Nasionalisme Penganiayaan

(Catatan kecil dari tangisan Manohara)

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Hampir tidak bisa dihitung dengan jemari tangan kita, ketika bangsa ini harus menoleh ke belakang terhadap rentetan kasus penganiayaan fisik maupun psikis yang menimpa anak bangsa ini di luar negeri, baik dalam konteks politik, ekonomi, budaya dan ideologi. Kasus Manohara hanya secuil fakta tragis, betapa tatanan politik kebudayaan bangsa ini sudah sedemikian parah diinjak-injak oleh bangsa lain.

Perbatasan Ambalat mencuat kembali, setelah Kapal Perang Malaysia melanggar wilayah teritorial laut Indonesia. Jauh sebelumnya,  setelah kemudian menyusul kasus Manohara, ada deretan jerit tangis pilu ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Jiran Malaysia, yang tidak jarang, mereka pulang ke negeri ini tinggal nama. Kasusnya tak juga tuntas. Permakluman dan permohonan maaf dari Negeri Jiran seolah menjadi obat penghibur keluarga korban yang sama sekali tak juga menghentikan derai air mata TKI yang akan terus berkepanjangan.

Di tahun 70-an, bangsa ini demikian bangga dapat mengirim sebagian guru ke Negeri Jiran untuk membagi ilmunya. Tetapi saat ini, kita bukan lagi mengirim para intelektual, melainkan mengirim TKI, yang oleh sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) disebut pahlawan devisa. Kita sudah sedemikian panjang terlatih memakan daging teman sendiri, sehingga TKI yang berjuang keras demi mempertahankan hidup di negeri orang dengan darah dan air mata kemudian disebut pahlawan devisa.

Saat ini kita juga tengah menjadi bangsa yang sedang dilanda kelatahan kultural, sehingga dengan gegap gempitanya modernisasi dan pasar bebas, sebagian kita kehilangan jati diri, sejak dari ruang tidur sampai menikmati santaman sepotong paha ayam di restoran. Kita sering tidak sadar dalam keteraniayaan kultural.

Tidak sadar dalam keterjajahan ideologi. Tidak sadar dalam ketidaknyamanan detak napas politik dan ekonomi. Tidak sadar keteraniayaan harga diri bangsa, sehingga di mata Internasional bangsa berlambang Garuda Pancasila ini menjadi bangsa yang kerdil, penakut dan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan “tidak” terhadap upaya penghancuran ideologi, politik dan kebudayaaan di negeri ini.

Sekali lagi, bangsa ini sudah sedemikian panjang dihinggapi kalatahan kultural, sehingga untuk membangkitkan nasionalisme harus dipaksa dengan ragam kasus yang diderita oleh teman bangsa sendiri. Ketika beberapa TKI dipukuli di negeri tetangga dan pulang membawa luka, secara serentak berbagai lembaga, ormas dan instansi terkait mengeluarkan pernyataan pembelaan.

Bagi keluarga TKI, jauh sebelum yang bersangkutan menjadi korban tindak kekerasan majikan di negeri orang, tak ada geliat untuk tetap mengedepankan ke-Indonesiaannya. Pun demikian dengan kasus Reog Ponorogo yang dijadikan maskot pemasaran wisata Negeri Malaysia, muncul reaksi protes dari para pelaku seni reog yang mengecam keras terhadap pengambilan hak cipta seni reog asli Indonesia itu.

Terakhir kasus Manohara. Sebegitu gencar media melakukan advokasi melalui pemberitaan dari menit ke menit. Dari lembar ke lembar, Manohara memenuhi halaman dan cover setiap media cetak. Ada semangat kolektif yang secara spontan muncul untuk melakukan perlawanan terhadap pelecahan terhadap salah satu warga negara ini.

Keluarga Manohara sedemikian gencar melakukan kampanye simpatik agar sebagian bangsa ini ikut memperjuangkan pembebasan Manohara dari cengkeraman putra mahkota di Malaysia. Diantara sadar dan tidak, muncul kesadaran kolektif di negeri ini untuk mempertahankan nasionalisme melalui kasus Manohara.

Pertanyaannya adalah, seandainya Manohara tetap diperlakukan secara wajar; duduk manis sebagai putri kerajaan di samping putra mahkota, apakah akan muncul seorang ibu untuk ‘menggugat’ kedaulatan Manohara yang diinjak-injak oleh putra mahkota kerajaan di Negeri Jiran itu? Gugatan seorang ibu terhadap upaya pengembalian putri tercintanya apakah juga menjadi bagian dari kebangkitan nasionalisme para ibu di negeri ini? Atau pengaduan ini juga hanya lantaran Manohara dianiaya?

Terlepas dari semua itu, paling tidak dengan sederet kasus penganiayaan yang telah dialami bangsa ini ada beberapa catatan yang dapat menjadi renungan menjelang tidur. Pertama; membangkitkan dari tidur panjang. Kasus penganiayaan TKI, penganiayaan sosial, budaya, politik dan ekonomi sampai kasus Manohara, sama halnya penciptaan Tuhan terhadap syetan dan iblis di muka bumi sebagai lawan politik aqidah manusia.

Penganiyaan dilahirkan kembali sebagai musuh bangsa ini, agar kita kembali bangkit dari ketertiduran panjang yang sedang menikmati keteraniayaan global.  Untuk membangkitkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme, Tuhan memang harus memaksa bangsa ini dengan menghadirkan kasus penganiyaan terlebih dahulu, sehingga kita tergeregap dan sadar bahwa bangsa ini sebenarnya tengah menikmati keteraniyaan panjang.

Kedua; mengembalikan jati diri yang hilang. Kehilangan yang sangat menakutkan bukanlah kehilangan harta dan benda, melainkan kehilangan jati diri. Bila seseorang telah kehilangan jati dirinya, maka dia tidak mengetahui akan kemana arah jalan hidupnya. Dia akan larut dalam luapan emosi yang kapan saja bisa menghancurkannya. Pun demikian halnya dengan bangsa ini.

Ketika negeri ini sudah 80 persen di bawah penguasaan pihak asing, Tuhan mengutus malaikat untuk membuat penganiyaan di negeri ini dengan berbagai bentuk, sehingga  kehilangan jati diri bangsa yang dikhawatirkan oleh pendiri bangsa ini akan segera kembali pada kedaulatan yang sebenarnya.

Melalui kasus penganiayaan inilah, Tuhan tengah menciptakan kesadaran kolektif terhadap pentingnya pembelaan terhadap setiap warga negara. Manohara dan para TKI hanya sebagian kecil dari bentuk penganiyaan kultural dan struktural untuk kemudian menjadi pijakan bagi setiap warga negara untuk tidak mudah-mudah menjadi ‘budak’ bangsa lain, baik dalam konteks politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Ketiga; membangkitkan kecintaan terhadap negeri sendiri. Bagi hukum dunia perantau, lebih baik makan kangkung di negeri sendiri dari pada makan ayam di negeri orang. Ini menjadi catatan bagi setiap warga bangsa ini, sejak presiden sampai ketua RT, bahwa Indonesia adalah serpihan sorga, yang wilayahnya dapat melahirkan tebaran manfaat kehidupan bagi penduduknya tanpa harus menjadi ‘pengemis’ di negeri orang. Masalahnya kemudian adalah bagaimana tanah pecahan sorga ini dapat dikelola secara baik dan melahirkan kemanfaatan bagi umat seluruh Indonesia dengan adil dan merata.

Keempat; undangan dari langit. Bagi Manohara, ini adalah undangan dari Tuhan agar Manohara kembali masuk dalam kecintaan-Nya, sehingga Manohara melihat sosok manusia bukan pada kemasan bungkus yang gemerlap semata, melainkan melihat dari nilai-nilai yang terpantul dari kejenihan batinnya.

Dari realitas ini, pesan yang pantas menjadi renungan adalah; janganlah engkau membungkus batu bata dengan kain sutra, tetapi bungkuslah sebutir intan dengan kain lusuh dan kumal. Sebab, batu bata, meski terbungkus dengan kain sutra tetap saja batu bata. Tetapi intan permata, meski dikemas dalam bungkusan kain lusuh dan kumal, ia tetap saja intan yang sangat bernilai harganya. (*)

BTN Karang Asam –Tanjung Enim 05 Juni 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s