Kun Fayakun dan Geliat Seniman Sumsel

 

download film kun fayakun gratis

Ilustrasi : Google Image

Usai digebrak oleh film Ayat-Ayat Cinta (AAC), garapan sutradara muda Hanung Bramantyo, dunia perfilman nasional kini kembali disentak olah film Kun Fayakun (KFYK), yang diprakarsai Ustadz Yusuf Mansyur. Tetapi, sampai pekan ini jumlah penonton KFYK,  belum bisa dikalkulasikan secara matematis, apakah jumlah penonton KFYK akan mencapai 3 juta lebih sebagaimana AAC, atau kurang dari itu.

Terlepas dari itu semua, paling tidak dua film (AAC & KFYK) yang disebut sebagai ’film islami’ ini, telah berpengaruh pada ghirah (semangat) sebagian aktifis Islam dan bagi masyarakat umum dalam meng-apresiasi film nasional. Selain itu, hadirnya kedua film ini sedikit banyak telah menyadarkan sebagian sineas kita, untuk kemudian mengakui kalau film yang bernapaskan Islam tetap laku di pasaran.

Kalau selama ini ada pameo, kalau film bernapaskan Islam tidak bisa menangguk keuntungan dalam konteks bisnis, itu didasari oleh image masyarakat yang selama ini mengonotasikan ’film Islami’ selalu identik dengan ’surga dan neraka, halal haram’. Persepsi ini muncul juga sebagai akibat, ’film Islami’ yang selama ini tayang memang cenderung doktriner dan simbolistik. Akibatnya, secara perlahan penonton juga akan mengalami ’kebosanan’.

Ini terjadi, karena kalimat ’Islami’ selalu dipadankan pada peci, sarung, tasbih dan sejenisnya. Padahal kesemuanya itu merupakan atribut kebudayaan yang sifatnya lintas agama dan golongan. Siapa saja bisa pakai sarung, peci atau bahkan tasbih.

Dengan demikian, laku dan tidaknya film bernapas Islam bukan terletak pada simbol-simbol agama yang diusung secara visual, melainkan kemasan, esensi, nilai-nilai dan substansi dari sebuah film, yang didasari oleh ajaran Islam. Tentang tema, alur cerita dan penokohan tergantung bagaimana penulis naskah/skenario mengemas dramatisasi itu yang lebih menarik.

Istilah ’film islami’ hingga kini memang tidak ada definisi khusus dari beberapa pengamat film dan sineas di Indonesia. Bahkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tidak ’sempat’ bicara soal film. Tetapi paling  tidak hadirnya dua film, AAC dan KFYK, bisa memberi gambaran kepada sebagian masyarakat pecinta film, tentang bentuk dan format ’film Islami’. Walaupun diakui atau tidak, kedua film ini juga masih cenderung simbolistis, dibanding dengan film lain seperti Nagabonar Jadi2.

Ilustrasi : salah satu adegan dalam Film Kun Fayakun

Ilustrasi : salah satu adegan dalam Film Kun Fayakun

Film garapan aktor gaek Deddy Mizwar ini, sekalipun visualisasinya tidak memunculkan simbol Islam secara tesktual, tetapi secara substansi film produksi PT.Demi Gessila Sinema ini, juga memiliki pesan moral kuat yang sangat relevan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Sebut saja, membangkitkan nasionalisme, semangat solidaritas, menghargai perbedaan kelas sosial, dan kepedulian terhadap sebuah rumah ibadah.

Kebangkitan ’film Islami’ seperti AAC dan KFYK hanya akan terus berkembang dan bertahan sekaligus diikuti oleh film sejenis, bila para sineas (baca ; penulis/skenario dan sutradara) tidak terjebak pada garapan ’film Islami’ yang cenderung menggurui, simbolistis sebagaimana sinetron Rahasia Ilahi, Subhanallah dan sejenisnya.

Pada awal muncul, sinetron ini demikian besar mendapat apreasiasi masyarakat, tetapi karena pada episode selanjutnya, penulis dan penggagas seperti kehilangan arah. Akibat keringnya ide dan garapan yang terlalu simbolis ini, sinetron tersebut kini hilang ditelan bumi. Tentu nasib film sejenis AAC dan KFYK tidak akan bernasib sama.

Dari munculnya film-film ini, yang menjadi pertanyaan saya adalah, dimana dan bagaimana ghirah atau geliat pekerja seni Sumsel? Akankah kita terus menerus berpangku tangan dan sekedar menjadi penonton?  Atau kita juga akan membuat karya serupa, untuk kemudian wong kito turut serta dalam kompetisi dalam perfilman nasional? Ini yang harus segera kita jawab.

Tentu harapan ini akan terwujud, bila dalam waktu dekat ada investor yang ’gila’ terhadap produksi film. Dewan Kesenian Sumsel (DKSS), sebagai wadah pekerja dan pelaku seni, memiliki kewajiban bangkit dan memberdayakan potensi sineas di Sumsel, untuk turut andil dalam kompetisi dalam perfilman nasional. Di Sumsel ada Sineas Toton Da’i Permana,  Novelis Taufik Wijaya, Penyair Nurhayat Arif Permana, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebut satu persatu. (*)

Tanjung Enim, 22 April 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s