Pentingnya Media Sekolah

1Prof. Dr. Jalaludin, mantan Rektor IAIN Raden Fatah Palembang, dalam suatu kesempatan mengatakan, salah satu barometer (ukuran) kecerdasan sebuah lembaga pendidikan adalah media. Menurut Jalal, apabila sebuah institusi pendidikan sudah mampu menerbitkan buku, atau minimal karya jurnalistik yang profesional, dapat menjadi ukuran intelektualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di lembaga tersebut.

Pernyataan Jalaludin ini, sudah tentu menjadi kritik sekaligus menjadi motivasi bagi setiap institusi pendidikan, baik kalangan dosen, guru, mahasiswa dan siswa sekolah, untuk kemudian berpikir ulang tentang bagaimana mengasah intelektualnya dengan sebuah tulisan, baik dalam bentuk karya sastra, atau opini dan karya ilmiah lainnya.

Tetapi, suatu yang ironis dan menyedihkan jika melihat kenyataan di lapangan. Hampir dapat dihitung dengan jari berapa jumlah guru, dosen atau siswa dan mahasiswa yang mampu menulis karya ilmiah. Realitas ini bukan saja terjadi baru-baru ini, melainkan sudah puluhan tahun yang lalu. Kenapa ini terjadi? Ada sebagian yang menganggap, menulis hanya buang-buang waktu. Namun sebagian lain, yang memiliki “hobi” menulis, dapat terdorong untuk terus menerus membaca, sebagai tambahan referensi dalam tulisannya. Sehingga menulis kemudian menjadi kebutuhan.

Ada beberaa alasan yang menyebabkan, kenapa beberapa kalangan akademis “malas” menulis. Antara lain, terbatasnya ruang dan waktu, karena pekerjaan kantor menumpuk. Selain itu, “kemalasan” ini juga sebagai akibat tidak adanya ruang (media) yang akan menampung tulisannya. Ada juga yang beralasan, tidak bisa menulis karena memang tidak mempunyai ke-ahlian. Dan masih banyak lagi yang sering menjadi alasan, kenapa seseorang enggan menulis.

Tetapi, semua alasan itu dapat ditepis dengan kemauan yang keras untuk menulis. Melalui media yang anda baca sekarang, merupakan salah satu ruang dan motivasi tersendiri bagi setiap guru, dosen atau pelajar dan mahasiswa untuk menyalurkan gagasannya melalui tulisan.

Jika sebelumnya di Tanjung Enim, belum ada media yang menampung tulisan anda, maka dengan terbitnya Koran Bintang Pelajar, harus dijadikan pemicu bagi siapa saja untuk mengembangkan wawasannya melalui menulis.

Hadirnya media seperti Koran Bintang Pelajar, secara tidak langsung “menghentak” dunia pendidikan kita, yang sering terjebak dengan rutinitas proses belajar mengajar semata, dan meninggalkan unsur lain yang sebenarnya juga sangat menunjang kecerdasan siswa. Apalagi kalau bukan media sekolah, seerti Koran Bintang Pelajar.

Koran Bintang Pelajar, menurut saya merupakan salah satu alat bagi setiap sekolah, untuk membangkitkan kecerdasan bukan saja di kalangan siswa, tetapi juga bagi siapa saja yang peduli terhadap proses pengembangan pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, seiring dengan upaya penerbitan media yang mungkin sedang dan akan diterbitkan di setiap sekolah, Koran Bintang Pelajar dapat menjadi rujukan awal, bagaimana mengemas dan mengolah isu pendidikan menjadi apik dan menarik.

Dalam tulisan ini, saya ingin mengatakan, hadirnya media sekolah seperti Koran Bintang Pelajar, jelas-jelas akan turut mendorong dalam mengembangkan kreatifitas siswa, terutama dalam bidang jurnalistik (menulis). Apalagi, jika pengelola Bintang Pelajar juga membuka ruang khusus bagi pembinaan siswa untuk menggali potensi dalam bidang jurnalistik. Ini juga bagian penting, yang seharusnya dipikirkan oleh redaksi Bintang Pelajar.

Maksud saya, pengelola Bintang Pelajar, jangan hanya sekedar memberi “kabar kecerdasan” kepada sekolah-sekolah, melainkan juga menjadikan pelajar dan sekolah sebagai mitra, untuk kemudian para pelajar di setiap sekolah dibina secara intensif, agar kreatifitas siswa-siswa dalam bidang jurnalistik di Muara Enim dapat berkembang.

Kenapa ini menjadi penting? Sebab jika kita merunut sejarah, hampir setiap orang terkenal, bukan saja  di Indonesia, tetapi di luar negeri sekalipun, mereka dikenal banyak orang karena menulis. Bung Karno terkenal dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi”, R. A. Kartini dikenal dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Jhon Naisbit dan Patricia Aburden terkenal dengan bukunya “Megatred 2000”  dan lain sebagainya. Pertanyaanya kemudian, saat ini sudah ada media sekolah terbitan Tanjung Enim, yang akan menjadi ruang bagi “anak-anak sekolah”, lantas kenapa kita manfaatkan? Sekarang saatnya untuk berkarya! (*)

Tanjung Enim, 28 Jaanuari 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s