Silaturahmi Rumah Sakit

Ilustrasi : Google Image

Ilustrasi : Google Image

Entah, saya tidak lagi bisa menghitung sudah berapa kali saya masuk rumah sakit. Baik di dalam maupun luar Palembang. Di tahun 1984 saya masuk di Rumah Sakit (RS) Babarsari Yogyakarta, karena Alfasanah, ibu saya di-opname di sal penyakit dalam. Ketika itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah I Borobudur.
Tahun 1996, saat di Palembang, saya masuk lagi ke Rumah Sakit Umum (sekarang Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang). Ini yang ke sekian kalinya. Namun kali itu saya sebagai pasien. Saya positif tivus (baca : tipes) yang kemudian memaksa saya harus nginap untuk beberapa hari di RSU. Sudah pasti, sebagai pasien saya bukan sebagai penjenguk sebagaimana ketika saya di RS Babarsari kala itu.

Saat saya menjadi pasien, ternyata Tuhan sedang mengutus penyakit kepada saya. Dengan penyakit ini, Tuhan memaksa teman-teman saya, diantaranya Muhibullah (sekarang PNS di Kemenag di Palembang), Robain (sekarang guru Honor di Belitung) dan Saeri (sekarang Da’i di Lampung Utara) harus mengantarkan saya ke RSU Palembang dengan sebuah Becak.

Ada sekitar 10 hari saya di-opname di rumah sakit itu. Hanya teman-teman mahasiswa rantauan yang menjadi pendamping. Orang tua saya yang kala itu di Lahat tak kami beritahu. Saya tak ingin kondisi saya menjadi beban bagi kedua orang tua saya. Baru kemudian setelah saya sembuh, saya baru mengabari.

Tahun 2005 di Rumah Sakit PT Tambang Batubara (PTBA) Tanjung Enim menunggui isteri melahirkan anak saya yang pertama. Tahun 2013-2015 malah beruntun, saya keluar masuk rumah sakit. Ada sekitar 2 atau tiga kali di lokasi yang berbeda.

Pertama di RS Siti Khotijah. Kali itu Anak kedua saya, M Kahfi EL Hakim yang harus di-opname. Kedua di RS Umum Sabutan OKU Selatan. Adik Ipar saya, Muspan Hayadi di-opname. Ketiga masuk di RS Bunda, adik Ipar saya kembali di-opname. Dan terakhir di Bulan September 2015, saya di RS Siti Khotijah. Posisi saya sebagai penjenguk dan pedamping pasien. Cukup sekali saya menjadi pasien. Selebihnya : Saya bermohon pada Tuhan agar saya tidak dibaringkan kembali meski hanya satu detik di RS.

Perjalanan batin Anda, saya dan kita saat di RS akan selalu berbeda. Semua tergantung posisi kita. Maksud saya, perasaan antara satu dan lainnya : saya, Anda dan sebagian kita akan punya perasaan yang tidak sama. Posisi pasien sudah pasti akan berbeda dengan penunggu (pendamping pasien). Penjenguk juga berbeda lagi. Termasuk para dokter, suster dan bidan juga punya peresaan yang berlainan.

Namun, ada rasa yang sama, yaitu empatik antar sesama. Sejak dokter, suster, bidan, penjenguk, apalagi pendamping (keluarga) pasien. Dalam hal apapun, kapanpun dan bagaimanapun. Semua layanan di setiap RS selalu disiapkan untuk sigap. Persoalan lamban dan cepat itu relatif, tergantung manajerial RS itu. Namun secara umum, idealnya semua layanan di RS selalu mengedepankan keselamatan jiwa setiap pasien, bagaimanapun caranya.

Setiap kali kita datang ke RS, apakah sebagai pasien, sebagai penjenguk akan selalu mengalir alunan kecintaan-Nya. Bagi pasien kecintaan Tuhan datang dalam bentuk rasa sakit yang tiada tara. Dia sedang memanusiakan manusia : ada sehat ada sakit.

Sementara bagi para penjenguk, Tuhan kemudian memaksa sanak saudara : anak, isteri, adik kakak, teman dan lainnya yang jauh untuk datang. Mereka berucap doa, membaca kitab suci, mencucurkan air mata kecintaan. Bahkan tak diantara para penjenguk, juga dipaksa olah Tuhan untuk ikut membeayai perawatan.

Di setiap RS ada berbagai emosi di setiap diri yang datang : khawatir, panik, galau, kesal. Sebagian para pekerja RS, datangnya pasien adalah berkah, karena obatnya kemudian laku terjual. Begitulah cara Tuhan berbagi.

Di RS ada kelelahan, penyesalan, kepasrahan dan kesedihan. Di sana pula ada keringat, darah dan air mata. Di setiap RS, baik sebagai pasien, sebaga penjenguk atau sebagai pekerja RS, Tuhan sedang mempertontonkan asmaul husna-Nya yang 99. Disana ada Maha Pecinta, Maha Perkasa (Maha Memaksa), Maha Rahman dan Rahim.

Komp.Polygon – Palembang, September 2015

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s