Perempuan Itu Mitra, Bukan Pendamping

Wawancara dengan Sri Suroso (Owner Lembaga Pendidikan Carissa Palembang)

Sri Suroro - Owner Lembaga Carissa Palembang

Sri Suroro – Owner Lembaga Carissa Palembang (Foto.Dok.KoranMETROPOLIS/IMRON)

 Modernisasi, telah banyak menggeser sejumlah tradisi, termasuk cara pandang sebagian kaum perempuan modern. Tetapi mestikah di tengah modernitas dan pluralitas budaya, kemudian para perempuan harus melupakan cita-cita RA Kartini, salah satu tokoh perempuan Indonesia yang telah memperjuangkan nasib perempuan? Bagaimana tanggapan salah satu pegiat perempuan di Palembang tentang hal itu? Berikut wawancara Imron Supriyadi,S.Ag dari Koran Metropolis dengan Sri Suroso, Owner Lembaga Pendidikan Carissa (Lembaga Pendidikan Kepribadian) Palembang. Petikannya;

—————————————————————–

Sebagai salah satu Pegiat Perempuan di Palembang, apa pendapat Anda tentang perempuan modern saat ini yang dinilai sudah terkontaminasi oleh modernitas?

Modern, menurut saya tidak dalam artian fisik. Jadi kalau kaum perempuan ingin menyeimbangkan diri dengan perkembangan dunia modern bukan sebatas mempercantik fisik dengan pakaian yang wah, mahal dan beragam aksesoris modern. Tidak begitu. Sebab modern itu dalam kerangka pemikiran dan cara pandang. Pakaian boleh sederhana, bersahaja, tetapi tentang pola pikir kaum perempuan yang harus maju dan meningkatkan kualitas diri. Itu arti modern. Ini menurut saya, lho. Silakan kalau ada pendapat lain yang berbeda.

Sri Suroro - Owner Lembaga Carissa Palembang

Sri Suroro – Owner Lembaga Carissa Palembang (Foto.Dok.KoranMETROPOLIS/IMRON)

Menurut Anda, apakah pakaian tidak bisa menjadi ukuran pergaulan modern, terutama bagi kaum perempuan?

Bukan hanya bagi perempuan tetapi juga bagi pria. Modern itu tidak harus mewah. Pakaian bagus kan tidak identik mewah dan mahal. Saya malah berpikir sebaliknya. Saya akan sanat senang kalau mengenakan pakaian yang tidak terlalu mahal, harga terjangkau, tetapi keren kalau dipakai.

Dalam arti pantas, bersahaja. Jadi menurut saya, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengenakan pakaian yang memang pantas untuk kita. Banyak pakaian bagus, tetapi belum tentu pantas untuk kita. Tidak perlu kita memaksakan diri. Misalnya, hanya karena ingin tampil modern, kemudian kita harus membeli baju yang mahal. Tidak harus begitu. Misalnya saat seseorang pakai mobil tua tahun 80-an.

Kenapa harus malu, kalau masih pantas untuk sarana transportasi ya tidak apa-apa. Jadi memaknai modern, bukan pada mahal dan murahnya harga suatu barang, tetapi berdasar pada fungsionalnya apa.

Kembali ke soal perempuan. Ada istilah yang selalu dipadankan pada kaum perempuan, yaitu pendamping suami. Komentar Anda?

Dalam satu hal ini, saya tidak pernah mengatakan kalau diri saya ini pendamping suami, tetapi mitra bagi suami. Bukan pendamping. Sebab kalau pendamping, menurut pandangan saya terkesan perempuan atau isteri hanya menjadi embel-embel, atau pelengkap saja. Ya, kalau suami sedang butuh didampingi, kalau tidak, berarti kita tidak dibutuhkan.

Dalam rumah tangga seorang perempuan tidak bisa dikatakan sebagai pelengkap atau embel-embel. Tetapi isteri bagi suami adalah mitra yang memiliki tanggungjawab sama dalam menggayuh biduk keluarga.

Makanya saya selalu berpesan kepada para perempuan muda di sejumlah pelatihan, jangan memosisikan diri sebagai pendamping suami, tetapi mitra bagi suami. Kalau mitra berarti isteri menjadi tempat sharing, tukar pendapat dan lain sebagainya.

Dalam mengisi identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP) dalam pekerjaan saya tidak mau menyebut diri saya ini ikut suami. Tetapi pekerjaan saya adalah ibu rumah tangga, bukan ikut suami. Bahasa ikut ini membuat posisi perempuan dipandang menjadi orang nomor dua. Kemana suami pergi ikut. Akhirnya sebagai isteri hanya menjadi buntut (ekor) suami, dong. Perempuan modern tidak harus begitu.

Kalau perempuan memosisikan sebagai mitra, apa yang harus dilakukan?

Sebagai mitra, isteri harus cerdas, jangan menjadi isteri tidak cerdas. Maksud saya, perempuan harus mau membangkitkan diri untuk bisa menjadi sosok yang membuat suami juga cerdas. Kalau suami kita tiba-tiba naik  pangkat, sebagai isteri harus mengimbangi bagaimana agar kita sebagai mitra bisa mengisi wawasan yang berhubungan langsung dengan karir suami atau pengetahuan diluar itu. Caranya mau belajar, membaca dan berproses membekali diri. Untuk yang satu ini memang harus dimulai dari perempuan itu sendiri.

Apakah kesadaran perempuan untuk menjadi mitra bagi suami, juga terkait dengan latar belakang pendidikan, sarjana misalnya?

Tidak selalu begitu. Saya tidak mengatakan kalau sarjana itu tidak penting. Tidak. Itu tetap penting. Tetapi, dalam hal ini bukan tergantung pada bagaimana dan di perguruan tinggi apa dia belajar, tetapi bagaimana si perempuan itu mau belajar atau tidak.

Belajar yang saya maksud tidak harus dalam dunia pendidikan tetapi di lembaga informal, kursus atau belajar dari orang lain di lingkungan sekitar kita juga belajar. Saya ini kalau usia sudah cukup sepuh. Tetapi sampai hari ini saya masih hobi membaca apapun informasi dari buku, koran. Bahkan majalah remaja sekalipun masih saya baca. Saya ingin tahu apa yang dilakukan kalangan muda sekarang. Tujuannya supaya kita mengetahui kondisi perkembangan mereka.

Jadi menurut Anda apakah sarjana tidak menjadi jaminan?

Saya tidak mengatakan begitu. Sarjana harusnya memang memiliki nilai lebih dari yang lain. Baik tingkat analisisnya, berpikirnya juga cerdas. Kemudian tidak memaknakan kecantikan hanya sebatas fisik, tetapi tercermin pada perilaku, tatakrama dan tutur kata yang baik.

Bisa membedakan ini yang benar dan ini yang salah. Kalaupun ada perempuan yang bukan sarjana, jangan kemudian mengurungkan untuk terus belajar dari manapun sumbernya. Yang penting kita mau berbuat sesuatu agar perempuan menjadi sosok yang berkualitas, menjadi mitra bagi suami kita.

Pandangan Anda secara umum terhadap perempuan sekarang bagaimana?

Saya melihat, mereka sudah cukup bagus dan sebagian sudah mau bersaing. Makanya jangan sampai kita excuse (berdalih/lasan) karena kita perempuan kemudian seolah kita tidak bisa berbuat sesuatu bagi banyak orang. Bahkan kemarin di televisi saya lihat ada perempuan yang jadi kenek bis, tukang ojek dan lainnya.

Jadi, ketika kita sudah masuk di lembaga profesi, bekerja sebagai perempuan yang berkarir ya harus tanggungjawab agar apa yang kita perbuat dapat memberi manfaat bagi banyak pihak. Tentu, sebagai perempuan kita juga tidak bisa melawan kodrat dari Tuhan, seperti melahirkan. Yang membedakan antara pria dan perempuan salah satu kan melahirkan, itu tidak bisa kita lawan.

Tetapi aktifitas lain, masih banyak yang bisa dilakukan oleh perempuan. Memang harus kita akui, kalau perempuan bekerja, masih saja berpikir bagaimana di dapur. Hari ini mau masak sayur apa? nasi sudah dimasak atau belum? Ini pertanyaan seorang perempuan yang tidak akan ada di benak para pria. Jadi memang perempuan saat dia bekerja di luar, perannya lebih berat dari pria.

Persoalan dapur ini, secara budaya selalu dibebankan pada perempuan. Tetapi meski begitu, apa tidak mungkin kalau pria dalam hal ini suami, juga ikut membantu pekerjaan rumah tangga? Menurut saya, dalam tugas dan tanggungjawab di rumah tangga, bukan menjadi hal yang tabu atau memalukan jika ada sebagian pria mau memandikan anaknya.

Atau sekali-kali memasak. Ini bukan soal pria dan perempuan, tetapi pekerjaan, tugas dan tanggungjawab bersama dalam rumah tangga. Tetapi sebagian perempuan, seringkali melarang kepada anak yang laki-laki melakukan hal itu, dengan alasan memasak dan memandikan anak, seolah hanya tugas perempuan.

Saya kalau di rumah, saat saya mau memasak saya tawarkan kepada anak-anak saya, siapa yang mau ikut mama ke dapur? Mau laki-laki mau perempuan silakan saja. Sebab inilah cara berbagi tugas. Tetapi memang, setiap keluarga punya menejemen yang berbeda-beda, tergantung bagaimana cara pandang dan pola didik yang mereka terima sebelumnya.

Menurut Anda, semagat RA Kartini di era kekinian apa yang harus dilakukan kaum perempuan?

Kartini punya gagasan dan pikiran yang jauh ke depan. Kalau di zaman itu saja, Kartini sudah punya pikiran yang spektakuler, lalu kenapa perempuan di era modern ini tidak bisa lebih banyak berbuat melebihi RA Kartini? Seharusnya dengan modernisasi, didukung dengan fasilitas yang cukup, perempuan modern harus bisa melebihi pola pikir dan berbuat banyak lebih dari Kartini.

Penduduk Indonesia 50 persen perempuan. Nah, dengan jumlah yang sangat besar itu, kenapa kita tidak bisa banyak berbuat? Seharusnya dengan zaman yang demikian maju saat ini, perempuan harus merasa malu, kalau tidak berbuat apa-apa. Kita mulai dari lingkungan yang paling kecil dulu di tingkat RT, kemudian di tingkat yang lebih tinggi. Kalaupun tidak keluar dari rumah, tingkatkan kualitas keluarga. Buat suasana keluarga menjadi nyaman.

Nyaman tidak harus dengan barang mewah, tetapi menciptakan suasana baru, meskipun barang-barang di rumah tangga masih yang lama.  Dan isteri harus menjadi mitra suami yang mampu meningkatkan kualiats suami. Caranya, beri motivasi kepada suami untuk meningkatkan karirnya, dengan melanjutkan sekolah misalnya, atau dengan cara lain yang dapat meningkatkan kualitas mentalitas anak-anak dan keluarga demi masa depan bangsa.**

Sumber : Koran Metropolis Palembang 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s