Sejumput Diterjen dari Tuhan

Kamar Mandi Saya-ok

Kamar Mandi di keluarga kami, tempat biasa kami mandi dan mencuci. Di mesin cuci inilah isteri saya terlupa memberi diterjen (Foto. Dok.Pribadi) Foto diambil pada 26 Desember 2015

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 08. 30 WIB. Hari itu pekan libur panjang. Sebab tanggal merah 24 Desember, bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi SAW beriring 25 Desember peringatan Hari Natal bagi Kristiani. Masa libur setengah pekan itu, kemudian kami gunakan untuk melakukan kegiatan rumahan di luar tugas rutin di luar.

Seperti biasa, isteri saya melakukan aktifitas keseharian. Saya sesekali membantunya, kalau kebetulan sedang memberi ASI Muhamamd Akbar El Hakim si bungsu yang baru berumur 3 bulan. Untuk peran yang satu ini saya tidak bisa menggantikan isteri saya. Sebab Tuhan sudah mentakdirkan kaum perempuan yang punya hak melahirkan dan menyusui. Kecuali pekerjaan lain, seperti; mencuci, memasak atau bahkan menyeterika.

Pagi itu, isteri saya masuk kamar mandi. Saya masih asyik browsing di internet. Sementara anak sulung saya, Annisatun Nurul Alam (10 tahun)—yang dipanggil Caca sedang berhias di depan cermin.

Sepertinya naluri anak  perempuan memang begitu. Setiap usai mandi, seolah harus berdandan “agak lama” di depan cermin. Ini berbeda dengan Muhammad Kahfi El Hakim (6 tahun), anak kedua saya. Usai mandi–bahkan tanpa menyisir rambut langsung ganti pakaian dan bermain dengan teman-temannya.

Wajar jika kita menjumpai pria yang mandi dan berdandannya lama, kemudian sejumlah teman berteriak: “kamu ini kayak perempuan saja! Mandi lama, dandan juga lama!” Tapi diakui, memang ada beberapa pria yang membutuhkan waktu 30 menit untuk sekadar menyiram badan. Kalau saya, lima menit sudah teralu lama. Sebab bagi saya, hal terpenting dalam ritual mandi adalah: basah. Soal pakai sabun atau tidak, itu tidak wajib.

“Astaghfirullahuladziiiiiim,” tiba-tiba isteri saya muncul.  Tercenung saya sesaat. Ucapannya menggambarkan perasaan bersalah. Istighfar panjang, bagi saya agak mengejutkan pagi itu. Saya masih bingung. Sebab yang saya tahu, 5 menit lalu isteri di kamar mandi. Tak jelas, sedang mandi atau mencuci pakaian. Tapi, dalam hitungan menit tiba-tiba keluar lagi dan sudah di hadapan saya kali itu.

“Kenapa, Bun?” tanya saya penasaran. Kali itu isteri saya tertawa. Saya tambah bingung. Dugaan saya, isteri saya sedang menertawakan dirinya sendiri. Sebab tidak ada alasan apapun untuk tertawa pagi itu.

“Ada yang lucu, Bun?!” saya heran. Mata saya masih menatap tajam ke isteri saya.

“Ya, Allah! Rencananya Bunda masuk kamar mandi mau membilas dan mengeringkan cucian. Eeeeh….malah Bunda taburi diterjen lagi, Bunda putar lagi mesin cuci! Dasar pelupa!” kata isteri saya seolah menyalahkan dirinya. Kali itu saya baru sadar, kalau isteri saya  lupa niat awal ketika masuk kamar mandi. Akibatnya salah bertindak.

“Itulah kalau tidak fokus. Badan masuk kamar mandi, tapi pikiran kemana? Makanya fokus! Kalau di jalan itu bahaya, Bun! Hati-hati, jangan lagi salah niat!” kata saya agak kesal pagi itu.

“Sejak masuk kamar mandi, rencana Bunda akan membilas dan mengeringkan cucian. Sebab Bunda lihat, tadi pagi Caca sudah mencuci, tapi belum dibilas, makanya Bunda bilas!” kata isteri saya menyadari kesalahan pagi itu. “Eeeeh…. dasar pelupa tadi, malah Bunda taburi diterjen, ya sudah terpaksa dicuci ulang,” ujarnya setengah menyesal.

Saat kami sedang berbincang, dari arah lain tiba-tiba Caca keluar dari kamarnya. Sepertinya Caca mendengar obrolan kami. Sebab pintu kamar tidak tertutup rapat. Mata kami kemudian tertuju pada Caca yang senyum-senyum agak aneh.

“Ada apa, Ca, kok senyum-senyum?” tanya isteri saya penasaran. Saya hanya menatap Caca menunggu jawaban. Caca wajahnya berubah. Semburatnya menggambarkan ada kesalahan yang telah dilakukan. Tangannya masih memegang sisir. Sesekali Caca menyisir rambut. Tapi gerakan dan wajahnya hanya sekadar menghilangkan perilaku kikuk. Caca sudah melakukan satu kesalahan, pikir saya kali itu.

“Maaf, Bun. Tadi pagi, waktu Caca nyuci, Caca lupa ngasih diterjen. Caca Cuma memutar kontak mesin cucinya saja,” ujar Caca sembari senyum bersalah.

“Subhanallah, ternyata Tuhan sudah menaburi diterjen dalam mesin cuci,” kata saya spontan.

“Ini bukti, Bun, kalau segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari skenario-Nya. Semua yang terjadi, sekalipun kita anggap kesalahan pasti ada pesan hikmah di balik peristiwa,” kata saya setengah memeringatkan isteri saya.

Sabtu, Bukit Lama-Palembang, 26 Desember 2015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s