Tuhan, Izinkan Saya Korupsi Dana Masjid Sebentar Saja

Cepen Imron Supriyadi

korupsi-ilustrasiTanjung Agung – Muaraenim, 2010. Satu kali An (36) nama inisial teman saya, kebetulan dipercaya oleh Pengurus Masjid Al Hikmah menjadi bendahara.

Pilihan pengurus masjid menunjuk An sebagai bendahara, karena An, selain karena putra kiai ternama, An juga dinilai sebagai orang jujur.

Menurut warga, tidak mungkin An akan menyelewengkan dana masjid, walau serupiah-pun. Apalagi An adalah putra kiai yang selama ini menjadi guru mereka di kampung itu. Benar saja, dalam dua tahun terakhir tidak ada persoalan.

Tapi di tahun berikutnya, saat saya sempat satu tim dalam kegiatan penyuluhan agama di Tanjung Agung, persoalan muncul. Tanpa sepengetahuan warga, An  menggunakan dana masjid. Ada sekitar Rp. 2 juta rupiah. Katanya untuk membiayai isterinya melahirkan. Hanya saya yang diberitahu. Kawan lain tidak ada yang tahu soal ini, meski satu tim.

Secara kebetulan, kami baru saja mencairkan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Muaraenim. Kebetulan, An waktu itu di posisi koordinator kecamatan, sehingga punya kewenangan tanda tangan untuk pencairan dana. Cukup lumayan, ada bantuan Rp 2 juta, sebagai tambahan dana kegiatan dan di Tanjung Agung ketika itu.

Semula uang itu untuk kegiatan penyuluhan dana tambahan anggaran hadiah dalam lomab anak TK Al-quran. Tapi di pekan menjelang  rencana program berjalan, warga yang sebagian pengurus masjid, melakukan pergantian kepengurusan Masjid Al-Hikmah. Sialnya, An tidak lagi dipercaya sebagai bendahara masjid. Tak jelas apa alasannya. Tapi dugaan saya, ada warga yang sudah mengendus ketidakberesan tata kelola keuangan masjid yang selama ini dipegang oleh An.

Kontan saja, An ketika itu jadi blingsatan. An, benar-benar takut ketahuan oleh warga karena telah menggunakan dana masjid tanpa seizin mereka. Kali itu, An harus buka-bukaan dengan kami. Tidak mungkin An dan keluarga besar kiai itu rusak gara-gara An ketahuan menggunakan dana masjid untuk biaya isterinya melahirkan.

“Minta tolong, nian duit dua juta ini aku pinjam dulu. Sebab kalu tidak, namaku dan keluarga akan rusak. Aku janji,  duit ini aku kembalikan, dan program tetap akan berjalan sebagaimana rencana. Sekali lagi aku minta maaf, nian,” ujar An meminta dan memohon kerelaan teman-teman.

“Aku pikir, ini pelanggaran. Salah sendiri kenapa kamu berani-beraninya pakai uang masjid?” ujar Fit, setengah protes.

“Sssttt! Sekarang bukan saatnya saling salah. Tapi bagaimana cari jalan keluar, agar nama baik An terjaga dan program kita tetap berjalan. Ini kondisional. An memang salah. Tapi kalau sampai ini diketahui warga, kita semua juga yang akan rusak,” kata saya menenangkan An yang sudah gusar.

“Tidak bisa. Itu tanggungjawabmu, An. Kami tidak mau tahu. Mau nama kamu buruk terserah. Itu salahmu sendiri!” Fit masih berkeras.

“Fit, tolong ngerti perasaan An. Waktunya tinggal hari ini. Nanti malam serah terima bendahara di masjid. Aku tahu, An memang salah, tapi jangan kamu larang niat baik An untuk mengembalikan uang setelah semua ini selesai. Ini pertaruhan nama baik penyuluh agama, Fit. Mati kita Fit, kalau sampai kasus ini bocor,” saya kembali mendesak Fit supaya merelakan sesaat untuk ketenangan An.

“Aku tidak terima. Kepalang tanggung, sama-sama kita malu, uang itu kita bagi rata, utang An biar dia yang tanggung. Selesai. Program tidak usah kita jalankan. Jadi kita sama-sama rusak. Titik!” Fit benar-ebanr emosi ketika itu. Ternyata ada bau politik bumi hangus! Pikir saya kali itu.

“Fit, itu namanya bunuh diri. Itu lebih parah. Kamu mau merusak nama baik lembaga dan kami. Tolong kamu ngerti sedikitlah! Ini darurat, Fit. Darurat! Siapa sih yang mau terkena persoalan seperti An? Tidak ada Fit!? Coba kamu pikir kalau persoalan ini menimpa kamu. Berpikir agak longgar sedikitlah, jangan terlalu kaku!” nada saya mulai meninggi.

“Fit, kamu ini kok senang sekali kalau melihat orang susah seperti aku?!” An juga mulai bicara. Nadanya tak setuju dengan cara Fit yang keras.

“Itu salahmu sendiri. Kamu terlalu berani pakai uang masjid. Sementara kami-kami ini kan tidak tahu menahu soal itu. Kami ini yang jadi korban, ikut menanggung bebanmu. Sementara program kita harus diundur gara-gara kamu!” Fit memberondong kalimat semaunya.

“Oi, Fit! kalau kamu laki-laki aku ajak kau berkelahi. Sayangnya kamu ini perempuan,” ujar An kian meninggi.

“Sudah! Sudah! Apa kamu pikir dengan berkelahi urusan ini selesai. Kamu tidak usah menantang-nantang seperti itu, An. Kamu ini memang salah. Fit memang benar. Kami sekarang sedang cari jalan keluar agar semua selesai dan citra penyuluh tidak rusak! Kok malah mau ngajak kelahi. Kamu maunya apa, sih, An!?” akhirnya terancing juga emosi saya.

“Tidak, kak. Maaf aku terbawa emosi. Aku minta nyawo, tolong nian dengan kawan-kawan untuk bisa membantu persoalan ini. Ini benar-benar diluar rencana. Bener, tidak pernah aku sangka-sangka, kalau isteriku harus melahirkan lebih cepat dari rencana,” mata An berkaca-kaca.

Semua diam. Saya juga menjadi gagu. Kali itu, tak ada yang bisa kami jawab kecuali mengiyakan. Program ditarik mundur satu pekan, untuk memberi ruang An, mencari jalan keluar untuk mengembalikan uang. Semua berjalan dengan baik. Serah terima bendahara masjid terjadi. Nama baik An dan kami terselamatkan malam itu. Tinggal An, yang harus mencari pinjaman untuk mengembalikan uang Rp 2 juta kepada kami.

“An, kami sudah tolong kamu. Sekarang saatnya kami menagih janjimu. Satu pekan  ke depan uang dua juta itu harus ada. Sebab kalau tidak, wajah kita akan tercoreng di depan jemaah. Itu uang untuk hadiah dan uang tabungan bagi pemenang lomba anak-anak TK Al-quran,” kami tegaskan kepada An, agar bisa secepatnya mengembalikan uang itu.

Entah, uang dari mana. Kami tak banyak bertanya, ketika dua hari menjelang acara, An menyerahkan uang Rp 2 juta kepada kami. Syukur alhamdulillah, program berjalan, nama An juga bersih. Tapi An tetap tidak bisa melupakan jasa kawan-kawan penyuluh agama, yang telah menyelamatkan nama diri dan keluarganya dari cercaan warga dan pengurus masjid.

Belum sempat kami bernapas lega, Farhan datang bersama sejumlah warga desa ke rumah An. Sebagian lagi ada beberapa pengurus masjid. Kebetulan, kami sedang berkumpul di situ, sehingga mau tidak mau kami harus terlibat.

“An, keluar!” sebuah teriakan yang seketika mengagetkan kami.

“Ada apa, An?” tanya kami penasaran.

An keluar. Kami mendampingi An menghadapi beberapa warga yang datang ke rumah itu.

“Pintar nian bohongi kami. Ternyata duit yang kamu kembalikan itu adalah duit panitia lomba TK Al-quran. Dasar maling. Awak anak kiai tapi maling!” Farhan sepertinya sedang ingin mempermalukan An di depan kami dan warga yang terus berdatangan. Farhan adalah satu angkatan dengan An di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Di Kampus, keduanya memang selalu berbeda pendapat, termasuk ketika menentukan presiden mahasiswa, atau menyikapi kebijakan kampus.

“Han, bagaimana kalau kita masuk dulu, supaya aku bisa jelaskan tentang ini,” An mencoba meredakan amarah Farhan.

“Tidak perlu kami masuk. Kami hanya ingin kamu ngaku, kalau uang yang kemarin malam dikembalikan ke bendahara masjid, memang uang panitia lomba TK-Alquran,” ujar Farhan seolah ingin menggulingkan nama An di hadapan warga.

“Kalau itu benar, kau mau apa?” An.

“Hah! tanya mau apa lagi?! Ya, kamu dan kawan-kawan akan kita laporkan ke polisi, karena kalian telah bersekongkol melakukan penggelapan uang masjid. Apa yang kamu lakukan itu, sama saja maling sudah tertangkap, kemudian uangnya dikembalikan. Pintar kamu, An. Tapi proses hukum tidak akan berhenti disini. Sebentar lagi, polisi akan menjemput kalian,” Farhan seolah menang diatas angin.

“Sebentar,” saya ikut nimbrung bicara. “Kalau soal lapor polisi itu gampang. Tapi sekarang sebelum Farhan melaporkan kasus ini ke polisi, saya mau tanya dengan Farhan atau dengan lain. Kira-kira siapa diantara kalian yang benar-benar bersih dari dosa, sehingga semaunya menuduh orang melakukan penggelapan uang masjid?! Ayo siapa?! Kalian tahu, untuk apa uang masjid yang dipinjam An?! Untuk biaya operasi isterinya, karena janinnya harus diangkat demi keselamatan nyawa. Ini soal nyawa! Kalau hari itu tidak ada jaminan uang, rumah sakit tidak mau melakukan operasi. Makanya An dengan segera meminjam uang masjid itu,” saya jelaskan dengan rasa kesal.

“Tapi itu namanya tetap saja mencuri!” Farhan masih mendesak pengakuan salah dari An. Saya kian meradang melihat sikap Farhan yang terlihat angkuh.

“Apapun tuduhannya, silakan! Tapi apa karena Farhan dan warga di kampung ini merasa paling bersih ketimbang An, sehingga kalian datang kesini ingin memenjarakan An dan kami semua?! Sekarang tolong mengaku, siapa diantara kalian yang benar-benar bersih dari dosa?! Siapa yang paling merasa suci?! Siapa?! Kamu Farhan!?” kali ini jarak muka saya dengan Farhan tinggal setengah jengkal. Hidung kami hampir bertemu.

“Kamu yang merasa paling suci, paling bersih, paling bermoral sehingga kamu semaunya mempermalukan An, hanya karena meminjam uang masjid tanpa izin?” saya berkeliling melihat tatapan ke setiap warga. Semua diam. Sebagian lagi berbisik. Diantara mereka ada yang membubarkan diri.

**

Suatu sore jelang magrib, saya berbincang santai dengan An di teras belakang rumahnya. Sebagian teman sore itu tidak datang, karena kami harus bertemu setelah maghrib di Masjid Al-Hikmah.

“An, apa yang kamu lakukan kemarin, tetap saja kesalahan berat. Kamu tidak bisa mengeluarkan uang tanpa prosedur administrasi masjid. Apa yang kamu lakukan itu, sama saja membuka ruang untuk korupsi. Iya, kalau ketahuan seperti kemarin, kalau tidak, mungkin kamu hanya akan diam. Bukankah itu korup?” kata saya.

“Iya, kak. Aku paham. Tapi itu benar-benar diluar planning. Waktu itu aku pusing, nian mau kemana aku cari duit. Apalagi rumah sakit minta duit panjar. Makanya aku ambil risiko itu,” ujar An menyadari kesalahannya.

“Kamu harus bersyukur, An. Sebab semua ini dibuka antar kamu dan kawan-kawan penyuluh. Persoalan Farhan dan warga kemudian itu, anggap saja itu pelajaran, buat kamu dan juga kami. Kalau sekarang terbongkar, itu karena Tuhan sedang menyelamatkan nama baik almarhum ayahmu, agar tidak rusak lebih besar lagi, gara-gara ulahmu. Jadi ini jasa baik dari almarhum.

Karena dulu almarhum memang orang jujur, akhirnya kita juga diselamatkan oleh jasa perilaku jujur saat beliau masih hidup. Jadi apa terjadi, juga proses penyelamatan buat kita. Kalau almarhum ayahmu perilakunya dulu tidak jujur, mungkin kita tidak akan bisa mendapat jalan keluar seperti pekan kemarin. Salah-salah kita digebuki warga,” kata saya dalam pertemuan berikutnya.

“Ternyata jujur itu menguntungkan kita, Kak,” ujar An yang matanya mulai berbinar.

“Iya, gitu lah, An. Tapi pesanku, lain waktu kalau kamu mau korupsi dana masjid, izin dulu sama Tuhan, bilang sama Dia; Tuhan izinkan aku korupsi dana masjid sebentaaaaar saja,” kata saya berseloroh. Kami tertawa. Tuhan mungkin juga hanya tersenyum melihat kami.**

Komp.Polygon – Palembang, 10 Juni 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s