Pendidikan Nilai Kejujuran Sudah Lumpuh

Wawancara dengan Prof DR Romli SA,M.Ag (Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumsel

Prof DR H Romli SA M.Ag - Dekan Fakultas Syariah IAIN RF Palembang- Ketua PW MuhammadiyahSumsel

Prof DR H Romli SA M.Ag – Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang- dan Ketua PW MuhammadiyahSumselentar Anda?

 Sikap hedonistik (pemuasan biologis dan fisik) sebagai akibat tuntutan modernitas sudah merambah ke pelosok desa. Sistem pendidikan yang dianggap bisa menempa mentalitas anak didik malah berbalik menjadi sistem yang cenderung korup. Dengan kembali memaknai Idul Fitri, bisakah nilai-nilai kemuliaan agama dapat kembali, setelah ramadhan usai? Berikut petikan wawancara Imron Supriyadi dari Majalah Warta Dakwah dengan Prof DR H Romli SA, M.Ag, Ketua PWM Sumsel. Petikannya;

Setiap menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, ada kebiasaan sebagian orang merayakan dengan berlebihan. Komentar Anda?

Pertama yang harus diluruskan adalah, Idul Fitri itu bukan identik dengan lebaran, Ini yang selama banyak salah di sebagian masyarakat kita.

Menurut Anda bagaimana masyarakat harus memaknai Idul Fitri?

Idul Fitri itu artinya kembali kepada fitrah kemanusiaan. Ini terkait dengan  kewajiban atau beban dan tanggungjawab sebelum Idul Fitri, kita diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh.

Sehingga ada jaminan, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad, bagi seseorang yang berpuasa semata karena Allah, dosanya akan diampuni. Atau orang tersebut akan kembali suci, Dalam artian suci jiwa, pikiran, suci secara batiniah yang tercermin dalam perilaku yang baik, karena secara mental orang yang sudah menjalankan ibadah puasa terdidik dari ramadhan, jadi dia kembali suci. Sebab puasa bukan hanya proses pendidikan fisik tetapi juga psikis (pendidkan secara kejiwaan dan mentalitas).

Apa yang kemudian bisa menjadi ukuran orang yang kembali suci?

Karena puasa menjadi proses pendidikan fisik dan non fisik, maka kesucian seseorang akan tercermin pada perilaku fisik dan batin. Atau dengan puasa yang sudah dilakukan selama satu bulan, mampu membentengi dan bisa membuat orang itu lebih baik dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul dari pada sebelumnya.

Sebab dalam agama, segala perbuatan buruk yang dilakukan adalah sebuah noda. Jadi dengan puasa yang sungguh-sungguh karena Allah, seseorang kemudian kembali suci sebagaimana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Kenapa puasa menjadi pendidikan secara fisik dan mental?

Karena dalam diri manusia ini ada dua potensi, baik dan buruk. Dengan puasa ramadhan seseorang sedang ditempa agar menjadi manusia berkualitas secara spiritual. Karena puncak dari pendidikan agama, dalam hal ini puasa ramadhan adalah terbentuknya mental dan kesadaran spiritual yang kuat.

Makanya Allah berfirman, beruntunglah bagi orang yang sering membersihkan jiwanya, dan celakalah orang yang sering mengotori jiwanya. Nah, puasa ramadhan mendidik seseorang untuk kembali kepada jiwa yang suci,

Kemballi ke soal Idul Fitri. Bagaimana Anda melihat sebagian orang yang suka euphoria merayakan Idul Fitri?

Kalau Idul Fitri ini diartikan lebaran ya pasti hanya sebatas perayaan. Tetapi sebetulnya merayakan disini dapat dimaknakan sikap kepuasan dan bahagia dari umat yang beriman, yang sebelumnya sudah menjalankan puasa ramadhan sebulan penuh. Lalu karena sudah selesai, mereka kemudian merayakan.

Tetapi itu hanya sebuah ceremonial saja, Itu terjadi karena sebagian orang memandang puasa menjadi bagian dari perjuangan, sehingga ketika sudah selesai perlu dirayakan. Tetapi sebenarnya esensi dan subtasi dari Idul Fitri itu bukan pada perayaan yang berlebihan, tetapi bagaimana dengan berpuasa yang mengantarkan diri manusia menjadi kembali suci, harus memaknai hari kemenangan bukan hanya perayaan saja, seperti kue banyak, rumah bagus, baju barfu dan lainnya.

Jadi memang apa yang terjadi sekarang ini identik dengan hal-hal yang sangat materialistik, ini yang salah dalam memaknai Idul Fitri.

Menurut Anda, bagaimana seharusnya memaknai Idul Fitri agar lebih bernilai?

Dengan Idul Fitri, paling tidak ada tiga hal penting yang seharusnya dapat dilakukan oleh umat Islam, Pertama bagaimana menciptakan suasana silaturahim yang kokoh dan kuat. Karena inti dari kekuatan umat itu bagaimana kita bersilaturahim.

Kedua, ada cerminan kebersihan jiwa seseorang setelah ramadhan usai. Perilaku munkar berubah menjadi kebaikan. Semua tindakan seseorang yang sudah terdidik dari ramadhan sudah bisa berbuat sesuatu dengan mepertimbangkan apakah hal yang dilakukan itu, akan memberi manfaat bagi orang banyak atau tidak. Sebab kata Rasul, orang mukmin yang cerdas, adalah orang yang sudah mampu mempertimbangkan seberapa besar manfaat bagi umat terhadap apa yang dia lakukan.

Ketiga,ada tatanan baru dalam bersikap di kehidupannya, Baru, dalam arti munculnya kesadaran spiritual yang seimbang dengan kecerdasan intelektual dan sosialnya di tengah masyarakat,

Artinya, usai ramadhan ada motivasi hidup yang lebih produktif, lebih apresiatif, lebih peduli dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat di tempat dia bergaul dan tinggal. Sehingga sikap yang baru itu tidak memunculkan sikap lesu, lunglai, pemalas, atau tidak hilang harapan, melainkan selalu optimis menatap masa depan. Dan yang paling penting, perilakunya tidak mau lagi dikotori oleh tindakan yang mengarah pada kemunkaran, karena sudah ditempa secara mental di Bulan Ramadhan.

Merayakan Idul Fitri yang identik dengan kemewahan, apakah juga dampak dari pragmatisme?

Banyak faktor. Pertama, sekarang ini tampilan kehidupan sosial diukur dengan materi. Oleh karena itu, kalau cerminan materi yang jadi ukuran sudah mengarah pada hedonistik, yang sebatas mencari kepuasan fisik dan biologis.  Baju harus bagus, kendaraan mau bagus, semua ukurannya itu.

Belum lagi prestasi dan prestise dikukur dengan kebendaan. Kalau seseorang sudah mengedepankan kebendaan, kepuasan fisik, biologis dan individualistik, maka orang tersebut akan cenderung mengenyampingkan nilia-nilai spiritualistik. Nilai-nilai kemuliaan yang secara materi tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan secara kejiwaan, akan luntur karena pola hidup yang serba hedonis tadi.

Tetapi apakah sikap hedonistik ini tidak hanya dikalangan atas saja? Bagaimana dengan masyarakat kelas bawah?

Kalau masyarakat kelas atas, bisa memenuhi kebutuhan itu. Tetapi yang terjadi persaingan tidak sehat. Karena merasa sama-sama punya, akhirnya persaingannya hanya seputar kebendaan saja.

Lain tidak. Nah, kalau masyarakat kecil, akan terkena imbas, atau efek pola hidup yang hedonis ini, kemudian selera kelas atas juga diinginkan olah kelas bawah, meskipun dengan pola dan selera yang berlainan. Karena masyarakat bawah tidak punya kemampuan secara financial untuk memenuhi keinginannya, maka sangat mungkin dampak sosialnya akan timbul.

Orang bisa melakukan apapun, selagi keinginannya tercapai. Efeknya adalah, nilai-nilai agama yang sebenarnya akan memuliakan seseorang di hadapan Allah kemudian terabaikan akibat gaya hidup yang demikian itu. Yang lebih parah, sikap hidup yang hedonis ini bukan hanya di kota saja, tetapi di pelosok desa sudah merambah. Ini sudah demikian parah.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan untuk menekan perilaku sepeti itu?

Ada beberapa langkah. Pertama pendidikan. Tetapi yang rusak, iklim pendidikan kita juga tidak mendidik. Lembaga pendiidkan sudah sangat materialistik. Orang tidak berkualitas tetapi karena sanggup membayar mahal, akhirnya lulus. Sudah terjadi persengkongkolan antara masyarakat dengan pengelola pendidikan.

Penanaman nilai kejujuran juga sudah lumpuh. Bagaimana seorang kepala sekolah diancam kalau siswanya tidak lulus 75 persen. Sejumlah kepala daerah juga melakukan hal serupa. Sehingga ada saja oknum guru atau kepala sekolah yang memerintahkan guru untuk hunting mencari kunci jawaban pada saat jelang ujian nasional. Ini kan parah kalau begini!

Kalau ini yang terjadi, bagaimana proses pendidikan nilai akan baik, kalau ternyata, banyak anak sekolah yang lulus karena pesanan. Akibatnya setelah lulus, bekerja juga nyogok, Jadi wajar kalau Islam sangat memberi hukuman berat, masuk neraka (finnaar), kepada yang menyuap atau disuap. Karena memang dampak sosial dan perusakan moralnya dalam ssitem lehidupan memang sangat besar.

Hubungannya dengan memaknai Idul Fitri?

Karena sekolah sudah dikomersialkan jadi berpegaruh juga bagaimana masyarakat terdorong  untuk memenuhi itu. Berapapun biaya, mereka siap bayar, dan ini sangat salah. Dan pola pikir yang demikian ini harus dibersihkan sejak dari diri kita, keluarga dan masyarakat, dengan mengambil pesan moral ramadhan.

Upaya penanaman nilai-nilai ini harus dilakukan secara menyeluruh, tidak bisa sendiri-sendiri. Moralitas agama merupakan puncak dari pesan spiritual yang sesungguhnya, sehingga penguatan nilai-nilai agama secara mental sangat penting. Yang saya nilai selama ini, pendidikan agama baru mengasah intelektual, pembelajaran, penguasaan ilmu saja, belum sampai membangun kesadaran dan kesalehan sosial dan spiritual, padahal keduanya harus seimbang.[]

Sumber : Wartad Dakwah PW Muhamamdiyah Sumsel 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s