Revolusi Masjid Sebuah Keharusan

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Masjid secara bahasa berasal dari kata ”sajada–yasjudu-sajdan-wamasjadan fahuwa saajidun-wadzaka masjudun-usjud-la tasjud-masjidun-misjadun”. Masjid secara umum dipahami tempat bersujud atau tempat orang disujudkan. Dalam terminologi Islam, masjid berarti sebuah bangunan yang berdiri di sebuah tempat, dengan dilengkapi kubbah, dan diatasnya ada tulisan ”Allah”.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Dalam catatan sejarah, masjid pada zaman Rasul awal pembuatan masjid hanya dimulai dengan tali pembatas, sehingga orang tak bisa sembarangan melewati tali batas yang sudah dibentanagkan tersebut. Dalam rentang waktu ratusan tahun setelah berdirinya Masjid Nabawi, bangunan masjid kemudian mengalami perkembangan, dengan bermacam bentuk dan desain, tanpa mengurangi standar masjid secara umum.

Pada zaman Rasul, masjid bukan saja hanya sebagai tempat untuk melakukan ibadah ritual saja, melainkan masjid juga berfungsi untuk kegiatan sosial lainnya. Bahkan, sebuah diskusi politik, seperti mengatur strategi perang dan pemilihan seorang Khalifah (Presiden sekarang), juga dilakukan di dalam masjid.

Tetapi fungsi masjid ini kemudian mengalami pergeseran. Dimulai dengan sistem dikhotomi (pemilahan) antara ulama dan umara oleh pemerintah Kolonial Belanda, secara perlahan fungsi masjid kemudian hanya menjadi tempat ibuadah ritual, atau untuk acara-acara ke-agamaan. Ketika itu, pemerintahan Belanda yang berkuasa selama 350 tahun menjajah Indonesia, melakukan klasifikasi kelompok masyarakat.

Sampai akhirnya kelompok ilmuan dan santri (tokoh agama) pun harus beda wilayah, baik ruang pertemuan atau dalam pengelolaan sebuah negara. Belanda juga membuat sebuah dikhotomi terhadap sistem pendidikan, antara sekolah umum dan sekolah agama (pesantren dan madrasah).

Hingga akhirnya, tanpa disadari oleh bangsa kita, kedua kelompok pemegang disiplin ilmu ini (Ilmuan dan kaum Santri) lambat laun terpisah dengan sendirinya. Para ilmuan bisa bersama-sama dengan kelompok Belanda, sementara kaum santri di dalam masjid atau di madrasah. Dari sistem inilah, akibatnya sampai berdasa warsa.

Ilustrasi : dakwatuna.com

Ilustrasi : dakwatuna.com

Bukan hanya pada akhir penjajahan Belanda saja, melainkan sampai saat ini pun, dua kelompok (ilmuan dan santri) sangat jarang, bahkan hampir dapat dikatakan tidak pernah akan bertemu dalam satu forum khusus, sekalipun membicarakan persoalan bangsa.

Fenomena ini kemudian membentuk pola pikir yang dikhotomis terhadap fungsi masjid, antara kegiatan ritual dan kegiatan sosial. Secara umum, masjid yang tersebar di Indonesia ini lebih cenderung menjadi tempat kegiatan ritual (hablummianllah) ketimbang untuk melakukan ibadah sosial (hablumminannaas), sebagaimana ketika zaman nabi dan rasul. Apa yang terjadi kemudian?

Masjid tak lebih hanya menjadi sebuah bangunan dan tempat yang sakral, yang didalamnya harus dihuni oleh orang-orang yang ”suci”. Bagi kalangan preman, bajingan tengik seakan tak mempunyai hak masuk dalam masjid. Jika ada salah satu diantara preman yang mendekati masjid, maka pengurus masjid (datuk) penunggu masjid akan segera mengusirnya.

Sikap ”anti preman” bagi setiap masjid ini, sebagai akibat dari sebagian kita yang memandang masjid hanya dengan ”kacamata Kuda”. Fungsi masjid hanya dilihat dari pandangan yang lurus, satu arah tanpa melihat fungsi lain dari masjid itu sendiri. Padahal, sebagaimana yang tertulis sebelumnya, pada zaman Rasul, masjid bukan hanya menjadi tempat shalat, adzan dan iqomah semata, melainkan juga untuk diskusi politik, menyusun strategi perang untuk kemenangan sebuah bangsa.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Di tengah situasi bangsa ini sedang dirundung banyak masalah, sudah seharusnya jika para pengelola masjid sudah memulai melakukan sebuah gerakan perubahan pemikiran, yang saya bahasan dengan ”revolusi masjid”. Bukan revolusi yang selalu di-identikkan dengan anarkis, melainkan revolusi pemikiran secara besar-besaran pada setiap kelompok, aktifis, dan pengelola masjid diamanapun juga. Tujuannya, agar fungsi masjid tidak hanya dipandang dengan ”Kacamata Kuda”, yang melahirkan pemamahan parsial dan terpenggal-penggal terhadap fungsi masjid.

Gagasan seperti ini, bukan bermaksud menafikkan  kegiatan ritual ke-agamaan yang saat ini terus berlangsung di setiap masjid. Namun ini sebuah tawaran, agar bagaimana fungsi masjid dapat menjadi sebuah ruang yang bukan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu yang cenderung melakukan ”onani spriritual”, tetapi juga dapat berfungsi sosial-transedental. Dengan begitu, masjid  bukan hanya sekedar untuk yasinan mingguan, shalat lima waktu, tarawihan dalam bulan ramadhan, tetapi lebih dari itu, masjid juga dapat berfungsi bagaimana semua layanan masyarakat dapat dilakukan di dalam masjid, atau minimal dilingkungan masjid.

Sepertinya memang sudah menjadi keharusan jika kemudian masjid harus menjadi tempat orang berkumpul dalam urusan politik, bisnis, sosial dan kebudayaan. Para ulama, santri , para ilmuan dan seniman, budayawan,  sudah saatnya bisa memulai berdiskusi dalam sebuah forum yang sama di dalam masjid untuk membicarakan persoalan bangsa. Dengan upaya ini, minimal akan mengikis terhadap penilaian sebgai kalangan terhadap dikhotomi fungsi masjid.

Selain itu, akan meningkatkan pemahaman yang selama ini terpenggal, menjadi utuh dan komprehensif terhadap definisi ibadah, yang sering kali dipadankan dengan ibadah mahdloh. (ibadah khusus) saja. Sementara yang selama ini terjadi, diskusi membahas tentang problematika bangsa ini, kemudian diklaim bukan bernilai ibadah. Kok parsial banget?

Dalam kenyataan seperti sekarang, masjid sudah seharusnya di-desain sedemikian rupa, agar masjid bukan hanya berfungsi untuk ibadah ritual tetapi juga dapat berfungsi sosial. Secara ideal, masjid juga harus menjadi ”ajang” bagi setiap ummat untuk mendapat layanan kesehatan gratis, layanan konsultasi (hukum, agama, rumah tangga, psikologi dll), layanan pemadam kebakaran, layanan ambulance, layanan pendidikan, layanan pendampingan korban tindak kekerasan, layanan pengaduan terhadap pelanggaran HAM, dan layanan bisnis yang syar’i dan manusiawi.

ilustrasi : Google Image

ilustrasi : Google Image

Dalam bidang bisnis, masjid juga harus berfungsi sebagai lembaga yang bisa menggairahkan sikap enterpreunership di kalangan remaja masjid, melalui pembentukan koperasi remaja masjid–sekaligus mencarikan jalan keluarnya, bagaimana mem-back-up modal dan pendampingan sampai bisa mandiri. Titik tuju selanjutnya, masjid juga menyediakan ruang atau los-los bisnis bagi masyarakat, yang sebelumnya telah mendapat pelatihan ke-wirausahaan yang dilaksanakan oleh para pengelola masjid.

Tuntutan fungsi masjid seperti ini bukan tidak beralasan. Pertama, untuk memutus panjangnya tali birokrasi dalam sistem di negeri ini. Kedua, tingginya berbagai biaya pendidikan, kesehatan, konsultasi dan lainnya, juga sering menimbulkan keluh kesah masyarakat. Persoalannya bukan karena tidak mampu berobat atau konsultasi, melainkan keterbatasan biaya yang mereka miliki.

Sehingga sebagian ummat lebih memilih menahan diri untuk ”tidak”, daripada harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Dalam konteks bisnis, masjid juga dapat memberi peluang bagi para pedagang kakilima untuk mendapatkan ruang yang kondusif, murah dan terjangkau. Ini untuk membantu pedagang kakilima, yang selama ini banyak terbebani oleh tingginya biaya los di Super market, Mall, atau di rumah toko sekalipun.

Menciptakan suasana bisnis dan layanan sosial di lingkungan masjid, paling tidak dapat menciptakan syi’ar Islam yang lebih dinamis. Dengan berkumpulnya ummat di lingkungan masjid, secara langsung atau tidak dapat mengkondisikan mentalitas umat untuk senantiasa dekat dengan masjid, baik secara fisik atau non-fisik. Dengan upaya melakukan revolusi masjid seperti ini, yang datang ke masjid bukan hanya kalangan muslim saja, melainkan non-muslim juga akan berbondong-bondong ke masjid, walaupun hanya sekedar untuk mendapat layanan sosial.

Pemikiran seperti ini, sekaligus untuk ”membumikan”—(meminjam istilah Quraisy Syihab),  konsep ”Islam rahmatan lil ’alamiin” (Islam hadir dapat menciptakan rahmat bagi lingkungan alam seitarnya), yang sudah pasti lintas agama, umur, suku dan antar golongan. Diharapkan, dengan menejemen revolusi ini, masjid akan menjadi ajang berkumpulnya seluruh ummat, untuk kemudian”rahmat cahaya” masjid itu akan menghunjam  ke hati nurani pada setiap kita, bukan saja ketika di masjid, melainkan masjid juga akan terbangun dalam kepribadian.

 Remaja Masjid sebagai Potensi

Salah satu kekuatan dalam mendinamisasikan masjid adalah dibentuknya remaja masjid yang dibina dan dikelola secara maksimal dan serius. Jika memungkinkan pengelola masjid bisa memberikan insentif secara profesional kepada para trainer untuk membentuk dan menciptakan remaja masjid yang berkualitas. Ini untuk membendung sebuah kenyataan, remaja masjid selama ini hanya sebatas menjadi penjaga sandal atau tukang pembagi snack ketika ada acara tertentu yang dilakukan oleh beberapa lembaga atau perusahaan di masjid.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Akibatnya, remaja masjid cenderung diposisikan di barisan paling belakang.  Tukang bersih-bersih, tukang membuat kopi, dan sejenisnya. Sebagai upaya penggemblengan mental tidak salah. Tetapi kalau posisi seperti ini sampai berdasa-warsa, bukan penggemblengan, tetapi penyimpangan potensi. Dalam konsep revolusi masjid, justeru sebaliknya. Kaum tua harus mulai legowo, dan yang muda harus maju kedepan. Kaum tua cukup menjadi pembimbing, penasehat, konsultan atau minimal menyetujui ”gerakan revolusi masjid” yang dilakukan oleh kalangan muda.

Mengutip konsep kepemimpinan tokoh pendidian Ki Hajar Dewantoro, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tutwuri Handayani.(Di depan menjadi tauladan, di tengah memberi support moral, di belakang memberi dorongan penuh).

Suatu yang menyedihkan adalah; di beberapa masjid, acap kali terjadi ”perang” antara remaja masjid dengan kaum tua. Masalahnya bukan pada persoalan ideologi yang berbeda, melainkan hanya berdasar pada perasaan terganggungnya ”status quo” kaum tua, oleh kehadiran kalangan muda.

Contoh yang paling sederhana saja. Misalnya persoalan adzan. Sangat sepele. Tetapi karena sudah banyak remaja masjid yang mulai datang menjelang waktu tiba dan siap adzan, kemudian kaum tua merasa tersinggung, dengan asumsi kehadiran remaja masjid akan menggeser posisinya sebagai pengurus masjid.

Logika kedangkalan struktural seperti ini yang kini sedang banyak ’diderita’ oleh sebagian para pengurus masjid. Akibatnya, bukan menjadi ruang untuk melaukan kegiatan ibadah, malah sebaliknya untuk ajang pertengkaran antara kaum muda dan kaum tua.

Padahal, disadari atau tidak, menggalang kekuatan melalui pembentukan remaja masjid merupakan sebuah keharusan untuk memulai sebuah gerakan revolusi masjid. Kenapa? Bukan tidak percaya dengan kaum tua, tetapi mentalitas yang dapat dibentuk menjadi remaja masjid yang progresif revolusioner adalah kalangan muda, dalam hal ini remaja masjid.

Remaja masjid adalah potensi ummat yang harus senantiasa diberdayakan, bukan diperdaya. Melalui kaum remaja inilah, revolusi masjid dapat dimulai secara perlahan. Bukan saja sebagai konseptor, tetapi sekalligus menjadi pemain dalam lingkaran. Sehingga, suasana dinamisasi sebuah kegiatan masjid akan lebih terjamin, ketimbang seperti selama ini, yang harap-harap cemas terhadap kaum tua.

Ilustrasi : Salah satu dai remaja di Bengkulu

Ilustrasi : Salah satu dai remaja di Bengkulu

Mengusung remaja masjid sebagai ”pimpinan” di depan ini, tentu akan ada risiko. Tetapi meniadakan kehadiran remaja masjid dalam proses revolusi masjid akan lebih berisiko. Sebab, hanya mengandalkan kaum tua yang pemahamannya terhadap masjid masih konservatif, akan menimbulkan gerakan revolusi masjid stagnasi (mandeg). Kenapa?

Sebab, kalangan tua pola pikirnya sudah tidak lagi produktif, belum lagi konsentrasinya  terpecah-pecah, baik terhadap pekerjaan, kebutuhan keluarga dan lain sebagainya.  Tetapi membiarkan remaja berdiri sendiri tanpa kawalan kaum tua juga akan berhadapan dengan sebagian kaum tua yang tida responsif terhadap upaya revolusi masjid. Oleh sebab itu, memunculkan remaja masjid di barisan depan harus membutuhkan proses dan tahapan.

Tahapan yang sebaiknya dilalui, sebenarnya sangat sederhana. Para senior, (atau trainer) dapat melakukan in-house training menjelang melakukan gerakan revolusi masjid. Paling tidak, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk memulai training bagi remaja masjid. Pertama; melakukan training penguatan ideologi.

Dalam penguatan ideologi ini, remaja diberi materi dan muatan intelektual yang bukan saja memberikan wawasan terhadap fungsi masjid, tetapi lebih dari itu, training ideologi ini sebagai upaya dalam menguatkan komitmennya sebagai aktifis masjid yang harus tetap menjaga integritas keimanan, kejujuran, kreatif dan inovatif. Kedua; training penguatan struktural.

Yang kedua ini, sama pentingnya dengan penguatan ideologi. Hanya bermodal kekuatan ideologi dan mengesampingkan penguatan struktur, maka remaja masjid juga akan pincang. Sementara kuat secara struktur tanpa ideologi, remaja masjid juga akan buta. Dalam penguatan struktural ini, pengelola masjid dapat memulai melakukan training kepemimpinan dari tingkat dasar sampai tingkat advance.

Ilustrasi : tribunews.com

Ilustrasi : tribunews.com

Tujuannya, selain untuk menggali potensi calon pimpinan muda di remaja masjid, juga untuk membekali pemahaman birokrasi dan administrasi dalam organisasi. Ketiga; Penguatan Jaringan. Hal  ketiga ini akan sangat mendukung bagaimana sebuah organisasi remaja masjid akan berkembang atau tidak. Sebab lembaga apapun, tanpa memilliki jaringan kerja yang luas hanya akan jalan ditempat.

Sementara program hanya akan sebatas menjadi slogan semata. Penguatan jaringan, dapat dimulai dengan pembuatan profil yang ditayangkan melalui situs internet, untuk kemudian disebarluaskan diseluruh nusantara. Dengan pengenalan profil remaja masjid seperti ini akan memudahkan lembaga lain dalam meng-akses tentang profil, kegiatan, progam kerja dan lain sebagainya.

Partisipasi perusahaan dan masyarakat

Konsep revolusi masjid tetap memerlukan sebuah partisipasi besar, baik dari BUMN, BUMD, pemerintah atau masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya komponen ini, gerakan revolusi masjid hanya akan menjadi sebuah utopia. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah kesadaran kolektif dari semua pihak untuk secara bersama-sama menciptakan komitmen untuk mewujudkan gerakan revolusi masjid ini.

Perusahaan dan pemerintah, sebagai institusi yang mempunyai kewenangan membantu pengadaan dana, juga tidak harus menanamkan kecurigaan adanya mark-up yang rentan dilakukan pengelola dan remaja masjid. Sebab dengan training ideologi yang kuat, maka penggelembungan, atau bahkan penyimpangan ini mudah-mudahan tidak terjadi.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Sementara masyarakat setempat menjadi komponen penting terhadap upaya terwujudnya revolusi masjid ini. Partisipasi masyarakat, baik moril dan materiil, merupakan satu kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Sebab, tanpa masyarakat sebuah gerakan apapun tidak pernah akan terwujud.

Persolannya tinggal bagaimana menggalang kekuatan masyarakat ini menjadi sebuah komunitas yang solid dalam membantu revolusi masjid. Namun, satu hal yang sebenarnya dapat dimulai untuk membangun kekuatan di masyarakat adalah, menciptakan kepercayaan dengan memberikan layanan kepada masyarakat didahulukan. Jika masyarakat sudah merasa butuh dengan sistem dan menejemen revolusi ini, dengan sendirinya, masyarakat akan menjadi tameng utama, ketika ada kekuatan lain yang hendak menghalangi gerakan revolusi masjid.

Mulai dari yang sederhana

Menggalang kekuatan untuk sebuah gerakan, bukan sesuatu yang mudah. Tetapi tidak juga sulit. Di kalangan remaja masjid, dapat dimulai dengan penelusuran bakat dan minat. Ini berfungsi untuk menjaring ”kepentingan” di kalangan remaja. Dengan sendirinya, ketika remaja masjid, minat dan bakatnya telah terakomodasi, otomatis akan ”terpanggil” untuk selalu dekat dengan masjid.

Untuk memulainya bisa melalui pembentukan tim nasyid, tim vokal group, musikalisasi puisi, teater dan lain sebagainya. Tetapi, sebuah catatan yang mesti dikedepankan adalah, kaum tua tidak harus buru-buru ”mematahkan” semangat kalangan muda. Sebab satu kali saja ada ”suara miring” yang dituduhkan kepada ramaja masjid, maka upaya penggalangann ini akan terkikis dan gagal.

Ilustrasi : merdeka.com

Ilustrasi : merdeka.com

Maka dalam hal ini juga dibutuhkan dorongan kaum tua, yang selama ini masih merasa kurang percayaterhadap remaja masjid. Dengan niat untuk melakukan revolusi masjid, setidaknya kaum tua membuang jauh-jauh tuduhan ketidakpercayaan terhadap kaum muda. Sebaiknya ”membiarkan” kaum muda untuk melakukan programnya sesuai dengan kesepakatan mereka, sambil terus melakukan pendampingan.

Sementara, dalam penggalangan kekuatan remaja masjid bersama masyarakat ini, harus terlebih dahulu menjauhkan pemikiran pemilahan, antara ”remaja pemabuk” dan ”remaja alim”. Biarkan saja bergulir, sehingga akan tercipta dengan sendirinya secara alamiah. Sebab, ”memukul” dengan doktrin diawal, bagi remaja yang belum kenal dengan masjid, akan menjadi sebuah tekanan psikologi.

Bukan tidak mungkin jika ini terjadi, remaja yang sebelumnya ingin dekat dengan masjid kemudian malah berlari dan enggan masuk masjid. Jadi sebenarnya, keenaggan remaja masuk masjid bukan lantaran kalangan remaja ini nakal, melainkan justeru sebagai akibat kenakalan orang tua, yang membiarkan mereka berbanjar panjang dengan botol minuman keras diluar masjid, tanpa ada upaya pendekatan persuasif. Padahal dengan memulai menggalang kekuatan melalui remaja masjid, sebuah gerakan revolusi masjid secara perlahan akan terwujud. Siapa yang bertugas untuk memulai. Bukan anda. Bukan saya. Tetapi kita, sekarang juga! (*)

Kantor Koran Bintang Pelajar – Tanjung Enim, 15 Mei 2007  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s