Sedang Muhammad-pun Membenci Bangsa Kuli

 

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Dalam catatan sejarah, hampir setiap ulama, kiai, atau masyarakat telah mengetahui siapa Muhammad SAW. Sebab, sejak hari kelahiran, hingga wafatnya-pun sering diperingati oleh seluruh umat Islam. Tetapi, kadang peringatan terhadap seorang tokoh sekaliber Muhammad SAW, terkesan rutinitas. Akibatnya, nilai-nilai yang menjadi bagian penting dari ajaran Muhammad sering terlupakan.

Diakui atau tidak, sekalipun Muhammad SAW seorang nabi, tetapi pada kenyataannya, Muhammad juga menjalani proses hidup sebagaimana manusia biasa. Tidak ada yang lebih.

Hampir semua yang dilakukan Muhammad, merupakan jelmaan dari perilaku manusia biasa, yang siapa saja bisa melakukannya. Oleh sebab itu, sangat tidak arif, jika kemudian muncul satu jawaban pesimis, “Lho, Muhammad itu kan Nabi, sementara kita adalah manusia biasa” Tidak. Sekali lagi, bahwa Muhammad memang manusia pilihan Allah SWT, tetapi, pada kenyataannya, Muhammad juga menjalani kenyataan hidup seperti halnya yang dijalani oleh manusia seperti kita juga.

Dari kenyataan, kalau Muhammad, SAW adalah manusia biasa, dengan sendirinya, nilai-nilai atau proses hidup seorang Muhammad-pun dapat di-tiru, atau di-adopsi. Kalau memang perilaku Muhammad, SAW tidak dapat ditiru oleh manusia biasa, maka tidak mungkin Allah SWT, akan menyatakan: Bahwa pada diri Muhammad itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu….

Ilustrasi : kompas.com

Ilustrasi : kompas.com

Ayat diatas, sekaligus akan mengantarkan tulisan ini pada satu petikan ajaran Muhammad, yang mudah-mudahan bisa ditiru atau minimal di-pikirkan, kemudian dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Untuk mengawali tulisan ini, saya mengutip salah satu hadits Rasul SAW ;  Didiklah anakmu berenang dan  memanah …(Al-Hadits)

Secara teks, kita mungkin kemudian akan berpikir, di zaman moderen, kenapa mesti mendidik anak berenang dan memanah. Toh berenang hanya akan diperuntukkan bagi masyarakat yang kebetulan di pinggir sungai. Dan memanah, hanya akan dipelajari oleh masyarakat yang mungkin hidup dengan memakan binatang buas. Jika kemudian anda atau siapa saja tiba-tiba muncul pemikiran seperti itu, sialakan saja. Tapi, mari kita mencoba menterjemahkan kata “berenang dan memanah” dalam hadits Rasul SAW itu, dengan penglihatan yang lebih

Dalam catatan sejarah, perintah Muhammad SAW kepada umatnya untuk mendidik putra-putrinya dengan berenang dan memanah, bisa saja alasan geografis dan sosiologis. Sebab, di satu sisi, geografis tanah arab ketika itu, juga tidak lepas dari kawasan air dan sungai.

Lantas perintah mendidik memanah, juga dapat beralasan sosiologis. Sebab, salah satu tradisi di masyarakat Arab, adalah perlombaan memanah. Dan bahkan, perintah berenang dan memanah itu kemudian menjelma hingga sekarang, yaitu adanya perlombaan olah raga memanah, menembak, dan berenang. Bukan saja pada level nasional, tetapi olah raga ini sampai di tingkat

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Namun, kata berenang dan memanah yang tertuang dalam hadist itu, adalah satu dorongan, (kalau tidak mau dikatakan sebagai desakan) kepada umat manusia, untuk pandai-pandai berenang. Kenapa hadits itu harus memakai kata berenang, bukan lari pagi? Mari kita lihat.

Berpijak dari hadits diatas, dunia ini, diibaratkan oleh Muhammad SAW, sebagai sebuah samudera yang luas. Konsekuensinya, sebuah samudera yang luas, sudah tentu menyimpan banyak persoalan. Apakah yang berupa angin, ombak, riak-riak kecil, atau bahkan bermacam mahluk air yang kapan saja bisa memangsa kita. Dan itu, merupakan bagian dari kehidupan samudera.

Nah, sebagai manusia, Muhammad SAW, mengumpamakan kita sebagai masyarakat pantai, yang setiap harinya, harus melalui samudera itu. Oleh sebab itu, satu hal yang harus dimiliki oleh kita adalah kepintaran, atau keahlian berenang. Kenapa? Sebab, bagaimana mungkin seseorang akan sampai ke pinggir dengan selamat kalau tidak pandai

Pandai berenang, merupakan simbol dari perintah Muhammad, kepada umat manusia, agar dalam mengarugi samudera hidup ini, pandai-pandailah membawa diri. Pintar-pintarlah mencari jalan untuk selamat sampai seberang samudera hidup, tanpa harus lebih dulu ditelan oleh ganasnya seekor hiu atau binatang air lain, yang akan menghancurkan kita di tengah samudera.

Ini artinya, tuntutan mengajari anak, atau bahkan kita sendiri, agar pandai berenang, bukan sekedar membawa diri sendiri agar selamat dari amukan ombak dan gelombang hidup, namun tuntutan, agar kita juga harus berdikari, mandiri dan tidak selalu bergantung dengan orang lain. Sebab, di tengah arus dan gelombang besar, jika masing-masing kita selalu bergantung dengan orang lain, maka dengan sendirinya akan menjadi pecundang diantara sekian banyak perenang-perenang lain.

BACA : MENGAPA NABI MENYURUH BELAJAR BERENANG DAN MEMANAH?

Akan menjadi kuli dari “hukum samudera”. Akibatnya, kita tidak pernah menjadi diri kita sendiri, namun selalu bergantung dan mengemis pada orang lain. Padahal, kalau kita mau jujur, masyarakat dan bangsa kita mempunyai kemampuan besar,  untuk dapat berenang sendiri, tanpa harus meminjam dan bergantung dengan orang lain, atau bahkan tidak harus meminjam perahu-perahu negara lain, apalagi

images (4)Hadits ini, dapat menjadi kritik, sekaligus sebagai alat pendorong ingatan kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang seharusnya memiliki jati diri. Sebab, dengan kemapuan yang ada, bangsa kita tidak terlalu sulit untuk bisa berenang, mengarungi lautan Indonesia ini, tanpa harus menjadi pengemis, tanpa harus minta uluran bantuan ban bekas dari pihak lain, hanya karena kita tidak percaya diri untuk membuat ban dari pohon karet, lantas tidak berani berenang di laut, yang sebenarnya sudah lama kita kenal dan sudah lama kita miliki.

Secara tidak langsung, ketika Muhammd SAW mengeluarkan hadits ini, sudah memperkirakan, bagaimana sikap manusia yang memang hidup sebagai mahluk sosial, yang hidup harus memerlukan orang lain, dan bukan bergangtung pada orang lain. Sekali lagi, kita memang memerlukan orang lain, tetapi tidak harus bergangtung dengan orang lain.

Oleh sebab itu, kata “berenang” dalam hadits diatas, merupakan satu teguran, agar kita, dan  bangsa ini menjadi bangsa yang dihuni oleh  warga negara yang memiliki integritas, “mentalitas membentuk” bukan “dibentuk”, serta harus memiliki keahlian, apapun bidangnya. Sebab, untuk selamat dalam mengarungi samudera dengan bermacam ombak dan mahluk yang siap  memangsa kita, hanya satu hal yang harus dimiliki, yaitu keahlian, (yang disimbolkan oleh Muhammad SAW dalam hadits-nya dengan berenang).

Kenapa harus memilki skill atau keahlian, paling tidak, jika kita, atau siapa saja memiliki ke-ahlian, dapat menaikkan posisi tawar kita dengan siapa saja. Kedua, dalam mengarungi lautan hidup, kita akan menjadi manusia yang mandiri, percaya diri, dan tidak terpacu untuk memilih menjadi buruh atau kuli di dalam bangsa sendiri.

images (5)Dengan kata lain, dengan keahlian, siapapun orangya, akan mudah untuk menguasai alat produksi, (apakah mesin cetak, teknologi informasi, teknologi perkebunan dll). Dengan sendirinya, jika warga negara ini sudah menjadi kelompok  masyarakat yang menguasai dan ahli  dibidangnya masing-masing, maka bangsa ini tidak akan menjadi bangsa kuli ; yaitu memilih berkerja dibawah orang lain, ketimbang menjadi orang yang menguasai alat produksi.

Inilah sebenarnya yang saat ini sedang diderita oleh bangsa Indonesia. Kita banyak memiliki teknokrat, ilmuan dan bahkan kita juga banyak punya perahu-perahu besar yang kapan saja bisa kita dayung. Kita juga  banyak memiliki pabrik dan aset negara,  yang kapan saja bisa dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat secara keseluruhan.

Tetapi, karena kita tidak pandai  berenang, tidak memiliki keprcayaan diri untuk mengolah, dan (sebagian masyarakat kita tidak memiliki keahlian), maka kita kemudian memilih menjual pabrik, perahu dan segala macam aset negara ini kepada orang lain. Sementara, bangsa kita, rakyat kita telah menjadi kuli di negeri sendiri, dan bergelantungan  sambil meminta-minta uluran tangan dari orang-orang luar, karena kita takut tenggelam di dalam dasar

Kedua,  dalam hadits itu, Muhammad, SAW juga mendorong umat manusia untuk pintar memanah. Kata memanah, sebenarnya hanya sebagai simbol dari tuntutan kepada kita, agar kepemilikan kita, selain harus pandai berenang, kita juga harus mengedepankan keterampilan.

Dengan kata lain, untuk memenangkan perlombaan renang di tengah samudera besar, manusia Indonesia, dituntut untuk memiliki teknik mengalahkan lawan tanding. Artinya, salah satu untuk mengalahkan lawan tanding, bukan saja keahlian, tetapi juga keterampilan “memanah” atau membidik lawan dari atas Kuda, agar anak panah bisa tepat pada sasaran, setelah lepas dari

images (6)Selain itu, memanah, (dalam hadits diatas), adalah tuntutan  bagi kita untuk tetap konsisten, lurus, jujur dan istiqomah, sebagaimana  anak panah yang tetap lurus melesat ke arah tujuan. Ini artinya, setelah kita memiliki keahlian dan keterampilan, menguasai alat produksi, harus tetap menjaga moralitas. Kenapa moral disimbolkan dengan  anak panah yang melesat dari busurnya? Kenapa tidak?

Satu kenyataan, bahwa sebuah cita-cita yang baik, sebuah kekuasaan yang  sedang memiliki peluang untuk berbuat baik bagi bangsa ini, jika kemudian tidak diimbangi dengan lurus dan istiqomahnya moralitas si pembawa busur, (baca : penguasa),  maka anak panah juga tidak akan tepat pada sasaran, bahkan sebaliknya, kalau kita tidak pandai-pandai melepaskan anak panah dari busurnya, dan tidak dilandasi dengan ketidakjujuran, tidak dilandasi dengan niat yang lurus dan tulus, tidak menutup kemungkinan, anak panah itu akan berbalik menusuk jantung kita sendiri.

Oleh sebab itu, tuntutan agar kita semua pandai  berenang dan memanah, bukan sekedar bisa menghasilkan  penguasaan dan kekuasaan, tetapi, harus diandasi  dengan moralitas yang lurus, istiqomah. Baik lurus dalam mengelola alat produksi, atau juga istiqomah dalam pemberdayaan rakyat secara keseluruhan.

Maka, perintah pendidikan berenang dan memanah, bukan sekedar pandai berolah raga, tetapi lebih dari itu, sebagai tuntutan, bahwa kita harus memiliki keahlian, keterampilan, sehingga kita mampu mengelola aset, alat pruduksi milik sendiri, dan berbangga pada bangsa sendiri. Otomatis, jika ini telah dilakukan oleh kita, oleh para penguasa dan para pemegang kebijakan di negeri ini, mudah-mudahan, bangsa kita akan terselamatkan dari tuduhan bahwa bangsa kita adalah bangsa kuli.

f4c9c8d1a253876317a566421060f1c4Wajar jika kemudian, Muhammad, SAW pun juga membeci bangsa kuli. Ini terbukti, bagaiamna gerakan Muhammad, SAW, baik di Makkah atau di Madinah, terus mengupayakan pemberdayaan masyarakat, dengan memberi keterampilan, sekaligus meng-alokasikan tenaga kerja-nya ke sebuah tempat yang bisa menghidupi mereka, tanpa harus dijajah oleh para kapitalis (pemegang modal) di negeri Arab.

Sikap kemandirian yang telah dibangun, Muhammad, SAW, yang telah melepaskan umat Islam dari proses penjajahan para pemilik modal jahiliyah, sudah selayaknya ditauladani oleh kita semua. Jika Nabi yang selama ini kita besar-besarkan namanya melalui berbagai peringatan, sudah melakukan dan memberi contoh nyata, kenapa kita juga tidak mentauladani proses pembebasan Muhammad dalam melakukan pemebasan diri dari penjajahan para pemilik modal? Dari persoalan ini, mungkin sebagai renungan, saya ingin mengatakan, kalau kita sebenarnya bisa bersatu untuk menjadi besi, dan membangun semangat kebersamaan, membangun kemandirian bangsa ini, kenapa kita harus memilih menjadi kerupuk, yang dalam setiap saat diremuk dan kunyah oleh para pembeli?**

Pakjo – Palembang, 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s