Tembok

tembokCerpen Imron Supriyadi

Dua hari setelah Adi pindah rumah, sejumlah kawan Adi datang. Ada kelompok seniman, wartawan, aktifis dan rekan lain yang tidak jelas identitasnya. Ada beberapa wajah baru. Tapi Adi tak keberatan. Adi kemudian menyalami mereka. Ternyata diantaranya ada wartawan baru di media, yang sengaja diajak Warman untuk bertemu dengan Adi malam itu.

“Oi, Mang, alangkah gemuk kamu sekarang,” ujar Yosep, salah satu pelaku teater di Palembang yang kemudian memeluk saya. Beberapa rekan Adi memang agak terkejut melihat badan Adi yang mulai bongsor. Tidak tanggung-tanggung, katika itu berat badan Adi sudah mencapai 85 kilo gram.

“Lain, oi, kalau banyak makan batubara,” Sonov menimpali.

Ada sekitar empat tahun Adi menghilang dari Palembang.  Sebelumnya, berat Adi hanya 45 kilo gram. Wajar kalau saat itu sejumlah kawan terkejut dengan perkembangan badan Adi yang bontet.

“Di, sepertinya kamu sudah jadi kapitalis,” Warman berseloroh.

“Memang ciri kapitalis harus gemuk dengan perut buncit?” Adi balik menyerang. “Man, kapitalis itu penting, tapi kapitalis yang mana dulu. Kalau kapitalis versi Siti Khatijdah isteri Nabi Muhammad, gimana?” Adi tak mau kalah.

“Biasalah, Di. Kita ini terbiasa tidak bisa melihat kawan sukses, jadi ya begitu, seperti Warman,” Yosep setengah membela saya.

“Ah, Kau ini, Sep, serius banget. Jangan diambil hati, Di, kan cuma gurau,” Warman jadi agak tidak enak. Sonov dan yang lain hanya saling pandang. Sementara beberapa mahasiwa dan rekan lain sudah mulai memasukkan barang-barang yang sudah lebih dulu diturunkan dari truk. Sementara truk milik Pak Tulus yang kami sewa sudah 10 menit lalu menuju Tanjung Enim.

“Pesen aku, Di, kalau sudah disini, jangan ikut-ikutan buat pagar tinggi,” ujar Sonov setelah melihat sejumlah rumah di komplek itu dengan pagar dan tembok tinggi.

“Emang kenapa?” tanya Adi spontan.

“Itu namanya kamu tidak mau bergaul dengan tetangga,” ujar Sonov dengan bahasa Palembang yang kental.

“Memang masalah buat elo?!” Warman menjawab setengah berkelakar.

Yang lain tertawa.

“Bukan itu, Man. Ah! Kau ini! Selalu matahke omongan aku!,” Sonov agak kesal dengan Warman.

“Pasti ada alasan dengan tembok tinggi,” Gufron, mahasiswa Sosiologi Islam IAIN Raden Fatah Palembang memancing argumentasi malam itu. “Memang melihat di komplek ini kesenjangan sosial sangat tampak. Antara kaya dan miskin jaraknya tambah jauh,” ujar Gufron.

“Hari gini masih bicara kesenjangan, basi, Guf,” Warman mematahkan.

“Tapi ini persoalan serius, Kak,” ujar Gufron lagi.

“Bener, tapi bangsa ini tidak menyelesaikan dengan serius, makanya kesenjangan akan terus ada sampai kiamat,” ujar Warman.

“Biarlah, mau dipagar tinggi atau tidak, itu kan hak setiap orang. Kenapa kita harus ribut?!” Yosep menimpali pembicaraan.

“Memang itu hak. Tapi kebebasan kita tetap saja dibatasi oleh hak orang lain,” sela Wiwin menguatkan argumentasi Gufron.

“Alaaah, mentang-mentang sama-sama mahasiswa sosiologi,” Sonov tak terima.

“Tapi faktanya kan memang gitu!” ujar Wiwin lagi.

“Fakta apa?” Sonov masih penasaran.

“Tembok dan pagar tinggi itu gambaran kesenjangan sosial!” jelas Wiwin

Sejenak obrolan terhenti, ketika Tri, isteri Adi menghidangkan minum dan beberapa potong kue.

“Kok temanya berat banget,” ujar Tri, setengah menyindir beberapa kawan, agar Adi tidak diajak diskusi dulu. Sebab Tri sangat tahu, kalau malam itu, suaminya masih lelah usai mengiring perjalanan dari Tanjung Enim ke Palembang.

Memang perjalanan antara Tanjung Enim – Palembang cukup melelahkan. Sebab jarak tempuhnya dari Palembang, memerlukan waktu sekitar 4-5 jam. Itu pun jika tidak terhambat macet oleh angkutan truk batubara yang melintasi jalan antara Kota Lahat ke Palembang. Kalau terjebak macet, bisa memakan waktu 6-8 jam.

Sebenarnya, selain alasan itu, Tri juga tidak ingin obrolan malam itu menganggu anak-anak yang baru satu jam lalu terlelap.

“Untuk melepas kangen, Mbak, sudah lama nggak ketemu,” ujar Sonov yang tidak menangkap bahasa simbol dari Tri. “Ayo, minum dulu,” Adi mengalihkan konsentrasi sejumlah teman yang mungkin menangkap sikap keberatan Tri terhadap obrolan malam itu.

Tapi sudah menjadi tradisi sejak masih lajang. Adi dan kawan-kawan selalu begadang dan diskusi tentang apa saja. Kadang hanya sekadar ngobrol tanpa tema yang jelas, seperti malam itu.

“Jadi kalau masih ada tembok tinggi di setiap komplek, Palembang tidak usah bicara kesejahteraan,” ujar Gufron.

“Lho, seharusnya logikanya malah terbalik. Semakin banyak rumah bertembok tinggi, berarti di Palembang sudah banyak rakyat yang sejahtera,” ujar Warman.

“Memang kesejahteraan harus disimbolkan tembok tinggi di setiap rumah?  Justeru terbalik, itu memancing orang miskin berbuat jahat karena orang kaya selalu menutup komunikasi,” Gufron tak mau kalah.

“Salah orang miskin sendiri, kenapa mereka mau bertahan dengan kemiskinan?” ujar Jul menyela pembicraan.

“Ai, Jul. Kau ini tidak pernah ngomong, tapi sekali ngomong buat orang sakit hati,” ujar Sonov.

“Itu karena kamu masuk golongan orang miskin,” jawab Jul, yang kemudian dintingkahi degan gelak tawa.

“Seharusnya kita tidak ribut soal tembok tinggi, pagar tinggi. Rumah itu rumah dia. Duit untuk membangun juga bukan minta dengan kalian. Bener kata Warman tadi, masalah buat elo!?”ujar Yosep.

Adi hanya diam. Malam itu sebenarnya  Adi memang harus istrirahat. Adi sepertinya tidak terlalu konsen membahas tembok. Sebab Adi sesekali masih menatap barang-barang yang bertumpuk. Kadang Adi harus bangkit dan mengegser kardus yang berisi barang.

“Di, ngomong, Di. Kenapa kau diam saja,” Sonov mendesak Adi untuk bicara.

“Teruskan saja dulu. Semenatra aku jadi pendengar dulu. Kata Warman, aku harus belajar jadi pakar pendengar dulu,” ujar Adi berkelakar.

“Kok begitu? Biasanya kamu paling tertarik diskusi. Apa sejak di Tanjung Enim, sudah ada pengendapan lumpur, sehingga otakmu tidak berputar lagi,” Yosep memancing Adi untuk berargumen.

“Ada saatnya aku mendengar dan ada saatnya aku harus bicara,” Adi sok filosofis.

“Tapi setuju kan dengan usulku tadi?” Sonov penasaran dengan jawab Adi.

“Usul yang mana, Nov!?” Adi seolah tak ingat lagi.

“Soal tembok,” Sonov mengingatkan.

“Semua tergantung kebutuhan. Membangun tembok itu kebutuhan atau sekadar keinginan,” jawab Adi.

“Maksudnya,” Sonov belum nyambung.

“Kalau kebutuhan, berartti untuk pengamanan. Kalau keinginan hanya karena gengsi ingin disebut orang kaya,” jelas Adi.

“Nah, ini menarik, Di,” Yosep menanggapi serius.

Obrolan tidak tuntas malam itu. Jelang pagi, sejumlah kawan sudah meninggalkan rumah Adi. Ada beberapa kawan yang tidur sampai pagi. Mereka pulang usai sarapan.

**

Tahun 2010, rumah Adi dimasuki maling. Sebuah laptop hilang. Tak hanya itu, tahun berikutnya dua buah sepeda motor Adi yang diparkir di kantornya lenyap di gondol maling. Lahan parkir kantor Adi secara kebetulan tak ada pagar. Maklum, kantor Adi baru mulai dibuka. Selang enam bulan, sebuah motor Adi hilang lagi. Kali itu maling menerobos ke halaman rumah, setelah maling menjebol gembok pintu gerbang rumah.

Deretan peristiwa itu kemudian menjadi bahasan Adi dan isterinya di tahun berikutnya setelah Adi memutuskan pindah dan membeli rumah di komplek Poligon MUSI II. Sebuah kompolek elit yang dihuni oleh sejumlah pejabat di Sumatarea Selatan. Adi sengaja membeli rumah di komplek itu untuk mencari ketenangan.

Namun melihat kondsi rumah di komplek itu, Adi kemudian ingat dengan obrolan kawan-kawan tentang tembok tinggi. Sebab, di Poligon mayoritas rumah warga berpagar dan tembok tinggi.  Sehingga tak sesiapa yang bisa menembus isi rumah warga sekalipun hanya di teras rumah. Hanya hitungan jari, rumah warga yang pagarnya setinggi satu meter.

“Suasana di komplek ini lebih sepi di banding di rumah lama. Belum lagi setiap rumah ada tembok dan pagarnya tinggi-tinggi. Sepertinya mereka menutup diri,” Tri berbincang pada suatu malam.

“Bukan menutup diri, Bun. Tapi untuk memperkecil risiko,” jelas Adi.

“Risiko?”

“Bunda masih ingatkan? waktu kita di rumah lama. Rumah kita selalu terbuka. Sampai-sampai sepeda motor, kita parkir di halaman rumah. Kadang pintu tidak dikunci. Akibatnya ada orang yang memanfaatkan. Laptop, sepeda motor kita digondol maling. Jadi wajar kalau di komplek ini, mayoritas rumah mereka dipagar tinggi. Yaah, mungkin supaya tidak mengundang maling,” jelas Adi.

”Mungkin mereka punya pengalaman sama dengan kita,” Tri menduga-duga.

“Boleh jadi. Tapi, bisa juga pelajaran dari orang lain. Mungkin mereka dapat cerita dari korban kemalingan seperti kita, kemudian mereka berhat-hati,” ujar Adi.

“Aneh juga. Kita membeli dengan uang sendiri. Tidak ada niat menyakiti siapapun. Tapi kok ada saja yang mengambil hak kita,” Tri tidak terima dengan sikap maling yang sudah tiga kali menyatroni rumahnya.

“Bunda, jangankan niat buruk, niat baik sekalipun, seringkali ditanggapi dengan sikap tidak baik. Termasuk kita yang terbuka dengan siapapun. Itu kan niat baik. Tapi faktanya berbalik. Jadi kita harus waspada dan hati-hati juga,” Adi menjelasakan.

“Tapi banyak pos satpam, Yah. Kayaknya lebih aman, ya?” Tri berharap akan nyaman dengan banyaknya pengamanan di komplek Poligon.

“Bunda, sebaik malaikat, kalau ada kesempatan berbuat buruk, bisa saja melanggar aturan Tuhan, apalagi hanya sekadar satpam?” ujar Adi lagi.

“Jadi kita akan buat pagar tinggi,” tanya Tri mulai khawatir.

“Pagar dulu dengan banyak sedekah. Sebab kata para ustadz, sedekah bisa menjadi pagar pengamanan rumah. Minta kepada Tuhan, agar rumah kita aman. Setelah itu, fisiknya baru kita pagar sebagai ihtiar. Baru kita serahkan pada Tuhan,” Adi menenangkan isterinya. Sepasang suami isteri itu kemudian lelap dalam pelukan malam.**

Komplek Poligon-Palembang,  8 Juli 2014

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s