sosok manusia yang merupakan “Pilihan Tuhan” tidak banyak mengumbar janji, mampu berdiri di tengah rakyat yang sedang menderita banyak “penyakit”, untuk kemudian tetapi perbuatannya dapat banyak memberi manfaat dan membawa “kesembuhan” bagi rakyat banyak. Presiden atau wakil rakyat yang kita rindukan adalah, sosok yang mampu menyembuhkan penyakit rakyat; kelaparan, kemiskinan, keterbelakangan, pemenuhan keadilan yang timpang, kesenjangan sosial, pengangguran, rendahnya solidaritas antar sesama, keinginan mengalahkan dan menjegal teman sendiri, semuanya adalah penyakit yang wajib disembuhkan segera.

Disadari atau tidak, terlepas ada sebagian warga yang tidak sembuh oleh air Batu Bludug, tetapi munculnya Ponari telah banyak membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Sejak munculnya Ponari, sudah berapa banyak tukang es, tukang bakso, tukang penjual minuman, tukang rokok dan para pedagang lain yang juga ikut mendapat untung. Lebih dari itu, hasil ‘jerih payah’ Ponari kemudian menjelma menjadi sebuah kekuatan sosial, dengan kesediaan masyarakat setempat melakukan gotong royong membangun jalan yang menuju ke rumah Ponari. Tujuannya agar warga yang datang mendapat kemudahan dan bukan kesulitan. Dari sisi ekonomi, sudah jelas keluarga besar Ponari juga mendapat tambahan penghasilan, melalui sarana Batu Gludug yang memang diciptakan Tuhan.

Pengobatan versi “Dukun” Ponari juga menjadi kritik bagi para pengelola lembaga layanan kesehatan, sekaligus bagi para penguasa dan pemegang kebijakan di negeri ini dari tingkat RT sampai Presiden sekalipun, untuk menyadari bagaimana seharusnya mengayomi dan melayani rakyat, bukan malah sebaliknya; minta dilayani, ditambah lagi dengan birokrasi panjang dan melelahkan. Sebab dalam teori, birokrasi dibuat bukan untuk mempersulit, tetapi untuk memudahkan. Tetapi dalam tatanan birokrasi kita ada kelakar (lelucon) yang mengatakan, : kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah. Sama persis dengan realitas di kampung Ponari, orang akan berobat kemudian dipersulit dan dilarang-larang.

Melarang rakyat berobat kepada Ponari, sama halnya memotong kesempatan Ponari untuk menebar manfaat kebaikan dari Batu Gludug yang diberikan dari Tuhan. Melarang orang berbuat baik, sama halnya dengan melarang iblis bertaubat. Lantas siapa mahluk yang melarang iblis bertaubat? Hanya dajjal yang tidak merelakn iblis untuk kembali kepada pangkuan Tuhan. Memang banyak hal yang kemudian menjadi pertimbangan. Diantaranya sudah menelan korban nyawa. Selain itu akan menimbulkan ke-musyrikan (menduakan Tuhan), atau menimbulkan ketertinggalan Ponari dalam pendidikan, dan masih banyak lagi alasan.

Pendapat seperti ini memang tidak harus kita persalahkan. Tetapi memandang realitas alam dari satu sudut pandang itu yang mesti diluruskan kembali, sehingga melihat Batu Gludug bukan sekedar dalam perspektif halal-haram, boleh dan tidak boleh, melainkan dilihat bahwa Batu Gludug adalah mahluk ciptaan Tuhan yang diciptakan memiliki kekuatan yang kemudian jatuh di tangan Ponari. Pandangan ini, kemudian akan membawa kita untuk melihat Batu Gludug bukan “Tuhan Baru” dalam kehidupan kita melainkan mahluk ciptaan yang patut kita hargai, bukan lantaran batu itu punya kekuatan tetapi kita menghormati Yang Menciptakan Batu, untuk kemudian dapat menyembuhkan.

Bila memahami segala bentuk pluralitas dalam perspektif kecintaan (sufistik) maka tidak kemudian harus melarang-larang Ponari menebar manfaat, tetapi justru bagaimana potensi dari Tuhan yang diberikan Ponari untuk kemudian dikelola secara baik oleh pemerintah, dialokasikan waktunya, ditata manajerial-nya, pen-jadwalannya, diatur antrean-nya oleh aparat, sehingga “tugas Tuhan” yang diemban oleh Ponari bisa memberi manfaat pada rakyat banyak tanpa harus ada ke-khawatiran akan terjebak dalam kubangan kemusyrikan.

Sebuah pertanyaan lain, mengapa harus Ponari? Mengapa bukan salah satu dari anak kita? Atau mengapa batu memiliki kekuatan dapat menyebuhkan penyakit? Pertanyaan pertama, akan terjawab ketika kita menyadari, bahwa di mata Penguasa langit dan bumi, ada nilai kepantasan, siapa yang layak dipillih menjadi “wakil Tuhan” dan siapa yang tidak layak. Saat ini, dimata Tuhan mahluk seperti Ponari yang memang layak dan pantas mendapat ‘Batu Ajaib” dan bukan kita. Dengan demikian, ini sebuah koreksi terhadap diri kita, untuk kemudian kita memiliki kewajiban “memantasi diri” agar kelak kita juga akan mendapat “kepantasan” di mata Tuhan untuk mendapat “perintah” lain yang dapat menebar manfaat sebagaimana Ponari. Dengan ke-angkuhan, kita sering cenderung memandang remeh rakyat kecil sebagaimana Ponari, tetapi ketika ada “ketentuan langit” untuntuk mengangkat, maka tak se-siapa-pun dapat menolaknya.

Pertanyaan kedua, mengapa batu bisa memiliki kekuatan yang menyembuhkan? Kalau menjawab ini dengan sebab akibat, maka jelas bertentangan dengan akal sehat. Tetapi bagi Sang Maha Pencipta tidak ada yang tidak mungkin. Semua akan terjadi bila ada kehenda-Nya. (Kun Fayakun). Oleh sebab itu, sekali lagi jawaban dari semua ini adalah dengan memantapkan keyakinan, bahwa di balik semua yang nyata, ada “kekuatan lain” yang ghoib, dan semua itu adalah Kuasa-Nya bukan kuasa kita. Rumitnya memahami masalah Ponari hanya satu alasannya, yaitu; karena dalam mencermati persoalan dunia, kita tidak pernah atau lupa melibatkan partisipasi ‘langit’ yang Maha Pengatur isi bumi. Akibatnya, ketika kita meninggalkan “kebijakan langit’ maka yang terjadi adalah saling tabrak satu sama lain. Dalam konteks yang lebih luas lagi, kita kemudian tidak bisa membedakan mana demokrasi dan mana anarki–meminjam istilah Emha Ainun Nadjib, atau yang diistilahkan penyair Koko Bae (Alm), kita menjadi seperti monyet yang tidak bisa membedakan mana emas dan mana loyang.

Tetapi inilah proses pembelajaran bagi semua, bahwa kita sudah terlalu lama tidak dilatih untuk ‘mengelola kebaikan’ sehingga ketika Tuhan menebar kebaikan di bumi melalui media Batu Gludug-nya Ponari, kita kemudian kalang-kabut dan membuat tuduhan-tuduhan yang cenderung didasari oleh kedangkalan cara pandang kita terhadap simbol-simbol Tuhan yang ditrunkan ke bumi. Kita sering terjebak pada pesan-pesan dari langit dalam perspektf tekstual tanpa melihat sisi baik yang lebih kontekstual terhadap tatanan dan nilai-nilai yang sebenarnya sedang diberikan oleh Sang Pencipta mahluk untuk kemanfaatan di muka bumi.

Pembelaan saya terhadap Ponari, bukan sama sekali bermaksud memuji Ponari secara fisik, tetapi pujian saya terhadap Batu Gludug dan Ponari atas dasar penghormatan dan kecintaan saya terhadap Dzat yang telah menciptakan Batu Gludug dan Pencipta manusia seperti Ponari. (*)

BTN Karang Asam, Tanjung Enim, 26 Februari 2009

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s