Cermin Retak tentang Putra Daerah

Ilustrasi : mediaonline-news.com

Ilustrasi : mediaonline-news.com

Sudah menjadi catatan sejarah, setiap kali menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia isu yang sering dimunculkan adalah Putra Daerah. Mengusung Putra daerah menjadi term isu dalam setiap Pilkada memang bukan satu dosa yang perlu dilarang-larang. Namun masalahnya  kemudian adalah, isu putra daerah ini akan menjadi sesuatu yang sangat dangkal maknanya, ketika “putra daerah”, hanya dipahami dalam perspektif satu arah, atau yang saya bahasakan dengan pandangan “kaca mata kuda”.

Kenapa? Karena dengan melihat putra daerah dengan kacamata Kuda, maka yang terjadi adalah penilaian subjectif tanpa melihat dimensi lain, terhadap seorang calon Kepala Daerah. Kalau ini yang terjadi, maka beberapa kelompok yang menggunakan kacamata Kuda tadi, telah terjebak pada egosentris ke-daerahan, yang sudah tentu sangat jauh dengan nilai-nilai kebhinekaan Indonesia.

Tanpa bermaksud menggurui siapapun, melalui tulisan ini saya ingin menggulirkan sebuah ”wacana lain” tentang Putra Daerah dalam konteks suksesi di Sumatera Selatan. Paling tidak ada dua hal yang perlu dipahami secara komprehensif dalam melihat arti dan esensi Putra Daerah ini. Pertama, Putra Daerah dapat dilihat dalam perspektif genetika. (ini yang paling umum dilakukan oleh masyarakat kita). Kedua, Putra Daerah juga dapat dipahami dalam perspektif keberpihakan. (ini yang sering terlupakan).

Dalam perspektif genetika, Putra Daerah berarti seseorang yang lahir di daerah tertentu, dengan dibuktikan akte kelahiran sesuai dengan daerah kelahiran dan tempat tinggalnya. Dalam konteks suksesi, seseorang ini kemudian mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat kepala daerah tempat ia dilahirkan.

Dalam perspektif keberpihakan, Putra Daerah berarti seseorang yang lahir di daerah tertentu, tetapi kemudian merantau ke daerah lain, kemudian suatu ketika ia juga mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat kepala daerah, di tempat ia hidup dan mengabdikan dirinya untuk keluarga, bangsa dan negaranya.

Ilsutrasi : Google Image

Ilsutrasi : spektanet.com

 

Dari dua pemahaman diatas, kecenderungan masyarakat kita akan terfokus pada pendapat pertama. Hampir sebagian kita menilai, Putra Daerah adalah putra asli kelahiran di sebuah wilayah, tempat ia dilahirkan. Penilaian ini memang tidak bisa dipersalahkan. Sebab diakui atau tidak, penilaian terhadap putra daerah ini memang cenderung pada perspektif genetika, dan bukan pada keberpihakan. Sebagai bahan renungan saja, saya buat analogi seperti ini?

Si Badu, lahir di Kota Palembang. Seusai tamat Sekolah Dasar (SD) kemudian merantau 30 tahun di Medan. Selama di Medan, Badu menjadi seorang pengusaha, dan bisnisnya berkembang pesat di Medan. Ia berikan pemikirannya untuk pengembangan Kota Medan. Si Badu, pulang kampung hanya satu tahun sekali untuk menengok keluarganya di Palembang. Dan suatu ketika, dalam pencalonan Kepala Daerah, si Badu tiba-tiba datang ke Palembang dan mencalonan diri sebagai salah satu kandidat Walikota Palembang, dengan alasan ia adalah putra asli daerah?    

Sementara di sisi lain, si Rido, putra kelahiran Magelang Jawa Tengah, juga punya kasus yang sama dengan Badu. Seusai tamat SD di Magelang, Rido kemudian merantau ke Palembang, kemudian berdomisili di Palembang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Palembang. Sama suksesnya. Rido juga mengabdikan dirinya di Palembang, mengembangkan usahanya di Palembang, turut memberikan kontribusi pemikirannya selama 30 tahun untuk kota Palembang.

Dan bedanya, Rido benar-benar meninggalkan kota Magelang, untuk kemudian menetap di Palembang. Dan pada saat yang sama, Si Badu dan Si Rido bertarung dalam sebuah suksesi pemilihan Walikota Palembang. Alasannya sama. Keduanya mengaku putra daerah. Pertanyaannya adalah, siapa yang sebenarnya putra daerah? Si Badu atau Si Rido?

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Analogi diatas, dapat menjadi bahan renungan, bagaimana kita harus memaknai kembali tentang Putra Daerah. Ini menjadi penting, agar masyarakat kita tidak terjebak pada pandangan yang subjectif terhadap Putra Daerah. Sebab pemaknaan terhadap putra daerah yang tidak tercerdaskan, juga akan mengakibatkan kepada fanatik buta terhadap figur Putra Daerah, yang kadang-kadang sama sekali tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap tanah kelahirannya.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menyatakan, jika kemudian Putra Daerah hanya diartikan sebagaimana si Badu (dalam pendangan genetika), berarti kita sudah menutup mata terhadap kontribusi pemikiran seorang Rido, yang sudah 30 tahun ikut serta membangun dan menetap di Kota Palembang. Intinya, dengan analogi Badu dan Rido tadi, minimal dapat membuka mata kita, yang sebelumnya terjebak dengan ”kacamata kuda”, untuk kemudian kita harus menggantinya dengan ”kacamata tiga dimensi”. Tujuannya, agar penilaian dan pemahaman kita terhadap Putra Daerah ini bukan dari sudut genetika (kelahiran), tetapi juga harus dilihat dari keberpihakan dan melihat kontribusi apa yang pernah diperbuat oleh tokoh tersebut.

Pandangan seperti ini menjadi penting artinya, ketika beberapa kelompok tertentu sering tidak memahami tentang siapa sebenarnya Putra Daerah sejati, yang wajib didukung menjadi Kepala Daerah? Maksudnya, masyarakat kita selama ini tidak mempunyai ukuran yang jelas dalam melihat siapa Putra Daerah itu. Sehingga yang muncul hanya ikut-ikutan, tanpa memahami kontribusi tokoh yang didukungnya. ”yang penting kelahiran sini”, Katanya.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Dalam bahasa politik, tidak bisa hanya sekedar menggunakan bahasa ”pokoknyo”. Apalagi soal kepala daerah akan sangat menentukan masa depan daerah. Jadi tidak bisa dengan istilah ”pokoknyo” atau ”harus putra daerah”. Sebab jika itu yang menjadi dasar memilih seseorang, maka ukurannya sangat dangkal, yaitu ”kelahiran dan domisili”. Padahal ada yang lebih penting lagi dalam konteks Pilkada, yaitu pada keberpihakan dan kontribusi seseorang terhadap pembangunan daerah, dan bukan ”kelahiran”.

Dari pemahaman yang dangkal inilah, di Sumsel sempat terjadi peristiwa lucu; salah satu artis asal Palembang mencalonkan diri sebagai kandidat Gubernur. Pertanyaannya kemudian adalah, apa kontribusi yang telah disumbangkan kepada Palembang selama berkarir di Jakarta puluhan tahun? Apa cukup mengajak nyanyi duet dengan Kapolda dan Gubernur di Selebriti Cafe dan Hotel Sanjaya?  Main sinetron dengan menggunakan bahasa Palembang? Apakaha dengan modal itu dan karena akte kalhiran Palembang kemudian si artis dapat semudah itu mencalonkan diri sebagai Gubernur? Bulshit! Untungnya, si artis gagal melenggang ke kursi Gubernur. Saya tidak bisa membayangkan akan jadi apa Sumsel, jika si artis terpilih menjadi Gubernur ketika itu.

Putra Daerah Sejati

Idealnya, dua dimensi yang menjadi analogi si Badu dan si Rido diatas, ada pada salah satu calon kandidat. Di satu pihak, sang kandidat juga putra kelahiran Sumsel, dan mengabdikan diri, memberikan kontribusinya untuk Sumsel. Sehingga, memilih Putra Daerah sebagai calon Kepala Daerah juga jelas ukurannya, bukan sebatas “pokoknyo kelahiran Sumsel”. Tetapi melihat secara komprehensif dari berbagai sudut pandang, terutama kontribusi apa yang telah dan sedang diberikan kepada daerah, sekalipun itu bukan kelahiran kota tersebut.

Jika penilaian itu telah mengakar di masyarakat, sudah pasti yang muncul kemudian bukan pada egosentris kedaerahan, melainkan nasionalisme yang akan semakin mengental di setiap masyarakat kita. Semua berharap, agar menjelang Pilkada, semua kita tidak terjebak pada pandangan “kacamata kuda” melainkan dengan “kacamata tiga dimensi”, sehingga kita memilih pimpinan dapat berdasar pada hati nurani dan akal sehat kita. Insya Allah (*)

Tanjung Enim, 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s