Potret (Buram?) Jurnalis Radio

Ilustasi : Google Image

Ilustasi : Google Image

Jurnalis radio, sama halnya dengan jurnalis media lain, yang juga  sedang dan terus berhadapan dengan tuntutan profesionalitas. Baik  secara personal atau kelembagaan. Secara personal, seorang jurnalis radio (reporter dan announcer)  dituntut untuk menjadi manusia “serba bisa” ketika berhadapan dengan realitas.

Baik ia sedang membawakan sebuah acara (sbg moderator) atau sedang berada di luar ruang siaran (lapangan-red).   Secara kelembagaan, seorang jurnalis radio juga dituntut dengan tantangan planing program, yang sebaiknya sesuai dengan “permintaan” pasar.  Oleh sebab itu, kerja kreatif yang profesional, merupakan  jurus jitu bagi keberlangsungan sebuah institusi radio akan tetap survive  secara profesional, atau hanya sekedar “hidup segan mati tak mau”.

Secara umum, di Sumatera Selatan, atau bahkan di Indonesia, radio memang belum menjadi media andalan bagi sebagian pendengar, untuk memantau perkembangan informasi. Realitas ini sangat berbeda dengan kondisi Amerika tahun 70-an. Sejak tahun itu, di semua negara bagian Amerika Serikat, radio justeru menjadi media andalan bagi  para pendengar.

BACA : APA ITU JURNALIS RADIO?

Jika dibuat perbandingan, 80 % masyarakat di Amerika ketika itu menjadi pendegar radio, dan sisanya 20 % menjadi penonton televisi dan pembaca koran. Di Indonesia, atau di Sumatera Selatan, posisi ini justeru terbalik. 80 % menjadi pembaca koran dan penonton televisi, sementara 20 % menjadi pendengar radio.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Memang, realitas ini tidak dapat dipersalahkan. Sebab, masyarakat sebagai audience berhak memilih, apakah akan membaca koran, menonton televisi atau  mendengarkan radio. Tetapi, dengan banyak pilihan inilah, jurnalis radio sedang dan terus menerus dituntut meningkatkan kreatifitasnya dalam merancang program sedemikain rupa, yang sesuai dengan  selera pendengar.

Sehingga, posisi radio dan para praktisinya, bukan sekedar menjadi wakil dirinya sendiri, tetapi juga menjadi wakil dari semua kalangan. Namun demikian, tidak bisa juga menjadi salah kaprah. Hanya karena ingin mengikuti selera pasar, kemudian program dibuat sebatas mengikuti keinginan selera pendengar, tanpa mempertimbangkan sisi bisnisnya. Disinilah, jurnalis radio, ditantang terus untuk terus menerus menjadi  “pembaru” yang profesional, dengan merancang program, yang bukan saja memenuhi keinginan pendengar, tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan para klien (pemasang iklan).

Diantara dua  Tuntutan

Di tengah tuntutan profesionalitas ini, jurnalis radio, khususnya di Sumatera Selatan,  kini juga sedang dihadapkan dua pilihan yang sangat dilematis. Di satu sisi, jurnalis radio wajib mengemban tugas sebagai jurnalis profesional. Tetapi di sisi lain, tidak jarang, tuntutan profesionalitas ini tidak diimbangi oleh menejemen institusi radio yang profesional.

Misalnya, antara tuntutan menejemen dengan upah jurnalis masih terjadi kesenjangan. Contoh kasus, ada sebuah radio di Sumatera Selatan, yang memiliki jaringan cukup luas,  dengan penghasilan iklan antara 75 – 100 juta per bulan. Tetapi, dengan hasil yang cukup besar itu, radio ini tidak mampu atau bahkan cenderung tidak  memiliki political will memenuhi upah jurnalis radio diatas rata-rata. Tahun 2002-2003, kelas Reporter tidak lebih dari Rp. 350 ribu sampai Rp. 500 ribu. Dan pada tahun berikutnya ada kenaikan sedikit. Itu pun setelah sebelumnya terjadi desakan dari para karyawan dan reporter.

unduhan (5)Upah reporter radio di Palembang atau sebut saja di Sumatera Selatan yang minim ini, seakan akibat dari konsekuensi radio network, yang mau tidak mau “wajib setor” ke Jakarta, dengan perbandingan 60 : 40. Jakarta 60 % dan  40  %  untuk radio di daerah. Sisa 40 % inilah yang kemudian harus menjadi taruhan 20-an karyawan plus untuk membayar operasional kantor.

Sebenarnya, kalau mau jujur, menejemen dapat saja melakukan strategi sendiri dalam meningkatkan upah jurnalis, tanpa harus mengurangi “jatah setoran” ke Jakarta. Jika semua iklan harus melaporkan semua print out  ke Jakarta, kenapa tidak ada ide memasukkan iklan lokal diluar print out  yang dimungkinkan dapat menambah  upah karyawan? Jawabnya, mereka ketakutan, jika kemudian menejemen di Jakarta mengetahui “pencurian” ini.

Ketakutan  seorang Bussines Leader (BL) atau pimpinan radio seperti ini, menurut saya hanya ketakutan struktural saja. Motifnya, takut kehilangan pekerjaan. Tetapi, jika ini dilakukan atas dasar kesepakatan  semua karyawan, sangat mungkin akan mendapat dukungan, tanpa ada rasa was-was di-PHK. Jika kemudian ini terjadi, puluhan karyawan yang sudah ikut merasakan “kenikmatan” tambahan upah tadi, tidak mungkin akan berbalik menjerumuskan pimpinan. Justeru sebaliknya, akan muncul “pemberontakan” kolektif untuk mogok kerja secara bersama-sama.

Tetapi secara jujur, kenyataan sementara, kemauan seorang pimpinan seperti ini satu banding seribu. Oleh sebab itu, radio di Sumatera Selatan sampai tahun 2004, belum dapat “menghidupi” karyawannya dengan layak. Ini adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Ada banyak hal yang melatari, kenapa persoalan ini muncul.

Pertama, menejemen di radio sendiri, yang  sering “merasa sudah puas” dengan hasil yang saat ini diperoleh. Kalimat sederhananya, selama iklan masuk, radio bisa siaran, dan penyiar masih tetap bersedia “dibayar murah” menejemen membiarkan radio itu menjadi institusi yang kesannya, hidup segan mati tak mau. Menejemen radio seperti ini, dari tahun ke tahun, sudah pasti hanya akan memakan korban para jurnalis radio yang bosan, lalu meninggalkan radio, dengan alasan ada pekerjaan yang lebih menjanjikan, atau dibajak oleh media alian, dengan upah yang lebih besar.

Kedua, visi pengelola radio  yang belum berubah. Ini juga menjadi bagian penting yang seharusnya  segera dibarui. Kesadaran, kalau radio sudah menjadi bagian industri pers, hanya diikuti oleh sebagian pengelola radio, yang memiliki pendangan kedepan (visioner). Tetapi, tidak sedikit juga, pengelola radio yang sadar posisinya, tetapi tidak berkeinginan merubah visi radionya. Alasannya, boleh jadi, karena pemilik atau ownernya, sudah merasa cukup  menjaga dapur-nya, sehingga tidak perlu susah-susah merubah visi atau menejemen radionya.

Sepertinya, kasus seperti ini, tidak jarang menimpa para jurnalis radio di Palembang. Para owner atau pemilik radio, seakan tengah menikmati kerja keras karyawan, dengan menangguk untung besar, tanpa  memikirkan kebutuhan karyawan yang terus meningkat. Fakta inilah, yang sering menjadi alasan, kenapa banyak jurnalis radio, yang kemudian keluar atau menunggu  peluang lain, misalnya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang mereka nilai lebih menjanjikan, sekalipun harus lebih dulu menjadi “kacung”.

Mengambil keputusan berhenti menjadi jurnalis radio  dengan mencari pekerjaan lain, merupakan pilihan hidup. Tetapi, logikanya, ketika seseorang berhenti dari jurnalis radio, dan mencari penghidupan diluar radio, sudah pasti ada alasan prinsip yang melatari. Bisa konflik internal, persoalan menejemen, atau juga persoalan upah. Ini yang pernah terjadi, dalam satu radio di Palembang.

Sebuah institusi radio ternama di Palembang, terpaksa merelakan enam jurnalisnya, untuk keluar berpindah ke  media lain, hanya lantaran kebijakan upah. Ironis memang. Tetapi ini fakta. Di satu sisi, menejemen akan mendapat tenaga baru yang mempunyai semangat baru.

Tetapi dari sisi bisnis, menejemen sudah merugi, karena kehilangan asset perusahaan, yaitu  karyawan profesional. Sebab, masuknya orang baru, dengan sendirinya, menejemen harus mengeluarkan cost  yang tidak sedikit, untuk kembali mengolah dan melatih jurnalis.

Dengan realitas ini, sepertinya setiap pemegang saham atau para pengelola radio di tingkat jajaran menejemen, sebaiknya berpikir ulang, bagaimana  seharusnya, ukuran upah, bukan sekedar gugur kewajiban, dengan menjalankan Undang-Undang  Ketenagakerjaan, lalu memberi upah karyawannya dengan standar minimal memenuhi Upah Minimum Provinsi (UMP) semata, melainkan harus lebih dari itu, yaitu dengan melihat realitas dan  kebutuhan hidup yang terus meningkat.

upah-buruh-AntaraPeningkatan kebutuhan hidup ini, bukan disebabkan selera dan keinginan jurnalis radio yang berubah, melainkan naiknya harga BBM, yang kemudian berimplikasi pada naiknya harga bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari.

Penikmatan hasil besar dari radio para owner dan pemilik seperti ini, yang sering saya bahasakan, jurnalis radio di tingkat bawah ini, tak ubahnya seperti sapi perah, yang suatu saat akan  habis  sari susunya, dan  mati secara perlahan. Atau, sengaja dibiarkan oleh menejemen, tanpa menaikkan upah.

Tujuannya, menejemen menunggu saatnya tiba, yaitu sang jurnalis mengundurkan diri tanpa pesangon, lalu menejemen mencari korban baru. Begitu, dan begitu terus, sampai akhirnya sapi perah berani melawan tuannya. Pertanyaannya, kapan? Dan siapa yang akan mengawalinya, jika di kanan kiri pemegang saham atau di samping owner, masih banyak jurnalis yang memilih menjadi “peliharaan” sang majikan, ketimbang  menjadi “anjing” yang menggigit majikan?

Inilah, potret buram jurnalis radio, bukan saja di Sumatera Selatan, tetapi juga di sebagian radio di Indonesia. Mencari jalan keluar dalam soal ini, memang membutuhkan kesadaran kolektif semua pihak, khususnya para pengelola radio, baik di tingkat menejemen atau di kalangan jurnalis sendiri.  Tentu, di tingkat menejemen, perlu kemudian mengajak pemilik dan pemegang saham, untuk turun ke karyawan, guna melihat fakta yang terjadi, sudah seberapa profesionalkah upah yang diberikan kepada para jurnalis radio?

Bagi jurnalis,  realitas ini tentu juga menjadi pendorong, untuk meningkatkan kinerjanya, sehingga hasil jerih payahnya dapat “dihadiahi” dengan peningkatan upah.  Jika peningkatan profesionalitas jurnalis tidak diimbangi dengan peningkatan upah, ada dua pilihan, tetap menjadi sapi perah, atau harus melawan dan keluar dari institusi radio. Stop penindasan terhadap Jurnalis radio!. (*)

Tanjung Enim, 6 September 2006 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s