Penyakit Kaya 1 & 2

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Hampir setiap kita punya obsesi, cita-cita dan keinginan untuk menjadi orang kaya.  Status orang kaya, bagi orang kebanyakan diukur dengan jumlah rupiah, fasilitas mewah dan kehidupan yang serba ada. Ukuran orang biasa, kaya itu tercukupi secara fisik.

Banyak orang menyebut, kaya berarti seseorang yang dapat memenuhi apa yang diinginkan, bukan apa yang dibutuhkan.

Sebab antara keinginan dan kebutuhan seolah sepadan. Tapi setelah diterapkan dalam kenyataan, kedua kata itu punya makna berbeda. Misalkan saja; kalau suatu ketika Anda ingin makan karena lapar, itu bukan keinginan tapi kebutuhan. Sebab kali itu Anda memang makan apapun caranya. Sebab kalau Anda tidak makan kali itu Anda bisa sakit atau bisa meinggal karenanya.

Tapi di lain waktu, jika Anda ingin makan dengan lauk ayam, daging atau berselera lebih dari sekadar melepas lapar, itu namanya keinginan. Sebab Anda hanya ingin makan jika ada lauk ayam atau daging. Sementara di rumah Anda sudah tersedia lauk yang lain, yang sebenarnya sudah cukup untuk sekadar melepas lapar.  Maka, orang kebanyakan, orang baru akan disebut kaya, jika yang seseorang bisa membeli apapun keinginannya, kapan dan dimana saja, tanpa batas ruang dan waktu.

Tapi menurut Idas, salah satu teman saya di Palembang, kaya dan miskin itu hanya sebutan.  Kalau sesekali Anda atau saya mengaku miskin, berarti kita sedang memosisikan diri sebagai orang miskin. Meskipun secara fisik dan pemenuhan keseharian sebenarnya lebih dari cukup.  Tetapi sebaliknya, meski dalam kesehariannya serba kekurangan atau dalam keterbatasan, tetapi kalau menyebut diri kita kaya, maka di mata Idas saat itu kita adalah orang kaya.

Kasus yang bisa menjadi argumentasi tentang kaya dan miskin, dapat terlihat ketika Presiden SBY menggulirkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Faktanya, program yang seharusnya diperuntukkan bagi orang miskin, tetapi tidak sedikit orang yang kemudian mengaku-ngaku miskin.

Bahkan untuk memosisikan dirinya sebagai orang miskin, ada saja orang yang secara fisik sudah berkecukupan, tetapi tanpa malu mereka mendatangi Ketua RT dan minta Surat Keterangan Miskin (SKM). Tujuannya agar yang bersangkutan dapat memperoleh jatah BLT yang di tahun 2013 menjelma menjadi Bantuan Langsung  Sementara Masyarakat (BLSM).

Semula, pemaknaan saya terhadap kaya dan miskin juga terhanyut pada pengertian umum sebagaimana banyak orang. Tetapi setelah menjalani proses panjang, ternyata saya kemudian sepakat dengan apa yang dikatakan Idas : kaya atau miskin hanya sebutan, bukan diukur dengan tampilan materi.

Kata-kata Idas ini kemudian mengingatkan saya pada ungkapan Kiai Madjid, Guru Ngaji saya di Tanjung Enim. Katanya, di era yang serba ingin mewah ini, orang kebanyakan berloma minta dilihat seperti orang kaya. “Itu yang namanya penyakit kaya,” ujar ayah yang suka dipanggil Pak Macet ini. Kami heran dengan istilah itu.

“Kok, panyakit kaya, Pak?”  Iswan salah satu Remaja Masjid di Tanjung Enim penasaran.

“Lho, lha Iyalah, lanjut Pak Macet. “Kan mereka ingin dilihat seperti orang kaya. Kalau seperti, berarti tidak sebenarnya. Misalnya ada gambar duit. Namanya juga gambar duit, berarti bukan duit sebenarnya. Misalnya kamu di depan cermin, kemudian di dalam cermin kan ada wajahmu. Gambar wajah di dalam cermin itu hanya seperti wajahmu, bukan wajahmu sebenarnya, bener nggak? Sebab itu hanya seperti wajahmu. Sama dengan orang yang mengaku atau ingin dikatakan orang kaya.

Namanya juga ingin seperti, berarti mereka itu sebenarnya tidak kaya, karena baru seperti orang kaya. Sebab kalau orang yang benar-benar kaya, tidak ingin dikatakan orang kaya. Sebab mereka takut kalau sampai ketahuan kaya, ada saja yang punya niat buruk. Makanya jangan heran, kalau ada orang kaya, tetapi penampilannya malah tidak menunjukkan orang kaya. Yang seperti itu sebenarnya orang  kaya yang sebenarnya. Berbeda dengan orang yang sedang ingin disebut seperti orang kaya, sebenarnya dia itu tidak kaya, karena baru seperti. Nah, itu tadi yang saya sebut penyakit kata,” tegasnya.

Palembang, 14 November 2013

 

Penyakit  Kaya (2)

 

Argumentasi Pak Macet, kembali mengingatkan saya pada sosok Mang Eman, salah satu pengacara kondang di Sumsel. Karirnya bukan kelas teri. Sebab hampir di sebagian kabupaten dan kota di Sumsel, bahkan Jakarta, nama Eman sudah demikian akrab. Dalam kasus-kasus hukum yang  besar, termasuk kasus Abu Bakar Ba’asyir , yang sempat menjadi buruan polisi dunia karena dituduh teroris,  juga pernah ia dampingi. Wajar saja jika sesekali Kang Eman berganti-ganti mobil. Bagaimana tidak, kalau sekali tanda tangan kontrak kuasa saja, nilainya bisa ratusan bahkan miliaran rupiah. Fantastiskan? Sudah pasti semua orang akan tergiur.

Dalam tampilan fisik, Kang Eman benar-benar kaya. Kang Eman sudah melebihi dari teman-teman saya yang sebagian juga pengacara. Ada juga sebagian lagi wartawan, abang becak, mahasiswa, aktifis, Pekerja Seks Komersil (PSK) dan sejenisnya, yang sesekali sering ngumpul di rumah kontrakan saya.  Tetapi apakah penampilan Kang Eman menjadi jaminan kalau Kang Eman benar-benar kaya?

Malam itu, saat kami berkumpul di rumah kontrakan saya, Adi sedang butuh uang Rp.3 juta rupiah untuk pengobatan ibunya. Kontan saja, malam itu saya dan kawan-kawan membuka “dompet sumbangan” secara spontan. Diantara kawan juga melakukan kontak melalui sms dan BBM dengan rekan lain, termasuk kepada Kang Eman, agar bisa membantu.

Dalam hitungan hari, terkumpul uang Rp 5 juta rupiah. Anehnya, malam itu Kang Eman mengaku tidak punya uang. “Nanti, kalau saya sedang ada uang saya akan kirim ke Adi. Tagihan saya masih banyak yang ngadat,” ujarnya menjanjikan.

Tetapi sampai ibunya Adi sembuh, sumbangan dari Kang Eman tidak pernah datang. Dan sejak itu, kami tak lagi menagih janji Kang Eman. Bagi kami, perilaku Kang Eman, atau mungkin juga terjadi pada sebagian kita, sudah ckup memberi argumentasi, untuk mamaknakan siapa orang kaya dan siapa orang miskin.

“Dik, tolong uang kakak yang waktu itu segera diselesaikan,” tiba-tiba ada SMS masuk ke HP Adi, salah satu teman saya. Mahasiswa itu seketika terdiam.  Semula, Adi berharap SMS itu klarifikasi keterlambatan bantuan untuk pengobatan ibunya. Tetapi, ternyata, kali itu Kang Eman justeru menagih utang kepada Adi. “Terima kasih, Kakak telah menyelematkan saya dari pertanyaan kubur soal utang. Insya Allah akan segera saya selesaikan,” balas SMS Adi.

Palembang, 14 November 2013

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s