Pemilik Warung Makan Dilarang Sedekah?

Penulis dan Kiai Abdul Madjid saat berbincang di Kantor Harian Umum Kabar Sumatera tahun 2014 (Foto : Bagus Kurniawan/KS)

Penulis dan Kiai Abdul Madjid saat berbincang di Kantor Harian Umum Kabar Sumatera tahun 2014 (Foto : Bagus Kurniawan/KS)

Pada sebuah kesempatan di tahun 2004. Saya berbincang rilek dengan Kiai Abdul Madjid, guru ngaji saya. Tepatnya di Rumah Kiai Madjid yang berada di Kompleks Masjid PTBA Tanjung Enim. Kala itu saya dengan Kiai Madjid, ngobrol tentang berbagai hal, diantaranya tentang sedekahnya tukang bakso, tukang mie dan para pedagang warung lainnya.

Awalnya saya dan Kiai Madjid makan di sebuah warung tenda di Tanjung Enim. Saat saya minta air putih pada pemilik warung, si pedagang menyodorkan air mineral kemasan. Kala itu saya tak banyak komentar. Dua air kemasan mienral saya terima. Satu gelas saya serahkan kepada Kiai Madjid.

“Pemilik warung sekarang sudah tidak mau sedekah lagi!” ujar Kiai Madjid tiba-tiba, usai kami sampai di rumah Kiai Madjid. Kiai Madjid duduk di depan saya.

“Saya belum nyambung,” saya masih bingung.

“Sekarang air putih saja sudah dijual!” katanya lagi.

Saya baru paham, ujaran Kiai Madjid terkait dengan air mineral di tempat kami makan beberapa menit lalu. Saya mencoba membuka memori saya di warung tenda tadi.

“Mungkin pendapatan mereka pas-pasan. Jadi mereka jangan dipaksa sedekah?” kata saya.

“Itu menurutmu. Kalau tidak untung, mana mau mereka bertahun-tahun berdagang sampai sekarang?” kilah Kiai Madjid membuka diskusi malam itu.

“Jadi dari keuntungan itu mereka harus sedekah?” tanya saya lagi.

“Ndka usah nunggu untng. Bisa setiap menit mereka sedekah, kalau mau!?” tambah Kiai Madjid. Matanya masih menatap saya. Dia seakan memancing arugemntasi saya. Tapi saya bengong kali itu. Gumpalan asap rokok mengepul dari mulutnya.

“Caranya?” saya ingin tahu.

“Ya… Allah, mie, daging, ondol-ondol bakso yang bulat-bulat ini saya jual. Tapi, kuah ini saya sedekahkan kepada pembeli, bismillahirrohmaanirrohiim,” ujarnya sembari memeragakan tukang bakso melayani pembeli.

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Kiai Madjid kemudian tertawa lebar. Giginya yang mulai tanggal tampak jelas. Tapi bukan karena Kiai Madjid suka makan bakso. Melainkan perjalanan hidup yang panjang memaksa Tuhan sudah mulai mengurangi kenikmatan Kiai Madjid.

“Termasuk pembeli yang minta air putih, niatkan untuk sedekah. Itu kan gratis!” tambahnya.

“Tapi sekarang banyak warung yang mengganti air mineral gelas. Bahkan ada yang botolan. Sebagian lagi, teh tawar juga harus minta. Kalau dulu kan siap sedia?” kata saya.

“Ngggak apa-apa. Itu hanya kemasan duniawi saja. Intinya kan air putih atau teh tawar. Yang terpenting niatnya bersih untuk melegakan tenggorokan para pembeli! Sedekah. Titik. Insya Allah berkahnya akan mengalir,” tegasnya.

“Tapi kita harus bayar?!” kilah saya.

“Itu berarti pemilik warung sedang melarang dirinya sendiri untuk sedekah!” Kiai Madjid berkelakar. Kali kesekian dia tertawa lebar. Saya juga tertawa. Tapi otak saya kemudian berputar mencari arti kata pelarangan sedekah

Sebab, Kiai Madjid seringkali memberi arugmenasi agak aneh. Logikanya tidak biasa diterima kebanyakan orang. Sehingga lawan bicara acapkali harus mengernyitkan kening untuk memaknai kalimat yang keluar dari mulutnya. Seperti juga saya kali itu. Kata-kata Kiai Madjid menurut saya menyimpan satire. Ada gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap sesuatu keadaan atau seseorang. Saya mulai menerka kemana arah satire Kiai Madjid kali itu.

“Kalau itu yang terjadi, saya kasian dengan PT Aqua dan Pak Sosro,” ujarnya.

“Kok begitu?” saya penasaran.

“Itu sama saja memutus mata rantai pahala. Kalau mereka tetap sedekah air putih atau teh tawar, PT Aqua dan Pak Sosro yang punya teh botol juga kebagian pahalanya. Sebab Allah memberi ide, kemudian diserap oleh PT Aqua dan Pak Sosro, sampai akhirnya memberi peluang ide ke banyak orang untuk berbuat yang sama. Muncullah teh dan air kemasan yang bervariasi dan meluas ke dunia,” ujarnya.

“Tapi air kemasan dan teh itu harus mengeluarkan modal. Jadi wajar kalau mereka ingin mengembalikan  modal,” bantah saya.

“Tapi sebelum air kemasan ada, mereka ikhlas memberi air putih dengan gelas! Lalu kenapa sekarang berubah. Itu peluang pahala. Kok malah ditutup! Waduh, nggak habis pikir aku. Dikasih ruang untuk berbuat baik setiap detik, setiap waktu dengan air putih dan teh tawar, kok sekarang malah ditukar dengan rupiah. Itu kan sama hanya mengecilkan berkahnya Allah yang akan masuk di warung itu,” Kiai Madjid agak kesal.

“Tapi cari untung kan boleh?!” kata saya lagi.

“Untung materi bisa dari jual mie-nya, bakso-nya, nasi-nya, kue-nya, lauknya. Buuuuanyaaak!” ujarnya dengan dialog Jombang yang kental.

“Tapi, kesehatan pemilik warung, hati pembeli yang tergerak untuk datang ke warung, itu kan bukan milik si pemilik warung! Siapa yang menggerakkan semua itu!?” kali ke sekian Kiai Madjid membuat satire.  Sesaat saya terdiam.

“Mengikhlaskan air putih untuk pembeli, bisa jadi bayar nikmat sehat si pemilik warung. Kalau tiba-tiba Allah menagih anggaran napas dan kesehatan si pemilik warung, apa mereka sanggup bayar? Berapa miliar rupiah kalau kita hitung sejak lahir sampai bisa bisnis dan menghidupi anak dan isterinya dari warung itu?!” tegasnya. Dialog tiba-tiba terputus, ketika kemudian di rumah Kiai Madjid kedatangan tamu. **

Tanjung Enim-Palembang, September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s