Negeri Keracunan, Negeri Kerasukan

Ilustrasi : Google Images

Ilustrasi : Google Images

Indonesia, hingga kini tak habis di dera oleh ragam persoalan. Bukan saja dalam konteks politik, sosial, agama dan budaya, tetapi juga dalam ideologi dan ekonomi. Dalam konteks politik; ada tarik ulur kepentingan menjelang pemilu oleh partai politik. Dalam bidang sosial; razia Pekerja Seks Komersil (PSK), Gepeng dan sejenisnya.

Dalam bidang agama; munculnya desakan pelarangan keberangkatan haji bagi Jamaah Ahmadiyah. Politik kebudayaan; sebagian warga kita sedang melakukan ‘adu kekuatan’ terhadap pro-kontra penetapan RUU Anti Pornografi dan Porno Aksi. Dalam bidang ideologi; nasionalisme bangsa ini juga makin tercabik-cabik oleh kuatnya kompetisi global, sehingga sebagian generasi kita lebih kenal dengan Mick Jagger, Ronaldhino ketimbang kenal dengan Bung Karno, Bung Hatta atau Pangeran Diponegoro dan pahlawan lainnya.

Dalam konteks ekonomi;dunia perdagangan (baca; kedaulatan ekonomi) kita juga sedang diacak-acak oleh bangsa asing. Dalam dua pekan terakhir negeri ini sedang dihempas oleh masuknya produk-produk makanan dan minuman asal China dan Malaysia. Ironisnya, ada sekitar 28 produk susu yang diduga tercemar zat melamine, dan 24 jenis makanan roti yang diduga mengandung racun. “Apalah kata dunia,” ujar Nagabonar, melihat realitas Indonesia yang kian hari kehilangan jati diri.

Melihat dari kasus per kasus, agak kita memilih mana yang lebih dulu harus diselesaikan, sebab kesemuanya itu muncul secara beriringan. Bila persoalan bangsa ini diumpamakan racun, maka kita juga tidak bisa memilih mana racun yang lebih berbahaya diantara dari sekian banyak racun yang telah sedemikian parah menjangkiti bangsa ini. Dari berbagai kasus itu, kita kemudian juga makin kesulitan membedakan antara masyarakat yang ‘keracunan’ secara ideologis dan masyarakat yang ‘kerasukan’ (kesambet) ’niat duniawi’  yang lebih percaya pada ramalan SMS primbon dari pada bergantung pada Sang Pencipta Mahluk.

Dua kalimat antara keracunan dan kerasukan ini, seperti jauh untuk dihubungkan. Tetapi pada kenyataanya tetap saja lahir dalam satu tubuh. Di satu sisi keracunan adalah serangan virus yang mengakibatkan terbunuhnya jasad. Di sisi lain, keracunan juga sebagai akibat dari ulah manusia yang telah ‘karasukan’ mental kebinatangan, sehingga menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dari ‘nafsu duniawi’, yang hanya didasari oleh keuntuungan materi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai.

Dua pekan sebelum ditemukannya produk China dan Malaysia yang diuga beracun, di Aceh ada ratusan manusia keracunan usai berbuka puasa. Di Panti Asuhan Daarul Hikmah Desa kelahiran saya, Sabrangrowo Borobudur ada 63 anak keracunan usai menyantap sahur. Tidak sempat merenggut nyawa, tetapi ini sepatutnya menjadi bahan renungan bagi kita untuk kemudian bertanya pada setiap diri, sebenarnya Tuhan sedang berencana apa dengan semua ini?

Tidak patut bila kita kemudian mencurigai Allah, atau menuduh Allah tidak adil terhadap Indonesia. Tetapi patut kita munculkan sebuah pertanyaan, mengapa bermacam kasus, seperti ‘tragedi zakat’ di Pasuruan Jawa Timur (15 September), keracunan di Aceh dan Magelang (20 September), justru terjadi pada bulan suci yang kesemuanya dilatarbelakangi oleh acara ritual, seperti membaar zakat, berbuka dan makan sahur?

Bermacam peristiwa ini bagi sebagian umat, mungkin hanya akan menjadi tontonan pedih sesaat saja. Dalam waktu dua atau tiga hari, diantara kita mungkin akan segera menganggap kasus ini menjadi ‘barang usang’ yang harus dibuang ke tong sampah. Tetapi bagi bagi manusia yang sadar pada ke-khalifahan-nya, kasus ini akan manjadi bagian i’tibar (pelajaran) guna membangkitkan kembali ruh Ilahiyah-nya, yang selama ini telah ‘keracunan’ oleh nafsu duniawi.

Keracunan yang saya maksud adalah, permulaan “niat duniawi” pada diri manusia ‘penyumbang makanan’ sehingga sajian berbuka dan santap sahur yang seharusnya dapat menebar manfaat justru berbalik menjadi penyebar mudharat.

Munculnya ‘niat duniawi’ yang telah membuat manusia ‘kerasukan’ hitungan untung rugi dari pesanan makanan, telah menodai bulan suci. Ketika Allah Swt memerintahkan ibadah puasa, Allah dengan jelas membuka peluang bagi umat mukmin untuk senantiasa berbuat baik. Rasul juga bersabda ; apabila datang Bulan Ramadhan, pintu sorga akan dibuka lebar-lebar. Pintu neraka ditutup rapat.

Dan Iblis atau syetan akan dibelenggu. Ini menjadi dasar pokok bahwa dalam Bulan Suci Ramadhan Allah sama sekali tidak menghendaki adanya perilaku buruk yang dilakukan oleh hamba-Nya. Semua pintu kebaikan dibuka. Tak ada satu celahpun pintu keburukan itu diberikan Allah Swt. Bahkan sebaliknya, Allah berjanji akan melipatgandakan pahala kebaikan pada Bulan Suci Ramadhan.

Tetapi ketika ‘kebijakan suci’ dari langit ini kemudian ditingkahi oleh manusia yang ‘kerasukan niat duniawi’ untuk kepentingan materi dan untung rugi, maka dalam satu detik saja, Allah kemudian mempertontonkan akibat perbuatan manusia itu melalui peritiwa alam, berupa banjir, tsunami, angin topan, gempa dan  kini kasus keracunan atau tragedi zakat pekan lalu.

Kerasukan ‘niat duniawi’ bentuknya bisa bermacam ragam. Keinginan memperoleh pujian duniawi dan perolehan untung besar dari pesanan makanan buka puasa dan sahur, telah meluluhlantakkan ‘niat suci’ seseorang, untuk kemudian merubah ke-ikhlasannya menjadi kenistaan dunia. Solidaritas kemanusiaan yang telah ‘kerasukan’ virus materialisme ini yang telah ‘meracuni’ batin manusia, sehingga kebaikan justru berbalik menjadi keburukan.

Tetapi segala peristiwa yang telah ditimpakan terhadap hamba, apapun bentuknya tetap menyimpan pesan moral di dalamnya. Paling tidak ada lima catatan kecil yang bisa menjadi petikan hikmah dari peristiwa itu.

Pertama; kesetiakawanan sosial. Dari kasus keracunan telah menyedot perhatian banyak pihak. Dokter, polisi, pengelola pendidikan, mahasisa dan lain sebagainya, menyatu dalam semangat yang sama, yaitu meng-evakuasi dan menolong korban bersama-sama tanpa melihat suku, jabatan dan golongan. Ini menyipan pesan, bahwa persoalan bangsa ini harus diselesaikan dari tujuan yang sama, kepentingan sama,  dan dilakukan secara bersama-sama pula.

Kedua ; kepedulian Allah. Peristiwa ini, Allah sedang menebar rahmat terhadap keburukan yang kemudian menjadi ladang kebaikan bagi sekelompok manusia. Dalam keracunan  ini, Allah sedang mem-fungsikan profesi dan tugas antar sesama sesuai dengan proporsinya.

Ketiga; konsep keadilan. Siapapun korban berhak mendapat perlakuan dan perawatan sama. Ini sebagai kritik dari ‘langit’ betapa manusia selama ini telah banyak melanggar konsep keadilan, sehingga di beberapa kasus tidak sedikit kaum fakir dan miskin harus terjepit dalam kubangan kelaparan dan kahausan, hanya lantaran manusia telah ‘kerasukan niat duniawi’ yang tak ada ujung pangkalnya.

Keempat; kasih sayang. Melalui cara inilah, Allah tengah menebar kasih sayang diantara manusia. Dari keracunan ini, sebagian seluruh institusi negara pemerhtai makanan dan minuman, kemudian turun ke beberapa pasar, super market, pasar tradisional, untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna mencari daging glonggong, makanan kadaluarsa, susu mengandung zat melamine, tahu berformalin yang jelas-jelas membahayakan manusia.

Ada semangat ingin saling menyelamatkan antar sesama. Pada bagian lain, Allah juga sedang memberi kasih sayang terhadap para pelaku, yang telah ‘kerasukan niat duniawi’, untuk kemudian mereka dihentikan melakukan praktik kejahatan sosial. Ini adalah bentuk penghentian perbuatan dosa bagi sebagian manusia yang lalai dengan kasih sayang dan nilai-nilai.

Kelima; mengenalkan Daarul Hikmah. Panti Asuhan yang berada di balik pagar Candi Borobudur, tidak perlu mengeluarkan biaya promosi atau harus membuat seberkas proposal untuk membagkitkan kepedulian. Sebab beginilah cara Allah untuk mengangkat Daarul Hikmah ke permukaan, supaya panti ini mendapat kepedulian sama seperti institusi lainnya. Sakit memang.

Karena harus dimulai dengan kasus keracunan. Tetapi ketika keburukan itu dipandang sebagai bagian curahan rahmat-Nya, diiringi dengan komitmen cinta kepada Sang Pencipta, maka kemiskinan, keburukan, keracunan atau kematian sekalipun, akan berbuah manis. Intinya sabar dan terus menjadi ‘karyawan’ Allah Swt hingga inisitaif Allah menggulung segala kehidupan**

Tanjung Enim, 23 September 2008 M / 23 Ramadhan 1429 H

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s