Anjing Penjaga Surga

2039_p-all-dogs-go-to-heaven

Ilustrasi : Google Image

Cerpen Imron Supriyadi

Baru satu bulan, Juragan Karsan pulang dari Kota Suci Makkah. Sejak itu, namanya kini bertambah satu huruf di depannya. Menyebut namanya tanpa diawali dengan “haji” Juragan Karsan spontan akan marah. Atau setiap kali ada undangan tertulis, tidak akan dihadiri bila tidak dicantumkan huruf “H” di depan namanya.

“Ke Makkah itu mahal. Jauh. Jadi kalau sudah dari sana, gelar itu mesti dipakai. Gelar haji itu lebih mahal dari kuliah dimanapun. Coba ada nggak kuliah yang tamatannya mencantumkan haji. Tidak ada, kan? Paling-paling doktorandes, insinyur, sarjana hukum, sarjana pendidikan! Yang sarjana haji, tidak ada! Makanya gelar haji itu mahal, kalian jangan main-main!” ujar Juragan Karsan kepada sejumlah buruhnya di tengah istirahat usai menjemur kopi di halaman rumahnya.

Sebagai tauke (juragan) kopi, Karsan memang layak disebut orang terkaya di Dusun Sukaraya Kabuatan Oku Selatan. Sebab di desa yang letakknya di pojok provinsi Sumatera Selatan, sangat sulit ditemui orang berduit sekelas Juragan Karsan. Sementara warga lainnya, mayoritas menjadi buruh kebun kopi milik Juragan Karsan.

Atau diantara mereka menjadi sopir truk pengangkut kopi ke Lampung atau ke Jakarta. Selebihnya hampir separo dari warga Dusun Sukaraya menjadi “bawahan” Juragan Karsan.  Wajar saja, sebagian warga akan selalu nurut dan menunduk atas semua perintah Juragan Karsan, termasuk menyebut namanya dengan tambahan gelar “haji” di depan namanya.

Sejak dipanggil Pak Haji, Juragan Karsan punya kebiasan baru. Dari segi pakaian selalu berwarna putih. Nayris selalu berbaju koko. Sepertinya Juragan Karsan juga ikut latah. Sebab sebagian warga  menilai kalau mengenakan baju koko, identik dengan Islam. Padahal tidak demikian. Baju koko bermula dari orang-orang cina atau sering dipakai di dunia persilatan shaolin. Kalau kemudian baju koko dipadankan dengan Islam, kiai dan ustadz, itu hanya kelatahan kebudayaan yang salah. “Sama halnya dengan peci yang juga sering dipakai Jurahan Karsan,” ujar Rio, mahasiswa yang kebetulan sedang melakukan penelitian.

“Peci itu simbol Islam,” kata Juragan Karsan.

Tapi Rio tak mau membantah. Rio sangat aham, Juragan Karsan agak awam soal sejarah kebudayaan. Padahal, peci simbol kebudayan melayu, bukan karena Islam. Kalau peci dianggap identik dengan Islam, karena mayoritas orang melayu bergama Islam dan secara kebetulan memakai peci.

“Kalau orang melayu memakai blankon, mungkin Ki Dalang akan disebut kiai atau ustadz,” kelakar Rio pada Juragan Karsan.

“Ah, kalau soal itu, aku ndak tahu. Itu biar dimakan sama orang-orang kampus saja. Pokoknya kalau baju koko dan peci itu ya selalu Islam, pokoknya begitu,” ujarnya protes pada Rio, saat menjelaskan persoalan kebudayaan.

Sebutan haji, ternyata mengantarkan jiwa Juragan Karsan berubah. Kalau sebelumnya dikenal warga sebagai juragan yang pelit, kini Juragan Karsan berbalik 180 derajat. Ia menjadi suka berderma. Meskipun diantara warga ada yang agak curiga dengan “niat baik” Juragan Karsan.  Sebab, dalam sejarah, jangankan warga dusun, terhadap buruhnya sekalipun, Juragan Karsan sangat hitung-hitungan kalau soal duit dan pekerjaan.

“Sejak pulang haji, Juragan Karsan berubah, ya. Jangan…jangan?” ujar Dimin, salah satu buruh di kebun Juragan Karsan.

“Sssst…! kita syukuri saja, Min. Mungkin juragan kita siudah sadar. Dia kan pulang haji. Mungkin saja dia dapat hidayah waktu di depan Ka’bah,” tukas Griwo meluruskan pikiran Dimin.

“Min, Griwo!” tiba-tiba Juragan Karsan memangil. Seketika kedua buruh itu jadi agak gugup. Apalagi keduanya baru saja membicarakan juragannya.

“Iya, juragan!” ujar Dimin.

“Haaa…ji! jangan lupa!” bentak Juragan Karsan

“Iya, Pak juragan, Eh, Pak Haji!” Dimin masih agak gugup.

“Nah, gitu,” ujar Juragan Karsan bangga. “Lusa hari Jumat. Kata kiai, Hari Jumat baik untuk sodaqah. Makanya aku mau bagi-bagi roti dan beras kepada warga. Kamu berdua harus siapkan semuanya,” perintah Juragan Karsan.

“Siap! Pak Haji,” ujar Griwo.

“Berapa orang yang akan kita undang, Pak Haji?” tanya Griwo lagi.

“Sebanyak-banyaknya. Jangan ada yang terlewatkan,” katanya.

Bagi Dimin dan Griwo, Juragan Karsan adalah tempat bergantung. Makanya semua tugas dari Juragan karsan ia laksanakan sesempurna mungkin.

Pagi, satu jam usai shubuh, warga dusun Sukaraya sudah berkumpul di depan rumah Juragan Karsan. Ratusan bungkus roti dan beras karungan berisi 10 kilogram sudah disiapkan. Dimin dan Griwo kali itu hanya menngawasi kerja anak buahnya yang sudah mereka arahkan sebelumnya.

Mulai pukul 07.00 WIB pembagian roti dan beras dimulai. Satu per satu warga dapat jatah. Termasuk semua buruh Juragan Karsan.

“Ini tabungan akhirat. Umurku sudah tua. Kalau saatnya dipanggil Tuhan, paling tidak aku sudah punya amal jariyah untuk mati,” ujar Juragan Karsan kepada Dimin, Griwo dan buruh lainnya yang masih berada disitu.

Suasana obrolan mereka seketika menjadi gaduh ketika ada seekor anjing muncul dari belakang rumah Juragan Karsan. Masalahnya, anjing itu menggondol sepotong roti yang masih tersisa di gudang belakang rumah Juragan Karsan. Mata Juragan Karsan melotot. Wajahnya memerah. Ada kemarahan yang seketika menyemburat di batinnya.

“Kejaaaaaar….! ambil rotinya itu…,” Juraghan Karsan berteriak, memerintahkan kepada semua buruh. Tak ketinggalan Juragan Karsan dengan tertatih-tatih ikut juga berlari mengejar. Dimin dan Griwo tak kurang akal. Mereka kemudian mengajak warga sekitar untuk ikut mengejar anjing itu. Warga tak bisa menolak. Apalagi baru tadi pagi mereka dapat bagian roti dan beras. Tapi tidak semua warga bersedia.

“Alangkah pelit, juragan itu. Baru tadi pagi, bagi-bagi. Sekarang nyuruh orang ngejar anjing karena nyolong roti. Haji apaan itu?” tukas warga lainnya.

“Oi, jangan pelit-pelit. Biarlah itu sodaqah untuk anjing!” tukas warga lain.

“Saya cuma jalankan tugas, yang penting ikut berlari,” sergah lainnya lagi.

Dalam sekejap, anjing pencuri roti tertangkap. Tapi roti yang digondol terlanjur sudah masuk perut anjing. Tak mungkin dimuntahkan. Apalagi anjing itu sudah mati akibat dipukuli warga. Tapi Juragan Karsan tak terlihat di kerumunan itu.

“Dimin…Dimin…, Pak Haji…tolong Pak Haji!” Griwo memanggil Dimin yang berada di kerumunan warga. Seketika Griwo dan warga lainnya terkejut. Mereka berjalan cepat menuju lokasi Dimin memanggil. Sebagian berlari mendekat.

Kali itu, hampir semua warga menjadi gagu. Juragan Karsan dalam pelukan Dimin. Beberapa menit lalu Juragan Karsan menghembuskan nafas terakhir, seiring dengan detak jantung anjing yang juga melayang ke langit.

**

“Karsan!” sebuah suara dengan nada kasar memanggil. Seketika Juragan Karsan tersinggung. Tak pernah ada nada tinggi yang memanggil tanpa sopan santun. Tapi kali  itu nada panggilannya sama sekali tidak punya adab.

“Panggil aku Haji Karsan! Jangan kurang ajar!” Juragan Karsan tak kalah lantang.

“Aduh…Aduhhhh, sakiiitt!” Juragan Karsan seketika mengaduh saat kemudian rambutnya ditarik secara kasar. Tak kuasa Juragan Karsan menghalangi.

“Diam!” nada suara hampir memecahkan gendang telinga.

“Apa salahku. Dan siapa kau, sampai berbuat kasar seperti ini,” Juragan Karsan mengaduh. Wajahnya dihadapkan satu lingkaran hitam, yang dikelilingi cahaya. Juragan Karsan, kali itu seolah hanya melihat gerhana matahari total. Tak sesiapa yang tampak dari balik kehitaman itu.

“Saatnya kubuang kau ke neraka!” suara kian sadis.

“Maaf, aku sudah banyak berbuat baik pada orang-orang. Dan baru kemarin aku bagi-bagi roti dan beras. Mengapa aku masuk neraka?” Juragan Karsan minta pertimbangan.

“Tidak berbanding antara kebaikan dan keburukanmu! Semua kebaikan yang kau perbuat hanya bisa melunasi dosa-dosamu. Tidak ada yang tersisa. Makanya Tuhan tak beri ampunan atas dirimu. Sekarang aku akan lemparkan kau ke neraka!” ujar suara itu lagi.

“Guukk…guukkk……jangan Malaikat Malik. Tolong jangan…,” seekor anjing datang menghampiri suara itu. Ternyata anjing lebih mengenal Malaikat Malik penjaga neraka, ketimbang Juragan Karsan.

“Mohon, jangan lempar Haji Karsan ke neraka,” pinta anjing kepada Malaikat.

“Mengapa kau ingin menolongnya? Karsan adalah haji mardud alias haji tertolak. Sebab biaya hajinya berasal dari memeras buruh, riba dan sebagian lagi dari korupsi. Makanya Tuhan memerintahkanku melemparkan ke neraka,” ujar malaikat.

“Tapi malaikat, bukankah neraka diciptakan Tuhan untuk menebar rahmat kepada setiap hamba-Nya?” protes anjing.

“Benar. Neraka memang rahmat, yang kelak akan melebur dosa, sehingga kebaikan seorang hamba yang sedikit bisa diangkat. Tapi bagi Karsan tak ada lagi kebaikan!” ujar malaikat tak sabar lagi ingin melemparkan Karsan.

“Dia punya kebaikan,” ujar anjing.

Juragan Karsan tercenung melihat anjing itu. Ia sangat ingat kalau hewan itu yang telah mencuri roti miliknya. Dan kali itu menyelematkan dirinya dari kubangan api neraka.

“Kau, anjing pencuri roti itu kan?” tanya Juragan Karsan.

“Dari sepotog roti itulah aku bisa hidup, meskipun akhirnya aku juga mati karena dihajar warga. Tapi denyut napas dan jantungku tertolong beberapa saat, karena aku masih dapat energi dari sepotong roti yang aku curi dari gudang rumahmu. Kamu telah menolong hidupku walau hanya sekejap. Dari sepotong roti itulah, kebaikanmu masih tersimpan dalam diriku,” ujarnya.

Palembang, 2014

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s