Masjid Ritual Masjid Sosial

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Problem krusial yang tengah dihadapi oleh setiap masjid di Indoesia hampir bisa dikatakan sama; sulitnya para pengelola masjid (pengurus) mengajak jamaah untuk memenuhi masjid, sebagai bentuk dari memakmurkan masjid. Realitas ini  bukan saja berlangsung baru-baru ini, melainkan sudah berdasa warsa.

Secara umum, masjid hanya akan dipenuhi jamaah sampai di luar halaman masjid, disaat ada event-event tertentu yang sifatnya insidental. Sejak dari kunjungan Bupati dan Anggota DPR menjelang suksesi, Safari Ramadhan, sampai pada Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Islam, Maulid Nabi Muhammad SAW, Peringatan Isra, dan Mi’ raj dan shalat lima waktu. Lain tidak.

Dalam 10 tahun terakhir, boleh dikata masyarakat Islam sedang demam membangun masjid. Di setiap kecamatan, kabupaten dan kota masyarakat Islam berbondong-bondong mengumpulkan biaya untuk membangun masjid. Atau yang sudah berdiri mengumpulkan dana untuk merenovasi masjid, supaya dapat lebih bagus, lebih luas dan lebih mentereng. Sampai-sampai tidak sedikit muncul ”tagihan spontan” dengan keranjang atau kotak amal di pinggir jalan, guna mengumpulkan dana pembangunan masjid.

images (10)Tetapi di tengah semangatnya  pengumpulan dana untuk membangun masjid, sering tidak diiringi oleh semangat ritual dalam setiap kedirian umat itu sendiri. Sehingga, ketika rumah ibadah itu sudah berdiri, nasib masjid tak ubahnya seperti keranda kematian. Masyarakat begitu antusias melakukan iuran melalui amal kematian di setiap RT untuk membuat keranda kematian. Tetapi ketika keranda kematian itu selesai dibuat, tidak ada seorang pun yang ingin lebih dulu menggunakannya.

Tidak ada perlombaan untuk menjadi orang terdepan memakai keranda kematian. Demikian pula nasib masjid pada saat ini. Dari kelas Gubernur, Bupati, Anggota Dewan, Camat dan masyarakat bersepakat membuat proposal untuk membangun atau paling tidak memperbaiki masjid. Tetapi setelah masjid selesai, nasibnya seperti keranda kematian; tidak ada sesiapa yang sanggup dan bersedia lebih dulu dan berdiri di depan untuk memimpin memakmurkan masjid.

Kenapa ini terjadi? Karena sebagian umat kita masih terjebak pada kesadaran material. Sehingga yang dipikirkan di sebagian pengurus masjid, hanya sebatas performance (penampilan) masjid, bukan pada esensi dan menejeman masjid agar masjid bukan saja hanya berfungsi ritual, tetapi juga berfungsi sosial.

Sebab lain yang melatari hal itu adalah, minimnya training menejemen masjid bagi para pengelola atau pengurus masjid. Kalaupun pernah dilakukan oleh institusi Islam, seperti Majelis Ulama Indonesia MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) bahkan oleh lembaga besar seperti Departemen Agama, cenderung hanya cerimonial dan insidental, yang tidak punya target yang jelas, pasca training itu dilakukan.

images (11)Bahkan tidak jarang program training yang dilakukan hanya sebatas “memanfaatkan” anggaran dana yang mungkin masih tersisa di akhir tahun. Karena tujuannya sebatas formalitas atau ”dari pada tidak”, maka out put-nya juga tidak jelas, sekaligus melahirkan kader-kader yang tidak jelas juga, baik mentalitas atau ideologinya.

Minimnya jenis-jenis training seperti inilah, acapkali mengakibatkan wawasan bagi sebagian Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola masjid tidak memiliki visi yang jelas, akan kemana dan untuk apa masjid ini dibawa dan difungsikan. Bukan tidak mungkin, jika kondisi ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin sebagian pengelola masjid akan dilanda ”miskin ideologi” terhadap makna dan fungsi masjid itu sendiri. Sehingga yang muncul kemudian, pengelolaan masjid hanya terbatas pada kegiatan rutinitas ritual (shalat lima waktu dan PHBI), tanpa ada upaya pengembangan lebih luas terhadap keberfungsian masjid itu sendiri.

Dalam konteks ini, saya tidak sedang menjeneralisasi persepsi terhadap problem di setiap masjid di Indonesia. Sebab, diantara sekian banyak masjid yang tengah dirundung ”kesepian” jamaah, masih banyak juga masjid yang dalam setiap waktunya selalu ramai oleh jamaah. Sebut saja salah satunya Masjid  Demak warisan Wali Songo. Siang, malam, pagi, sore, tua, muda, meramaikan masjid Wali Songo ini.

Dapat dikatakan, Masjid Demak tak pernah sepi oleh jamaah. Mereka yang datang, bukan hanya jamaah di lingkungan sekitar Masjid Demak saja, melainkan dari berbagai penjuru tanah air di Indonesia, bahkan sesekali juga ada jamaah dari luar negeri.

Ilustrasi : Masjid Demak

Ilustrasi : Masjid Demak

Sementara di Palembang, Masjid Agung juga menjadi salah satu maskot rumah ibadah yang setiap waktunya banyak dikunjungi jamaah, terutama di saat pelaksanaan shalat jumat. Walaupun, pada kenyataannya, ”keramaian” Masjid Agung Palembang tidak bisa disejajarkan dengan Masjid Demak. Bahkan di sebagian masyarakat kita sering merasa ”lebih bangga” jika sudah pernah mampir di Masjid Demak dari pada di Masjid Agung Palembang. Persolannya, masing-masing di dua masjid ini memiliki sejarah dan latarbelakang yang berbeda.

 

Ilustrasi : Masjid Agung Palembang

Ilustrasi : Masjid Agung Palembang

Tidak cukup di Mimbar

Mengajak dan menyeru umat Islam agar bersedia meramaikan masjid, tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan, membacakan ayat diatas mimbar, petuah-petuah dogmatis para dai dan kiai, penyebaran buletin mingguan. Saya tidak mengatakan itu buruk atau salah.

Tetapi membangun kesadaran umat dengan ’memaksa’ mereka masuk ke dalam masjid melalui ancaman ayat, atau dengan mengetuk pintu dari rumah ke rumah lalu mengajak mereka datang ke masjid untuk beribadah, seperti yang dilakukan oleh sekelompok jamaah yang menamakan diri sebagai gerakan jihad fi sabilillah, tidak akan membuahkan hasil kesadaran ritual yang hakiki, tanpa lebih dulu membangun kesadaran kepentingan masing-masing person terhadap masjid.

Dalam hal ini saya ingin mengatakan, membangun kesadaran spiritual bagi sebagian umat agar ”sadar masjid”, tidak serta merta hanya dengan pendekatan vertikal, dengan memberi janji manis terhadap pahala besar di akhirat bagi orang yang memakmurkan masjid. Pola pendekatan ini, sudah pasti hanya akan masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.

Pendekatan rasionalitas, sepertinya bisa menjadi hal penting yang kemudian perlu dikedepankan untuk membangun kesadaran itu. Dengan kata lain, masjid yang selama ini cenderung hanya berfungsi ritual, maka sudah waktunya jika setiap pengelola masjid juga memfungsikan masjid dalam konteks sosial. Artinya, masing-masing pengelola masjid sudah harus berupaya keras menyusun rencana strartegis (renstra) terhadap pola kerja dan menejemen masjid, sehingga masjid akan dapat diramaikan oleh jamaah, baik dalam konteks vertikal maupun horizontal (habuluminnallah-hambulimminannaas).


Menciptakan kebutuhan

Mendorong ”kesadaran masjid” di kalagan umat Islam, paling tidak dapat dimulai dari bagaimana menciptakan kebutuhan sosial kebudayaan umat terhadap masjid. Masjid Agung Palembang bisa menjadi bahan pemula untuk memulai ke arah itu.  Dengan memberikan kebebasan para pedagang membentangkan dagagannya di halaman masjid, paling tidak akan ”mengundang kebutuhan” umat untuk berbondong-bondong ke lingkungan masjid.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Walau hanya setiap hari Jumat, tetapi ini dapat menjadi sebuah dasar bagaimana sebagain umat kita, bahkan kalangan non muslim sekalipun juga datang dan bisa merasa berkepentingan terhadap masjid. Tujuannya bisa bermacam-macam. Apakah akan membeli gantungan kunci, membeli makanan, atau akan membeli kitab suci Al-quran. Terhadap apakah umat Islam yang datang itu akan ikut berjamaah di dalam masjid atau tidak, tentu tidak bisa diwajibkan. Tetapi dengan menciptakan ”ruang kepentingan” ini, minimal dapat mendekatkan sebagian umat, yang sebelumnya jauh menjadi dekat dengan masjid.

Bukan tidak mungkin, jika ini dikembangkan sebagaimana Masjid Demak, akan banyak membawa rahmat bagi lingkungan sekitar. Seperti penerbitan buku sejarah masjid Agung dengan edisi sederhana. Buku sejarah kesultanan Palembang, souvenir Palembang dan lain sebagainya. Secara ekonomi jelas ini akan ”menghidupi” para pedagang kecil. Dengan demikian, secara perlahan fungsi masjid akan terkondisi, bukan saja akan diramaikan oleh jamaah masjid yang melakukan ibadah ritual, tetapi lebih dari itu, masjid juga akan ramai oleh para jamaah yang melakukan ibadah sosial.

Tetapi belajar dari Masjid Agung Palembang. Sepertinya ada hal yang seakan terlupa sebelumnya, ketika masjid itu direnovasi sampai kini menjadi bangunan masjid yang demikian moderen. Ketersediaan halaman yang diperuntukkan bagi para pedagang tidak di-desain dengan tata letak yang strategis dan artistik.

Sehingga sampai sekarang, keramaian jamaah diluar masjid, hanya terbatas pada hari Jumat saja, tanpa ada ruang khusus bagi mereka. Sementara di hari lain, masjid hanya akan tampak bangunan megah, yang isinya para jamaah yang numpang beristirahat sejenak karena kelelahan setelah melakukan aktifitas.

Melihat problem global yang kini banyak diderita oleh sebagian masjid di Indonesia, tidak salah jika di masa mendatang, perluasan masjid bukan terbatas pada pemenuhan ruang ibadah ritual, tetapi juga memberi ruang bagi para pekerja kebudayaan, pekerja bisnis (pedagang kakilima), agar mereka dapat menikmati ”kerahmatan” masjid, melalui keuntungan hasil jual belinya.

Atau bagi para pekerja kebudayaan juga dapat menafaatkan ruang pertemuan (seminar, diskusi, simposium) yang mungkin di bangun di sekitar halaman masjid. Jika ruang seperti ini sudah terwujud, dapat dipastikan, sebagian umat kita akan memilih di ruang pertemuan masjid, dari pada mereka harus menyewa mahal hotel berbintang, yang sudah pasti jauh dari suara adzan.

Mengembangkan keberfungsian masjid menjadi area ibadah sosial, sudah pasti akan dihadapkan pada kompleksitas masalah yang menyertainya. Sejak dari pandangan konservatif sebagian masyarakat terhadap masjid, sampai pada proses pengembangan selanjutnya, yang sudah tentu memerlukan energi dan dana besar. Tetapi, semua ini dapat saja dimulai dari sekarang.

Sekecil apapun ruang dan kegiatan sosial yang dilakukan, dapat menjadi embrio sebuah perubahan terhadap keberfungsian masjid. Minimal, dengan keterbatasan yang ada, masing-masing pengelola masjid dapat memulai dengan ”menciptakan kepentingan” di dalam masjid, sehingga masjid memilki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Jika sebagian kita bersedia belajar dari kegiatan Persatuan Remaja Masjid Nurul Iman (PRISMANURI) Talang Jawa Tanjung Enim beberapa waktu lalu, kegiatan kecil seperti membagi-bagikan vitamin-C kepada setiap masyarakat yang melintas di depan masjid, bisa menjadi kiat kecil dalam upaya mengembangkan ”daya tarik” masjid sebagai pusat kegiatan sosial.

Belum lagi ketika musim demam berdarah, juga bisa melakukan penyuluhan demam berdarah bagi masyarakat, untuk kemudian membagi-bagikan obat nyamuk atau kelambu ke setiap jamaah. Sementara, ketika hari Jumat tiba, pengelola masjid bisa memberi ruang kepada para pedagang kakilima untuk membentangkan dagangannya di sekitar masjid. Tentu dengan aturan dan tata letak yang baik, sehingga masjid tidak akan terlihat kumuh dan serabutan. Inilah yang saya katakan di awal, bagaimana perluasan masjid juga sudah merencanakan area atau lokasi bagi para pedagang.

Jika ini kemudian berkembang, sudah tentu bukan hanya hari Jumat saja, melainkan di hari lain, orang akan berbondong belanja di sekitar masjid. Jika iklim ini sudah tercipta, problem klasik terhadap sulitnya mengumpulkan jamaah masuk masjid bukan lagi menjadi persoalan.

Sebab, tanpa diundang masyakat sudah merasa butuh terhadap masjid, walaupun dengan niat yang berbeda. Intinya, kita bukan sedang mepersoalkan niat apa seseorang datang ke masjid, tetapi sedang menggalang kebaikan, supaya jamaah yang sebelumnya jauh, kemudian dekat dengan masjid.

Dalam soal ini, pengelola masjid tidak mesti bertanya, bagaimana mengumpulkan dana untuk mengembangkan area masjid menjadi pusat kegiatan sosial. Kalau untuk membagun dan mendirikan masjid saja, para pengelola siap berpanas-panas ”meminta” sumbangan di jalannan, kenapa untuk meningkatkan fungsi masjid ini tidak bersedia?

Walaupun, jika masih ada cara lain yang lebih ”sopan”, para pengelola masjid bisa melakukan pendekatan kepada beberapa instansi, BUMN dan BUMD, baik melalui pembuatan proposal, atau bisa dimulai dengan sebuah seminar tentang manajemen masjid, yang mengundang langsung para pemegang kebijakan di beberapa institusi. Tujuannya, pengurus masjid akan melakukan presentasi tentang pengembangan masjid.  Diharapkan dengan prtemuan ini dapat membuka peluang pengumpulan dana.

 Tiga hal penting

Upaya mengembangkan keberfungsian masjid dalam konteks sosial, jelas memerlukan SDM yang mempunyai visi yang jelas. Oleh sebab itu ada tiga hal penting yang perlu dikedepankan, sebelum pengelolaan ini dimulai.

Pertama Penguatan Ideologi. Jajaran pengurus masjid yang duduk di struktural sudah pasti harus memilih personil yang mempunyai kekuatan ideologi; amanah, cerdas,  jujur dan mampu menjalin kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan kelompok non Islam. Kedua Penguatan Struktural. Jajaran pengurus masjid yang akan mengembangkan fungsi masjid ini diperlukan orang-orang yang cekatan, mengetahui ke-administrasian dan menejerial.

Sehingga, antara unsur pimpinan dan para kepala bidang dapat bekerja secara seimbang (sinergis). Sebab tanpa adanya struktur yang kuat, akan terjadi ”kerja sendiri” yang hanya dilakukan Ketua dan Sekretaris.

Ketiga Penguatan Jaringan. Pengembangan masjid tidak bisa bekerja sendiri. Jelas memerlukan dana besar dan jaringan kerja yang luas. Maka, untuk menciptaan ini tidak salah jika pengurus masjid membuka jaringan yang seluas-luasnya, baik melalui pendekatan personal ke beberapa donatur, BUMN dan BUMD. Atau untuk perluasan jaringan, profil dan renstra pengembangan masjid disebarluaskan melalui pembuatan website di internet, pengembangan penerbitan media cetak dan elektronik, (tv dan radio).

Bahkan, beberapa masjid juga ada yang telah  membuka ”dompet publik”, yang diperuntukkan bagi donatur yang ingin menyalurkan dananya, tetapi sangat terbatas informasi tentang siapa yang pantas dan layak menerima dana. Dengan begitu, diharapkan pengelola masjid tidak akan merasa tergantung dengan pendapatan kencleng (kotak amal) semata, melainkan bisa menerima sumbangan dari mana saja asalnya, termasuk bantuan luar negeri sekalipun. (*)

Tanjung Enim,  15 Juli 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s